~~
Di tengah pekatnya suasana pedesaan yang kental dengan tradisi, Larasati, seorang gadis cantik dan muda, harus merelakan masa mudanya hilang setelah terjebak dalam perjodohan politik. Ia dinikahkan dengan Raden Mas Baskoro, seorang juragan terpandang dengan usia yang terpaut jauh dengannya yang memiliki watak kaku dan dingin. Pernikahan mereka bukanlah didasari oleh cinta, melainkan sebuah kewajiban untuk menjaga martabat dan meneruskan garis keturunan keluarga besar sang juragan.
~~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 32
***
Matahari tinggi membakar atap sirap rumah joglo, namun kegelapan abadi seolah mencengkeram kamar utama. Di dalam keheningan yang mencekam itu, Larasati bergelut dengan mimpi buruk. Raga remajanya yang berusia sembilan belas tahun tergolek lemah di atas kasur kapuk, tertutup selimut jarik hingga dada. Jejak kelelahan brutal semalam—penyatuan raga yang dipaksakan Baskoro di bawah gempuran cemburu buta—tercetak jelas pada rona pucat wajahnya dan lingkaran hitam di bawah matanya.
Perutnya yang membuncit sarat di usia delapan bulan terasa tegang dan berat, memberikan rasa tidak nyaman yang terus-menerus. Napas Larasati mengalun pendek, tersengal halus di antara bibirnya yang kering. Sebuah rintihan lirih lolos dari tenggorokannya saat ia mencoba menggerakkan tubuhnya yang kaku.
Ugh... Mas... gumam Larasati putus asa, kelopak matanya terbuka perlahan, terasa seberat timah.
Pandangannya kabur, kepalanya berdenyut pening laksana dihantam godam. Kesadaran perlahan kembali, membawa memori kelam tentang amarah Baskoro semalam. Larasati menoleh ke samping, mendapati sisi ranjang yang kosong. Rasa was-was seketika merayap di dadanya. Ke mana suaminya pergi sepagi ini dengan amarah yang masih menyala?
Larasati mencoba duduk, namun rasa nyeri yang tajam menghantam pinggang dan perut bawahnya. Semalam, Baskoro seolah ingin menghancurkannya, mengambil paksa haknya sebagai suami demi memuaskan ego dan kecemburuan liarnya, tanpa memedulikan kondisi kehamilannya yang rentan.
Di tengah perjuangannya untuk duduk, pendengaran Larasati menangkap suara bisik-bisik dari balik pintu jati yang terkunci. Suara itu pelan, penuh ketakutan, namun tersaring jelas di telinganya yang tajam.
"...ngeri kali, Mbok. Raden Mas mengamuk di sel bawah tanah. Suara cambuknya terdengar sampai selasar belakang," bisik seorang pelayan muda, suaranya bergetar.
"Sst! Jangan kencang-kencang! Kalau Raden Ayu dengar, bisa gawat. Kasihan Bagas, tubuhnya sudah bersimbah darah. Raden Mas benar-benar kalap," sahut suara Mbok Sum, terdengar serak menahan tangis.
Bagas? Sel bawah tanah? Cambuk?
Darah Larasati terasa membeku seketika. Tuduhan Gayatri semalam benar-benar telah mematikan nalar Baskoro. Pria itu mboten hanya menyiksanya secara batin dan fisik, tapi kini tengah menumpahkan darah Bagas, pemuda tidak bersalah yang hanya menjadi korban fitnah.
Ketakutan dan kepanikan total menguasai Larasati. Rasa pening di kepalanya dan kaku di sekujur tubuhnya mendadak sirna, digantikan oleh dorongan adrenalin yang dahsyat. Ia mboten bisa tinggal diam. Ia mboten akan membiarkan Bagas mati demi cemburu buta suaminya.
Dengan susah payah, Larasati menurunkan kakinya dari ranjang. Tubuhnya berguncang hebat, beban perutnya yang besar terasa laksana batu raksasa yang hendak menyeretnya jatuh. Ia mencengkeram tiang ranjang, menahan rasa mual yang hebat.
Tidak... aku harus kuat... Bagas tidak bersalah... batin Larasati bertekad.
Larasati melangkah tertatih-tatih menuju pintu. Tangannya yang gemetar meraih gerendel kunci, membukanya dengan sentakan kaku. Cklek.
Pintu terbuka, memperlihatkan Mbok Sum dan pelayan muda yang langsung tersentak kaget. Wajah mereka memucat melihat Raden Ayu yang seharusnya beristirahat kini berdiri di depan mereka laksana mayat hidup.
