NovelToon NovelToon
Thornless Red Rose

Thornless Red Rose

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Teen / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sarifah31

Di balik gaun megah bertabur mawar merah dan dansa yang begitu mesra, tersimpan sebuah rahasia yang mematikan.
Melanie mengira ia telah menemukan cinta sejatinya pada diri Glen, seorang pria menawan yang memperlakukannya bak seorang ratu tanpa cela, seperti mawar merah yang indah tanpa duri (Thornless Red Rose). Namun, Melanie tidak pernah tahu bahwa di balik tatapan penuh kehangatan itu, Glen sedang merajut jaring balas dendam yang kejam terhadap keluarganya.
Ketika kebenaran perlahan mulai terkuak, Melanie harus menghadapi kenyataan pahit: apakah cinta Glen kepadanya murni nyata, ataukah ia hanya sekadar bidak dalam permainan balas dendam yang dirancang untuk menghancurkan hidupnya?
Sebuah kisah tentang cinta yang tumbuh di atas bara dendam, di mana batas antara ketulusan dan pengkhianatan menjadi begitu tipis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Garis Batas Dua Sisi Kuliah

Lorong sayap barat gedung Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Airrawan selalu riuh menjelang pukul sembilan pagi. Dua ruang kelas besar yang saling berhadapan di ujung koridor menjadi pusat kesibukan hari itu. Pintu sebelah kiri terbuka untuk kelas Sastra Teoretis, sementara pintu sebelah kanan menyambut para mahasiswa yang mengambil kelas Seni Teater Praktis. Dua dunia yang berbeda, namun dipisahkan oleh jarak yang hanya sepelemparan batu.

Melanie melangkah riang menyusuri koridor sembari memeluk papan jalan berpenjepit miliknya. Senyumnya mengembang, menyapa hampir setiap orang yang berpapasan dengannya mulai dari teman seangkatan, kakak tingkat, hingga petugas kebersihan kampus. Sifatnya yang ceria dan hangat seperti matahari pagi membuat Melanie mudah disukai di lingkungan kelas teater yang dinamis.

"Melanie! Tungguin!" sebuah teriakan cempreng yang sangat familier membuat Melanie menghentikan langkah.

Diandra, sahabat kentalnya sejak semester pertama, berlari kecil menyusul dengan napas sedikit terengah-engah. Namun, alih-alih mengeluhkan tasnya yang berat, mata Diandra justru sibuk mengedar ke arah ujung lorong dekat kelas Sastra.

"Kamu tahu tidak? Hari ini anak-anak Sastra sekelas sama kita jamnya. Maksudku, jam kelas mereka barengan sama kelas Teater kita!" bisik Diandra heboh, menyikut lengan Melanie dengan antusiasme yang meluap-luap.

Melanie hanya terkekeh menggelengkan kepala. "Lalu kenapa, Di? Kan memang sering jam kuliah kita tabrakan di lorong ini."

"Ya beda, Mel! Itu artinya..." Diandra mendadak menahan napas, matanya membelalak menatap lurus ke depan. "Itu artinya mereka berdua bakal lewat sini."

Dari arah tangga, perhatian hampir seluruh mahasiswi di koridor mendadak teralih.

Atmosfer di lorong yang tadinya bising berubah menjadi kasak-kusuk penuh kekaguman yang tertahan. Dua sosok berjalan beriringan membelah kerumunan.

Di sebelah kiri berjalan Xanthone atau yang lebih akrab dipanggil Thone oleh anak-anak kampus. Berbeda dengan pembawaannya yang santai dan ramah, pria di sebelahnya, Glen, berjalan dengan pandangan lurus ke depan tanpa minat sedikit pun pada sekitar.

Glen mengenakan kemeja hitam dengan lengan yang digulung rapi hingga siku.

Wajahnya yang luar biasa tampan tampak seperti pahatan marmer yang dingin, tanpa ekspresi. Dia begitu tertutup dan pendiam, menciptakan aura intimidasi yang membuat para mahasiswa lain segan, bahkan merasa ciut hanya untuk sekadar menyapanya atau mengajaknya berbasa-basi. Glen berjalan layaknya seorang penguasa yang mengasingkan diri di dunianya sendiri. Hanya Thone yang bisa berjalan di sisinya dengan santai, mengobrol sesekali tanpa terpengaruh oleh dinding es yang dibangun Glen.

"Ya ampun, Mel... lihat Kak Thone," bisik Diandra dengan pipi yang mulai merona merah. Jemarinya meremas ujung baju Melanie. "Dia senyum ke arah sini tidak, sih? Ganteng banget, manis lagi, tidak kaku seperti Glen."

Melanie mengikuti arah pandang sahabatnya. Ia melihat Thone yang sedang tertawa mendengar sesuatu, lalu pandangan Melanie beralih pada Glen. Mengingat kejadian aneh di perpustakaan kemarin siang, Melanie hanya menatap Glen dengan datar. Baginya, ketampanan Glen yang dipuja-puja satu kampus itu tidak mengubah kenyataan bahwa Glen hanyalah mahasiswa biasa, sama seperti mahasiswa lain yang harus bertarung dengan tugas akhir dan presensi kehadiran. Melanie tidak pernah menaruh minat lebih atau ikut-ikutan menjerit histeris seperti mahasiswi lainnya.

Saat langkah kaki Glen dan Thone semakin dekat dengan posisi berdiri Melanie dan Diandra, Thone mendadak mengangkat tangannya, melambaikan tangan ke arah mereka berdua dengan senyum lebar.

"Pagi, Diandra! Pagi, Melanie!" sapa Thone renyah saat mereka berpapasan di depan pintu kelas.

