Pada malam Tahun Baru 2035, seluruh manusia di bumi menerima sebuah notifikasi misterius yang muncul tepat di depan mata mereka.
【Integrasi Dunia akan dimulai dalam 365 hari.】
Tak ada yang tahu siapa pengirimnya. Tak ada yang mampu menjelaskan bagaimana layar itu muncul. Setelah berbulan-bulan tanpa kejadian apa pun, dunia mulai melupakannya dan menganggapnya sebagai fenomena aneh semata.
Namun, tidak dengan Leon.
Di malam yang sama, ia menerima notifikasi kedua yang hanya bisa dilihat olehnya.
【Sistem Simulasi Satu Tahun berhasil diaktifkan.】
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'Silent Novel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 — Ujian Pertama Dimulai (Bagian 2)
Tiga pemuda itu berjalan mendekat dengan senyum penuh percaya diri.
Pemuda bertubuh besar yang tampaknya menjadi pemimpin kelompok memutar pedangnya sambil berkata,
"Keputusan yang bagus."
"Serahkan lencana kalian."
"Kalian masih bisa pulang dengan selamat."
Riven menggenggam tombaknya semakin erat.
"Apa kita benar-benar menyerah?"
Leon menggeleng pelan.
"Tidak."
"Lalu kenapa kau bilang kita tidak perlu bertarung?"
Leon tidak langsung menjawab.
Tatapannya masih tertuju pada jembatan kayu yang hampir putus.
Ia memperhatikan tali penyangga yang sudah dipotong hampir seluruhnya. Tinggal beberapa helai serat yang masih menahan beban.
Sebuah ide muncul di kepalanya.
"Riven."
"Percaya padaku."
Riven ragu beberapa detik.
Namun mengingat bagaimana Leon mampu membaca gerakan Shadow Lynx, ia akhirnya mengangguk.
"Aku ikut."
Leon melangkah menuju jembatan.
Pemuda bertubuh besar tertawa mengejek.
"Mau kabur?"
Leon tidak menoleh.
Ia dan Riven berlari melintasi jembatan dengan kecepatan penuh.
Krek...
Papan-papan kayu berderit keras.
Jembatan bergoyang hebat.
"Kejar mereka!"
teriak pemimpin kelompok.
Ketiga pemuda itu langsung mengejar tanpa berpikir panjang.
Leon dan Riven berhasil mencapai seberang.
Begitu tiba di tanah yang kokoh, Leon langsung berbalik.
Ia menghunus pedangnya.
Namun bukan ke arah para pengejar.
Melainkan ke arah tali jembatan yang masih tersisa.
Riven membelalakkan mata.
"Leon, jangan bilang..."
"Tepat."
Sraaak!
Pedang Leon memutus sisa tali penyangga.
Dalam sekejap...
BRAAAK!
Seluruh jembatan ambruk.
Ketiga pemuda yang berada tepat di tengah kehilangan pijakan.
"Apa?!"
"Tidak!"
Mereka terjatuh bersama papan-papan kayu ke dalam sungai.
Byuuur!
Arus sungai yang deras langsung menyeret mereka.
Pedang dan tas mereka hanyut.
Mereka masih hidup.
Namun membutuhkan seluruh tenaga hanya untuk berenang ke tepi.
Leon menghela napas lega.
"Aku memang tidak ingin bertarung."
"Tapi bukan berarti aku akan membiarkan diriku dirampok."
Riven menatap Leon dengan wajah takjub.
"Kau..."
"...benar-benar memanfaatkan jebakan mereka."
Leon memasukkan kembali pedangnya ke dalam sarung.
"Mereka sendiri yang membuat jembatan itu rapuh."
"Aku hanya mempercepat prosesnya."
Dari kejauhan, suara makian ketiga pemuda itu masih terdengar.
Namun Leon dan Riven sudah melanjutkan perjalanan.
Sekitar dua puluh menit kemudian, mereka tiba di kaki Bukit Embun.
Tempat itu benar-benar berbeda dengan Hutan Greenwood.
Rumput hijau membentang luas.
Kabut tipis menyelimuti lereng bukit.
Dan di puncaknya, bunga-bunga putih berkilau diterpa cahaya matahari pagi.
"Itu pasti Bunga Fajar."
kata Riven.
Leon mengangguk.
Namun ia tidak langsung mendaki.
Sebaliknya, ia mengamati sekitar.
"Ada apa lagi?"
tanya Riven.
"Menurutmu..."
"...kalau ujiannya semudah memetik bunga, kenapa banyak peserta gagal setiap tahun?"
Riven langsung terdiam.
Benar juga.
Mereka belum melihat satu pun bahaya.
Justru itulah yang terasa mencurigakan.
Leon menutup matanya sejenak.
Skill Insting Tempur Lv.1 aktif secara otomatis.
Angin berembus pelan.
Burung-burung tiba-tiba terbang meninggalkan pepohonan di sisi bukit.
Leon langsung membuka mata.
"Mundur."
"Hah?"
"Mundur sekarang!"
Riven tanpa sadar mengikuti perintah Leon.
Beberapa detik kemudian...
BOOM!
Tanah tempat mereka berdiri tadi tiba-tiba ambles.
Lubang besar sedalam hampir lima meter muncul begitu saja.
Di dasarnya terdapat belasan pasak kayu yang diruncingkan.
Riven menelan ludah.
"Kalau tadi kita terus berjalan..."
Leon mengangguk pelan.
"Kita pasti sudah tertusuk."
Mereka saling berpandangan.
Kini keduanya benar-benar mengerti.
Ujian ini bukan tentang siapa yang paling cepat.
Melainkan siapa yang paling teliti.
Namun saat mereka hendak mencari jalan memutar...
Suara tepuk tangan terdengar dari atas bukit.
Tep... Tep... Tep...
Seorang pria berjubah hijau berdiri di atas batu besar sambil tersenyum.
Leon langsung mengenalinya.
Ia adalah salah satu tetua desa yang sejak awal hanya diam mengamati seleksi.
Pria itu berkata dengan suara lantang,
"Selamat."
"Kalian berdua..."
"...adalah peserta pertama yang berhasil menemukan jebakan tanpa menjadi korbannya."
Leon mengernyit.
"Jadi..."
"...semua jebakan ini memang dipasang oleh penguji?"
Pria itu tersenyum semakin lebar.
"Tentu saja."
"Lagipula..."
"...monster tidak pernah memberi tanda sebelum membunuhmu."
"Kalau kalian tidak bisa melewati jebakan buatan manusia..."
"...bagaimana mungkin kalian bisa bertahan di hutan yang sebenarnya?"
Leon mengepalkan tangannya.
Ia akhirnya memahami tujuan sesungguhnya dari Seleksi Pemburu Magang.
Ini bukan sekadar ujian.
Ini adalah pelajaran tentang cara tetap hidup.