Terbangun di masa lalu, tepat sebelum jerat takdir Daniel menjebaknya, Erica menolak menjadi korban untuk kedua kalinya.
Mengubah alur permainan adalah satu-satunya pilihan. Jika Daniel menggunakan nama besar Megantara untuk menghancurkannya, maka Erica akan menduduki takhta tertinggi di keluarga itu.
Ketika bidak catur mulai digerakkan dan rahasia satu per satu terkelupas, siapakah yang sebenarnya memegang kendali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecemburuan Sang Jenderal
Pagi hari di perbatasan utara selalu dimulai dengan kepulan uap hangat dari cangkir-cangkir seng berisi kopi tubruk.
Di serambi depan rumah dinas, sinar matahari tahun sembilan belas delapan dua itu baru saja menembus rimbunnya daun-daun pinus, menciptakan garis-garis cahaya keemasan di atas lantai papan yang bersih.
Erica Fiorenza duduk di kursi rotan dengan sebuah papan kerani di pangkuannya. Dia sedang sibuk, terlihat jelas dari bagaimana dia sedang mengelompokkan daftar ukuran baju para istri prajurit yang dia dapatkan dari aula kemarin. Wajah terlihat tampak fokus, jemari lentiknya dengan cekatan menuliskan detail menggunakan pulpen Parker hitam.
Di dekat tangga serambi, Axelo sedang berjongkok, sibuk membersihkan sepatu lars militer milik Eshar menggunakan sikat kayu dan semir sepatu kalengan merek Kiwi. Bau menyengat dari minyak semir berbaur dengan aroma embun pagi.
"Nyonya Besar," panggil Axelo tanpa menghentikan gerakan tangannya yang lincah.
"Saya dengar dari kopral yang berjaga di aula kemarin, Nyonya Ratna sampai pulang sambil memegangi kepalanya yang pening. Wah, Anda benar-benar hebat. Biasanya tidak ada yang berani berdebat dengan istri Mayor itu di distrik ini."
Erica menoleh sambil menyunggingkan senyumnya yang hangat.
"Aku tidak berdebat dengannya, Axelo. Aku hanya menawarkan solusi yang masuk akal bagi para ibu Persit. Dalam bisnis maupun kehidupan, jika kau memberi mereka kepastian perut dan dompet, mereka akan mengikutimu dengan sukarela. Itu hukum alam." jawab Erica tertawa kecil.
Selera humoris yang nyambung itu membuat Erica merasa seperti memiliki saudara laki-laki di tempat yang terasing ini.
Axelo pun juga ikut terkekeh, memperlihatkan deretan giginya.
"Benar sekali, Nyonya. Makanya saya bilang pada Jenderal, Anda ini adalah berkah untuk markas ini. Sudah cantik, pintar cari uang, ramah lagi. Tidak seperti nona-nona manja di Jakarta yang kalau kena debu sedikit langsung pingsan."
"Siapa yang kau sebut pingsan, Axelo?"
Sebuah suara berat dan penuh otoritas tiba-tiba memotong obrolan mereka dari arah pintu dalam.
Jenderal Eshar Megantara melangkah keluar ke serambi. Pria berusia tiga puluh lima tahun itu tampak sangat tampan twtapi mengintimidasi dengan kaus dinas lapangan hijaunya yang ketat, memperlihatkan postur tubuhnya yang tegap sempurna.
Rambut hitamnya yang dipotong rapi bergaya militer menyisakan beberapa tetes air sehabis mandi pagi, memberikan kesan segar pada paras misteriusnya.
Axelo pun langsung melompat berdiri, menegakkan posisi tubuhnya dan memberikan hormat grak dengan sebuah sikat sepatu yang masih menempel di tangan.
"Siap, Jenderal! Tidak ada, Jenderal! Saya hanya sedang memuji kecerdasan Nyonya Besar dalam menaklukkan komplotan Nyonya Ratna kemarin!"
Eshar memutar malas bola matanya, tidak ingin merespons gurauan asistennya.
Mata coklatnya yang setajam elang beralih menatap Erica yang masih duduk tenang, lalu turun menatap Axelo yang berdiri terlalu dekat dengan kursi rotan istrinya.
Ada kilat dingin yang tidak biasa di dalam manik mata sang Jenderal, seperti sebuah riak emosi yang jarang dia perlihatkan di depan pasukannya.
"Axelo," ujar Eshar, suaranya terdengar lebih rendah dan dingin dari biasanya.
"Kulihat sepertinya tugasmu membersihkan sepatu dan menyiapkan laporan logistik batalyon sudah selesai, sampai-sampai kau punya banyak waktu untuk mengobrol dan bergurau dengan istriku sejak satu jam lalu."
Axelo yang cerdas dan peka langsung menangkap sinyal bahaya tersebut. Seringai jahil seketika melintas di benak asisten humoris itu.
Wah, Jenderal es batu kita ini ternyata bisa cemburu juga, pikir Axelo geli. batin Axelo.
"Siap, Jenderal! Laporan logistik sudah saya letakkan di meja kerja Anda, dan sepatu lars ini sudah mengilat seperti kaca spion!" jawab Axelo dengan nada yang sengaja dibuat sedikit ketakutan tapi matanya berkedip mengejek ke arah Erica.
