NovelToon NovelToon
CEO'S Second Chance: Membeli Hati Sang Mantan

CEO'S Second Chance: Membeli Hati Sang Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:605
Nilai: 5
Nama Author: Nge Game

Sembilan tahun lalu, Mentari Ayuningtyas terpaksa mematahkan hati Devan Elvano.
​Di masa SMA, Devan hanyalah remaja miskin berkemeja lusuh yang mengendarai motor tua. Demi menuruti tuntutan keluarganya dan menyembunyikan sebuah rahasia menyakitkan, Mentari memutus hubungan mereka dengan cara yang paling kejam, meninggalkan luka mendalam di hati pria yang teramat mencintainya itu.
​Kini, roda takdir telah berputar 180 derajat.
​Mentari terjebak dalam realitas urban yang mencekik. Sebagai seorang wanita kantoran biasa, ia mendapati dirinya di ambang kehancuran ketika sang ibu jatuh sakit dan tagihan rumah sakit menumpuk hingga ratusan juta. Di tengah keputusasaannya, takdir justru mempertemukannya kembali dengan Devan.
​Namun, Devan yang sekarang bukanlah remaja lemah yang bisa ditindas. Ia telah menjelma menjadi CEO Elvano Group—seorang miliarder dingin nan kejam yang memiliki jaringan restoran bintang lima di berbagai negara dan memegang saham mayoritas di perusahaan tempat Mentari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nge Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Babak Baru Dimulai

Pagi hari di lantai lima puluh gedung Elvano Group tidak pernah sesunyi ini, namun ketenangan itu justru menyimpan riak ketegangan baru yang siap meledak. Hari ini adalah hari di mana Devan menjadwalkan rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB). Agenda tunggalnya telah dikirimkan ke seluruh jajaran direksi dan komisaris sejak malam tadi: pengesahan pengalihan sepuluh persen saham anak perusahaan properti Elvano Group kepada Mentari Ayuningtyas.

​Mentari berdiri di depan cermin besar di dalam walk-in closet penthouse sebelum mereka berangkat. Ia mengenakan blazer formal berwarna biru dongker yang melekat pas di tubuhnya, dipadukan dengan kemeja putih sutra di bagian dalam. Riasan wajahnya tipis namun tegas, memancarkan aura yang jauh berbeda dari sosok asisten pribadi yang penurut. Hari ini, dia melangkah bukan sebagai pekerja kontrak, melainkan sebagai pewaris sah dari hak keluarganya yang sempat dirampas.

​Sepasang lengan kokoh tiba-tiba melingkar di pinggangnya dari belakang. Devan menumpukan dagunya di bahu Mentari, menatap pantulan mereka berdua di cermin. Pria itu sudah mengenakan setelan jas tiga potong berwarna hitam legam yang membuatnya tampak seperti kaisar tanpa mahkota di dunia bisnis.

​"Kamu terlihat sangat cantik, dan... sangat berkuasa," bisik Devan rendah, bibirnya menyapu kulit leher Mentari yang sensitif, membuat wanita itu sedikit bergidik.

​"Jangan mulai, Devan," tegur Mentari pelan, meskipun ia tidak menolak dekapan hangat tersebut. "Aku sedang mencoba mengumpulkan keberanian. Aku tahu rapat hari ini tidak akan berjalan mudah. Direksi lama pasti akan memprotes keputusanmu."

​Devan membalikkan tubuh Mentari agar menghadapnya. Sepasang mata elangnya menatap lekat-lekat ke dalam manik mata Mentari, memancarkan keyakinan mutlak yang tak tergoyahkan. "Biarkan mereka memprotes sampai suara mereka habis. Aku memegang saham pengendali, Mentari. Rapat hari ini hanyalah formalitas hukum untuk mengetuk palu. Jika ada satu saja direktur yang berani melayangkan tatapan tidak suka padamu... aku akan memastikan kursinya diganti besok pagi."

​Mentari tersenyum tipis, mengusap dada kemeja Devan untuk merapikan lipatan dasinya. Keposesifan dan arogansi Devan kini telah menjelma menjadi perisai yang paling ia percayai. "Ayo berangkat, Pak CEO. Kita tidak boleh terlambat di hari pertamaku menjadi pemegang saham."

