Tiga siswa SMA biasa tidak pernah membayangkan hidup mereka akan berubah hanya karena sebuah buku fiksi misterius di perpustakaan sekolah.
Buku itu terbang ke atas air dan membentuk sebuah portal bercahaya tiba-tiba muncul dan menyeret mereka ke masa lalu, tepatnya ke sebuah dinasti Jepang kuno yang sedang berada di ambang kehancuran.
Negeri itu tidak hanya diguncang oleh perebutan kekuasaan di istana, tetapi juga diteror oleh Makhluk Kutukan, entitas mengerikan yang lahir dari kebencian, dendam, dan ambisi manusia. Kehadiran mereka membuat rakyat hidup dalam ketakutan, sementara para bangsawan sibuk saling menjatuhkan demi takhta.
Namun semakin dalam mereka terlibat, semakin mereka menyadari bahwa musuh terbesar bukanlah para monster yang berkeliaran di luar tembok istana, melainkan kegelapan yang bersemayam di hati manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kyc_ibell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29
Di tengah gemerlap aula dan alunan musik yang memenuhi ruangan, suasana di antara Jinsei dan Putri Hikari justru terasa sangat berbeda.
Tidak ada senyum.
Tidak ada kehangatan.
Keduanya bergerak mengikuti irama dansa dengan sempurna, namun tatapan yang mereka saling berikan terasa lebih mirip dua orang yang sedang beradu pikiran daripada pasangan yang sedang menari. Jinsei menatap tajam Putri Hikari tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun.
Sementara Putri Hikari berusaha mempertahankan ketenangan di wajahnya, meski jelas terlihat bahwa dia juga tidak menikmati situasi itu. Beberapa saat berlalu dalam keheningan yang canggung.
Hingga akhirnya Jinsei membuka suara.
Dengan nada pelan yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua, dia bertanya,
"Kemana dirimu pergi waktu itu?"
Putri Hikari mengernyit.
"Apa maksudmu?"
"Di ibu kota."
Tatapan Jinsei semakin tajam.
"Saat kau meninggalkanku begitu saja."
Seketika tubuh Putri Hikari sedikit menegang. Mata indahnya membelalak. Ingatan itu langsung muncul di benaknya. Seorang pemuda bertopi jerami. Jalanan ibu kota yang ramai. Dan dirinya yang memilih pergi tanpa memberi penjelasan apa pun. Untuk sesaat, langkah dansanya hampir kehilangan irama.
"A.. aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan."
Jinsei tidak percaya. Sama sekali tidak percaya. Karena ekspresi terkejut yang baru saja muncul sudah menjadi jawaban tersendiri.
Putri Hikari mengalihkan pandangan. Sesekali menoleh ke kiri. Lalu ke kanan. Seolah mencari sesuatu yang bisa menyelamatkannya dari percakapan itu. Atau mungkin seseorang. Namun Jinsei tidak membiarkannya lolos.
"Jawab pertanyaanku! Tuan Putri.."
Kali ini suaranya sedikit lebih tegas. Masih lirih. Namun cukup untuk membuat Putri Hikari semakin gelisah.
"Kenapa kau pergi?"
Putri Hikari menggigit bibirnya pelan. Dia benar-benar tidak ingin menjawab pertanyaan itu di sini. Tidak sekarang. Tidak di tengah pesta. Tidak saat mereka sedang menjadi pusat perhatian banyak orang. Lalu tanpa sengaja pandangannya bergeser.
Dan dia melihat Fumiro.
Pemuda itu sedang berdansa dengan Yuna tidak jauh dari posisi mereka. Mata Putri Hikari langsung berbinar seolah menemukan jalan keluar. Tanpa berkata apa-apa, dia menatap Fumiro.
Tatapan penuh harapan. Tatapan seseorang yang sedang meminta pertolongan. Fumiro yang awalnya fokus memimpin dansanya dengan Yuna segera menyadari sesuatu. Dia mengenal Putri Hikari cukup lama untuk memahami bahasa tanpa kata-kata itu.
