NovelToon NovelToon
Aku Kecanduan Mantan Istri

Aku Kecanduan Mantan Istri

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: yuningsih titin

Kenan, CEO berkuasa, menjatuhkan talak pada Kinasih hanya untuk melindunginya. Tanpa ia tahu, wanita itu pergi membawa buah cinta mereka.

Kini Kinasih menjadi dokter muda yang berjuang sendirian, sementara Kenan terjebak dalam pernikahan hampa, hatinya tetap hanya untuk mantan istrinya itu.

Takdir mempertemukan mereka kembali. Kenan pun bertekad merebut kembali apa yang hilang, menghadapi cemburu buta istri barunya dan saingan baru yang ingin memiliki Kinasih. Akankah ia berhasil menebus kesalahan dan menyatukan keluarga mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Persimpangan Harga Diri dan Nyawa Ibu

Seketika wajah Kinasih memerah padam sampai ke telinganya. Tubuhnya terasa kaku dan gugup bukan main, tangannya gemetar sedikit hingga nyaris menyenggol gelas di atas meja. Ia buru-buru memegang ujung celemeknya, menunduk dalam sambil berusaha menahan senyum dan rasa malu yang meluap.

“S-sama-sama, Kak… selamat menikmati,” jawabnya terbata-bata, lalu secepatnya berbalik dan pergi menjauh, tak berani menoleh lagi.

Kenan hanya tertawa pelan melihat reaksi gadis itu, matanya terus mengikuti punggung Kinasih dengan tatapan penuh kekaguman dan ketertarikan yang semakin membara.

Di sisi lain, Rizky yang melihat semuanya hanya menggeleng pelan dalam hati. Wah… ini baru pertama kali gue lihat Bos seganteng dan semanis ini sama wanita. Pasti benar-benar jatuh hati nih dia, pikirnya sambil diam saja, tak berani mengganggu suasana.

Hari-hari Kinasih yang baru mulai terasa sedikit lebih baik, seketika hancur berkeping-keping hanya lewat satu telepon. Suara panik tetangganya di ujung sambungan membuat seluruh tubuh Kinasih lemas seketika.

“Nak Kinasih… cepat pulang ke Bandung! Ibumu tiba-tiba pingsan di rumah, katanya sakit di dada… sekarang sudah dibawa ke Rumah Sakit Sentral Medika!”

Telepon itu terlepas begitu saja dari genggamannya. Tanpa pikir panjang, Kinasih segera meminta izin cuti mendadak ke pemilik kafe dan dosen kampus, lalu bergegas mengejar kereta tercepat menuju Bandung. Air matanya tak henti mengalir sepanjang perjalanan, hatinya berteriak memohon agar ibunya selamat.

Sesampainya di rumah sakit, ia langsung berlari menuju ruang rawat inap. Di sana sudah ada Damar, kakaknya, yang duduk cemas di samping ranjang tempat ibunya terbaring lemah.

“Kak!” panggil Kinasih dengan suara tercekik.

Damar langsung menoleh, mengusap wajahnya yang terlihat lelah dan sedih. “Syukurlah kamu sampai, Kin. Ibu terkena serangan jantung mendadak. Untungnya cepat dibawa ke sini, jadi nyawanya bisa tertolong.”

Kinasih mendekat, menggenggam erat tangan dingin ibunya yang mulai membuka mata perlahan. Hatinya terasa teriris melihat wanita yang selama ini menjadi penopang hidupnya tampak begitu lemah dan pucat.

Selama dua hari, Damar menunggui ibunya bergantian dengan Kinasih. Namun sebagai seorang polisi yang punya tanggung jawab besar, Damar akhirnya harus kembali bertugas.

“Kin, maaf ya Kakak harus pergi. Ada tugas mendadak yang nggak bisa ditunda. Kakak berharap banget Ibu cepat sembuh,” ucap Damar sambil memegang bahu adiknya.

Kinasih mengangguk paham, mencoba tersenyum meski hatinya remuk. “Iya, Kak. Nggak apa-apa, tugas Kakak juga penting. Di sini ada gue, Ibu aman kok. Kakak hati-hati ya.”

Begitu tinggal berdua saja, Nurhalimah memandang putri semata wayangnya itu dengan tatapan penuh rasa bersalah. Air matanya menetes pelan.

“Nak… maafin Ibu ya. Sudah merepotkan kalian terus. Baru saja Ibu merasa tenang, eh malah sakit begini… pasti kamu pusing mikirin biayanya,” ucapnya lirih.

Kinasih segera menghapus air mata ibunya dengan lembut, suaranya bergetar menahan tangis.

“Ibu… jangan bicara begitu dong! Ini tugas Kinasih merawat Ibu. Tenang saja, Kinasih bisa izin kuliah dan kerja dulu buat nemenin Ibu sampai sembuh. Ibu fokus istirahat aja, urusan lain biar Kinasih yang pikirin,” jawabnya tegas meski di dalam hatinya ketakutan meluap-luap.