​Ruang rapat utama Elvano Group dipenuhi oleh aroma cerutu mahal dan kasak-kusuk rendah dari belasan pria dan wanita paruh baya bersetelan formal mahal. Mereka adalah para taipan dan investor yang telah menanamkan modalnya sejak awal Elvano Group merangkak naik. Begitu pintu ganda ruang rapat terbuka dan Devan melangkah masuk bersama Mentari di sampingnya, seluruh suara obrolan seketika terhenti.

​Devan berjalan dengan langkah tegap, memutari meja panjang berbentuk oval tersebut dan duduk di kursi kebesaran di ujung ruangan. Mentari duduk di kursi tepat di sebelah kanannya, posisi yang biasanya ditempati oleh penasihat hukum senior perusahaan.

​"Selamat pagi, semuanya," sapa Devan, suaranya bariton, datar, namun langsung membungkam seluruh ruangan. "Kita langsung saja ke agenda utama. Dokumen pengalihan sepuluh persen saham Elvano Property atas nama Mentari Ayuningtyas sudah berada di depan meja kalian masing-masing. Silakan ditinjau sebelum penandatanganan akta resmi."

​Seorang komisaris senior berambut putih, Surya Utama, berdeham keras. Ia menegakkan punggungnya, menatap Mentari dengan pandangan menilai yang sarat akan keraguan. "Maaf, Pak Devan. Sebagai perwakilan dari dewan komisaris, kami tentu menghormati keputusan Anda. Namun, pengalihan sepuluh persen aset penting secara cuma-cuma kepada seorang mantan asisten pribadi... ini bisa menimbulkan spekulasi negatif di pasar saham. Sentimen publik bisa menganggap ada konflik kepentingan pribadi di sini."

​Suasana ruangan mendadak drop beberapa derajat. Beberapa direktur lain tampak mengangguk setuju dengan pernyataan Surya, mencoba mencari celah untuk menggoyahkan keputusan Devan.

​Mentari merasakan jemarinya mendadak dingin, namun sebelum ia sempat membuka suara, Devan sudah terlebih dahulu menegakkan punggungnya. Aura mengintimidasi yang begitu pekat langsung menguar dari tubuh sang CEO.

​"Cuma-cuma, Pak Surya?" Devan terkekeh, suara tawa yang begitu dingin hingga membuat Surya Utama bergeser tidak nyaman di kursinya. "Jika Anda membaca lampiran sejarah aset di halaman ketiga, Anda akan tahu bahwa sepuluh persen saham itu didirikan di atas fondasi likuidasi aset milik keluarga Ayuningtyas sembilan tahun lalu akibat manipulasi pasar yang dilakukan oleh Wijaya Group dan keluarga Bramantyo."

​Devan mengetukkan jarinya di atas meja dengan ritme yang konstan, menciptakan ketukan yang seolah menghitung mundur nasib karier orang-orang di depannya. "Elvano Group membeli aset itu dengan harga murah saat terjadi kepailitan sepihak. Pengalihan hari ini bukan sebuah hadiah pribadi, melainkan sebuah restrukturisasi hukum untuk menghindari gugatan balik atas kepemilikan aset masa lalu yang bisa berakibat pada pembekuan operasional. Apakah Anda lebih memilih pasar melihat kita digugat atas kepemilikan aset ilegal, atau melihat kita menyelesaikannya secara damai lewat korporasi?"

​Surya Utama bungkam. Alasan hukum dan finansial yang disodorkan Devan begitu matang dan tak bercelah. Pria tua itu melirik dokumen di tangannya, lalu perlahan mengangguk pasrah. "Jika tim hukum sudah memastikan tidak ada celah gugatan... kami tidak keberatan."

​"Bagus," ujar Devan datar. Ia menandatangani dokumen di depannya dengan satu tarikan pena yang tegas, lalu menggesernya ke arah Mentari. "Sekarang, giliranmu, Nona Pemegang Saham."

​Mentari meraih pena perak tersebut. Dengan tangan yang kini sepenuhnya stabil, ia menorehkan tanda tangannya di atas dokumen resmi negara itu. Babak baru kehidupannya kini telah resmi terkunci di atas kertas legalitas tertinggi.

​Sore harinya, setelah rapat melelahkan itu selesai, Mentari memilih untuk mengunjungi paviliun barat di penthouse untuk melihat kondisi ibunya. Sarah tampak sedang duduk di kursi roda dekat jendela besar, menikmati teh hangat yang disiapkan oleh perawat pribadi sembari memandangi taman vertikal yang asri. Wajahnya terlihat jauh lebih segar dibandingkan saat berada di rumah sakit.

