NovelToon NovelToon
PEWARIS RAHASIA SANG MAFIA JEBAKAN MANIS SANG PENGASUH

PEWARIS RAHASIA SANG MAFIA JEBAKAN MANIS SANG PENGASUH

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Anak Genius
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

Aline terpaksa menyamar sebagai pengasuh polos demi menyelidiki kematian misterius kakaknya di kediaman seorang leader mafia kejam sekaligus CEO, bernama Adrian. Di sana, ia harus mengurus anak kembar Adrian yang sangat genius namun manipulatif. Masalah rumit muncul ketika anak-anak tersebut justru sengaja menjebak Aline dan Adrian agar menikah, sementara Adrian mulai mencurigai identitas asli Aline yang ternyata memegang kunci rahasia masa lalunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Gadis Polos Berkacamata Bulat

Bab 2: Gadis Polos Berkacamata Bulat

​Keesokan harinya, sebuah gerbang besi hitam setinggi empat meter menjulang angkuh di hadapan Aline. Ini adalah Mansion Dirgantara, sebuah istana megah bernuansa gotik modern yang terletak di kawasan elit terisolasi di pinggiran Jakarta, dikelilingi oleh tembok tinggi dan penjagaan ketat pria-pria berjas hitam dengan senjata api tersembunyi di balik jas mereka.

​Atmosfer di tempat ini sangat berat dan menekan. Ini bukan sekadar rumah seorang CEO kaya raya, ini adalah markas utama seorang penguasa kegelapan yang siap mengeksekusi siapa saja yang berani mengusik ketenangannya.

​Aline melangkah melewati gerbang setelah diperiksa secara ketat oleh alat pendeteksi logam. Ia berjalan dengan tubuh yang sengaja dibuat agak membungkuk, meremas tali tas ransel kainnya yang usang dengan jemari yang gemetaran—sebuah akting ketakutan yang sangat sempurna.

​Di dalam ruang tunggu utama mansion, suasananya tak kalah mencekam. Ruangan berlantai marmer hitam itu diisi oleh sekitar sepuluh wanita lain yang mengantre untuk posisi yang sama. Mereka semua berpakaian rapi, elegan, dan beberapa bahkan memegang map berisi ijazah lulusan sarjana psikologi anak dari universitas luar negeri ternama. Mereka terlihat sangat percaya diri pada awalnya.

​Namun, rasa percaya diri itu perlahan menguap. Setiap lima belas atau dua puluh menit sekali, pintu kayu jati besar di ujung lorong akan terbuka, dan seorang wanita akan keluar dari sana dengan wajah pucat pasi. Ada yang menangis sesenggukan, ada yang berlari keluar sambil menutup wajahnya, dan ada pula yang gemetaran hebat seolah-olah baru saja melihat hantu yang paling mengerikan di dalam sana.

​"Selanjutnya... Aline Shandika!" suara tegas dan berat dari seorang kepala pelayan paruh baya bernama Pak Yusuf menggema di ruangan yang sunyi itu.

​Aline tersentak kecil, memberikan reaksi terkejut yang natural. Ia segera berdiri dari kursinya, membetulkan posisi kacamata bulatnya yang sengaja ia buat agak miring di hidungnya, lalu melangkah maju dengan kepala menunduk.

​Setiap langkah yang diambilnya mendekati pintu besar itu terasa seperti melangkah menuju panggung eksekusi mati. Namun, di balik wajahnya yang tampak ketakutan setengah mati, jantung Aline justru berdegup kencang karena adrenalin yang teracu hebat. Ia tidak takut. Ia justru tidak sabar untuk berhadapan dengan pria itu.

​Pak Yusuf menatap Aline sekilas dengan pandangan iba, seolah melihat seekor domba kecil yang berjalan sukarela ke dalam kandang serigala kelaparan. Pak Yusuf memutar gagang pintu kuningan yang besar itu. "Silakan masuk, Nona Aline. Tuan Besar sudah menunggu."

​Aline mengangguk pelan, menyuarakan gumaman kecil yang terdengar gugup. "T-Terima kasih, Pak..."

​Ia melangkah ke dalam. Ruangan kerja itu sangat luas, didominasi oleh warna hitam, abu-abu gelap, dan kayu jati tua yang mahal. Di ujung ruangan, sebuah meja kerja marmer hitam besar menghadap langsung ke jendela kaca raksasa yang menampilkan pemandangan taman belakang mansion yang luas namun tampak suram di bawah langit mendung.

