Arka Zayn Albian, remaja kaya raya yang muak dengan tuntutan kesempurnaan keluarganya, memilih melampiaskan rasa frustrasinya di malam kelulusan SMA. Di sebuah club, ia bertemu Astrid, gadis asing yang memiliki beban batin serupa. Terikat oleh rasa frustrasi yang sama dan pengaruh alkohol, keduanya melewati malam bersama yang berakhir dengan kepanikan di pagi hari. Takut memicu skandal besar, Arka memilih kabur dan berharap bisa melupakan kejadian itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xora', isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 Harga sebuah Pukulan
Jantungku bertalu-talu layaknya genderang perang. Aku masih terpaku, memandangi Astrid yang berbaring hanya beberapa jengkal dari posisiku. Sial, ini benar-benar situasi gila.
Seolah bisa merasakan kepanikan yang merayap di udara, kelopak mata Astrid perlahan bergerak. Ia melenguh pelan, lalu membuka matanya lambat-lambat. Sinar fajar yang menembus gorden langsung menyapa wajah polosnya yang kentara masih didera kantuk luar biasa. Rambut hitamnya yang semalam tampak berkilau, kini acak-acakan membingkai wajahnya yang tampak rapuh tanpa polesan make-up.
Selama beberapa detik, Astrid hanya terdiam. Tatapannya kosong, menatap langit-langit kamar seolah mencoba menyusun kembali kepingan memorinya yang buruk. Namun, begitu matanya bergulir ke samping dan menangkap sosok ku yang saat ini hanya terduduk kaku dengan selembar celana kolor kesadarannya langsung pulih seratus persen. Matanya membelalak lebar, dan ia refleks menarik selimut putih itu hingga sebatas dada dengan raut wajah yang luar biasa syok.
Keheningan yang mencekam sempat menjebak kami berdua. Atmosfer kamar hotel ini mendadak dipenuhi kecanggungan yang mencekik.
"Kita..." Astrid menggantung kalimatnya, suaranya parau dan bergetar.
Aku mengusap wajahku yang frustrasi, mengembuskan napas berat yang masih beraroma sisa alkohol semalam. "Gue gak ingat detailnya, Astrid. Tapi... sepertinya iya."
Astrid menggigit bibir bawahnya, menunduk menatap lipatan selimut. Ada gurat ketakutan yang coba ia sembunyikan di balik wajah dinginnya. Setelah beberapa saat bergelut dengan pikirannya sendiri, ia menarik napas dalam-dalam, mencoba bersikap rasional di tengah situasi yang kacau ini.
"Mari kita lupakan kejadian hari ini," cetus Astrid tiba-tiba. Suaranya terdengar datar, namun ada nada tegas yang tak ingin dibantah. "Anggap malam semalam gak pernah ada. Kita gak saling kenal, dan kita gak usah ketemu lagi."
Aku agak tertegun mendengarnya, tapi diam-diam merasa lega. "Oke. Gue setuju."
Namun, tepat sebelum aku beranjak dari tempat tidur untuk mengumpulkan pakaianku yang berceceran di lantai, Astrid bergumam dengan suara yang teramat pelan. Hampir menyerupai bisikan angin.
"Ini... pengalaman pertama ku."
Langkahku terhenti seketika. Kepalaku menoleh cepat ke arahnya dengan mata membelalak. Dadaku mendadak dihantam rasa bersalah yang amat sangat. Gadis sedingin dan seangkuh Astrid, menyerahkan hal paling berharganya di malam yang kacau kepada cowok berandalan sepertiku?
Sebenarnya, jika aku boleh jujur pada diriku sendiri, ini juga pengalaman pertama bagiku. Tapi egoku sebagai laki-laki menolak untuk terlihat lemah di depannya.
Sebagai bentuk tanggung jawab yang mungkin terlihat klise bagi anak orang kaya, aku merogoh dompetku yang tergeletak di atas nakas. Aku mengambil selembar kartu ATM berwarna hitam dari sana, lalu mengambil secarik kertas kecil untuk menuliskan deretan nomor handphone-ku beserta PIN kartu tersebut.
