TOXIC AND CONTROL
Karya: Parkha
Bagi Kinara Jose, hidup sebagai siswi penerima beasiswa berpenampilan polos dengan kacamata tebal adalah cara terbaik untuk bertahan hidup dengan tenang di SMA Elite. Namun, seluruh dunianya runtuh saat ia tidak sengaja menarik perhatian Rian Pradifta.Rian—sang Tiran berwajah malaikat namun berhati iblis, cowok terkaya, terdingin, dan paling ditakuti satu sekolah. Sekali Rian mengunci pandangannya pada Kinara, tidak ada jalan keluar. Cowok itu terobsesi mengontrol setiap jengkal hidup Kinara, memutuskan dengan siapa ia bicara, ke mana ia pergi, hingga apa yang harus ia pakai.Kehidupan Kinara yang tenang kini berubah menjadi labirin yang mencekik. Rian adalah racun, namun juga satu-satunya oksigen yang tersisa untuknya. Di tengah kepungan obsesi gila itu, sebuah rahasia besar perlahan terkuak: di balik kacamata tebal dan sikap penurutnya, Kinara menyimpan pesona tersembunyi yang siap menjungkirbalikkan kuasa Rian sang Tiran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Toxic and Control *BAB 19: AMUKAN SANG PENGUASA*
---Toxic and Control
*BAB 19: AMUKAN SANG PENGUASA*
_
Langkah kaki Kinara Jose terasa begitu hampa saat dia berjalan menyusuri koridor lantai dua setelah sengaja mengusir Randy dengan kalimat dinginnya. Hatinya hancur, namun dia harus bertahan demi keselamatan masa depan cowok baik itu.
Namun, penderitaan Kinara hari ini belum usai. Tepat di belokan koridor dekat gudang lama yang sepi, Silla sudah berdiri menghadang jalannya bersama dua orang siswi pengikutnya.
Wajah cantik Silla tampak berkerut murka menahan dendam yang sudah di ubun-ubun. Tamparan mentah yang dia terima dari Rian di depan satu kelas kemarin siang telah menghancurkan harga dirinya berkeping-keping. Silla tidak terima didepak begitu saja setelah dua bulan statusnya dinaikkan menjadi pacar sang tuan muda. Dan bagi Silla, seluruh penghinaan itu bersumber dari satu nama: Kinara Jose.
"Heh, Anak Beasiswa Murahan!" panggil Silla ketus, melangkah lebar memotong jalan Kinara. Dia menatap sinis ke arah masker medis yang kembali terpasang di wajah Kinara. "Hebat juga ya pesonamu. Kemarin Randy pasang badan buat kamu, lalu Rian tiba-tiba menampar aku demi membela sialan sepertimu!"
Kinara diam menunduk, mencoba mengabaikan Silla dan bergeser ke samping. Tubuhnya sudah terlampau lemas karena kelelahan menyalin buku biologi Rian, ditambah luka di bibirnya yang masih terasa perih menyengat sarafnya.
Namun, Silla dengan cepat mencengkeram bahu Kinara, menyentaknya hingga punggung cewek itu membentur dinding koridor dengan keras.
"Jangan berani-berani mengabaikan aku, Cupu!" desis Silla penuh kebencian. Tangannya bergerak impulsif, langsung merenggut paksa masker medis di wajah Kinara hingga talinya putus. "Buka maskermu! Aku mau lihat secantik apa yang membuat Rian sampai gelap mata—"
Ucapan Silla terhenti kaku. Sepasang matanya membelalak sempurna saat melihat luka robek yang membengkak kemerahan di sudut bibir ranum Kinara. Sebagai mantan pacar Rian selama dua bulan, Silla tahu persis tabiat liar cowok itu. Otak liciknya langsung menangkap sinyal mengerikan. Luka itu adalah bekas ciuman brutal.
Rasa malu bercampur cemburu buta seketika membakar habis sisa kewarasan Silla.
"Dasar jalang!" pekik Silla histeris. Dia mengangkat tangan kanannya, bersiap melayangkan tamparan keras ke wajah Kinara.