"Gusti Nyai! Kenapa Anda bangun? Anda harus istirahat!" Mbok Sum panik, mencoba memegang lengan Larasati.
Larasati menepis tangan pelayan sepuh itu dengan dingin. Tatapan matanya yang redup kini berkilat tajam oleh kekecewaan dan amarah yang tertahan. "Di mana Mas Baskoro, Mbok? Katakan padaku yang jujur! Jangan berani berbohong!"
Mbok Sum menunduk ketakutan, air mata menetes di pipinya yang keriput. "R-Raden Mas... ada di sel bawah tanah, Gusti. Tapi Anda mboten boleh ke sana! Raden Mas sedang kalap, sangat berbahaya!"
Larasati tidak mendengarkan peringatan itu. Dengan langkah yang goyah namun pasti, ia berjalan menyusuri selasar belakang. Tangannya mencengkeram dinding kayu untuk menopang tubuhnya yang ringkih. Setiap langkah terasa laksana siksaan, perutnya yang besar menegang kaku, memberinya rasa nyeri yang tumpul namun konstan.
Napas Larasati memburu pendek. Suara cambuk yang beradu dengan kulit dan erangan kesakitan kian terdengar jelas, memandu langkahnya menuju tangga batu yang dingin dan lembap menuju ruang tahanan bawah tanah.
Bilik batu itu suram, hanya diterangi oleh pendar lampu minyak yang teplok. Udara terasa pengap oleh bau tanah basah dan anyir darah. Suara cambukan kulit bergaung keras, memecah keheningan yang mencekam.
Baskoro berdiri mematung di tengah ruangan. Wajah tegapnya kaku, matanya merah padam oleh kabut cemburu yang masih membutakan nuraninya. Ia menyaksikan dua pengawal bertubuh kekar menghujani punggung Bagas dengan cambuk kulit tanpa ampun. Tubuh Bagas terkulai lemah di tiang gantungan, bersimbah darah, pakaian luriknya sudah koyak-moyak.
"Cambuk lagi! Sampai dia mengaku kalau benih di rahim Larasati adalah darah dagingnya!" raung Baskoro, suaranya bariton rendah, menggelegar penuh aura intimidasi yang mematikan.
Di sudut ruangan, Sentot berdiri menunduk, wajahnya tegang menahan gejolak batin. Ia mboten tega melihat penyiksaan itu, namun mboten berani menyela murka juragannya.
Tiba-tiba, derit pintu besi bergema keras. Sesosok tubuh muncul dari balik kegelapan tangga batu.
Larasati berdiri di ambang pintu sel. Raga remajanya yang berusia sembilan belas tahun tampak sangat ringkih. Rambut hitamnya acak-acakan, wajah cantiknya pucat pasi laksana mayat, matanya redup namun memancarkan tatapan dingin yang mampu membekukan api amarah Baskoro seketika. Ia mengenakan kebaya longgar katun putih, selimut jarik masih melilit longgar di pinggangnya. Kedua tangannya memegangi perut besarnya yang menegang kaku.
Ceter! Cambuk itu terhenti di udara. Kedua pengawal tersentak kaget, seketika menurunkan cambuk mereka. Baskoro memutar tubuhnya dengan sentakan kaku, rahang tegapnya mengeras.
"Larasati?! Apa yang kau lakukan di sini, hah?!" bentak Baskoro, suaranya menggelegar, namun ada nada kepanikan yang terselip melihat kondisi istrinya yang memprihatinkan. "Siapa yang mengizinkanmu turun ke tempat kotor ini dalam kondisi seperti ini?!"
Larasati tidak menjawab. Ia melangkah masuk perlahan, mengabaikan tatapan mata suaminya yang tajam. Pandangannya lurus tertuju pada Bagas yang terkulai lemah di tiang gantungan. Luka-luka di punggung pemuda itu membuat dada Larasati terasa diremas kuat.
"Lepaskan Bagas, Mas Baskoro," ucap Larasati pelan, suaranya bergetar menahan kekecewaan yang teramat dalam. Tatapan matanya yang redup kini menatap lurus ke dalam manik mata suaminya.
Baskoro tertawa sinis, sebuah tawa ringkih penuh kepahitan. "Lepaskan? Kau datang ke sini untuk memohon pengampunan bagi kekasih manusiamu ini, hah?! Kau lihat tulisan di kertas itu, Laras! Dia mengakui kalau anak di rahimmu ini adalah darah dagingnya!"
