【Tina gadis yang tangguh×Andry pengusaha kaya penyayang+Cinta Pandangan Pertama+Keluarga, Komedi Romantis】
Rumah yang seharusnya menjadi tempat bernaung justru menjadi sumber beban batin bagi Tina. Ia terjebak dalam dinamika keluarga yang timpangKehidupan Tina mulai terusik oleh kehadiran seorang pemuda kota kaya yang diam-diam kagum akan ketangguhan dan ketulusannya. Tanpa diduga, pemuda tersebut datang membawa rombongan besar untuk melamar Tina.Bagi orang lain, pernikahan ini mungkin dianggap sebagai tiket emas untuk lolos dari penderitaan. Namun, sebagai wanita dewasa yang realistis, Tina tidak langsung mengiyakan. Ia tahu pernikahan bukanlah pelarian, melainkan babak baru yang penuh tanggung jawab. Di hadapan lamaran itu, Tina berdiri dengan sejuta tanya: apakah ini awal dari kebahagiaannya, atau justru awal dari badai yang baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Lby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2
Pagi baru saja mengintip dari balik perbukitan Desa Sukamaju, memancarkan sinar keemasan yang menembus sisa-sisa kabun tipis. Tina melangkah menyusuri jalanan desa yang masih basah oleh embun. Pagi ini terasa sedikit lebih cerah di hatinya. Mengenakan kemeja katun sederhana yang rapi, rok panjang dan hijab hitam, ia berjalan kaki menuju sekolah. Langkahnya terasa ringan, seolah-olah beban berat yang menghimpit pundaknya semalam menguap bersama udara pagi yang segar.
"Eh, Neng Ina! Mau ke sekolah, ya?"
Suara ramah itu menghentikan langkah Tina. Di teras sebuah rumah panggung, tampak Ibu Yuna sedang duduk di depan teras yang sedang menikmati pisang goreng yang mengepulkan asap beraroma manis.
Tina menghentikan langkahnya dan menyunggingkan senyum takzim. "Iya, Bu Yuna. Selamat pagi."
"Singgah dulu, Tin. Kan masih pagi banget ini, anak-anak juga pasti belum datang. Ibu lagi goreng pisang nih, mumpung masih hangat," tawar Ibu Yuna dengan wajah sumringah.
"Aduh, terima kasih banyak, Bu," jawab Tina halus, merasa agak sungkan. "Tapi saya harus cepat-cepat sampai ke sekolah karena harus bersih-bersih kelas dulu sebelum anak-anak datang."
"Oh, kalau begitu tunggu sebentar! Jangan jalan dulu!" Ibu Yuna setengah berlari masuk ke dalam dapurnya. Tak lama kemudian, ia kembali dengan sebuah kantong plastik transparan yang sudah berembun karena uap panas dari beberapa potong pisang goreng di dalamnya.
"Nah, ini dibawa, ambil! Ibu tidak sengaja goreng kebanyakan tadi, tidak bakal habis kalau cuma dimakan sendiri di rumah," ucap Ibu Yuna seraya menyodorkan kantong itu ke tangan Tina.
Tina menatap pisang goreng yang tampak renyah itu, lalu mendongak menatap ketulusan di wajah tetangganya. Di saat rumahnya sendiri sering kali terasa asing dan dingin, perhatian kecil dari orang luar seperti ini selalu berhasil menghangatkan hatinya. "Wah, banyak sekali, Bu. Terima kasih banyak ya, Bu Yuna. Semoga rezekinya lancar terus."
"Amin, amin. Sama-sama, Neng Ina. Sudah, buruan ke sekolah nanti telat," sahut Ibu Yuna ramah.
Sesampainya di bangunan PAUD yang sederhana, Tina langsung meletakkan tas dan kantong pisang gorengnya di atas meja guru. Tanpa membuang waktu, ia mengambil sapu ijuk dan kain pel di sudut ruangan. Dengan telaten, ia mulai membersihkan lantai kelas dari debu-debu yang terbawa angin semalam, mengelap meja-meja kecil milik siswanya, dan merapikan kembali loker mainan.
Secara fisik, Tina seharusnya lelah. Sebelum menginjakkan kaki di sekolah ini, sejak pukul lima subuh ia sudah selesai mencuci pakaian sekeluarga, memasak nasi, dan menyiapkan sarapan alakadarnya di dapur rumah. Namun, Tina tidak pernah mengeluh atau merasa lelah di sekolah ini. Baginya, setiap sudut ruangan kelas ini adalah ruang terapi. Di sinilah ia memegang kendali atas hidupnya, jauh dari toksisitas rumah yang perlahan mengikis jiwanya.
"Assalamu’alaikum, Ibu Guru!" sebuah suara cempreng khas anak-anak memecah keheningan.
Tina menghentikan kegiatan menyapunya, menoleh ke arah pintu. "Wa’alaikumussalam. Eh, Fatih! Cepat sekali Fatih berangkatnya hari ini?" tanya Tina lembut, melihat salah satu murid laki-lakinya yang bermata bulat itu sudah berdiri di ambang pintu dengan tas ransel bergambar pahlawan super yang kebesaran di punggungnya.
