Setelah menghadiri pesta pertunangan Rias Gremory sahabat kecilnya yang berakhir digagalkan oleh Sekiryuutei:Issei Hyoudou. Sona sitri di dorong oleh kakaknya Serafall untuk mencari keluarga baru demi menambah kekuatan tempur garis depan.
Menanggapi itu Sona mengamininya, lalu saat kembali ke dunia manusia. Dia menyaksikan seorang pemuda dengan sacred gear [Imperial Tiger Mantle] bertarung dengan malaikat jatuh tingkat tinggi.
Remaja itu mati terbunuh dan Sona membalas kematiannya dengan membunuh malaikat jatuh itu. Lalu mereinkarnasikan remaja itu yang ternyata masih murid akademi Kuoh sekelas dengan Issei sang sekiryuutei.
Inilah kisah Yudi sang Pawn Sitri yang bersumpah untuk selalu menjaga janjinya demi melindungi rekan-rekannya dari berbagai masalah.
Update rutinnya 2 Chapter sehari, kalau mendesak mungkin 1 chapter [Harap Maklum]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyudi0596, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 3
Cahaya bulan purnama menembus celah gorden jendela ruang klub OSIS Akademi Kuoh, menjatuhkan bayangan panjang dari perabotan di dalamnya. Udara di dalam ruangan itu terasa berat, dipenuhi oleh sisa-sisa energi sihir yang berpendar dari sebuah sofa kulit panjang di sudut ruangan. Di atas sofa tersebut, tubuh Yudi terbaring tanpa bergerak.
Pakaian kasualnya masih dipenuhi noda darah yang telah mengering, namun dada yang sebelumnya berlubang akibat tusukan tombak cahaya kini tertutup rapat. Sebuah pendaran cahaya biru pucat menyelimuti seluruh tubuhnya, berdenyut pelan seirama dengan detak jantungnya.
Beberapa langkah dari sofa, Tsubaki Shinra berdiri tegak dalam balutan seragam akademinya. Tangan kanannya terangkat, jari telunjuknya bergerak perlahan mendorong bingkai kacamata yang sedikit merosot di pangkal hidungnya. Lensa kacamatanya memantulkan cahaya biru dari tubuh Yudi.
Matanya menyipit, meneliti setiap inci dari pemuda yang terlelap itu, sebelum akhirnya ia menoleh ke arah meja kerja di tengah ruangan.
Di balik meja kayu mahoni itu, Sona Sitri berdiri membelakangi jendela. Kedua lengannya bersilang di depan dada. Pandangannya lurus tertuju pada tubuh pemuda di atas sofa, tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Cahaya bulan menerangi separuh wajahnya, menyoroti garis rahangnya yang tegas dan matanya yang memancarkan ketenangan absolut.
"Jadi, bisa kau jelaskan kenapa kau mereinkarnasikan dia, Kaichou?" Suara Tsubaki memecah keheningan ruangan. Nada bicaranya datar, tanpa intonasi yang meninggi, sekadar menuntut penjelasan logis dari atasannya.
Sona menurunkan kedua lengannya perlahan. Kepalanya sedikit miring ke kanan. "Mungkin hanya firasat," jawab Sona dengan suara pelan. "Apalagi, dia mengkonsumsi dua bidak Pawn terakhir dari set Evil Piece milikku. Potensi yang terpendam di dalam dirinya menuntut jumlah energi yang tidak sedikit."
Sona melangkah keluar dari balik mejanya, sepatunya menghasilkan suara ketukan pelan di atas lantai kayu ruangan tersebut. Ia berhenti tepat di samping Tsubaki. "Yang lebih penting, apa kau tahu tentang identitas pemuda ini,
Tsubaki?"
Tsubaki kembali membenarkan posisi kacamatanya, sebuah gestur kebiasaan yang selalu ia lakukan saat sedang menganalisis informasi. "Namanya Yudi. Siswa kelas 2-B," lapornya tanpa ragu. "Dia sekelas dengan Sekiryuutei dari keluarga Rias Gremory."
Sona terdiam sejenak. Matanya berkedip pelan. "Lalu... tumben sekali kau bertindak berdasarkan sesuatu yang tidak pasti seperti firasat, Kaichou?" tanya Tsubaki lagi, kali ini tubuhnya berputar sepenuhnya menghadap Sona.