Aku meletakkan kartu dan kertas itu di tepi kasur, tepat di dekat jemarinya yang gemetar.
"Gue tahu ini gak bakal bisa ngebayar apa pun," kataku, mencoba menjaga intonasi suaraku agar tetap tenang. "Tapi di dalam kartu itu ada dua ratus juta. Pakai buat apa aja yang lo butuhin. Nomor gue ada di sana. Kalau ada apa-apa... hubungi gue."
Astrid tidak menyentuh kartu itu, ia hanya menatapnya dengan tatapan kosong yang sulit diartikan. Tanpa menunggu jawabannya, aku segera memakai pakaianku dengan terburu-buru dan melangkah keluar dari kamar itu, meninggalkan bau parfum vanila dan sebuah rahasia besar yang kuharap akan terkubur selamanya.
Waktu berlalu seperti air yang mengalir, menghanyutkan memori malam kelulusan itu jauh ke belakang otakku. Kehidupan baruku pun dimulai. Aku resmi menyandang status sebagai mahasiswa di salah satu universitas swasta paling bergengsi dan mahal di ibu kota. Alih alih mengambil jurusan bisnis seperti yang dipaksakan Ayah, aku memilih jalanku sendiri: Teknik Informatika. Jurusan yang paling aku idam idamkan sejak dulu karena ketertarikan ku pada dunia teknologi. Tentu saja, keputusan ini sempat memicu perdebatan sengit di meja makan, tapi aku tidak peduli.
Hari-hariku di kampus berjalan dengan santai, nyaris tanpa beban. Terlebih lagi, kini aku memiliki seorang kekasih yang selalu mendampingiku. Namanya Sania.
Sania adalah teman satu sekolahku saat SMA dulu. Dia cantik, modis, dan lahir dari rahim keluarga pengusaha yang tingkat kesuksesannya sebelas-dua belas dengan keluarga Albian. Kami adalah pasangan yang serasi di mata orang orang: sama sama rupawan, dan sama sama memiliki dompet yang tebal.
Namun, di balik fisiknya yang aduhai, Sania adalah definisi nyata dari wanita yang manja dan hanya mau mendapatkan hasil yang instan. Dia tipe perempuan yang menganggap dunia berputar di sekeliling telunjuknya. Hobi utamanya adalah berbelanja barang barang branded demi gengsi, dan dia paling benci jika kemauannya ditunda walau sedetik.
"Arka, lihat deh tas ini! Bagus banget kan? Pas banget kalau dipake buat aesthetic dinner malam minggu besok," rajuk Sania sore itu, menggelayut manja di lengan kananku saat kami sedang berjalan-jalan di salah satu mal premium. Matanya berbinar menatap etalase toko berlogo desainer Prancis.
Aku hanya tersenyum tipis, mengeluarkan kartu kredit dari dompetku tanpa banyak tanya. "Ambil aja. Apa sih yang enggak buat lo."
"Ahhh! Thank you, Babe! Kamu emang yang terbaik!" Sania memekik kegirangan, mengecup pipiku sekilas sebelum menyambar tas itu dengan riang.
Hari-hariku lalui dengan cara seperti itu. Menghambur-hamburkan uang seolah pasokan harta di garasi rumahku tak akan pernah habis. Jika bosan dengan suasana kota, aku, Sania, dan Pedro akan memacu mobil kami menuju pantai di pinggiran kota. Berjemur di bawah terik matahari, menikmati semilir angin laut dengan segelas es kelapa mahal, berbelanja tanpa melihat label harga, dan berkeliling kota hingga larut malam. Aku menikmati ilusi kebahagiaan yang dibeli oleh uang ini. Aku merasa bebas.
Namun, kebebasan yang kebablasan selalu memiliki masa kedaluwarsa.
Malam itu, jam dinding di ruang tengah mansion Albian sudah menunjuk ke angka dua pagi. Aku melangkah memasuki rumah dengan kondisi yang sangat mengenaskan. Kesadaranku tersisa mungkin hanya dua puluh persen akibat terlalu banyak menegak minuman keras di klab malam bersama Pedro. Pandanganku buram, berputar putar, dan kakiku terasa seperti jeli yang tak bertulang.
