Berbekal ponsel hitam tanpa merek dengan AI yang sangat sarkastis, Reno mendadak menjadi peretas paling dicari oleh komplotan mafia teknologi. Di tengah pelarian yang menegangkan, Reno tidak hanya harus menghindari peluru, tetapi juga harus menahan malu karena asisten digital di ponselnya yang justru sering menjebaknya dalam situasi paling absurd
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: Kencan yang Bukan Kencan
Reno berdiri mematung di depan cermin retak kamarnya, menatap pantulan dirinya dengan tingkat kepercayaan diri yang dipaksakan.
Ia sudah menghabiskan waktu hampir dua jam penuh hanya untuk membongkar isi lemari plastiknya yang menyedihkan.
Pilihan terakhirnya jatuh pada sebuah kemeja hitam berlengan pendek yang warnanya sudah mulai pudar di bagian kerah.
Rambutnya yang biasa berantakan kini tersisir sangat rapi, berkat pomade pinjaman dari meja Radit yang ia gunakan setengah botol penuh.
{Penampilanku malam ini harus terlihat sesempurna mungkin, mengingat ini adalah undangan pertemuan pertama dari gadis paling populer di kampus.}
Tangan kanannya meraih ponsel hitam misterius dari atas kasur, lalu memasukkannya ke dalam saku celana jins dengan sangat hati-hati.
Perjalanan menggunakan ojek daring menuju lokasi pertemuan terasa bagaikan siksaan waktu yang berjalan luar biasa lambat.
Kafe Senja Syahdu akhirnya terlihat di ujung persimpangan jalan utama, berdiri megah dengan desain eksterior bergaya Eropa klasik.
Reno menelan ludah kasarnya berkali-kali, meraba dompet tipis di saku belakangnya yang hanya berisi beberapa lembar uang pecahan kecil.
{Kalau Luna memesan hidangan utama yang harganya setara dengan biaya makan bulananku, aku pasti terpaksa mencuci piring di dapur kafe ini sampai pagi.}
Ia melangkah masuk melewati pintu kaca otomatis, mencoba berjalan dengan postur setegap mungkin untuk menutupi rasa gugupnya.
Pandangan matanya langsung menyapu seluruh area ruangan yang didominasi oleh perabotan kayu jati mahal berlapis bantalan empuk.
Luna tampak duduk menyendiri di sebuah meja sudut yang cukup privat, kedua matanya fokus menatap layar laptop yang menyala terang.
Gadis itu mengenakan gaun kasual berwarna biru dongker yang terlihat sangat pas membalut postur tubuhnya yang anggun.
Reno segera mempercepat langkah kakinya, menghampiri meja sudut tersebut dengan senyum simpul yang sudah ia latih di depan cermin.
"Hai, Reno, maaf ya kalau aku membuatmu harus repot-repot datang ke sini pada malam hari."
Luna mengangkat wajahnya dari balik layar laptop, memberikan sebuah senyuman manis yang sukses membuat detak jantung Reno melompat jauh.
"Sama sekali tidak repot, kebetulan jadwalku malam ini benar-benar kosong dari segala aktivitas kampus."
Reno segera menarik kursi kayu di hadapan Luna, lalu mendaratkan bokongnya dengan gerakan yang sengaja dibuat sesantai mungkin.
Ia sudah menyiapkan puluhan topik obrolan menarik di kepalanya, bersiap memulai kencan impian yang sudah ia nantikan sejak siang tadi.
Namun, ekspektasi romantisnya mendadak hancur berkeping-keping saat melihat Luna justru memutar posisi laptopnya ke arah tengah meja.
"Aku butuh bantuan darurat darimu untuk menyelesaikan tugas akhir pemrograman yang batas waktunya tinggal dua jam lagi."
Gadis cantik itu menatap Reno dengan tatapan memelas yang sangat menggemaskan, mengabaikan fakta bahwa ia baru saja menghancurkan harapan kencan sang pemuda.
{Ternyata undangan eksklusif ini hanyalah kedok akademik belaka, pantas saja dia berani mengajak mahasiswa cupu sepertiku ke tempat semahal ini.}
||||
Reno berusaha keras menutupi kekecewaan di wajahnya, memaksakan sebuah tawa renyah yang terdengar sangat hambar.
"Tentu saja, mahasiswa jurusan teknologi informasi sepertiku pasti bisa menyelesaikan masalah koding sepele seperti ini dengan mudah."
Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, memicingkan mata untuk membaca deretan kode rumit yang terpampang di layar laptop Luna.
Kepalanya mendadak pusing melihat ratusan baris bahasa pemrograman tingkat lanjut yang sama sekali tidak pernah ia pahami di kelas.