"Mungkin aku terbawa suasana setelah Nee-chan terus-menerus bertanya tentang seseorang yang bisa diandalkan untuk menjadi barisan depanku," ucap Sona. Ia memalingkan wajahnya kembali ke arah Yudi. "Dan entah bagaimana, garis takdir seolah mempertemukanku langsung dengan remaja ini. Hn... jadi dia sekelas dengan Ise-san, sang Sekiryuutei ya."
Sona menarik napas panjang, lalu menghembuskannya secara teratur. "Tsubaki, pulanglah lebih dulu. Biar aku sendiri saja yang menjaga dan menjelaskan situasinya saat dia
sadar nanti."
Tsubaki mengangguk pelan. Tidak ada perdebatan yang keluar dari mulutnya.
"Baiklah. Kalau begitu, selamat malam, Kaichou."
Tsubaki membungkukkan badannya membentuk sudut empat puluh lima derajat dengan gerakan kaku dan formal. Setelah menahan posisi itu selama tiga detik, ia kembali menegakkan tubuh, berbalik, dan melangkah keluar dari ruangan. Suara derit engsel pintu terdengar sesaat, disusul suara klik halus saat pintu ruang OSIS tertutup rapat.
Ruangan itu kembali hening. Hanya tersisa suara detak jam dinding dan tarikan napas halus dari pemuda di atas sofa.
Sona berdiri mematung di tempatnya selama beberapa menit. Pandangannya tidak terlepas dari pendaran cahaya biru yang mulai meredup di sekujur tubuh Yudi. Langkah kakinya kembali terdengar saat ia berjalan mendekati sofa. Sona berhenti tepat di samping tubuh yang terlelap itu.
Tangan kanan Sona terulur perlahan menuju kerah blazernya sendiri. Jari-jarinya yang ramping mulai melepas kancing teratas seragam Akademi Kuoh tersebut satu per satu. Helaian kain hitam dari blazernya meluncur jatuh ke lantai. Ia melanjutkan gerakan tangannya pada kancing kemeja putih di baliknya. Bersamaan dengan itu, di bawah temaram cahaya bulan, semburat merah tipis mulai muncul dan menjalar di kedua pipi Sona. Udara malam yang menembus celah jendela menyapu kulitnya, membuat bahunya sedikit menegang.
Proses pemulihan tubuh manusia yang rusak parah setelah reinkarnasi sering kali membutuhkan aliran energi sihir eksternal yang konstan. Kontak fisik—kulit bertemu kulit—adalah metode penyaluran sihir paling efisien. Sona meletakkan sisa pakaiannya di atas sandaran kursi, lalu dengan gerakan perlahan, ia membaringkan tubuhnya di sisi sofa yang masih tersisa, menempelkan lengan dan bahunya langsung bersentuhan dengan lengan pemuda tersebut. Cahaya biru dari tubuh Yudi seketika berpendar sedikit lebih terang saat aliran sihir Sona mulai terhubung.
Kelopak mata Sona tertutup rapat. Napasnya mulai berbaur dengan keheningan malam yang
panjang.
... * * *...
Pagi datang membawa perubahan warna pada langit. Semburat jingga kemerahan dari ufuk timur perlahan menembus kaca jendela ruang OSIS. Kicauan burung-burung terdengar bersahutan dari pepohonan di halaman akademi. Cahaya matahari pagi merayap naik menyinari meja kayu, rak-rak buku, dan akhirnya jatuh tepat ke atas sofa di sudut ruangan.
Tubuh Yudi bereaksi terhadap cahaya terang tersebut. Jari-jari tangannya bergerak-gerak kecil. Kelopak matanya bergetar sebelum akhirnya terbuka perlahan. Pupil matanya mengerucut menyesuaikan diri dengan intensitas cahaya. Ia menatap langit-langit putih ruangan yang asing baginya.
Yudi mencoba bergerak, namun ia merasakan sebuah beban yang menindih lengan kanannya. Rasa hangat juga menjalar di sepanjang sisi tubuhnya. Ia menolehkan kepalanya ke arah kanan.