Ibu hanya mengangguk lemah, berusaha percaya pada kata-kata putrinya.

Lima hari berlalu. Kondisi Ibu mulai sedikit membaik, sampai akhirnya dokter yang menangani datang membawa penjelasan yang membuat jantung Kinasih terasa berhenti berdetak sejenak.

“kinasih, saya sampaikan apa adanya ya. Kondisi jantung ibumu ini butuh penanganan lebih lanjut. Harus segera dipasangkan cincin penyangga pembuluh darah supaya nggak kambuh lagi dan kondisinya makin parah nanti,” jelas dokter itu dengan nada serius.

Kinasih menelan ludah, berusaha tetap tenang. “Terus… biayanya berapa, Dok? Kan ada BPJS, semuanya ditanggung kan?”

Dokter itu menggeleng pelan. “Memang sebagian ditanggung BPJS, tapi alat medis dan prosedur khususnya tidak sepenuhnya dicover. Sisanya harus ditanggung keluarga. Kira-kira total biaya yang harus disiapkan adalah 50 juta rupiah.”

Angka itu terasa seperti guntur yang menyambar kepala Kinasih. Ia tertegun kaku, matanya langsung berkaca-kaca. Lima puluh juta. Angka yang sangat besar baginya.

“Untuk biaya praktikum kedokteran saja aku harus pinjam ke Amara, masa sekarang harus meminjam lagi? Pasti rasanya malu sekali, lagian mana mungkin Amara punya uang sebanyak itu dalam waktu singkat?”batin Kinasih merasa putus asa.

Malam itu juga, Damar kembali menjenguk. Begitu mendengar jumlah biaya yang dibutuhkan, wajah kakaknya langsung pucat pasi. Ia memijat pelipisnya yang terasa berdenyut.

“Kin… Kakak jujur aja. Gaji Kakak ini setengahnya sudah habis dipakai buat biaya pengobatan dan pemakaman Ayah kemarin. Sisanya pas banget buat hidup sehari-hari. Menabung saja belum sempat. Kakak nggak tahu harus cari pinjaman ke mana lagi, teman-teman juga sama-sama baru mulai bekerja,” ucap Damar dengan suara terbata, merasa sangat tidak berdaya sebagai kepala keluarga yang tersisa.

Kinasih terduduk lemas di kursi tunggu, tangannya menutupi wajah yang sudah basah oleh air mata.

“Terus bagaimana ini, Kak? Kalau nggak segera dipasang, kata dokter Ibu bisa kambuh lagi kapan saja… Kinasih nggak sanggup kalau sampai kehilangan Ibu juga…” isaknya tergugu.

Malam itu terasa sangat panjang dan gelap bagi mereka berdua. Dua anak yang baru saja kehilangan sosok pelindung, kini harus berjuang mati-matian mencari uang dalam jumlah besar, seolah tak ada satu jalan keluar pun yang terlihat di depan mata. Mereka hanya bisa saling memandang, dihantui rasa takut dan kebingungan yang mendalam.

Dua hari berlalu, namun jalan keluar tak juga terlihat. Kinasih sudah mencoba menghubungi siapa saja yang ia kenal, tapi hasilnya selalu sama, belum ada yang bisa mengumpulkan uang sebesar itu dalam waktu singkat. Rasa putus asa perlahan menyelimuti hatinya, sampai sebuah pesan masuk dari Riska, teman dekatnya sejak SMA yang sekarang kuliah di UNPAD.

“Kin, dengar kabar kamu lagi butuh uang banyak. Kalau mau, kita ketemu sebentar di kafe dekat kampusku ya. Mungkin aku ada jalan keluarnya.”

Tanpa berpikir panjang, Kinasih segera menyempatkan diri bertemu. Ia berharap, Riska benar-benar bisa membantunya melewati masa sulit ini.

Sesampainya di kafe, Riska sudah menunggu di sudut ruangan. Begitu melihat wajah lelah dan mata sembab Kinasih, Riska langsung menggenggam tangannya dengan iba.

“Ya ampun Kin… kamu kelihatan banget nggak tidur berhari-hari. Cerita sama aku, memang butuh berapa?” tanya Riska lembut.

“Lima puluh juta, Ris. Buat biaya pasang cincin jantung Ibu. Kalau nggak segera, nyawanya terancam,” jawab Kinasih lirih, air matanya langsung menetes lagi. “Aku sudah coba pinjam ke mana-mana, nggak ada yang sanggup. Bahkan Damar kakakku juga nggak punya sisa uang sama sekali.”

Riska menghela napas panjang, lalu menggeleng pelan. “Kalau kamu minta pinjam sama aku, jujur aja Kin… aku nggak punya sebanyak itu. Uang saku bulanan saja pas-pasan buat kuliah. Orang tuaku juga nggak sanggup kasih lebih.”