Aku tersesat di dalam rumahku sendiri. Koridor koridor megah yang biasanya kuhafal di luar kepala kini tampak berlipat ganda dan membingungkan. Dengan tubuh yang sempoyongan dan tangan yang meraba dinding marmer untuk menjaga keseimbangan, aku berjalan tanpa arah hingga tak sengaja mendorong sebuah pintu jati yang besar.
Aku memasuki ruang kerja Kak Andra.
Ruangan itu sunyi, didominasi aroma kayu ek dan kertas kertas mahal. Di balik meja kerja raksasanya, Kak Andra masih duduk tegap dengan kemeja yang lengannya sudah digulung hingga siku. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah gelas berkaki tinggi berisi cairan merah pekat wine mahal koleksi Ayah. Di depannya, layar laptop masih menyala menampilkan grafik-grafik bisnis yang rumit.
Begitu pintu berderit, Kak Andra mendongak. Matanya yang tajam langsung mengunci sosokku yang berdiri limbung di ambang pintu, napas berbau alkohol, dan pakaian yang berantakan. Dalam sekejap, aura di dalam ruangan itu mendingin, berubah mencekam.
Kak Andra meletakkan gelas wine nya ke atas meja dengan ketukan yang lambat namun sarat akan penekanan. Ia berdiri dari kursi kebesarannya, menatapku dari atas ke bawah dengan tatapan yang dipenuhi kejijikan mendalam.
"Jam berapa ini, Arka?" suaranya menggelegar rendah, dingin mematikan. "Kau pulang dengan keadaan seperti binatang begini? Gak punya otak?"
Aku terkekeh, suara tawa mabukku terdengar sumbang di ruangan yang sunyi itu. Aku bersandar pada bingkai pintu, menatapnya dengan raut wajah yang sengaja kubuat senyolot mungkin. "Bukan urusan lo, Kakakku yang terhormat..."
"Jaga bicara lo!" Kak Andra melangkah mendekat, sepasang matanya menyalang penuh amarah yang siap meledak. "Keluarga Albian gak pantas berprilaku kaya gitu! Kau itu membawa nama besar Ayah! Kelakuan berandalanmu ini cuma bikin malu dan merusak reputasi yang sudah dibangun susah payah!"
Mendengar kata 'reputasi' dan 'keluarga Albian', sesuatu di dalam dadaku mendadak terbakar. Rasa jengkel yang kupendam bertahun-tahun bergolak naik ke permukaan, mengalahkan rasa takutku pada sosok di depanku. Aku memajukan wajahku, menatap tepat ke manik matanya dengan senyum meremehkan yang memancing emosi.
"Lu pikir gue peduli sama reputasi busuk itu, hah?!" ujarku setengah berteriak, suaranya melantur akibat pengaruh alkohol. "Gue gak butuh nama baik! Gue cuma butuh duit dari rumah ini buat bahagia! Ha ha ha ha! Cuma duit lo pada yang berguna buat gue!"
"ARKA!"
Kalimat pembangkanganku yang sudah kelewat batas memicu sumbu ledak amarah Kak Andra. Wajah tegasnya mengeras sekeras batu, urat-urat di lehernya menonjol tegang. Tanpa peringatan lebih lanjut, tangan kanannya melayang di udara, mengepal kuat, dan menghantam rahang kiriku dengan kekuatan penuh.
BUGH!
Pukulan telak itu mendarat dengan suara yang mengerikan. Kepalaku terhentak hebat ke samping. Rasa sakit yang luar biasa panas menjalar seketika, menghancurkan sisa-sisa efek mabuk di otakku dalam hitungan milidetik. Tubuhku yang limbung tak mampu menahan hantaman sekeras itu. Pandanganku langsung meredup, berubah menjadi hitam pekat, sebelum akhirnya tubuhku ambruk ke lantai marmer yang dingin dan kesadaranku hilang sepenuhnya.