Ekspresi sang putri jelas tidak baik-baik saja.
Dan ketika jarak antar pasangan semakin dekat seiring pola pergerakan dansa, Fumiro akhirnya memahami apa yang diinginkan Putri Hikari.
Dia menghela napas kecil lalu tersenyum tipis.
"Baiklah... waktunya telah tiba."
Tanpa ragu sedikit pun, Fumiro mengambil keputusan. Saat kedua pasangan berpapasan dalam pola putaran berikutnya, dia perlahan melepaskan genggaman tangannya dari Yuna.
Di saat yang sama, Putri Hikari juga melepaskan genggamannya dari Jinsei. Semuanya terjadi begitu cepat. Begitu alami. Seolah memang bagian dari koreografi dansa.
Dan dalam satu gerakan mulus. Pasangan mereka bertukar.
Jinsei kini berdiri berhadapan dengan Yuna. Sedangkan Putri Hikari berpindah ke sisi Fumiro.
Yuna membelalak kaget. Matanya melihat Jinsei yang berada didepannya. Jinsei juga sempat terdiam sesaat. Bahkan langkahnya nyaris berhenti.
Di sisi lain, Putri Hikari langsung mengembuskan napas lega begitu berada di samping Fumiro. Seolah baru saja berhasil lolos dari situasi berbahaya. Fumiro hanya tersenyum tipis tanpa mengatakan apa pun.
Sementara dari kejauhan, Ryujin dan Yua yang sedang berdansa sempat menyaksikan pertukaran pasangan itu.
Keduanya sama-sama bingung. Mereka jelas tahu sesuatu yang aneh baru saja terjadi. Musik terus mengalun. Dan pesta dansa tetap berlangsung.
Jinsei masih berdiri diam selama beberapa detik setelah pertukaran pasangan itu terjadi. Tatapannya perlahan beralih ke arah Putri Hikari. Sang putri yang beberapa saat lalu terlihat gugup kini tampak jauh lebih tenang. Bahkan langkah dansanya kembali ringan dan anggun seperti biasa.
Kemudian pandangan Jinsei bergeser kepada Fumiro. Tatapannya tajam. Sangat tajam. Seolah sedang menuntut penjelasan tanpa perlu mengucapkan sepatah kata pun.
Namun Fumiro sama sekali tidak menoleh. Dia seakan tidak menyadari tatapan itu. Atau mungkin sengaja mengabaikannya.
Dengan tenang, dia terus memimpin tarian bersama Putri Hikari. Senyum tipis menghiasi wajahnya, sementara gerakan mereka tetap selaras dengan irama musik yang mengalun di seluruh aula.
Putri Hikari yang menyadari tatapan Jinsei dari kejauhan hanya melirik sekilas.
Untuk pertama kalinya malam itu, senyum tulus muncul di wajahnya. Senyum yang ringan. Tanpa beban. Tanpa kegugupan. Seolah semua tekanan yang tadi menghimpitnya menghilang begitu saja.
Di sisi lain, seseorang yang justru paling kesulitan beradaptasi dengan keadaan baru itu adalah Yuna. Gadis itu berusaha menjaga ketenangannya. Namun semakin lama, semakin dia sadar betapa dekat jaraknya dengan Jinsei saat ini.
Tangan mereka saling bertaut.
Langkah mereka bergerak mengikuti irama yang sama.
Dan setiap kali mereka berputar, wajah Jinsei berada begitu dekat hingga Yuna bisa melihat jelas pantulan cahaya lampu aula di matanya. Jantungnya mulai berdetak sedikit lebih cepat.
Aneh.
Padahal sebelumnya dia tidak merasa segugup ini saat berdansa dengan Fumiro. Namun sekarang, entah mengapa suasananya terasa berbeda.