"Fitnah! Itu fitnah kejam Gayatri!" Larasati berteriak, air mata deras menyapu pipinya yang pucat. Ia melangkah mendekati Baskoro, menantang wibawa sang juragan Joglo. "Kenapa Anda tidak pernah mau mendengarkan saya, Mas?! Kenapa Anda lebih percaya pada bisikan racun wanita asing dibanding istri Anda sendiri?!"
Baskoro mencengkeram bahu Larasati dengan keras, cengkeraman tangan besarnya membuat Larasati meringis pelan. "Jujurlah padaku, Larasati! Milik siapa rahim ini?! Milik siapa benih di dalam perutmu ini?! Pria tua yang kau nikahi karena utang ayahnya... atau pemuda desa miskin ini?!"
Tuduhan kejam itu menghantam dada Larasati tepat di titik paling dalam. Hati wanita remajanya hancur berkeping-keping. Pria yang semalam merawatnya dengan ketelatenan tingkat tinggi di tengah kelelahan 8 bulan, kini berdiri di depannya laksana monster yang siap meremukkan harga dirinya.
Larasati menatap lurus sepasang mata suaminya yang masih dibutakan cemburu. Dengan sisa tenaga dan suara yang parau, ia menjawab lirih, namun sarat akan ketegasan yang terluka.
"Jika Anda meragukan kesucian rahim ini, Mas Baskoro..." Larasati jeda sejenak, napasnya memburu pendek karena sesak yang mendadak menghantam dadanya. "Maka siksa saya sekalian! Cambuk saya, Mas! Siksalah tubuh sembilan belas tahun ini sampai Anda puas! Tapi jangan limpahkan rasa cemburu buta dan murka Anda pada orang-orang tidak bersalah seperti Bagas!"
Kata-kata Larasati mengendap tebal di udara sel yang pengap. Baskoro mematung, cengkeraman tangannya di bahu Larasati perlahan mengendur. Ia melihat binar keputusasaan dan kekecewaan yang teramat dalam di mata istri kecilnya.
Sentot yang melihat momen ketegangan itu memberanikan diri melangkah maju. "Raden Mas... ijinkan saya bicara. Saya curiga stempel di kertas itu palsu. Bentuknya mboten sama dengan stempel asli kadipaten."
"Diam, Sentot! Jangan ikut campur!" bentak Baskoro kasar.
Tiba-tiba, kepanikan total meledak di wajah Larasati. Guncangan emosional yang teramat hebat dan rasa sakit batin yang menghancurkan jiwanya seketika memicu keputusasaan mutlak pada raga remajanya.
Rasa nyeri yang luar biasa tajam dan mencengkeram menghantam bagian bawah rahim Larasati laksana guntur di siang bolong.
"Arghhh!" Larasati menjerit kesakitan, suaranya melengking tinggi, memecah kesunyian bilik batu.
Tubuhnya seketika melorot lemas di depan Baskoro. Kedua tangannya mencengkeram kuat bagian bawah perutnya yang mendadak menegang keras bagaikan batu jati kuno. Wajah cantiknya yang pucat kini menyeringai menahan rasa sakit yang mboten tertahankan.
Kontraksi!
Kontraksi palsu yang teramat hebat akibat stres tingkat tinggi kini menghantam rahim Larasati tanpa ampun. Tubuhnya gemetar hebat, napasnya tersengal-sengal pendek penuh penderitaan. Di usia delapan bulan, raga remajanya tak sanggup menahan beban kelelahan batin dan gempuran penyatuan fisik yang brutal semalam.
Baskoro murka yang melihat cemburu butanya mendadak sirna, berganti menjadi kepanikan hebat yang sanggup membekukan seluruh aliran darahnya. Pria tiga puluh lima tahun itu seketika tersentak ketakutan saat melihat permaisuri remajanya mengerang histeris memegangi perut besarnya di atas lantai batu.
"Larasati! Laras, Nduk! Ada apa?!" teriak Baskoro panik, seketika berlutut dan merengkuh tubuh mungil istrinya yang gemetar ke dalam pelukan kekarnya.
"S-Sakit... Mas... arghhh! Sakit sekali... perut saya...!" rintih Larasati histeris, menyembunyikan wajahnya di dada bidang Baskoro sembari menumpahkan seluruh air mata penderitaannya.
Penyiksaan di bilik batu terhenti seketika. Badai prasangka dan cemburu buta Baskoro rubuh total, berganti menjadi ketakutan mutlak akan kehilangan belahan jiwanya dan calon buah hatinya di tengah keheningan sel bawah tanah Joglo.
Bersambung
eh kadang2 Baskoro 40 Larasati 17..
kadang balik lg Baskoro 35 Larasati kadang 19 kadang 17😄