Wajah Kinasih langsung pucat pasi lagi. Rasanya langit seolah runtuh menimpanya. “Terus… bagaimana ini, Ris? Aku rela melakukan apa saja, pekerjaan apa pun, asalkan halal dan cepat dapat uangnya. Aku nggak mau kehilangan Ibu juga…”

Mendengar kalimat itu, mata Riska berbinar sedikit. Ia mendekatkan wajahnya, berbisik pelan agar tak ada orang lain yang mendengar.

“Kalau begitu… ada satu jalan cepat, Kin. Sangat cepat, uangnya bisa kamu dapatkan dalam hitungan jam saja.”

Kinasih menegakkan badannya, matanya penuh harap. “Jalan apa, Ris? Katakan saja! Apapun pekerjaannya, nanti aku kerjakan sebaik mungkin, nggak peduli seberat apa pun itu!”

Riska terdiam sebentar, lalu membisikkan kata-kata yang membuat seluruh darah di tubuh Kinasih terasa berhenti mengalir.

“Jadi teman sugar daddy, Kin.”

Kinasih terperangah, matanya melotot tak percaya. Seolah baru saja mendengar hal paling mengerikan di dunia, ia langsung menarik tangannya dari genggaman Riska dengan kaku.

“Maksudmu… menyerahkan harga diriku? Menjaga keperawananku dan kehormatanku hanya demi uang? Nggak mungkin, Ris! Aku nggak sanggup melakukan hal semurah itu!” suaranya bergetar campur marah dan kaget.

“Dengerin dulu Kin! Jangan langsung emosi,” bujuk Riska sambil menenangkan. “Ini bukan sembarangan lho. Teman sugar daddy-ku sendiri lagi bertugas di Bandung cuma tiga hari saja. Dia orang kaya banget, sopan, dan membayar mahal banget. Dia cari gadis yang masih perawan untuk menemaninya selama dia di sini saja. Cuma tiga hari, Kin! Nggak lebih. Dan dia berani membayar… 100 juta rupiah.”

Angka itu membuat kepala Kinasih terasa berputar. Seratus juta, qlebih dari cukup untuk biaya operasi ibunya, bahkan masih tersisa banyak untuk kebutuhan mereka berbulan-bulan ke depan. Tapi rasa ngeri dan jijik pada dirinya sendiri langsung menyeruak lebih kuat.

Ia menggeleng kuat-kuat, air matanya mengalir deras membasahi pipinya. “Nggak… nggak mau, Ris! Lebih baik aku miskin seumur hidup daripada harus menjual tubuh dan harga diriku. Itu satu-satunya harta berharga yang masih aku miliki, warisan kepercayaan Ayah dan Ibu. Kalau aku lakuin itu, aku sama saja membunuh diri sendiri!”

Kinasih berdiri ingin pergi, tapi Riska segera menahannya dengan lembut, wajahnya penuh simpati.

“Kin, aku tahu ini berat. Aku nggak memaksamu kok. Aku cuma kasih tahu jalan ini karena aku kasihan melihat kamu dan Ibu. Pilihan ada di tanganmu sepenuhnya. Pikirkan baik-baik saja ya. Kalau kamu butuh, nomornya ada di sini. Kalau nggak mau, nggak apa-apa juga, aku tetap jadi temanmu,” kata Riska sambil menyodorkan secarik kertas, lalu meletakkannya pelan di atas meja tanpa memaksa.

Kinasih hanya memandang kertas itu dengan pandangan bingung dan takut, lalu berbalik pergi dengan langkah gontai. Jalan pulang terasa sangat berat, di kepalanya hanya berputar dua hal: nyawa ibunya yang terancam… atau kehormatannya yang harus dijaga. Pilihan terberat yang harus diambil seorang gadis muda yang sedang terjepit di ujung jalan tanpa cahaya sedikit pun.

Ia tak tahu harus berdoa kepada siapa lagi, rasanya dunianya benar-benar sudah gelap gulita.

Langkah Kinasih terasa sangat berat saat kembali ke Rumah Sakit Sentral Medika. Begitu sampai di lantai rawat, jantungnya serasa dicengkeram kuat saat melihat ranjang ibunya kosong, digantikan tanda ICU yang tergantung di pintu ruangan khusus itu.

Damar berdiri mematung di depan pintu, wajahnya pucat pasi dan matanya sembab. Begitu melihat adiknya, ia hanya menggeleng lemas.

“Kin… tadi tengah malam Ibu kambuh lagi dengan hebat. Dokter langsung memindahkannya ke ruang perawatan intensif. Kondisinya makin kritis, harus segera dioperasi besok pagi tanpa bisa ditunda lagi,” ucap Damar dengan suara parau.

Air mata Kinasih langsung meledak. Ia memegang dada yang terasa sesak hingga susah bernapas. “Lalu… uangnya bagaimana, Kak? Kita sudah dapat berapa?”

1
sunaryati jarum
Apa yang kamu lakukan sudah benar Kinasih,Kenan bukan suamimu walau ayah anakmu
sunaryati jarum
Semoga terwujud Kenan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!