"P-pagi, Kak Thone..." jawab Diandra terbata-bata, wajahnya sudah semerah tomat akibat salah tingkah yang luar biasa.

Melanie membalasnya dengan lambaian tangan dan senyum ceria yang tulus. "Pagi, Kak Thone!"

Saat Melanie berucap demikian, langkah kaki Glen sempat melambat satu ketukan. Sepasang mata elang pria itu bergulir ke samping, menatap langsung ke arah manik mata Melanie. Detik itu juga, tatapan dingin nan acuh tak acuh milik Glen berubah menjadi lebih dalam, menyimpan kilatan misterius yang sulit diartikan, persis seperti cara pria itu menatapnya di antara rak buku tua kemarin.

Namun, Melanie buru-buru memutus kontak mata itu terlebih dahulu. Ia membalikkan badannya, menarik lengan Diandra yang masih terpaku. "Ayo masuk kelas, Di. Dosen Teater kita galak kalau ada yang telat seminit saja."

"Eh, iya, iya!" Diandra tersadar dari lamunannya, melangkah cepat mengikuti Melanie masuk ke dalam ruang kelas Teater yang dipenuhi cermin besar dan panggung properti.

Di seberang lorong, Thone menyenggol bahu Glen sebelum mereka melangkah masuk ke dalam kelas Sastra yang sunyi. "Tumben langkahmu melambat, Glen. Kamu melihat apa?"

Glen tidak langsung menjawab. Ia berjalan menuju bangku deretan paling belakang dekat jendela, tempat favoritnya untuk menyendiri. Setelah meletakkan tasnya, Glen menatap ke luar jendela, ke arah halaman kampus yang luas, sebelum akhirnya menjawab pertanyaan sahabatnya dengan nada suara yang teramat tenang namun dingin.

"Bukan apa-apa, Thone," jawab Glen pelan, sudut bibirnya sedikit terangkat membentuk senyuman tipis yang tak terbaca oleh siapa pun. "Aku hanya sedang melihat seekor merpati putih yang terbang terlalu dekat dengan sangkar serigala."

Thone mengernyitkan dahi, terbiasa dengan analogi-analogi aneh yang sering diucapkan Glen akibat terlalu banyak membaca buku dongeng fantasi. Thone hanya tertawa kecil dan duduk di sebelah Glen, mengira sahabatnya itu kembali sedang mendalami peran fiksi barunya.

Sementara itu, di dalam ruang kelas Sastra yang mulai memulai perkuliahannya, Glen membuka catatan kecil bersampul kulit miliknya. Jemarinya menuliskan satu baris kalimat pendek di halaman baru: Duri pertama telah didekatkan pada kelopak yang suci. Di balik sikap diamnya yang disegani satu kampus, jaring balas dendam yang ia siapkan untuk menghancurkan keluarga Melanie justru baru saja dimulai dari lorong kelas pagi ini.

1
Filan
langsung nembak aja nih Melanie
Filan
terlalu kejam untuk Melanie? untukmu kali
Xlyzy
sadarkan teman mu itu thone
Xlyzy
Kamu fikir naskah mu sudah rapih namun kamu lupa kamu membuat naskah dengan manusia yang memiliki akal dan sifat yang berbeda kamu tidak bisa mengatur mereka sesuai dengan alur yang kamu mau seharus nya kamu punya naskah cadangan antisipasi kalau naskah pertama tidak sukses di eksekusi
-Thiea-
perlahan, tanpa kamu sadari, niatmu itu sudah melenceng dari tujuan aslinya.
-Thiea-
ditantangin langsung sama Melani tuh Glen. kamu melampiaskan kekesalan pada orang yang gak tahu apa-apa. Apakah itu adil?
Mingyu gf😘
wahhh ada apa nih
Three Flowers
kayaknya kehidupan Glen ini ngeri banget sampai dia selalu ngehalu jadi pahlawan, mungkin dia pingin banget menyelamatkan keluarganya tapi tidak berdaya
Mingyu gf😘
iya kalau di pikir pikir buat apa begitu
Mingyu gf😘
Aduhh para cogan kampus🤭
Three Flowers
dia habis ngadepin penjahat terselubung 🤣
Filan
Kok Thone tahu segalanya? Kasihan juga Glen sok misterius padahal semua orang bisa baca dia 😅
Cimol krispy
panjang lebar banget kalimat Melanie dan itu langsung kena ke hati sih harusnya
Cimol krispy
Kenapa Glen? Kamu berfikir Melanie akan terus menjadi kelinci ketakutan yang tidak akan melawanmu
Sarifah_Aini97: Kelinci penakutnya sekarang udah berubah jadi penantang paling telak buat Glen 🤭 Makasih banget ya Kak Cimol udah selalu ngikutin perkembangan karakter Melanie dan Glen sejauh ini 🤭
total 1 replies
Miu.Nuha
selamatkan Glen, Melanie...
dia kayaknya gk benar2 jahat, tapi tersesat 😭😭
Miu.Nuha
karna melanie bukan wanita yang mudah kamu pikirkan bahkan kamu permainkan...
mau dicoba? entar kamu kena mental lagi malah 🤭🤭🤭
Mega Siregar
memang benar... walaupun Melanie tidak tahu apa2, tapi hati Glen pasti sakit melihat kehidupan yg hancur karena orang tua Melanie sedangkan Melanie hidup dengan kecemewahan diatas air mata orang tua Glen..
Mega Siregar
akhirnya, kamu jujur juga, Glen...
pasti beran memendam semuanya sendiri...
ginevra
inikah awal Glen menyukai melanie
ginevra
makjleb banget melanie
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!