Nadia anak kandung yang di abaikan, keluarganya lebih memilih anak orang lain ketimbang anak kandung,,,Nadia bahkan mau di singkirkan oleh ibunya sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2 BALAP LIAR
Bab 2 — Balap Liar
“nadia keluar dari rumah, awasi dia” ucap yulia setelah dia di tinggalkan sendirian di dalam kamarnya
“ya aku akan suruh orang mengawasi nadia”
Sambungan telepon langsung terputus.
Pelan-pelan senyum tipis muncul di sudut bibir Yulia. Bukan senyum hangat yang biasa dia tunjukkan di depan orang-orang. Senyum itu dingin. Sinis. Wajah yang selama ini terlihat lembut mendadak berubah penuh kebencian.
Tangannya mengepal di atas selimut.
Di rumah itu, semua orang selalu melihat Yulia sebagai anak baik. Anak yang manis. Anak yang lemah lembut.
Tapi nggak ada yang tahu, kadang rasa iri bisa mengubah seseorang jadi orang yang sama sekali berbeda.
Sementara itu, di jalanan, Nadia melajukan motor ninjanya dengan kecepatan penuh.
Angin malam menghantam wajah dan tubuhnya keras-keras. Lampu jalan cuma lewat seperti garis-garis cahaya yang kabur di matanya.
Jarum speedometer terus naik.
Semakin cepat.
Semakin kencang.
Seolah dia sedang berusaha meninggalkan sesuatu.
Atau mungkin... sedang lari dari sesuatu.
Buat Nadia, menantang bahaya selalu jadi cara paling ampuh buat melupakan rasa sakitnya.
Dari kecil, dia memang seperti itu.
Waktu anak-anak lain menangis saat sedih, Nadia malah lari sampai kakinya nggak kuat lagi melangkah. Sampai napasnya sesak. Sampai tubuhnya hampir tumbang.
Dia nggak pernah benar-benar bisa menangis.
Perasaannya sering berantakan saat diperlakukan nggak adil oleh keluarganya. Dadanya sesak. Hatinya sakit.
Tapi anehnya, air matanya nggak pernah keluar.
Jadi Nadia mencari cara lain.
Push up sampai tangannya gemetar.
Squat berjam-jam sampai perutnya kram.
Lari sampai kakinya nyaris mati rasa.
Karena rasa sakit di tubuhnya selalu berhasil mengalahkan rasa sakit di dalam hati.
Motor Nadia terus melaju menuju jalan industri, kawasan pabrik yang malam itu masih dipenuhi suara kendaraan besar.
Dari kejauhan terdengar suara raungan motor saling bersahutan.
Brummm...
Brummm...
Brummm...
Motor Nadia mendekati kerumunan anak-anak muda yang sedang berkumpul di pinggir jalan.
Ada yang duduk sambil mengisap rokok, ada yang ngemil kacang, ada juga yang tertawa keras membahas hal-hal konyol khas anak remaja.
“wey nadia datang” ucap doni raut muka senang terpancar, semua berdiri saat melihat yang datang adalah motor nadia
Nadia mematikan mesin motornya.
Dia membuka helm full face yang menutupi wajahnya sejak tadi.
Celana jeans sobek di bagian lutut. Jaket hitam menempel di tubuhnya. Rambut sebahu diikat kuncir kuda sederhana.
Tatapannya dingin.
Tegas.
Dan entah kenapa, selalu bikin orang segan.
Dia berjalan menghampiri teman-temannya tanpa banyak bicara.
Leo mengeluarkan sebatang rokok, nadia menerimanya, dino menyalakan korek nadia menghisap rokok, roko meyala. Asap mengepul ke udara
“ayo duduk” perintah nadia tegas menampilkan aura kepimpinannya
Anak-anak itu langsung menurut.
Bukan karena takut.
Tapi karena dari dulu mereka memang selalu mengikuti Nadia.
“ada balapan ga?” tanya nadia datar
“kenapa lu bos,,,ribut lagi sama adik lu”
Mereka saling melirik.
Sudah terlalu lama berteman, jadi mereka paham. Nadia pasti lagi nyari pelampiasan.
Nadia diam beberapa detik.
“Mereka minta gue mengundurkan diri dari olimpiade” jelas nadia tatapannya kosong, kemudian menghisap rokok
Beberapa detik suasana langsung hening.
“gila ya,,kalau nyokap gue denger mau ikut olimpade pasti nyokap gue akan bilang ke seluruh warga kampung sampai di umumin di musola” celetuk leo
Beberapa anak langsung ketawa.
Tapi Nadia cuma tersenyum tipis.
Tipis sekali.
“ya sayangnya orang tua gue bukan orang tua normal” ucap nadia
“bos jangan khawatir kami semua dukung lu buat juara olimpiade bos,,,tapi kalau lu udah sukses nanti jangan pernah lupain kita” kata doni
Nadia menoleh lalu mengacak rambut Doni asal.
“lebay lu.”
Anak-anak itu langsung tertawa lagi.
“bos ada balapan tapi yang balapan si aldo dari geng BMK,,tau sendiri kalau mereka kalah itu rese”
“berapa taruhnya” tanya nadia
“30 juta bos”
Nadia membuang puntung rokok ke bawah lalu menginjaknya pelan.