Mata Yudi seketika membelalak lebar hingga urat-urat merah kecil di sudut matanya terlihat. Di sebelah tubuhnya, terbaring seorang gadis dengan rambut hitam pendek yang sangat ia kenal; Sona Sitri, Ketua OSIS Akademi Kuoh, salah satu dari Yondai Oujousama yang paling dihormati di sekolahnya. Sona tertidur lelap menghadap ke arahnya. Ia mengenakan sebuah kaus *T-shirt* putih polos berukuran besar yang tampak terlalu longgar untuk tubuh rampingnya. Kaus itu melorot hingga mengekspos sebagian bahu mulusnya, menyisakan pemandangan garis tulang selangka yang halus.
Napas Yudi tertahan di tenggorokan. Ia refleks menundukkan pandangannya untuk melihat keadaan dirinya sendiri. Tubuhnya bagian atas sama sekali tidak terbalut pakaian apa pun, memamerkan kulit dadanya yang mulus tanpa bekas luka. Di bagian bawah, ia hanya mengenakan sepotong celana *boxer* kain berwarna gelap.
Seketika itu juga, Yudi menarik tubuhnya ke belakang dengan gerakan kasar dan serabutan. Tubuhnya kehilangan keseimbangan di tepi sofa.
Gedebuk!
Yudi terjatuh menghantam lantai kayu dengan keras. Ia buru-buru merangkak mundur hingga punggungnya menabrak rak buku di belakangnya. Kedua tangannya mencengkeram kepalanya sendiri. Jari-jarinya mengacak-acak rambutnya dengan kasar. Keringat dingin mulai bermunculan di dahinya, meluncur turun melewati pelipis.
"Tidak mungkin... tidak mungkin..." Suara Yudi bergetar hebat, keluar dari mulutnya dalam bentuk bisikan parau. Dadanya naik turun dengan cepat. Pandangannya bergerak liar mengitari ruangan sebelum kembali terpaku pada sosok gadis di atas sofa. Matanya melebar penuh kepanikan. Kedua tangannya meremas rambutnya semakin kuat. "Apa yang sudah kulakukan? Kenapa situasi semacam ini terjadi padaku? Apa... apa yang harus aku jelaskan pada komite kedisiplinan?!"
Suara benturan keras tadi mengusik ketenangan gadis di atas sofa.
"Kau... tidak perlu menjelaskan apa pun," gumam sebuah suara pelan, sedikit serak dan berat khas seseorang yang baru saja terbangun dari tidur yang panjang.
Leher Yudi bergerak menoleh dengan gerakan patah-patah bagai roda gigi berkarat ke arah sumber suara. Di atas sofa, Sona perlahan mengubah posisinya dari berbaring menjadi duduk. Ia mengangkat satu tangannya ke atas, menutup mulutnya saat menguap pelan. Kaus putih besar yang ia kenakan semakin melorot, memperlihatkan lebih banyak kulit di area bahu kirinya. Tangan kirinya bergerak mengucek-ngucek salah satu matanya dengan gerakan lambat.
Rambut hitam Sona tampak sedikit berantakan. Mata ungunya yang biasanya menatap tajam kini terlihat sayu dan setengah tertutup.
Pemandangan gadis yang terkenal sebagai iblis penegak kedisiplinan berwajah dingin itu kini berubah seratus delapan puluh derajat. Sikapnya yang lamban, rambutnya yang acak-acakan, dipadukan dengan baju yang kebesaran, menciptakan aura yang sangat tidak berdaya dan terlampau menggemaskan.
Yudi membeku di tempatnya. Tangan kanannya tiba-tiba terangkat ke udara dengan sendirinya. Jari-jarinya membuka dan menutup perlahan, seolah tubuhnya merespons dorongan impulsif untuk menyentuh dan menarik pipi gadis yang sedang mengantuk itu.
Namun, sedetik kemudian, mata Yudi terbelalak. Ia segera menarik tangannya kembali dan memukul punggung tangannya sendiri dengan telapak tangan kirinya hingga terdengar suara tamparan keras. Giginya menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Kepalanya menggeleng cepat dari kiri ke kanan berulang kali hingga rambutnya semakin berantakan. Napasnya ditarik dalam-dalam melalui hidung dan dihembuskan lewat mulut dengan paksa.