Namun, Kinara tidak tinggal diam. Rasa tertekan, lelah, dan amarah yang bertumpuk sejak semalam membuat insting bertahannya meledak. Tepat sebelum telapak tangan Silla mengenai pipinya, Kinara dengan cepat mencengkeram pergelangan tangan Silla di udara.
Plak!
Menggunakan seluruh sisa tenaga di tubuh mungilnya, Kinara mengayunkan tangan kirinya sendiri dan mendaratkan sebuah tamparan mentah yang cukup keras di pipi kanan Silla. Sentakan itu membuat kepala Silla tertoleh ke samping dengan napas memburu karena terkejut.
"Jaga mulutmu, Kak Silla! Aku bukan jalang!" bentak Kinara dengan suara bergetar menahan amarah, matanya berkilat penuh perlawanan di balik kacamata murahnya. "Jangan pernah menyentuhku lagi!"
Silla memegangi pipinya yang memerah, matanya membelalak syok sekaligus terhina karena baru saja dibalas oleh seorang anak beasiswa yang dia anggap remeh.
"Kurang ajar! Berani kamu memukulku?!" teriak Silla gelap mata.
Silla langsung menerjang maju, mendorong tubuh Kinara dengan sekuat tenaga hingga cewek itu kehilangan keseimbangan dan tersungkur kasar ke lantai. Dua teman Silla ikut maju menahan pergerakan Kinara yang berusaha bangun. Di saat posisi Kinara terkunci di lantai, Silla memanfaatkan kesempatan itu untuk melayangkan satu tendangan keras tepat ke arah perut Kinara.
Ugh—
Kinara meringis kesakitan, tubuhnya langsung meringkuk di atas lantai yang dingin sembari memegangi perutnya. Rasa sakit yang menghantam fisiknya berpadu dengan kepalanya yang mendadak berdenyut nyeri luar biasa akibat paranoianya yang pecah. Pandangannya perlahan menggelap, oksigen di paru-parunya serasa menyusut, hingga akhirnya sisa kesadaran Kinara tumbang sepenuhnya. Dia pingsan dalam kondisi memeluk tubuhnya sendiri.
"Silla! Hentikan!"
Sebuah teriakan parau memecah keheningan koridor sepi itu. Randy muncul dari arah tangga, langsung berlari cepat menerobos dua teman Silla yang berjaga. Jantung cowok basket itu serasa copot melihat Kinara tergeletak tak berdaya di lantai. Randy langsung berlutut di samping tubuh Kinara, menepuk pipi cewek itu dengan tangan yang gemetar hebat.
"Kinara! Kinara, bangun!" seru Randy panik, beralih menatap Silla dengan kilat amarah yang menyala. "Kamu gila, Silla?! Apa yang kamu lakukan pada dia?!"
Drap! Drap! Drap!
Suara derap langkah kaki yang teramat berat dan cepat menggema kasar dari arah ujung lorong. Atmosfer di sekitar koridor sepi itu mendadak turun drastis menjadi sedingin es yang mencekam.
Rian Pradifta berdiri di sana dengan aura membunuh yang sangat pekat dan mengerikan. Sepasang mata elangnya berkilat merah menyala, terkunci mati pada sosok mungil Kinara yang tergeletak pingsan di lantai, dengan masker yang robek di sampingnya.
Kepalan tangan Rian meremas kuat hingga buku jarinya memutih mengeluarkan bunyi gemertak yang kentara. Pemandangan itu merusak seluruh sisa kewarasannya dalam satu detik.
Tanpa mengucapkan satu kata pun, Rian melangkah lebar memangkas jarak. Sebelum Randy sempat bereaksi, Rian menjulurkan tangan kekarnya, mencengkeram bahu Randy lalu mendorong tubuh cowok basket itu dengan sentakan yang sangat keras hingga Randy terdorong mundur beberapa langkah ke belakang.
"Jauhkan tangan kotormu dari milikku, Randy," desis Rian dengan suara baritonnya yang rendah, parau, dan dipenuhi ancaman mematikan.