Fatih menyeringai lebar, menampakkan giginya yang ompong di bagian depan. "Iya, Bu Guru. Tadi diantar Ayah sekalian mau pergi ke pasar." Langkah kecil Fatih masuk ke dalam kelas, namun matanya langsung tertuju pada meja guru. Hidung kecilnya mengendus-endus. "Ibu Guru... itu apa?" tanya Fatih sambil menunjuk kantong plastik di atas meja.
Tina terkekeh pelan melihat tingkah polos muridnya. "Oh, itu pisang goreng hangat pemberian Bu Yuna. Fatih mau?"
Mata Fatih langsung berbinar-binar. "Mau, Bu Guru!"
"Boleh. Ambillah, lalu duduk di tempatmu ya. Ibu mau lanjut menyapu dulu supaya kelas kita bersih dan nyaman untuk belajar," kata Tina sambil mengambilkan sepotong pisang goreng dan meletakkannya di atas selembar tisu bersih untuk Fatih.
"Terima kasih, Ibu Guru cantik!" seru Fatih girang, langsung duduk di bangku paling depan dan menikmati camilan paginya dengan lahap. Tina tersenyum tipis, rasa lelah di lengannya mendadak sirna begitu saja.
Beberapa puluh menit kemudian, halaman sekolah mulai riuh. Siswa-siswi lain berdatangan satu per satu, diantar oleh orang tua mereka. Lonceng berbunyi, dan Tina segera memulai pembelajaran hari itu.
Semua orang di Desa Sukamaju tahu mengapa anak-anak sangat betah di PAUD. Itu karena Tina. Cara mengajar gadis itu selalu penuh dengan kelembutan dan kesabaran yang luar biasa. Ia tidak pernah membentak, sekesal apa pun ia menghadapi anak-anak yang rewel atau tidak bisa diam. Tina selalu punya cara, entah lewat lagu, cerita boneka tangan, atau pelukan hangat.
"Anak-anak, hari ini kita akan belajar mengenal huruf dari nama-nama hewan," ujar Tina sambil menuliskan huruf **A** besar di papan tulis, lalu menempelkan gambar seekor ayam jantan yang berwarna-warni. "Ada yang tahu, ini hewan apa dan bagaimana suaranya?"
"Ayam! Kukuruyuk!" seru anak-anak serempak, membuat ruangan kelas itu dipenuhi oleh tawa riang dan energi positif. Di tempat ini, Tina benar-benar melupakan sejenak bahwa di luar sana, ia memiliki kehidupan yang rumit.
Waktu berlalu begitu cepat ketika hati merasa bahagia. Tak terasa, jam dinding sudah menunjukkan pukul sebelas lewat lima belas menit. Setelah berdoa bersama dan menyanyikan lagu perpisahan, anak-anak berbaris rapi untuk menyalami tangan Tina sebelum pulang.
"Terima kasih untuk hari ini, Anak-anak. Sampai jumpa besok, ya. Hati-hati di jalan," ucap Tina melambaikan tangan hingga murid terakhirnya menghilang di balik gerbang.
Begitu pintu kelas ditutup dan dikunci, keheningan kembali melanda. Senyum manis yang sejak pagi terpasang di wajah Tina perlahan luruh. Hari ini, ia tidak menjadwalkan diri untuk pergi ke sawah membantu Abahnya, karena sang ayah mengabarkan bahwa pekerjaan di sawah hari ini hanya tinggal menunggu aliran air dan tidak memerlukan banyak tenaga tambahan. Tina memutuskan untuk langsung pulang ke rumah.
Namun, perjalanan pulang kali ini membawa sebuah perjumpaan yang tidak terduga. Saat melewati depan kantor desa, Tina berpapasan dengan Pak David, salah seorang tokoh masyarakat yang dihormati di desa sekaligus pemilik beberapa usaha perkebunan dan grosir di kecamatan sebelah.
"Eh, Neng Ina. Baru pulang mengajar?" sapa Pak David, menghentikan langkahnya di bawah naungan pohon peneduh.
Tina mengangguk dan memberikan penghormatan sopan. "Iya, Pak David. Baru saja selesai."
Pak David menatap Tina dengan pandangan prihatin namun penuh respek. Sebagai orang lama di desa, Pak David sedikit banyak tahu tentang kondisi keluarga Pak Rahman dan bagaimana beratnya beban yang dipikul oleh anak perempuan kedua mereka ini. "Ina, bagaimana kabar adikmu, si Fandi? Dia belum dapat kerja juga setelah lulus SMA atau maa lanjut kuliah?"
Pertanyaan itu membuat dada Tina agak sesak, namun ia mencoba menjawab dengan tenang. "Belum, Pak. Fandi masih... masih di rumah saja sementara ini."