Yuna mencoba memusatkan perhatian pada musik. Lalu pada langkah kakinya. Lalu pada para penari lain di sekitar mereka. Apa saja, asalkan bukan wajah Jinsei.
Namun semakin Yuna berusaha menghindarinya, semakin sadar dirinya akan keberadaan Jinsei. Jinsei yang akhirnya mengalihkan pandangan dari Putri Hikari menatap pasangan barunya.
Dia langsung menangkap kegugupan di wajah Yuna.
"Kau terlihat tegang."
Yuna tersentak kecil.
"Mana mungkin."
"Benarkah?"
"Tentu saja."
Sudut bibirnya terangkat tipis. Tatapannya penuh keraguan.
Yuna langsung memalingkan wajah. Pipinya sedikit memanas.
Melihat reaksi itu, senyum tipis muncul di wajah Jinsei. Bukan senyum yang dibuat-buat. Melainkan senyum yang muncul seolah tahu akan kegugupan Yuna.
Dan entah kenapa, melihat senyum itu justru membuat Yuna semakin sulit menenangkan jantungnya sendiri.
Tak lama kemudian, dari sudut aula yang dipenuhi cahaya lampu kristal dan alunan musik megah, sepasang mata mengamati Haru yang sejak tadi terus berganti pasangan dansa.
Sudut bibir wanita itu terangkat tipis.
Tanpa ragu, dia melangkah menembus kerumunan para bangsawan. Gaunnya berayun lembut mengikuti langkahnya yang tenang namun penuh percaya diri. Begitu tiba di hadapan Haru, wanita itu langsung menyelip di antara pasangan dansanya saat itu.
Dengan gerakan yang begitu halus dan sempurna layaknya seorang penari yang telah menghabiskan hidupnya di atas panggung, dia meraih tangan Haru dan mengambil alih kendali tarian begitu saja.
Haru terkejut.
Matanya membelalak saat mengenali sosok yang kini berdiri begitu dekat dengannya.
Kazura.
Sesaat, ekspresinya yang biasanya santai berubah menjadi penuh kegembiraan. Senyum lebar tanpa sadar menghiasi wajahnya, seolah akhirnya menemukan seseorang yang sejak tadi dia tunggu-tunggu di tengah ramainya pesta.
Tatapan mereka bertemu.
Kazura menatapnya dengan tenang, sementara Haru tidak berusaha menyembunyikan kebahagiaannya sedikit pun.
Di tengah langkah dansa yang terus berlanjut, Kazura berkata pelan.
"Denganku saja..."
Nada suaranya lembut, namun mengandung keyakinan yang tidak memberi ruang untuk penolakan. Haru terkekeh kecil. Tawa ringan yang keluar dari bibirnya terdengar begitu tulus.
"Tentu saja.."
Mereka pun melanjutkan tarian bersama.
Gerakan mereka selaras secara alami, seakan telah berlatih bersama berkali-kali sebelumnya. Langkah Kazura begitu anggun dan terukur, sementara Haru mengikuti iramanya tanpa kesulitan sedikit pun.
Di sisi lain, beberapa gadis bangsawan yang sejak tadi berebut kesempatan berdansa dengan Haru langsung menunjukkan ekspresi tidak puas.
"Tunggu dulu! aku masih belum selesai berdansa dengannya!"
"Apa-apaan itu? dia langsung mengambil alih begitu saja!"
"Curang sekali..."
Keluhan dan protes kecil mulai terdengar dari berbagai arah. Namun baik Haru maupun Kazura sama sekali tidak memedulikannya. Bagi mereka, suara-suara itu seolah tenggelam oleh alunan musik yang memenuhi aula.
Kazura membawa Haru menjauh dari mereka menuju bagian aula yang lebih lengang. Lampu-lampu keemasan memantulkan cahaya lembut pada keduanya saat mereka terus berputar mengikuti irama.
Dan untuk pertama kalinya malam itu, Haru merasa tidak perlu berganti pasangan dansa lagi. Karena orang yang ingin dia temui akhirnya datang menghampirinya sendiri.