​Di balik meja itu, duduk seorang pria dengan kemeja hitam pekat yang lengan bajunya digulung kasar hingga sebatas siku. Gulungan kemeja itu menampilkan lengan kekar yang kokoh dengan urat-urat yang menonjol, serta sebuah bekas luka goresan senjata tajam yang samar di dekat pergelangan tangan kirinya.

​Adrian Dirgantara.

​Pria itu tidak langsung mengangkat wajahnya saat Aline masuk. Ia sibuk membaca dan menandatangani beberapa berkas penting di atas mejanya dengan pena emas. Aura intimidasi, kegelapan, dan kekuasaan yang dipancarkannya begitu pekat, membuat udara di dalam ruangan terasa sangat tipis dan menyesakkan bagi siapa pun yang berdiri di sana.

​Wajahnya yang tegas, dengan rahang kokoh yang tampak keras, alis tebal yang menaungi mata elangnya, serta pahatan wajah super tampan namun sedingin es, bisa membuat wanita mana pun berlutut—baik karena terpesona oleh ketampanannya yang luar biasa atau karena ketakutan setengah mati oleh auranya.

​Aline berdiri diam di tengah ruangan, beberapa meter di depan meja kerja Adrian. Ia sengaja menundukkan kepalanya dalam-dalam, menatap ujung sepatu kainnya yang sedikit berdebu, berpura-pura menjadi gadis desa yang terintimidasi oleh kemewahan di sekitarnya.

​Sret

​Suara Adrian menutup berkasnya terdengar tajam di keheningan ruangan. Pria itu perlahan mengangkat kepalanya. Pasang mata elang yang berwarna hitam kelam, tajam, dan dingin itu kini tertuju lurus pada tubuh Aline yang tampak kecil dalam balutan kemeja longgarnya. Tatapannya begitu menguliti, seolah-olah penglihatan pria itu bisa menembus pakaian tebal Aline dan membaca setiap skenario busuk yang ia sembunyikan di dalam kepalanya.

​"Aline Shandika," suara Adrian akhirnya keluar. Suara itu terdengar berat, rendah, bergetar seksi namun dipenuhi oleh nada ancaman yang tidak main-main. "Usia 22 tahun. Yatim piatu. Berasal dari sebuah desa kecil di pinggiran Jawa Tengah yang bahkan tidak tertera dengan jelas di peta digital."

​Pria itu perlahan berdiri dari kursi kerjanya yang mewah. Langkah kakinya yang berat dan tegas mulai terdengar mendekat ke arah Aline. Setiap ketukan sepatu kulit mahalnya di atas lantai kayu solid terdengar bagai detak lonceng kematian yang menghitung mundur waktu Aline.

​Adrian berhenti tepat di depan Aline, hanya menyisakan jarak kurang dari setengah meter di antara mereka. Jarak yang sangat dekat itu membuat Aline bisa mencium aroma parfum maskulin yang mahal bercampur dengan wangi samar tembakau kering yang sangat pekat dari tubuh pria itu. Aroma seorang predator yang dominan.

​Aline menahan napasnya, mengunci seluruh otot tubuhnya agar tidak melakukan gerakan refleks bela diri yang bisa membongkar penyamarannya.

​Dengan satu gerakan tangan yang cepat dan tak terduga, jemari Adrian yang panjang dan kuat mencengkeram dagu Aline dengan kasar, memaksa gadis itu untuk mendongakkan wajahnya dan menatap langsung ke dalam manik mata hitam kelam milik sang mafia.

​Cengkeraman tangan Adrian terasa begitu kuat, dingin, dan penuh dengan dominasi yang menuntut kepatuhan mutlak.

​"Kau terlihat sangat rapuh, kurus, dan bodoh," bisik Adrian, matanya menyipit penuh selidik, menatap lekat-lekat ke balik lensa kacamata bulat tebal yang dipakai Aline. "Tempat ini bukan panti asuhan untuk menampung orang-orang lemah, dan anak-anakku bukan anak-anak normal yang bisa kau jinakkan dengan dongeng sebelum tidur. Katakan padaku, gadis desa... apa tujuanmu yang sebenarnya datang ke mansion ini? Jangan coba-coba membohongiku dengan wajah lugumu itu, atau kau tidak akan pernah keluar dari pintu itu dalam keadaan hidup."

​Pintu kayu jati di belakang mereka tiba-tiba berderit terbuka, memutus ketegangan yang nyaris meledak di antara kedua orang itu.

​Siapakah yang berani mengganggu interogasi berbahaya Adrian? Apakah kedok Aline akan langsung terbongkar di detik pertama ia menginjakkan kaki di ruangan itu?

1
M. T🌻
aku mampir ya thor, semangat. jangan lupa mampir juga👍☺
gendiz: terimakasih 🙏 aaasiiiaaappp
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!