Altair seorang eksekutor miskin di rumah Andrea's. Motifnya untuk balas dendam kepada kepala keluarga itu karena sudah menghilangkan nyawa kedua orang tuanya. Tapi dia malah jatuh cinta kepada anak kesayangan keluarga itu membuatnya dijebak dan mati di tangan mereka.
Dia di beri kesempatan kedua untuk tidak menjadi bodoh dan jatuh cinta. Di kehidupan ini dia menuntaskan dendamnya. Dan siapa sangka dia malah berhubungan dengan anak angkat keluarga itu, Aquilla.
Akankah dendamnya terbalaskan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ladies_kocak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab : Adu jotos di Koridor
Di Fakultas Bisnis, suasananya jauh berbeda.
Altair yang sebelumnya fokus di jurusan Teknik, kini duduk tenang di kelas bisnis. Ilmu teknik sudah dia kuasai di luar kepala. Sekarang yang dia butuhkan adalah ilmu bisnis, cara menjual karya, bukan sekadar menciptakannya.
Dia duduk di samping Steve. Di sisi lain Steve, ada Evan. Tiga orang itu duduk sejajar. Kelihatan akur dari luar, padahal Altair tahu betul salah satu dari mereka menyimpan duri.
Begitu kelas berakhir, dosen menahannya. “Altair, bagaimana kelanjutan proyek robot kamu? Sudah ditawarkan ke perusahaan?”
Ruangan yang tadinya bising langsung hening. Robot buatan Altair memang sudah jadi legenda di kampus karena kecanggihannya.
Altair berdiri. Di kehidupan pertama, dia sangat antusias di titik ini. Namun, antusiasme itu malah dimanfaatkan Evan untuk menjebaknya dengan tuduhan plagiat hingga hidupnya hancur.
Sekarang? Dia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.
Altair tersenyum tipis. “Saya cancel, Pak.”
Satu kelas langsung riuh karena kaget.
Steve ikut menoleh cepat. “Al?” bisiknya heran.
Altair menunduk sedikit, berbisik pelan. “Ini jebakan.”
Steve langsung diam dan mengerti.
Evan berpura-pura kaget. “Lo serius, Al? Sayang banget, padahal robot lo keren.”
“Pasar belum siap, Pak. Biaya produksinya terlalu tinggi. Mending saya fokus skripsi dulu,” jawab Altair tenang pada dosennya. “Kalau Bapak mau, lelang saja robotnya untuk dana penelitian kampus.”
Dosen mengangguk setuju. Rencana busuk Evan untuk menjatuhkan Altair pun gagal total sebelum dimulai.
Saat melangkah ke koridor menuju kantin, tiba-tiba kerah kemeja Altair ditarik kasar dari belakang.
“Maksud lo apa main cancel gitu aja?!” bentak Evan dengan muka merah padam.
Dengan gerakan cepat, Altair memelintir pergelangan tangan Evan hingga cengkeraman itu terlepas. “Urusan lo apa? Gue tahu lo udah nyiapin skenario jebakan buat menjatuhkan gue.”
Evan tersentak kaget. Adu mulut di antara mereka makin memanas, memancing perhatian mahasiswa yang mulai berkerumun.
“Bisa dewasa dikit nggak? Malu-maluin,” kata Altair dingin, lalu berbalik hendak pergi.
BUGH!
Tinju Evan mendarat telak di rahang Altair hingga sudut bibirnya pecah. Altair terhuyung, tapi bukannya makin emosi, dia justru menyapu darah di bibirnya lalu tertawa serak.
“Akhirnya topeng lo lepas juga,” bisik Altair tajam. “Gue tahu lo yang ngajuin perjodohan sama Ruby karena iri sama gue. Lo juga yang menjebak gue sampai harus nikah sama Aquilla!”
Wajah Evan mendadak pucat pasi. Altair mencengkeram kerah baju Evan, menariknya makin dekat. “Tutup mulut lo, atau gue bongkar semuanya ke Ruby.”
“COT!” bentak Evan emosi sambil mendorong dada Altair.
Kesabaran Altair resmi habis.
BUGH!
Pukulan balasan Altair menghantam pipi Evan dengan keras. Baku hantam brutal pun tak terelakkan. Mereka saling pukul, saling dorong ke tembok, membuat suasana koridor makin kacau oleh teriakan mahasiswa.
“CUKUP!”
Ruby mendadak menerobos kerumunan dan pasang badan di antara mereka.
Kedua cowok itu langsung terhenti. Napas mereka memburu dengan wajah penuh luka memar, menatap Ruby yang berdiri terengah-engah.
Di tepi kerumunan, Aquilla, Kinara, dan Saira baru saja tiba. Wajah Aquilla mendadak datar, tetapi jemarinya yang mengepal di samping rok bergetar halus—menyaksikan suaminya mendadak berhenti adu jotos tepat saat Ruby datang.
Mata Altair bergulir, lalu bertabrakan langsung dengan pandangan Aquilla.
Seketika, atmosfer koridor yang panas berubah menjadi dingin menusuk.