Yua tampak beberapa kali melirik ke arah Jinsei di sela-sela tarian. Gerakannya tetap anggun dan teratur, tetapi matanya selalu kembali mencari sosok pria itu di antara lautan para bangsawan yang sedang berdansa.
Ryujin menyadarinya.
Dia tahu betul arti dari setiap lirikan itu.
Untuk sesaat, dadanya terasa sesak. Namun pada akhirnya dia hanya menghela napas panjang. Ada rasa sakit yang berusaha dia sembunyikan di balik senyumnya.
"Jika itu yang membuatmu bahagia... maka aku akan membantumu." batin Ryujin.
Pandangannya beralih ke arah Jinsei yang saat itu tengah berdansa bersama Yuna.
Tanpa banyak berpikir lagi, Ryujin perlahan mengubah arah tariannya. Dengan langkah yang halus dan alami, membawa Yua semakin mendekati Jinsei dan Yuna.
Yua yang menyadarinya langsung membelalak.
"Ryujin...?" batinnya terkejut.
Yua menoleh kepada Ryujin seolah tidak percaya dengan apa yang sedang dilakukannya. Tak lama kemudian, kedua pasangan itu bertemu di tengah lantai dansa.
Jinsei dan Yua saling memandang.
Hanya sesaat.
Namun dalam sesaat itu, seolah seluruh keramaian aula menghilang dari dunia mereka.
Yua menatap Ryujin dengan wajah penuh keterkejutan. Seakan dia tidak percaya bahwa sahabatnya sendiri yang membawanya tepat ke hadapan orang yang ingin Yua temui sejak tadi.
Di sisi lain, Yuna melihat semuanya.
Dia tersenyum tipis.
Sejak awal dia sudah memahami arah hati Yua. Lagi pula, berdansa bersama Jinsei membuatnya gugup setengah mati. Kesempatan ini justru terasa seperti jalan keluar yang sempurna baginya.
Mata Yuna dan Ryujin bertemu.
Tak perlu kata-kata.
Mereka saling mengerti.
Dalam satu gerakan yang begitu alami, Ryujin melepaskan genggaman Yua. Pada saat yang sama, Yuna juga perlahan melepaskan tangannya dari Jinsei.
Dan tepat di tengah irama musik yang mengalun lembut, pasangan mereka bertukar.
Kini Ryujin berdansa bersama Yuna.
Sedangkan Jinsei akhirnya berdansa bersama Yua.
Saat tangan mereka saling bertemu, keduanya sempat terdiam. Tatapan mereka saling mengunci. Begitu dekat. Begitu hangat. Seolah berkata tanpa suara,
"Akhirnya..."
"Ya... akhirnya."
Yua merasakan jantungnya berdetak jauh lebih cepat dari sebelumnya. Sedangkan Jinsei hanya tersenyum kecil, senyum yang selama ini seakan hanya dia tunjukkan kepada Yua.
Di sisi lain, Ryujin sempat melirik ke arah mereka.
Dan itulah kesalahannya. Tatapan Jinsei dan Yua yang saling terhubung begitu dalam terasa seperti pisau yang menggores pelan hatinya.
Ryujin segera memalingkan wajah.
Memilih menatap pasangan dansanya sekarang.
Yuna.
Namun saat pandangan mereka bertemu, keduanya justru tersenyum kecil. Senyum orang-orang yang sedang menyaksikan sebuah kisah dari luar panggung.
Yuna memutar pelan mengikuti irama musik.
Lalu dalam hatinya dia bergumam,
"Kisah cinta yang menarik..."
Sementara Ryujin berkata didalam hatinya,
"Jangan sampai kau membuatnya menangis, Jinsei."
Lampu-lampu kristal terus berkilauan di atas aula. Musik terus mengalun.
Dan untuk pertama kalinya malam itu, dua orang yang sejak tadi saling berpisah akhirnya bisa berdansa dalam satu irama yang sama.