Keiko selalu menganggap legenda hanyalah cerita pengantar tidur.
Saat pulang ke desa terpencil tempat neneknya dimakamkan, ibunya memaksa ia membawa sebuah jimat pelindung dan memperingatkannya agar tidak mengucapkan sembarang permohonan selama Festival Dewa Kucing.
Bagi Keiko, semua itu terdengar konyol.
Di tengah festival yang dipenuhi lampion, topeng kucing, dan kisah-kisah tentang Bakeneko, ia hanya tertawa.
"Aku bahkan bersedia menikah dengan Bakeneko kalau memang mereka benar-benar ada."
Ia tak pernah menyangka, candaan itu didengar oleh sesuatu yang telah menunggu selama ratusan tahun.
Sejak hari itu, batas antara mitos dan kenyataan mulai menghilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah Kedua Menuju Kuil
Cuit... Cuit...
Suara burung dari arah halaman membuyarkan sisa kantuk Keiko. Ia membuka mata perlahan, lalu refleks mengangkat lengan untuk menutupi wajah saat sinar matahari menerobos celah jendela kayu. Ia terdiam cukup lama, membiarkan kesadarannya kembali menyatu dengan kenyataan.
Rentetan kejadian kemarin, dan yang paling mengganggu mimpi itu.
"Kau membawanya... Sudah terlambat."
Dua kalimat itu kembali terngiang dengan sangat jelas, seolah seseorang baru saja membisikkannya tepat di samping telinga. Keiko mengusap wajahnya kasar, mencoba mengusir sisa kengerian tersebut. Ia duduk di tepi kasur sambil menghela napas panjang, tatapannya beralih pada jimat merah yang menggantung di sisi tempat tidur. Jimat itu diam, tidak bergetar sedikit pun, seolah kejadian semalam hanyalah ilusi belaka.
Keiko bangkit, membuka jendela, dan menghirup udara pegunungan yang sejuk. Di kejauhan, suara ayam berkokok bersahutan dengan riuh rendah aktivitas warga desa yang mulai memulai hari.
"Aku ini benar-benar kebanyakan dengar cerita warga," gumamnya, mencoba menertawakan ketakutannya sendiri. Namun, tawanya tidak bertahan lama. Setiap kali memejamkan mata, sepasang mata keemasan dari mimpinya seolah terus mengintai. Keiko menggeleng kuat-kuat. "Cukup. Aku tidak boleh ikut-ikutan percaya hal seperti ini."
Setelah mandi dan berpakaian santai—sweter krem dengan rok panjang cokelat muda—ia menyibukkan diri di dapur.
Sarapan roti panggang dan kopi hangat cukup membantu tubuhnya terasa lebih segar, meski tidak dengan pikirannya. Ia membawa kopinya ke selasar depan, menatap pemandangan pegunungan yang diselimuti kabut tipis di sela pepohonan.
"Kalau setiap pagi begini, rasanya memang betah tinggal di desa," gumamnya sambil menyesap kopi. Hangat cairan itu mengusir sisa-sisa kantuk, tapi tidak dengan rasa penasaran yang mengganjal di dadanya.
Tanpa sadar, jemarinya kembali memilin tali jimat di tas kecilnya. Ia teringat pria berkimono hitam itu—sosok pendiam dengan tatapan dingin yang tiba-tiba muncul di mimpinya.
Mungkin memang karena aku terus memikirkannya, pikir Keiko. Seseorang yang baru ditemui, lalu terbayang sepanjang hari, tidak aneh jika akhirnya muncul di dalam mimpi. Penjelasan itu terasa jauh lebih logis.
Namun, perasaan itu masih ada. Menggantung berat di dadanya.
Keiko menghabiskan sisa kopinya, lalu berdiri dengan keputusan bulat. Ia menyampirkan tas kecil di bahunya, menatap pintu depan dengan tatapan tajam. "Kalau terus dipikirkan begini, aku malah makin penasaran."
Ia sempat terdiam sejenak di depan pintu, mencoba memberikan alasan yang masuk akal bagi dirinya sendiri. "Aku ke kuil sekali lagi saja. Bukan karena percaya mimpi. Hanya ingin memastikan sesuatu."
Iya. Itu saja.
Setelah mengunci rumah, Keiko melangkah menyusuri jalanan desa menuju kaki gunung. Langkahnya kali ini tidak secepat kemarin; ia sempat membalas sapaan ramah warga dan anak-anak yang berangkat sekolah. Tak lama kemudian, gerbang menuju Kuil Dewa Kucing kembali menjulang di hadapannya.
Anak tangga batu itu masih sama—panjang dan tampak melelahkan. Keiko menarik napas panjang, menatap puncak tangga dengan saksama.
"Semoga kali ini tidak sia-sia."
Anak tangga batu itu terasa jauh lebih ringan dari kemarin. Bukan karena stamina Keiko membaik, melainkan karena pikirannya sibuk memutar ulang memori semalam. "Kau membawanya." "Sudah terlambat." Kalimat itu terus terngiang, seolah bisikan nyata yang enggan pergi.