"Kalau begitu, saya mohon izin untuk memeriksa gudang logistik di seberang lapangan, Jenderal. Takut mengganggu urusan internal rumah tangga kalian."
"Cepat pergi, Axelo! Sebelum kuhukum kau lari keliling lapangan upacara dengan ransel penuh batu," perintah Eshar tegas.
"Siap, laksanakan!" Axelo membungkuk sedikit pada Erica sambil tersenyum penuh arti, lalu mengambil langkah seribu meninggalkan serambi dengan langkah cepat.
Setelah Axelo pergi, keheningan kembali menguasai serambi rumah dinas.
Erica meletakkan papan kerani di atas meja kecil, lalu bangkit berdiri. Wajah cerianya menyiratkan rasa geli melihat sikap suaminya yang tidak biasa itu.
Dia melangkah mendekati Eshar, aroma parfum melati tipis miliknya langsung merasuk ke indra penciuman sang Jenderal.
"Ada apa, Eshar? Kenapa kau ketus sekali pada Axelo pagi-pagi begini?" tanya Erica lembut, menatap langsung ke dalam manik mata coklat pria di depannya.
"Dia hanya menemaniku mengobrol agar aku tidak merasa terlalu asing dan kesepian di sini."
Eshar membuang muka sesaat, menatap lurus ke arah lapangan upacara yang masih diselimuti kabut tipis di kejauhan.
Tangannya yang besar dan kapalan melingkar di balik punggungnya, tetap mempertahankan postur militernya yang kaku.
"Aku tidak suka asistenku melalaikan tugasnya, Erica," jawab Eshar dingin, mencoba menyembunyikan rasa tidak nyaman di dadanya.
"Lagipula, kau itu istriku, meskipun dalam ikatan kontrak. Di depan seluruh pangkalan ini, kau adalah Nyonya Megantara. Tidak pantas jika kau terlalu akrab dengan ajudan pria di tempat terbuka seperti ini. Itu bisa memicu desas-desus yang tidak perlu di kalangan para perwira bawahanku."
Mendengar alasan itu, Erica menahan tawa kecilnya agar tidak meledak. Eshar sebagai seorang Jenderal ternyata juga bisa terlibat dalam hal-hal sekecil ini.
Erica yang jeli bisa melihat bahwa di balik alasan profesionalitas dan reputasi militer yang dilontarkan Eshar, ada ego seorang pria dewasa yang merasa terusik ketika wanita miliknya tampak begitu nyaman mengobrol dengan pria lain.
"Hanya karena itu?" Erica melangkah lebih dekat, membuat ujung sepatunya bersentuhan dengan sepatu lars Eshar yang mengilat. Dia mendongak, menatap paras tampan suaminya dengan binar matanya yang ceria.
"Atau... apakah sang Jenderal Perbatasan yang ditakuti ini sebenarnya hanya sedang cemburu karena istrinya tertawa akibat lelucon pria lain?"
Mendengar pertanyaan blak-blakan itu, tubuh tegap Eshar seketika menegang.
Mata coklatnya kembali bergulir menatap Erica dengan intensitas yang mendadak menaikkan suhu di serambi yang dingin itu.
Tatapannya begitu dalam, seolah ingin menembus langsung ke dalam jiwa Erica.
Eshar memajukan tubuhnya, semakin memangkas jarak di antara mereka hingga Erica bisa merasakan hembusan napas hangat Eshar di keningnya.
"Nona Erica," bisik Eshar, suaranya begitu berat dan ada getaran ketertarikan yang tak terbendung lagi.
"Kukira aku sudah memperingatkanmu di kamar malam itu untuk tidak menguji kesabaranku sebagai seorang pria. Jika aku benar-benar cemburu, tindakanku tidak akan selembut hanya dengan mengusir Axelo dari sini." jawab Eshar sambil menatap bibi Erica yang terlihat menggoda.
Mendengar itu, jantung Erica seketika berdentang kencang bagai tabuhan genderang upacara. Semburat merah jambu langsung menghiasi pipinya yang merona sehat.
Dominasi dan aura maskulin Eshar yang begitu kuat membuat Erica yang biasanya cerdas dan memiliki banyak akal mendadak lumpuh selama beberapa detik.
Untuk pertama kalinya, Erica menyadari bahwa dinding pembatas kontrak pernikahan yang mereka bangun di Jakarta perlahan-lahan mulai meleleh, terkikis oleh kehadiran perasaan yang aneh di tengah dinginnya belenggu perbatasan ini.
😁😁😁😁
kalian udh punya harta masing2 , keluarga masing2 Dan kebahagiaan masing2 ( tu pun kalo bnran punya) ,,,,
Masih aj ganggu hidup org lain ,, Masih aj ngurusin yg bukan hak ny ,,
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
😒😒😒😒😒😒
km slah justru dy pergi krn sedang menyiapkan serangan balasan yg lebih dr kejam ,, 😏😏😏😏😏😏
semangat 💪💪💪
liat kuat imronmun saja pak eshra 🤭🤭
begitulah kalau berhadapan dengan seorang yg berpangkat jendral, apa lagi plis tampan nya ga ketolongan 🤣🤣🤣
awas jangan pingsan 🤭🤭🤭