Logika berpikirnya buntu total, tidak ada satu pun baris kode di layar itu yang masuk akal bagi kapasitas otak mahasiswa abadinya.
{Matilah aku, kalau aku mengaku tidak bisa mengerjakan tugas ini, citraku sebagai pahlawan akademiknya akan hancur lebur malam ini juga.}
Keringat dingin mulai menetes perlahan dari pelipisnya, membayangkan betapa memalukannya momen penolakan yang akan segera terjadi.
Sebuah getaran mekanik yang sangat kuat tiba-tiba terasa berdenyut ritmis dari dalam saku celana jinsnya.
Reno segera merogoh sakunya dengan gerakan tersembunyi di bawah meja, menarik keluar ponsel X-Phreak 9000 dengan satu tangan.
Layar hitam pekat itu otomatis menyala, menampilkan barisan teks berwarna biru yang bergulir cepat tanpa ampun.
Reno mengusap layar tersebut menggunakan ibu jarinya, mengetikkan sebuah pesan rahasia dengan kecepatan tinggi di bawah meja.
"Bantu aku menyelesaikan tugas pemrograman di laptop ini sekarang juga, atau aku akan merendammu ke dalam cangkir kopi panas."
Ia mengancam kecerdasan buatan itu melalui ketikan singkat, tidak peduli dengan balasan sarkastis yang pasti akan ia terima.
Sebuah kotak penanda kuning muncul berkedip di layar ponselnya, meminta persetujuan untuk mengambil alih jaringan nirkabel di sekitarnya.
Reno perlahan memiringkan bodi ponselnya di bawah meja, mengintip dari celah lengannya agar kamera belakang mengarah lurus ke layar laptop.
||||
"Berikan aku waktu sebentar untuk menganalisis struktur logikanya, kode ini memang terlihat sedikit berantakan di bagian pengulangan data."
Reno bergumam dengan nada bicara yang sengaja dibuat berat dan serius, berusaha meyakinkan Luna bahwa ia sedang berpikir keras.
Tangannya yang berada di atas meja mulai mengetuk-ngetuk sisi papan tik laptop, berpura-pura sedang mencari celah penyelesaian.
Tepat setelah notifikasi itu muncul di ponselnya, seluruh baris kode berwarna merah di layar laptop Luna mendadak berubah hijau.
Sebuah jendela program baru terbuka secara otomatis, menjalankan simulasi data yang berjalan sangat mulus tanpa ada pesan kesalahan sedikit pun.
Luna membelalakkan kedua matanya, menatap layar laptopnya dengan mulut sedikit terbuka karena tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
"Kamu... kamu bahkan tidak mengetik kode perbaikannya secara penuh, bagaimana bisa programnya mendadak berjalan lancar seperti ini?"
Gadis itu menatap wajah Reno dengan pandangan penuh rasa takjub, seolah baru saja melihat sebuah keajaiban teknologi di depan matanya.
"Ini hanyalah trik pintasan tombol rahasia yang biasa digunakan oleh para ahli teknologi tingkat akhir, tidak perlu terlalu dipikirkan."
Reno membalas pujian itu dengan senyum angkuh yang sangat meyakinkan, menyembunyikan ponsel hitamnya kembali ke dalam saku dengan perasaan lega.
{Terima kasih, Siri-usly, malam ini kau resmi menjadi asisten kencan terbaik yang pernah diciptakan oleh peradaban manusia.}
Luna menutup layar laptopnya dengan gerakan anggun, memusatkan seluruh perhatiannya kini sepenuhnya kepada pemuda di hadapannya.
"Kamu luar biasa genius, Reno, aku berutang budi sangat besar padamu untuk nilai kelulusan mata kuliah mengerikan ini."
Reno baru saja membuka mulutnya untuk melontarkan rayuan gombal balasan, namun niatnya harus terhenti secara paksa.
Pintu utama Kafe Senja Syahdu tiba-tiba terbuka lebar dengan hempasan yang cukup keras, menarik perhatian seluruh pengunjung.
Dika melangkah masuk dengan gaya berjalan yang luar biasa pongah, mengenakan setelan jas putih yang sangat mencolok perhatian.
Di belakang pemuda pewaris kekayaan itu, berbaris rapi lima orang pria berseragam rapi yang masing-masing membawa sebuah instrumen biola.
Rombongan musisi dadakan itu mulai memainkan melodi klasik yang sangat bising, merusak ketenangan suasana kafe secara instan.
Langkah kaki Dika mengarah lurus tanpa ragu menuju meja sudut tempat Reno dan Luna sedang menghabiskan waktu bersama.
Ponsel hitam di dalam saku Reno mendadak bergetar hebat, memproyeksikan peringatan bahaya yang menembus kain celananya.
semoga happy ending thor jangan bad ending im already tired for bad ending