Pak David menghela napas panjang, lalu membenarkan posisi kacamatanya. "Begini, Ina. Kebetulan di kantor cabang grosir saya di kecamatan sedang butuh satu orang tenaga administrasi dan pembukuan ringan. Saya tahu kamu lulusan sarjana, pasti punya kemampuan yang jauh lebih dari cukup kalau cuma untuk mengelola itu. Gajinya tentu jauh lebih layak daripada honor PAUD, dan ada jaminan kesehatan juga. Saya teringat kamu, barangkali kamu tertarik... atau, kalau memang kamu terlalu sibuk dengan PAUD, pekerjaan ini bisa kamu tawarkan ke Fandi supaya adikmu itu punya kegiatan dan tidak luntang-lantung terus di rumah."
Mendengar tawaran itu, jantung Tina berdesir. Di satu sisi, ada secercah harapan besar yang menyala di benaknya. Pekerjaan dengan gaji yang layak adalah hal yang sangat ia butuhkan saat ini untuk membantu ekonomi Abah dan Ibu. Namun, di sisi lain, mendengar nama Fandi disebut membuat akal sehatnya kembali berputar. *Apakah Fandi mau bekerja? Anak itu bahkan tidak bisa bangun pagi,* batin Tina getir.
"Terima kasih banyak atas tawarannya, Pak David. Ini kesempatan yang sangat baik," jawab Tina, menahan gejolak di dadanya. "Boleh saya minta waktu untuk memikirkannya dan membicarakannya dengan keluarga di rumah dulu, Pak?"
"Tentu, Ina. Pikirkan saja dulu baik-baik. Kalau sudah ada keputusan, langsung datang saja ke rumah saya, ya," ujar Pak David ramah sebelum akhirnya berpamitan.
Tawaran dari Pak David memenuhi pikiran Tina di sepanjang sisa jalan pulang. Namun, begitu kakinya melangkah masuk ke halaman rumah dan melewati pintu depan, seluruh angan-angan indah itu mendadak runtuh. Suasana rumah terasa begitu pekat, sepi yang mencekam namun sekaligus membuat dadanya langsung terasa sesak. Aroma minyak goreng dan rumah yang pengap menyambut indra penciumannya.
"Assalamu’alaikum," sapa Tina dengan suara lirih.
Dari arah dapur, Bu Aminah keluar dengan wajah yang tampak kuyu, menyeka tangannya yang basah pada kain daster lusuhnya. "Wa’alaikumussalam. Kamu sudah pulang, Nak?"
"Iya, Bu. Di mana Fandi?" tanya Tina, matanya mengedar ke sekeliling ruang tengah yang berantakan dengan bantal sofa dan mainan anak yang berserakan di lantai.
Bu Aminah menunjuk ke arah kamar dengan dagunya, ada nada kepasrahan yang mendalam dari suara wanita tua itu. "Itu... dia lagi tidur di dalam. Katanya kepalanya pusing karena begadang main HP semalam sampai subuh. Jangan dibangunkan dulu, Nak, nanti dia mengamuk lagi seperti kemarin."
Tina tidak menjawab. Ia hanya bisa menghela napas panjang yang sarat akan rasa lelah batin yang teramat sangat. Menatap pintu kamar adiknya yang tertutup rapat, tawaran pekerjaan dari Pak David tadi mendadak terasa seperti sebuah lelucon. Mengharapkan Fandi untuk berubah dan mengambil pekerjaan itu rasanya seperti mengharapkan hujan emas di tengah gurun.
Tanpa banyak bicara, Tina meletakkan tas mengajarnya di kamar. Seperti kegiatan biasanya yang sudah menjadi rutinitas otomatis tanpa perlu diperintah, Tina langsung mengambil sapu dan kain lap. Ia mulai membersihkan ruang tengah, memunguti sampah bungkus camilan yang ditinggalkan Fandi, dan merapikan kekacauan yang dibuat oleh saudaranya. Tangannya bergerak dengan lincah, namun pikirannya mengembara jauh. "Apakah ia harus mengambil pekerjaan dari Pak David untuk dirinya sendiri dan meninggalkan PAUD? Ataukah ia harus tetap bertahan di sini demi menjaga kewarasan orang tuanya?"
Sore harinya, saat matahari mulai condong ke barat dan hawa panas mulai berganti sejuk, Tina berjalan menuju kebun kecil yang terletak di belakang rumah mereka. Kebun itu adalah satu-satunya tempat di mana Tina bisa mengalihkan seluruh energinya yang tersisa. Di sana terdapat beberapa bedengan tanah yang ia buat sendiri, ditanami singkong, cabai, dan beberapa jenis sayuran hijau.
Tina berlutut di atas tanah yang gembur, jemarinya yang lentik kini mulai belepotan dengan tanah saat ia mencangkul kecil untuk menanam beberapa bibit sayur baru. Di bawah langit sore yang perlahan berubah warna menjadi jingga, Tina menumpahkan seluruh fokusnya pada pucuk-pucuk daun hijau di depannya.
Setiap kali ia menancapkan bibit ke dalam tanah, Tina seolah sedang menanam harapannya sendiri. Harapan bahwa suatu hari nanti, kerja kerasnya akan membuahkan hasil. Harapan bahwa takdir tidak akan selamanya mengurung dirinya di dalam rumah yang menyesakkan ini. Di antara hamparan kebun belakang rumah yang sunyi itu, Tina tahu, sebuah keputusan besar harus segera ia ambil demi masa depannya sendiri.