NovelToon NovelToon
Sang Dewa Cangkul Sakti

Sang Dewa Cangkul Sakti

Status: sedang berlangsung
Genre:Budidaya dan Peningkatan / Reinkarnasi / Sistem
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: UrLeonard

Bereinkarnasi di Era Kultivasi Modern, Yang Chan awalnya hanyalah remaja tanpa bakat yang mendambakan kehidupan damai. Memilih untuk tidak masuk dalam kebrutalan dunia kultivasi.

​Tanpa disangka, rutinitas mencangkulnya justru membangkitkan Sistem Taman Kehidupan. Bukan misi berdarah yang didapat, melainkan keajaiban agrikultur penakluk lahan mati yang kelak melahirkan legenda suci, juga bakat terpendam yang seharusnya tidak ia miliki.

​Saat para penguasa dunia sibuk mencari jejak keilahian, mampukah ia menjaga kedamaian hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33: Jiwa Kaisar Bintang

Sring!

Bilah baja membelah udara pagi dengan kecepatan tidak masuk akal.

Suara dentingan logam nyaring bersahut-sahutan di dalam Arena Latihan Khusus Jurusan Tempur.

Luo Feng bergerak secepat badai.

Pemuda berwajah tampan itu melompat ringan di antara kepungan boneka kayu berlapis besi spiritual.

Tatapannya setajam elang, dingin tanpa emosi.

Di belakang punggungnya, pendaran konstelasi rasi bintang samar berkedip pelan.

Itu adalah manifestasi dari Jiwa Kaisar Bintang miliknya yang legendaris.

Hanya dalam satu tarikan napas pendek, ia mengayunkan pedangnya dengan ritme brutal.

Sebuah teknik tebasan rumit yang baru diperagakan sang instruktur lima menit lalu dieksekusi sempurna.

Prat!

Belasan boneka besi hancur berkeping-keping dalam sekejap.

Potongan kayu dan besi itu terjatuh dengan bekas tebasan yang sangat halus dan presisi.

Instruktur tempur di tepi arena tampak gemetar hebat.

Ia menurunkan pedang kayunya dengan wajah yang mendadak pucat.

"Pemahaman yang mengerikan..." tutur sang instruktur dengan suara bergetar.

"Kau baru melihat Teknik Tebasan Angin Spiritual ini satu kali, Luo Feng!"

Luo Feng menyarungkan bilah pedangnya dengan gerakan mengalir lambat.

Sama sekali tidak ada riak keangkuhan di wajah tampannya.

"Gerakan aslinya masih memiliki celah, Instruktur," balas Luo Feng pelan.

"Ada tiga titik buta pada kuda-kuda putarannya. Saya hanya memperbaikinya sedikit."

Ia melangkah pergi meninggalkan arena latihan yang mulai riuh.

Kerumunan murid Jurusan Tempur otomatis membelah jalan, memberi ruang bagi sang raja muda.

Mereka menatapnya dengan pandangan memuja sekaligus ngeri.

Luo Feng terus berjalan tanpa memedulikan kasak-kusuk di sekitarnya.

Ketenangan absolut seorang jenius sejati di tengah kepungan manusia biasa.

Tik.

Sebutir keringat jatuh dari rahang tegas Luo Feng.

Tetesan itu mendarat di atas lantai batu arena dengan bunyi kecil yang menggema.

Asap tipis mengepul dari secangkir teh spiritual hangat.

Cangkir itu diletakkan dengan ketukan pelan di atas meja giok yang licin.

Tangan yang meletakkannya memakai sebuah cincin perak besar.

Cincin itu berukir lambang pedang bersayap, simbol kebesaran Klan Luo.

Luo Feng duduk bersila di sofa Ruang Istirahat VIP klan di akademi.

Ia mengusap bilah pedang kesayangannya menggunakan selembar kain sutra putih.

Di hadapannya, seorang tetua Klan Luo berdiri dengan postur menuntut.

Tatapan pria tua itu dipenuhi ambisi yang berat.

Sebuah gulungan dekrit berstempel naga dilemparkan ke atas meja.

Bunyi gedebuk pelan memecah keheningan ruangan mewah tersebut.

"Eksplorasi Hutan Buatan minggu depan adalah panggung unjuk gigimu," tekan sang tetua dengan nada dingin.

"Jangan biarkan hama dari Klan Jian atau Li mencuri perhatian di sana."

Ia mendekat, menepuk meja giok dengan ujung jarinya.

"Buktikan Jiwa Kaisar Bintang milikmu dapat mendominasi semua orang!"

Luo Feng menghela napas yang nyaris tidak terdengar.

Ia menatap pantulan sepasang matanya sendiri pada permukaan pedang yang berkilau.

Ada kelelahan yang sangat dalam di balik sorot mata itu.

Ekspektasi klan selalu saja terasa menyesakkan dada baginya.

"Saya mengerti, Tetua," sahut Luo Feng datar.

"Panggung ini tidak akan saya sia-siakan."

Tetua itu mengangguk puas lalu berbalik pergi.

Ruangan VIP yang luas itu kini terasa sangat sepi dan dingin bagi Luo Feng.

Cahaya matahari sore mulai menerobos masuk melalui celah jendela besar.

Kilatan tajam dari pedang Luo Feng perlahan berubah menjadi pendaran hangat yang lembut.