Saat gerbang torii merah akhirnya terlihat, Keiko mempercepat langkah. Matanya menyapu setiap sudut halaman: tangga aula, pohon sakura tua, hingga titik tempat pria itu berdiri kemarin. Kosong. Keiko menghela napas, kecewa. "Sepertinya aku datang terlalu pagi."
Ia menghabiskan lima belas menit berkeliling area kuil, bahkan sampai ke taman belakang yang sepi, namun tidak ada tanda-tanda sosok berambut perak itu.
"Mungkin memang hanya kebetulan," gumamnya, mencoba meyakinkan diri sebelum memutuskan untuk berdoa sejenak di aula utama.
Keiko memasukkan beberapa keping uang logam ke kotak persembahan, lalu menepukkan tangan dua kali dengan gerakan yang agak canggung—gerakan yang dipelajari dari ingatan samar tentang sang nenek. Setelah membungkuk sekali lagi, ia berbalik untuk turun dengan perasaan hampa.
Namun, baru separuh jalan menuruni tangga, ia berpapasan dengan seseorang yang mendaki dari bawah. Seorang pendeta tua dengan kantong plastik putih di tangannya.
"Selamat pagi," sapa pendeta itu ramah.
"Selamat pagi," balas Keiko seraya membungkuk sopan.
"Kau sudah lama di atas?"
"Tidak terlalu lama, paman," jawab Keiko singkat.
Pendeta itu mengangkat kantong plastik yang dibawanya. "Maaf membuatmu menunggu. Aku baru saja turun ke desa membeli beberapa keperluan. Ada bakpao dan teh hangat. Kalau kau tidak terburu-buru, temani orang tua ini sarapan sebentar."
Keiko sempat ragu, namun senyum tulus paman itu meluluhkan kekakuannya. Mereka kembali naik ke beranda kuil. Pendeta menggelar tikar kecil, mengeluarkan botol teh hangat dan bakpao yang masih mengepulkan uap. Keheningan gunung terasa nyaman, hanya ditemani suara burung dan embusan angin yang membawa aroma dedaunan basah.
"Kau datang bukan sekadar untuk berdoa kan," ucap pendeta itu memecah sunyi.
Keiko terdiam, lalu memberanikan diri menatap sang pendeta. "Benar..paman "ia menjeda sesaat kalimatnya " aku ingin mendengar pendapat mu tentang mimpiku tadi malam"
Pendeta menyesap teh hangatnya perlahan. Ia tidak menyela sedikit pun, membiarkan Keiko menyusun kepingan memori mimpinya sendiri.
Keiko menyelesaikan cerita secara utuh tentang kucing raksasa yang berubah dan siap menerkam nya, jimat merah, hingga suara lirih perempuan. Semua ia cerita kan tapi hanya satu yang coba ia sembunyikan dulu tentang pria misterius.
Pendeta menyesap teh hangatnya perlahan. Ia tidak langsung menjawab, melainkan membiarkan keheningan mengambil alih. Tatapannya terlempar jauh ke hamparan pegunungan yang membentang di hadapan mereka, sementara angin berembus pelan, membuat dedaunan sakura di halaman kuil berdesir seperti bisikan.
Keiko menunggu dengan sabar, meski detak jantungnya mulai tak beraturan.
Beberapa saat kemudian, pendeta itu mengembuskan napas panjang. "Selama puluhan tahun menjaga kuil ini," ia berhenti sejenak, menimbang setiap kata yang keluar, "aku sudah mendengar banyak orang bercerita tentang mimpi mereka."
Keiko menyimak dengan saksama.
"Ada yang lupa begitu membuka mata," lanjut sang pendeta. "Ada pula yang justru mengingatnya seumur hidup." Ia tersenyum tipis, sebuah senyum yang terasa begitu tua dan sarat rahasia. "Namun, belum pernah ada dua mimpi yang benar-benar sama."
Keiko menunduk, jemarinya meremas erat botol teh di tangan. "Kalau begitu... apa mimpi saya punya arti?"
Pendeta menoleh. Sorot matanya tetap tenang, tajam namun tidak menghakimi. "Kalau aku menjawab 'iya', apa kau akan langsung mempercayainya?"
Keiko terdiam sejenak, lalu tersenyum kecut. "Tidak."
"Kenapa?"
"Saya dibesarkan untuk berpikir logis," jawab Keiko dengan nada sedikit malu. "Sulit bagi saya untuk percaya begitu saja hanya karena sebuah mimpi."
Pendeta kembali mengangguk pelan, seolah setuju dengan argumen gadis itu. "Lalu... kalau aku menjawab 'tidak', apa kau akan berhenti memikirkannya?"
Senyum di wajah Keiko perlahan datar. Ia ingin menjawab 'iya' dengan mantap, namun bayangan sepasang mata keemasan dan suara perempuan yang melarangnya dalam mimpi justru kembali menyerbu benaknya. Suara itu terasa lebih nyata dari napasnya sendiri.
Keiko menghela napas panjang, menatap sang pendeta dengan tatapan yang jauh lebih jujur. "Sepertinya tidak."
Pendeta tersenyum kecil, sebuah senyum yang penuh pengertian, seolah ia sudah menduga jawaban itu sejak awal. "Nah... berarti, bukan jawaban dariku yang sebenarnya sedang kau cari."