“ayo daftarin gue ,,,gue mau ikut” ucap nadia berdiri dan membuat rokoknya
“yah,,,siap-siap lagi deh kita baku hantam” ujar niko dia dan yang lainnya ikut berdiri
Mereka semua langsung bergerak.
Tanpa Nadia sadari, dari kejauhan seseorang sedang memperhatikan mereka.
Kamera di tangannya terus mengarah pada Nadia.
Nadia dan sepuluh temannya sampai di area balapan..
Raungan motor memenuhi udara.
Suara teriakan remaja laki-laki dan perempuan bercampur jadi satu.
Asap rokok mengepul ke mana-mana.
Di sudut lain ada yang tertawa sambil membawa botol minuman.
“waduh rupanya ada geng MCM rupanya,,,para lelaki lemah yang mau di pimpin oleh perempuan” ujar ledi cecunguk geng BMK
Seketika suasana berubah panas.
Tatapan teman-teman Nadia langsung mengarah tajam ke kelompok itu.
Mereka maju setengah langkah.
Nadia malah tetap santai.
“gue mau balapan,,daftarin gue” ujar nadia dengan nada dingin
Di tengah kerumunan, seorang cowok yang sejak tadi duduk di atas motor akhirnya berdiri.
Aldo.
Matanya yang sipit memperhatikan Nadia dari atas sampai bawah.
Lalu dia tersenyum kecil.
“menarik” ujarnya,,melihat nadia dari atas ke bawah “kalau lu kalah mala mini tidur sama gue”
Suasana langsung hening.
“plak”
Suara tamparan itu terdengar keras.
Begitu cepat sampai beberapa orang bahkan nggak sempat berkedip.
Teman-teman Aldo langsung berdiri.
Wajah mereka berubah penuh emosi.
Siap maju kapan saja.
Tapi Aldo mengangkat tangannya menghentikan mereka.
Matanya kembali melihat Nadia.
Aneh.
Bukannya marah, dia malah menatap Nadia dengan tatapan penuh rasa tertarik.
Karena cewek di depannya ini beda.
Wajahnya tetap datar.
Nggak panik.
Nggak takut.
Padahal baru saja menampar ketua gangster.
“daftarin dia,,,” perintah aldo dingin seseorang membawa buku lalu mencatan nama nadia
---
Malam makin larut, tapi suasana di area balapan justru makin panas. Lampu motor berjajar di pinggir jalan, suara mesin meraung bersahutan memenuhi udara. Teriakan dan siulan bercampur jadi satu.
Nadia berdiri di samping motor ninjanya sambil memasang helm full face. Wajahnya kembali tertutup, menyisakan tatapan dingin dari balik visor bening.
“bos hati-hati,,si aldo itu licik” bisik doni
Nadia cuma mengangguk kecil. Tatapannya lurus ke depan. Nggak ada takut, nggak ada gugup.
“aturan sama kayak biasa!” teriak salah satu panitia balapan.
“tiga putaran! Sampai jembatan tua muter balik terus finish di sini!”
Nadia naik ke motornya. Tangannya menggenggam stang erat.
Brumm...
Brumm...
Brummm...
Di sampingnya, Aldo melirik sambil tersenyum.
“gue suka cewek berani” katanya santai
Nadia bahkan nggak menoleh.
“gue nggak suka cowok banyak omong”
Beberapa orang langsung bersiul keras.
Seseorang mengangkat syal tinggi-tinggi.
“GOOOO!!”
BRRAAAAKKK!!!
Motor melesat seperti peluru. Di awal balapan Aldo memimpin di depan, sementara Nadia tepat di belakangnya.
“ALDOOO!”
“GAS TERUS!”
Motor Nadia terus mendekat sedikit demi sedikit. Sampai tiba-tiba Aldo menggeser motornya, sengaja menutup jalur.
“WOIII!”
Nadia mengeraskan rahangnya. Bukannya mengerem, dia malah menambah kecepatan.
120...
140...
160...
Di depan ada tikungan menuju jembatan tua.
Aldo masuk lebih dulu.
Satu detik.
Dua detik.
Lalu Nadia memiringkan motornya tajam.
Sreeettt...
“ANJIRR!”
Motor ninja hitam itu melesat dari sisi dalam dan berhasil melewati Aldo.
Mata Aldo langsung melebar.
“apa?!”
Garis finish semakin dekat.
Sepuluh meter—
BRRAAAKKKK!!
Motor Nadia melewati garis finish lebih dulu.
“WOOOOOOOOO!!!”
“BOS MENANG!!”
Nadia membuka helm pelan. Napasnya masih berat sementara Aldo menatapnya lama.
“menarik...” gumamnya.
Teman-teman Aldo langsung maju siap melakukan pertarungan. Teman-teman Nadia juga ikut berdiri, tatapan penuh permusuhan saling bertemu. Suasana mendadak menegang, hanya Nadia dan Aldo yang terlihat santai seolah keributan itu bukan urusan mereka.
Namun belum sempat pertarungan pecah tiba-tiba—
Wiuw... wiuw...
“anjir,,,,ada yang laporan ke polisi,,ada penghianat diatara kita” ujar doni
Semua langsung lari berhamburan. Tapi kali ini jumlah polisi yang datang sangat banyak, seolah mereka memang sudah menyiapkan penyergapan sejak awal.
libas saja mereka si pecundang