NovelToon NovelToon
Melodi Air Mata Samudera

Melodi Air Mata Samudera

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi
Popularitas:735
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Belasan tahun terjebak di dalam sel Abyssal Trench yang gelap dan pengap, Elara Nereida—seorang Siren yang tangguh—harus membayar mahal harga dari sebuah kenaifan. Cinta tulusnya pada Helios Marine justru berakhir tragis. Sang Merman ternyata telah beristri dan dengan tega mengurung Elara demi menutupi aib, membiarkannya kelaparan dan diasingkan oleh ras Siren-nya sendiri sebagai aib.

Ketika sebuah kekacauan besar menghancurkan penjara bawah air dan memberinya celah untuk lolos, Elara bersumpah tidak akan pernah meneteskan air mata lagi untuk masa lalu. Dengan kekuatan Siren yang telah lumpuh akibat racun, ia nekat naik ke daratan Kota Luminara untuk memulai hidup baru sebagai manusia.

Sanggupkah Elara bertahan di dunia baru tanpa kekuatannya? Dan di antara kutukan takdir serta perebutan kuasa para penguasa daratan, siapakah yang akhirnya akan memenangkan melodi terakhir dari hati sang Siren?

"Lautan telah membuangku, namun daratan akan bertekuk lutut di hadapanku!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1. Seorang Tahanan

Hai, Readers tersayang! Selamat datang di karya terbaru Author!

Perlu kalian ketahui, novel ini merupakan karangan murni dari imajinasi Author sendiri. Bagi pembaca setia, kalian pasti sudah tidak asing lagi karena novel ini adalah sekuel keempat dari jagat cerita (universe) yang sudah kita bangun bersama.

Buat kalian yang mau tahu benang merahnya atau ingin bernostalgia, buku-buku sebelumnya bisa kalian cari di lapak berikut ya:

Di Platform Fizzo:

Buku 1: Alan the Pegasus (Di sini salah satu tokoh utama pria novel keempat ini sering muncul, lho!)

Buku 2: Mnemosyne: The Lost Memory

Di Platform NovelToon (Satu Rumah dengan Buku Ini):

Buku 3: The Emerald and Her Four Mates

Beberapa tokoh pendukung hingga tokoh utama di novel Melodi Air Mata Samudera ini punya keterkaitan erat dengan buku-buku sebelumnya. Penasaran, kan, bagaimana takdir mereka saling terhubung? Makanya, yuk intip dan baca buku-buku terdahulu agar petualangan kalian di sini terasa jauh lebih seru!

PERINGATAN KERAS:

Dilarang keras meniru, menjiplak, atau memplagiasi karya ini dalam bentuk apa pun. Mari kita saling menghargai sesama penulis dengan berkreasi menggunakan isi pikiran masing-masing.

Selamat membaca, semoga melodi samudera ini memikat hati kalian! Terima kasih. ❤️

****

Pluk!

Seorang sipir melemparkan kepala ikan beku ke balik jeruji besi tanpa ekspresi. Gerakannya dingin, seolah ia sedang melempar pakan untuk hewan ternak rendahan. Tanpa memedulikan respons penghuni sel, sipir itu kembali melangkah menyusuri lorong basah Abyssal Trench, mengulang ritual yang sama ke sel-sel berikutnya.

Dari sudut selnya yang gelap, Elara menatap objek di lantai itu dengan pandangan yang tak kalah datar. "Aku sudah bosan memakan kepala ikan busuk itu," gumamnya, suaranya parau namun menyimpan ketegasan seorang Siren. "Apa tidak ada yang lain? Setidaknya, berikan makanan yang layak untuk dikunyah makhluk hidup."

"Sudahlah, Elara," sahut Zephyrion, tahanan baru di sel sebelah yang baru seminggu mendekam di sana. Pria berambut perak itu adalah seorang Leviathan. Ia menghela napas pasrah, menyandarkan punggungnya ke dinding batu yang berlumut. "Makan saja apa yang ada. Setidaknya kau harus bertahan hidup sampai bisa bebas dari penjara terkutuk ini."

Elara mendengus sinis. "Kau sendiri, bukannya ingin terbebas dari tempat ini? Setidaknya mintalah makanan yang lebih banyak. Kau itu naga palung laut, Zephyr. Satu kepala anak tuna tidak akan cukup mengganjal perut besarmu."

"Aku tidak peduli, karena aku yakin sebentar lagi aku akan dibebaskan," balas Zephyrion percaya diri. "Aku adalah pangeran Leviathan. Aku ke sini hanya untuk mencari adik perempuanku yang sudah lama hilang. Dia memiliki wujud dan kekuatan yang besar—seorang Tiamat."

