Namanya Anya Dia baru pindah ke rumah kontrakan lama di riau. Murah banget sewanya. Cuma ada 1 yang aneh: cermin gede di kamar.
Malam pertama, Anya iseng selfie depan cermin jam 12 malam. Pas diliat hasilnya... di foto dia senyum. Tapi di pantulan cermin, dia nunduk.
Dia kira cuma efek cahaya. Besoknya dia dandan buat kerja. Ngaca biasa.
Tiba-tiba lampu kedip. Pas nyala lagi, di cermin dia udah nunduk duluan. Padahal Sari masih natap cermin....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon glaze dark, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 15
_Kretek..._ Lampu kamar mati dan Gelap total lalu menyala lagi. Redup. Bayangan di cermin udah nggak ada. Yang ada cuma uap sama genangan air yang masih ngalir ke arah pintu.
_Hening._
Cuma suara napas mereka berlima. Kacau. Ada yang sesenggukan. Ada yang istighfar. "Udah...? udah pergi?" bisik Wulan. Tangannya masih nutup telinga.
Ibu Mimi tidak langsung jawab. Matanya masih ngeliatin cermin kamar mandi. Di permukaan cermin ada embun. Bentuknya 5 jari. Tapi bukan dari luar dan itu dari dalam. Ibu Mimi ngusap dada. "Alhamdulillah. Dia mundur."
Tio nurunin senter. Tangannya lemes. "Bu... tadi dia manggil Anya."
Semua nengok ke Anya. Anya masih diem. Wajahnya pucat. Bibirnya biru. Matanya kosong. menatap ke lantai, ke arah jejak kaki basah yang berhenti di ambang cermin
"Nya?" Serra guncang pelan bahu Anya. "Nya denger aku?"
Anya kedip. Pelan. "Aku...?aku denger, Ra."
Suaranya kecil banget."Dia manggil aku."
_Tik._ Setetes air jatuh dari langit-langit. Pas di ujung rambut Anya.
Ibu Mimi langsung narik Anya ke pelukan. "Udah nak...udah? Kita keluar sekarang."
Mereka tidak berani nengok ke belakang. Jalan mundur pelan-pelan keluar kamar. Pintu kamar dikunci lagi sama Tio. _Krek._Pas di tangga, bau melati sudah hilang. Ganti bau apek biasa. Tapi di setiap menuruni anak tangga, seperti tergelincir ke jurang. Tiba lantai 1, langit sudah terang. Jam 5 lewat 10.
Ibu Mimi duduk. Napasnya masih ngos-ngosan."Kita tak bisa diem...nak! kita harus cari cara agar dia tenang. "Al-Fatihah..." Ibu Mimi komat-kamit. Tangan kanannya masih genggam tangan Anya kenceng.
Yang lain ngikut. Sempoyongan. Tapi suara mereka nyatu. Pas "Aamiin" terakhir, hawa di kamar lantai 1 kayak anget dikit.
Wulan langsung peluk Anya dari samping. "Nya...? kamu gapapa?" Anya ngangguk. Tapi kepalanya masih nyesek. Kayak abis ditenggelamkan.
Tari nyodorin air putih. "Minum dulu. Biar anget."Anya nurut. Tenggorokannya terasa perih.
Tio liat jam di HP. "Jam 5.20 Bu. Matahari udah naik. Aman kan kalau kita keluar?"
Ibu Mimi berdiri. Lututnya bunyi. "Aman. Setan paling kuat pas gelap. Sekarang kita manfaatin terang."Bu Mimi melihat ke sekeliling kamar. Ke kardus baju, ke plastik sendal, ke sisir patah yang tadi."Mumpung masih pagi. Kita kumpulin semua barang yang dari atas. Kita sedekahi hari ini juga. Ke panti asuhan dekat pasar."
"Bu, kalau dia marah gimana?" tanya Serra. Suaranya masih takut.
"Kalau kita minta baik-baik, sambil doa, InsyaAllah dia ngerti," jawab Ibu Mimi."yang penting kita sedekahkan atas namanya."
Jam 6 pagi. Mereka mulai beres-beres. Semua baju dari lemari atas dimasukin kardus, sepatu, sisir. Bahkan gantungan baju. Tidak ada yang ketinggalan. Pas ngangkat kardus terakhir, Anya ngerasa ada yang ngeliatin dari atas. Dia nengok ke tangga? Kosong. Tapi di anak tangga paling atas ada 1 tetes air Jatuh. _Tik._
"Nya, ayo," Serra narik tangan Anya. "Jangan nengok."
Mereka keluar kos jam 6.30. Matahari udah tinggi. Ibu Mimi ngunci pintu depan 3 kali. Terus ditempelin kertas tulisan "BISMILLAH" di atas kusen.
Di motor, sepanjang jalan ke panti, Anya tidak melepaskan pegangan dari pundak Tio. Saat tiba di panti, anak-anak langsung nyambut Bu Mimi. Kardus-kardus itu diturunin, ada baju, sendal, alat mandi dan sembako yang mereka beli tadi dijalan, semuanya dibagiin.
Pas Anya ngasih sisir pink yang patah itu ke salah satu anak, tangannya gemetar. Anak itu senyum. "Makasih kak."
Untuk pertama kalinya sejak semalem, dada Anya agak lega. Jam 11 siang. Mereka balik ke kos. Ibu Mimi gelar sajadah lagi. "Kita dzikir bareng sampe Dzuhur. Biar pagarnya kuat."
Jam 11.59. Lampu kamar Anya di lantai 2. Nyala sendiri. _Klik._ Padahal saklar nya di bawah. Dan dari atas terdengar suara shower. _Srooo..._
Ibu Mimi langsung berdiri. "Astaghfirullah."
Tio ngambil senter. "Dia nggak sabar, Bu."
Anya megang Al-Quran kecil di dadanya. Tangannya dingin. Jam di dinding. _Tik._ *12.00*
Dari lantai 2, suara cewek ketawa pelan. _Klik._ Lampu lantai 2 nyala. Padahal tidak ada yang nyentuh saklar.
_Srooo..._
Suara shower menyala lagi dan dibarengi orang tertawa. Pelan. Tapi nusuk ke tulang. "Nyaaa...! kamu di mana...?" Suara itu memanggil dan kali dibarengi dengan amarah.
Anya langsung berdiri. Al-Quran kecil di tangannya lepas jatuh. _Duk._ Wulan langsung narik tangan Anya."Nya.... jangan!. Itu jebakan!"
Ibu Mimi angkat tangan. "Bismillah. Kita naik. Bareng. Jangan pisah."
Tio paling depan. Ia megang Senter di tangan kirinya. Tangan kanannya memegang tasbih. Serra di belakang Anya masih menempel. Tari paling belakang, bawa air doa sebotol.
Anak tangga pertama. _Krek._
Anak tangga kedua. _Krek._
Dari atas, suara shower berhenti. _Tek._ Hening 2 detik... _sret... sret..._ Suara sisir. Dari dalam kamar. Sampai di depan pintu. Pintunya kebuka dikit. Celahnya ngeluarin uap putih. Di dalam, lampu kuning temaram. Goyang. _Kretek... kretek..._
Ibu Mimi maju. Suaranya tegas tapi gemetar. "Nak...! kami kesini baik-baik. Kami bawa barang-barangmu ke panti. Karna ingin Kami sedekahkan atas namamu. Biar kamu tenang."
Tidak ada jawaban. Cuma _sret..._ lagi. Tio mendorong pintu. _Kreeek..._Di dalam kamar mandi, pintunya kebuka. Uap mengepul. Dan di tengah uap itu...
atau Anya kerja sambil kuliah thor?