​"Ibu," panggil Mentari lembut, berjalan mendekat dan berlutut di samping kursi roda ibunya.

​Sarah menoleh, tersenyum hangat lalu mengusap rambut putrinya. "Mentari... bagaimana rapatmu hari ini? Devan bilang kamu sedang mengurus proyek besar bersama direksi."

​Mentari menggenggam tangan ibunya, menempelkan pipinya di sana. "Semuanya lancar, Bu. Aset peninggalan Ayah... sebagian sudah kembali ke tangan kita. Devan yang mengurus semuanya."

​Sarah menghela napas panjang, tatapannya menerawang ke luar jendela kaca. "Devan anak yang baik. Sembilan tahun lalu, saat Ibu melihatnya berdiri di depan rumah kita dengan baju yang basah karena hujan, Ibu tahu anak itu memiliki tekad yang sangat besar. Tapi Ibu tidak pernah menyangka dia akan tumbuh menjadi pria sehebat ini... dan menjaga cintanya untukmu begitu lama."

​Sarah menatap mata putrinya dengan dalam. "Mentari, Ibu tahu ada banyak hal yang kamu sembunyikan dari Ibu tentang alasan kalian berpisah dulu. Ibu juga tahu Baskoro... pamanmu itu pasti terlibat dalam sesuatu yang buruk hingga dia tidak pernah muncul lagi sekarang. Ibu tidak bodoh, Nak. Tapi melihat bagaimana Devan memperlakukanmu dan melindungi kita di tempat ini... Ibu merasa tenang. Jangan lepaskan dia lagi, Mentari."

​Mentari merasakan dadanya menghangat, air mata kebahagiaan perlahan mengalir di pipinya. "Iya, Bu. Aku tidak akan melepaskannya lagi. Aku berjanji."

​Malam harinya, Devan mengajak Mentari ke area balkon terbuka di lantai dua penthouse. Angin malam yang sejuk berembus pelan, menerpa helai rambut Mentari. Di bawah mereka, lampu-lampu kota Jakarta berkelap-kelap laksana hamparan berlian di kegelapan.

​Devan berdiri di belakang Mentari, memeluk tubuh wanita itu erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Mentari yang wangi. "Hari ini kamu luar biasa di ruang rapat. Aku hampir tidak mengenali asisten pribadiku yang biasanya gugup saat membawa dokumen."

​Mentari bersandar pada dada bidang Devan, menikmati detak jantung pria itu yang terasa konstan dan menenangkan di punggungnya. "Aku hanya tidak ingin membuat monster pelindungku malu di depan dewan komisarisnya."

​Devan tertawa rendah, sebuah suara tawa yang sarat akan kepuasan. Ia membalikkan tubuh Mentari agar menghadapnya, menggenggam kedua tangan wanita itu dan menatapnya dengan pandangan yang kian mendalam.

​"Babak baru kita sudah dimulai, Mentari," ujar Devan lirih, suaranya terdengar seperti janji suci di bawah langit malam. "Tidak ada lagi kontrak, tidak ada lagi bayang-bayang Bramantyo, tidak ada lagi kebohongan. Yang ada hanya aku dan kamu."

​Devan merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil berwarna merah darah. Ketika ia membukanya, sebuah cincin dengan berlian biru berbentuk air mata yang sangat indah berkilau di bawah cahaya bulan. Berlian biru yang mengingatkan mereka pada warna syal rajut masa SMA mereka dulu—warna yang dulunya melambangkan kesedihan, namun kini telah menjelma menjadi simbol keabadian.

​"Mentari Ayuningtyas... maukah kamu mengubah status dari pemilik saham Elvano Group, menjadi pemilik mutlak dari hati Devan Elvano? Maukah kamu menikah denganku?"

​Mentari terpaku, air matanya jatuh tanpa bisa dibendung lagi. Bukan karena sedih, melainkan karena rasa bahagia yang teramat sangat setelah menempuh perjalanan panjang yang berdarah-darah. Di atas ketinggian kota Jakarta, di dalam dekapan sang alpha boss yang posesif, Mentari menganggukkan kepalanya dengan mantap.

​"Ya, Devan. Aku mau."

​Devan tersenyum lebar, menyematkan cincin itu di jari manis Mentari sebelum akhirnya menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang dalam, hangat, dan penuh kemenangan. Lembaran baru yang bersinar kini telah resmi terbuka lebar untuk mereka berdua.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!