Elara menoleh, menatap tetangga selnya itu dengan pandangan tidak habis pikir. "Lalu kenapa kau mencarinya di sini? Memangnya ini sarang Leviathan atau Tiamat? Ini wilayah klan Merman, bodoh. Cari di tempat lain! Kau tidak akan berakhir mengenaskan di tempat ini jika tidak nekat menerobos teritori mereka."

"Justru karena itu ..." Zephyrion menurunkan nada suaranya, mendadak serius. "Aku mendengar ramalan bahwa suatu saat nanti, adikku akan menjadi pasangan hidup seorang pangeran Merman. Maka dari itu aku nekat datang jauh-jauh ke sini, hanya untuk memastikan kebenarannya."

Tawa Elara mendadak pecah. Suara tawa yang getir dan kering. Ucapan Zephyrion barusan seperti hantaman keras yang membuka paksa kotak pandora masa lalunya sendiri.

"Dengar, Zephyr, sadarlah," ucap Elara setelah tawanya reda, menyisakan tatapan mata yang dingin. "Di kerajaan ini hanya ada satu pangeran Merman, yaitu Kaelen Marine—anak dari pria bajingan yang mengurungku di sini. Yang aku tahu, Raja Roland Nixie dan Ratu Nerissa hanya memiliki satu anak perempuan, dan dia bahkan sudah menikah dengan anak raja vampir."

Zephyr tertegun mendengar penjelasan Elara. "Kaelen? Kenapa aku belum pernah melihatnya?"

"Sebab dia lebih sering tinggal di daratan dan bersekolah di sekolah manusia," sahut Elara dingin. Matanya menyipit, memandang remeh kenaifan sang Leviathan. "Jangan terlalu berharap, Zephyr. Dan jangan bilang kau berniat meminta bantuannya? Aku yakin pangeran muda itu tidak akan sudi mengurus masalahmu. Lebih baik kau cari sendiri adikkmu ke tempat lain saat bebas nanti."

"Kau benar juga—"

Ucapan Zephyr terputus saat bunyi gaduh bergema dari arah koridor utama. Elara menajamkan pendengarannya. Langkah kaki para penjaga Mermen terdengar tergesa-gesa, diiringi suara seretan yang kasar.

"Lihat, Zephyr. Mereka membawa tawanan baru," bisik Elara. Insting bertahannya selama belasan tahun di penjara langsung mengambil alih. "Kembali ke sudut selmu. Jangan sampai mereka tahu kita berteman."

Dengan gerakan cepat yang anggun namun waspada, Elara mundur ke dalam kegelapan selnya, berpura-pura mengabaikan situasi sekitar. Dari balik bayangan, sepasang matanya yang kelam mengamati dua penjaga Mermen yang tengah menyeret sesosok tubuh ringkih.

Bruk!

Tubuh seorang gadis manusia dilemparkan begitu saja ke lantai batu yang dingin di sel seberang. Pintu jeruji besi langsung ditutup dan dikunci rapat tanpa belas kasihan.

"Membusuklah di dalam sana! Ini jauh lebih baik daripada kita semua dihukum oleh Raja karena dianggap lalai menjalankan tugas," cibir salah satu penjaga.

"Benar sekali. Dan kau tidak akan dibiarkan lolos begitu saja, wahai manusia fana. Hahaha!" timpal penjaga lain diiringi tawa mengejek.

Gema langkah kaki para sipir perlahan lenyap, meninggalkan keheningan yang mencekam. Di seberang sana, gadis manusia itu perlahan bangkit sambil meringis menahan sakit. Ia mencengkeram jeruji besi, menatap koridor kosong dengan mata zamrud yang menyala marah.

"Duyung sialan! Awas saja kalian, akan kugoreng kalian satu per satu nanti!" umpat gadis itu geram pada kegelapan.

Elara menaikkan sebelah alisnya, sedikit terkesan dengan keberanian manusia itu. Namun, kondisi fisik sang gadis berbicara lain. Tak butuh waktu lama bagi Elara untuk melihat gadis itu mulai meringkuk di pojokan sel, memeluk lututnya erat-erat ke dada. Tubuhnya bergetar hebat. Suhu ekstrem di dasar Abyssal Trench jelas terlalu mematikan bagi fisik manusia fana yang rapuh.

"Kau tampak sangat menyedihkan, Gadis Kecil."

Suara itu bukan milik Elara, melainkan suara bariton berat milik Zephyr yang memecah keheningan. Gadis itu mendongak dengan napas tertahan, berusaha menembus kegelapan sel Zephyr.