Kalimat sederhana itu menghantam kesadaran Keiko. Ia terdiam. Benar juga, pikirnya. Jika ia benar-benar menganggap kejadian semalam hanya bunga tidur yang tak berarti, ia tidak mungkin bersusah payah mendaki gunung ini untuk kedua kalinya. Ia pasti sedang mencari sesuatu.
Hanya saja, hingga detik ini, ia sendiri masih buta akan apa sebenarnya yang ia cari di balik kabut Tsukimori ini.
Ia menatap sang pendeta dengan tatapan memohon, berharap pria tua itu memberikan penjelasan logis yang bisa meredam kegelisahannya. "Dan satu lagi, Boleh saya bertanya sesuatu?"
"Tentu, Nak. Katakan saja."
Keiko menarik napas panjang. "Apakah setiap tengah malam lonceng kuil ini selalu dibunyikan?"
Pendeta itu tidak langsung menjawab. Matanya menyipit, menatap tajam ke arah bola mata Keiko seolah sedang membedah apa yang tersimpan di balik pikiran gadis itu. Setelah jeda yang terasa sangat panjang, ia menggeleng pelan. "Tidak."
"Kalau begitu..." Keiko menggantung kalimatnya, merasa udara di sekitarnya mendadak mendingin. "Suara lonceng yang saya dengar itu..."
Pendeta kembali menyesap tehnya dengan tenang. Ia memandang kabut tipis yang merayap turun dari puncak gunung, sebelum akhirnya bergumam pelan, "terkadang,,,yang terdengar di dalam mimpi tidak selalu berasal dari mimpi." nak"
Kalimat itu menggantung begitu saja. Keiko merasa keningnya berkerut; jawaban itu jauh dari memuaskan, justru menciptakan labirin pertanyaan baru di kepalanya. Ia ingin mencecar lebih jauh, namun sang pendeta sudah kembali menikmati tehnya, menutup ruang untuk diskusi lebih lanjut.
Keiko menyadari bahwa ia tidak akan mendapatkan jawaban lebih. Ia pun berdiri dan membungkuk sopan. "Terima kasih sudah mendengarkan cerita saya."
"Saya jadi merasa konyol," Keiko membuka suara sambil memandang halaman kuil yang lengang. "Hanya karena mimpi, saya sampai bersusah payah mendaki lagi ke sini."
Sudut bibir pendeta terangkat tipis. "Kalau begitu, mimpimu cukup hebat bisa membuat kamundatang hingga sejauh ini."
Keiko terkekeh pelan." Padahal, saya sebenarnya tidak percaya kalau mimpi itu punya arti."
"Begitu kah ?"
Keiko terdiam cukup lama, memutar botol teh di tangannya dengan jemari yang gemetar. " Mungkin karena rasanya...seperti nyata dan tidak masuk logika saya."
Pendeta mengangguk pelan. Ia tidak membenarkan, tidak pula menyanggah. Ia hanya membiarkan keheningan menyelimuti mereka kembali, sementara dedaunan kering berguguran dari dahan pohon sakura tua.
Tak lama kemudian, pendeta berdiri lebih dulu. "Sudah waktunya aku kembali pada tugasku."
Keiko ikut bangkit, merasa tidak enak. "Iya, sepertinya saya sudah terlalu lama mengganggu."
"Kau tidak mengganggu nak," jawab pendeta itu dengan nada ramah. Ia membuang sampah sisa makanan mereka, sementara Keiko membungkuk sopan sebagai tanda perpisahan.
Namun, saat Keiko baru dua langkah menuruni anak tangga batu, suara sang pendeta kembali memanggilnya.
"Nona Keiko."
Keiko berhenti dan menoleh. Sang pendeta masih membelakanginya, sibuk melipat kertas pembungkus bakpao. Beberapa detik berlalu dalam kesunyian sebelum pria tua itu kembali berbicara.
"Kalau nanti malam kau bermimpi lagi..." Pendeta berhenti sejenak. Angin gunung berembus, membuat ujung lengan jubahnya berkibar pelan. "...dan ada seseorang yang muncul di sana, jangan langsung percaya pada apa yang kau lihat."
Keiko mengernyit. "Maksud paman?"
Pendeta akhirnya menoleh "Mimpi sering memakai wajah yang kita kenal."
Hanya itu. Tanpa penjelasan tambahan, pendeta kembali menyapu halaman kuil, mengabaikan kehadiran Keiko seolah percakapan mereka telah berakhir.
Keiko berdiri mematung di anak tangga. Pandangannya jatuh pada jimat merah di tasnya, lalu beralih kembali ke sosok pendeta itu. Ucapan lelaki tua itu justru membuat mimpinya semalam terasa sepuluh kali lebih nyata.
Jangan langsung percaya pada apa yang kau lihat...
"Dasar," bisik Keiko pada dirinya sendiri, mencoba menyunggingkan senyum paksa. "Aku benar-benar mulai terbawa suasana desa ini."
Ia pun melanjutkan perjalanan menuruni anak tangga, dengan beban yang sedikit berkurang