Rian langsung membungkukkan tubuh tegapnya. Dengan gerakan yang tiba-tiba berubah menjadi sangat hati-hati namun protektif, dia menyelipkan kedua lengan kekarnya di bawah tubuh kecil Kinara, lalu mengangkat gadis itu ke dalam dekapan dadanya. Kepala Kinara yang terkulai pasrah bersandar di dada bidang Rian.
Silla yang melihat kedatangan Rian seketika memucat pasi. Seluruh tubuhnya gemetar ketakutan, paranoianya pecah berkeping-keping melihat binar mata elang Rian yang menatapnya bagai malaikat maut.
"R-Rian... aku... aku tidak bermaksud—"
Rian bahkan tidak sudi menggeser bola matanya untuk melirik Silla. Dia membalikkan tubuh tegapnya sembari mendekap erat tubuh Kinara, berjalan lebar menuju lantai atas tempat basecamp berada.
"Rama, Rangga," panggil Rian datar tanpa menghentikan langkah kaki. Kedua sahabatnya yang baru saja menyusul dari belakang langsung berdiri tegak. "Telepon dokter pribadi keluargaku sekarang juga. Suruh dia datang ke basecamp dalam hitungan sepuluh menit."
"Siap, Rian!" sahut Rama cepat, langsung merogoh ponselnya dengan panik melihat sang tuan muda sudah berada di puncak amarah tertingginya.
Rian mendorong pintu basecamp dengan kakinya, lalu melangkah masuk ke dalam ruangan yang temaram. Dia membaringkan tubuh kecil Kinara di atas sofa kulit hitamnya yang panjang dengan gerakan yang teramat lembut—sebuah perlakuan kontras yang tidak pernah dia berikan pada wanita mana pun sebelumnya.
Rian berlutut di samping sofa, menatap lekat-lekat wajah polos Kinara yang pucat pasi dengan bibir bengkak yang sedikit mengeluarkan sisa darah baru akibat gesekan tadi. Dada Rian berdenyut nyeri yang luar biasa pekat. Sisi gila kontrol dan obsesi gelapnya bergejolak hebat berbaur dengan rasa tidak rela melihat gadisnya terluka.
Begitu dokter pribadi keluarganya datang dan memeriksa kondisi Kinara di dalam kamar khusus basecamp, Rian melangkah keluar menuju ruang utama dengan wajah yang kembali sedingin es tanpa riak emosi apa pun. Namun, siapa pun tahu, keheningan Rian adalah badai paling mematikan di Garuda Nusantara.
Rian meraih ponselnya di atas meja kaca, menekan satu tombol cepat yang langsung menghubungkan panggilan khusus kepada ayahnya serta kepala komite hukum yayasan Pradifta.
"Hancurkan perusahaan dan seluruh bisnis keluarga Silla siang ini juga," perintah Rian dengan suara baritonnya yang teramat rendah, dingin, dan tanpa ampun. "Gunakan seluruh pengaruh finansial yayasan untuk memutus semua kontrak kerja sama mereka di dewan kota. Pastikan keluarganya bangkrut total sebelum matahari terbenam."
Rian menjeda kalimatnya sejenak, melirik ke arah pintu keluar basecamp dengan binar mata elang yang menggelap pekat.
"Dan keluarkan Silla dari SMA Garuda Nusantara detik ini juga. Cabut seluruh hak eksistensinya di sekolah ini. Jangan biarkan sampah seperti dia mengotori pandanganku lagi."
Rian mematikan ponselnya, melemparkannya kembali ke atas sofa dengan gerakan santai namun mengintimidasi. Sebuah senyuman miring yang teramat kejam dan dingin terukir di wajah tampannya.
Amukannya telah resmi dimulai. Siapa saja yang berani menyentuh atau menggores luka pada permatanya, maka Rian Pradifta tidak akan segan-segan meratakan dunia orang tersebut hingga tidak tersisa sedikit pun. Jerat kendalinya kini telah mengunci mati, memastikan bahwa mulai hari ini, Kinara Jose hanya akan aman berada di bawah poros kekuasaannya yang mutlak.
---
*
semoga Kinara terselamatkan dr jebakan Randy
kalian yang awal bab maki2 Rian ..tetap maki2 ya soalnya Rian tobatnya masih lama wkkwkwk