Demi menunjukkan eksistensinya, Zephyr perlahan merayap maju. Di mata Elara, wujud naga laut kuno (The Trench Dragon) milik Zephyr selalu terlihat mengagumkan dengan sisik biru keperakan yang kini memancarkan pendar cahaya, mengusir kegelapan penjara.

Gadis manusia itu tersentak kaget hingga memundurkan langkahnya. "Hah?! Ada ular... eh, bukan! Naga?!" namun rasa penasarannya dengan cepat mengalahkan rasa takut. Ia kembali mendekati jeruji. "Ini benar-benar di luar logika manusia... tapi nyata," gumamnya takjub.

"Kau terpukau hanya karena melihat wujud nagaku? Ini bahkan belum seberapa," sahut Zephyr bangga. Pendar cahaya kembali menyelimuti tubuhnya, menyusut dan bertransformasi kembali menjadi wujud pemuda tampan berambut abu-abu perak.

Elara mengamati interaksi itu dengan tatapan jemu, sampai tiba-tiba gadis manusia itu memicingkan mata pada Zephyr. "Kau... bukankah kau pria berambut merah yang kutemui di daratan tadi? Kenapa warna rambut dan matamu bisa berubah? Dan... kenapa kau bisa dikurung di tempat ini?"

“Hahaha!”

Tawa Elara meledak seketika, melengking memotong dialog mereka. Elara melangkah maju, membiarkan wujud Siren-nya terlihat di bawah pendar cahaya Zephyr. Rambutnya yang berantakan, giginya yang runcing laksana hiu, dan manik matanya yang sekelam lumut mati sengaja ia pamerkan untuk mengintimidasi.

"Aku tidak menyangka ada gadis manusia fana yang bisa mengenalimu, Zephyr," cibir Elara dengan nada mengejek yang kental.

Elara bisa melihat gadis manusia itu langsung membeku seketika. Ekspresi syok dan jijik tergambar jelas di wajah manusia itu saat menatap wujud Siren milik Elara. Elara tahu, manusia bodoh ini pasti mengira semua penghuni laut berwujud seperti putri duyung yang cantik di dongeng mereka. Bau amis tubuh Elara yang melekat akibat kurungan belasan tahun bahkan membuat gadis itu menahan napas. Namun, Elara tidak peduli.

"Kau salah, Elara! Aku sama sekali belum pernah bertemu dengan gadis ini sebelumnya," ralat Zephyr dingin, menatap Elara tajam sebelum beralih ke si manusia. "Mungkin kau pernah melihat salah satu kerabatku atau ras lain di daratan."

Elara tidak langsung percaya. Ia mendekatkan wajahnya yang mengerikan ke jeruji besi, menghirup udara dalam-dalam, mengendus aroma yang menguar dari tubuh si gadis fana. Senyum seringai Elara melebar.

"Tapi aku bisa mencium dengan jelas bahwa dia bukan gadis biasa," ucap Elara, suaranya mendadak berubah merendah dan penuh selidik. "Tubuhnya memiliki sebuah ikatan takdir khusus dengan bangsa Mermen. Hei, Gadis Kecil, apa pasanganmu adalah seorang Merman penguasa laut ini?"

"Tidak! Aku tidak punya pasangan, apalagi mengenal makhluk sebangsa kalian!" bantah gadis itu cepat, tampak defensif. "Entah kenapa badanku bergerak sendiri dan datang ke tempat ini setelah mendengar suara nyanyian aneh dari arah lautan."

Mendengar itu, tawa Elara kembali pecah, terdengar begitu puas sekaligus getir. "Hahaha! Bodoh sekali! Itu bukan sekadar nyanyian biasa, Gadis Manis. Itu adalah gema dari ikatan takdirmu!"

Elara mencengkeram besi selnya, menatap lurus ke dalam mata zamrud gadis itu. "Sejatinya, jika seorang manusia memiliki pasangan dari kaum Merman, setelah mereka terikat oleh takdir The Heart Pearl, mereka tidak akan pernah bisa berjauhan! Kau tidak bisa membohongi indra penciumanku sebagai Siren."

Elara menjauhkan wajahnya, menyandarkan tubuh ringkihnya ke dinding sel sambil terus menyeringai puas. "Itu artinya, pasangan takdirmu adalah seorang Merman, Gadis Bodoh! Maka dari itu lautan menyeretmu ke sini walau itu bukan kemauanmu sendiri. Hahaha! Menarik sekali... mari kita lihat bagaimana akhir dari lelucon takdir ini."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!