Sementara itu, ketenangan yang berbeda tersaji di sudut lain akademi.

Suara air menetes ritmis dari pipa bambu buatan sendiri terdengar menenangkan.

Di taman poket dekat kamar asramanya, Yang Chan sedang menikmati sore.

Deretan pot tanaman spiritual tertata rapi di sekelilingnya, menciptakan suasana asri.

Ia berbaring santai di atas kursi malas kayu yang bergoyang pelan.

Sebuah topi jerami bundar diletakkan di atas wajah untuk menghalau sisa sinar matahari.

Tangan kirinya memegang cangkir berisi teh herbal yang masih hangat.

Sedangkan tangan kanannya sibuk menggoyangkan seutas tali untuk mengusir serangga dari pot tomat.

Tidak jauh dari sana, Zhao Biyu duduk tegak bersila di lantai kayu.

Gadis itu memakai kacamata tebalnya yang sedikit melorot ke ujung hidung.

Ia tampak sangat serius membaca sebuah buku panduan alkimia yang cukup tebal.

Kepalanya sesekali mengangguk saat mendengarkan ucapan santai dari pemuda di sebelahnya.

Yang Chan menguap lebar di balik topi jeraminya.

Ia menyesap teh herbalnya dengan bunyi berisik yang disengaja.

"Ujian eksplorasi hutan nanti... kita cari area tepi luar yang sepi saja, Biyu," usul Yang Chan.

"Lebih baik cari aman untuk kebaikan diri kita sendiri."

Ia membenarkan posisi topi jeraminya agar tidak jatuh.

"Kita bisa pelan-pelan mengumpulkan skor di sana tanpa menarik perhatian banyak orang."

Zhao Biyu merapikan letak kacamatanya tanpa mengalihkan pandangan dari buku.

"Strategi penghindaran konflik seperti itu memang lebih logis," tanggapnya setuju.

"Mengambil rute aman seperti itu memang jauh lebih baik bagi kita," lanjut Zhao Biyu lagi.

Gadis itu mencatat sesuatu di bukunya dengan cepat.

"Dengan kombinasi keahlian kita, kita pasti tetap bisa mencetak banyak skor tanpa perlu bertarung."

Yang Chan tersenyum tipis di balik topinya, merasa sangat puas. Bukan karena ia punya rencana licik, ia hanya ingin cari aman dengan menghindari konflik.

Menghindari pusaran konflik adalah jalan hidup terbaik yang paling "logis" ia harus pilih.

Di kejauhan, melintasi atap asrama mereka, siluet gedung Jurusan Tempur berdiri kokoh.

Kilatan energi dari latihan keras murid tempur sesekali masih meledak di langit sore yang memerah.

Teng!

Suara lonceng raksasa akademi tiba-tiba berdentang keras dan lambat.

Gema suaranya memecah kesunyian seluruh penjuru kompleks.

Hitung mundur menuju Eksplorasi Hutan Buatan telah resmi dimulai.

1
ಠ⁠ω⁠ಠ
oke, kalau jurusnya pakai bahasa inggris keren juga ya /Sweat/, tapi aku kembalikan ke kalian. Apakah perlu aku revisi agar jadi bahasa indo saja, atau aku pertahankan perubahannya? /Slight/
ಠ⁠ω⁠ಠ: /Scare//Scare//Scare/
total 2 replies
Sulaeman Effendi
bagaimana selanjutnya ?
Sulaeman Effendi
kapan peningkatan kultifasi nya?
ಠ⁠ω⁠ಠ: Sebenarnya aku lupa perhatiin aspek Kultivasinya /Sweat/
total 1 replies
Sulaeman Effendi
seorang pendekar yang bijak 👍
Sulaeman Effendi
tehnik yang tepat 👍😄
Sulaeman Effendi
Asyik tanpa risiko berhasil memuaskan 👍
Sulaeman Effendi
era baru menjelajahi hutan
Sulaeman Effendi
mulai terasa ada perkembangan pertemanan yg menggetarkan
Sulaeman Effendi
iya boy, hidup tenang, menyenangkan dan berhasil gemilang 👍💪😀
Sulaeman Effendi
awal untuk maju dengan sekolah boy
Sulaeman Effendi
sekolah apa kuliah boy
ಠ⁠ω⁠ಠ: Agak beda ini, nggak mirip sekolah, kuliah juga gak mirip /Sweat/
total 1 replies
Sulaeman Effendi
sekolah Boy ?
ಠ⁠ω⁠ಠ: Iya, sekolah. Tapi enggak fokus ke sekolahnya, lebih ke hal lain di sekolah/akademi /Slight/
total 1 replies
Sulaeman Effendi
sekolah Boy agar pintar dan sakti
Sulaeman Effendi
Tingkatkan terus Boy
M Mugni
ceritanya mantap 💪💪💪
Sulaeman Effendi
terus semangat Boy 💪
Sulaeman Effendi
tak disangka ternyata hebat
ಠ⁠ω⁠ಠ: Udah ada tanda-tandanya /Slight/
total 1 replies
Sulaeman Effendi
waduh bagaimana selanjutnya???
Sulaeman Effendi
bangkitlah petani miskin tunjukkan taring mu
Sulaeman Effendi
mulai seru nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!