Up setiap hari
Stella Odette Rosewood terbangun dengan reputasi hancur, dikelilingi teman toxic, dan adik tiri bermuka dua yang ingin merebut segalanya termasuk Neo Hayes Blake, CEO dingin incaran banyak orang.
Satu-satunya jalan keluar adalah "Vix", sistem berwujud rubah ekor sembilan cerewet yang memaksanya menjalankan berbagai misi demi bertahan hidup. Stella pun mengubah taktik: membuang orang-orang toxic, merombak penampilannya, dan sengaja mendekati Neo untuk menghancurkan rencana adik tirinya.
Awalnya, interaksi mereka canggung dan Neo terlihat tak peduli. Namun, di balik kelakuan absurd dan omelan Stella pada sesuatu yang tak kasatmata, Neo melihat sosok wanita cerdas yang mati-matian berjuang sendirian.
Saat bahaya sesungguhnya dari intrik keluarga mulai mengancam nyawa Stella, sang CEO mengambil langkah.
Pria dingin itu kini menjadi pelindung posesif yang tak segan menghancurkan siapa pun yang berani mengusik miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DinaRyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 4: Berhasil melarikan diri
Vix melayang turun, mendarat dengan anggun di pangkuan Stella (meskipun Stella tidak bisa merasakan berat tubuh rubah itu, ia bisa merasakan sedikit kehangatan magis dari bulu-bulunya).
"Kau dengar pria arogan itu tadi? Kau punya waktu lima belas menit sebelum satpam hotel menyeret mu. Dan ingat, lobi depan, belakang, serta area parkir pasti masih diintai oleh wartawan yang bersembunyi. Kau harus keluar dari sini, Host."
"Aku tahu, Vix! Tapi bagaimana caranya?!" Stella mengacak-acak rambutnya frustrasi, tidak peduli riasan matanya semakin luntur dan menodai pipinya.
"Aku tidak punya pakaian! Gaun merah di atas kasur itu robek dari leher sampai ke pinggang, dan aku tidak mungkin berlarian keluar dari hotel kelas dunia ini hanya dengan memakai jubah mandi!"
Vix memiringkan kepalanya yang berbulu lebat. "Kau ini bodoh atau bagaimana? Di kehidupan aslimu, kau tidak pernah menonton film agen rahasia? Gunakan fasilitas yang ada. Lorong luar sudah bersih berkat Tuan Blake yang menakutkan itu, kan?"
Mata Stella menyipit. Pikirannya berpacu cepat. Vix benar. Neo dan pengawalnya baru saja membersihkan lantai ini dari wartawan. Itu berarti lorong lantai VIP saat ini kosong melompong.
Stella memaksakan diri untuk berdiri. Ia mengencangkan ikatan jubah mandinya, lalu melangkah mengendap-endap menuju pintu yang hancur. Ia mengintip melalui celah engsel yang patah. Kosong. Lorong berlapis karpet tebal itu sepi.
Namun matanya menangkap sesuatu di ujung lorong dekat elevator servis, sebuah kereta dorong housekeeping yang ditinggalkan begitu saja.
Kemungkinan besar pelayan kebersihan yang sedang bertugas di lantai ini melarikan diri karena ketakutan saat wartawan dan para pengawal Neo tadi saling berteriak.
Sebuah ide gila, namun brilian, melintas di benak Stella.
"Vix, apa kau bisa mendeteksi apakah ada orang di dekat elevator servis itu?" bisik Stella.
Rubah kecil itu memejamkan mata sejenak, kesembilan ekornya berpendar kebiruan, lalu membuka matanya lagi. "Aman. Tidak ada tanda-tanda manusia dalam radius dua puluh meter. Tapi elevator itu sedang naik ke lantai ini, ETA tiga menit."
"Itu cukup."
Stella menarik napas panjang, mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. Ia mendorong sisa pintu dengan hati-hati, berusaha tidak membuat suara berderit, lalu menyelinap keluar.
Kakinya yang telanjang tidak menghasilkan suara apa pun di atas karpet tebal. Ia berlari secepat mungkin menembus lorong yang sepi menuju kereta dorong housekeeping tersebut.
Sesampainya di sana, Stella segera membongkar isi tumpukan linen bersih. Matanya berbinar saat menemukan apa yang dicarinya, sebuah seragam ganti milik staf kebersihan yang terlipat rapi di rak terbawah.
Kemeja putih kebesaran, rompi hitam berbahan tebal, celana panjang bahan yang longgar, dan sebuah topi visor hitam berlogo hotel.
"Sempurna," gumamnya.
Dengan tangan gemetar karena berpacu dengan waktu, Stella melepaskan jubah mandinya dan segera mengenakan seragam itu tepat di sudut lorong darurat.
Baju itu sangat kebesaran untuk tubuh langsingnya, menenggelamkan lekuk tubuhnya dengan sempurna. Ia menggulung lengan kemeja, memakai celana panjang yang ujungnya harus ia lipat beberapa kali, lalu mengikat rambut kusutnya menjadi cepol asal-asalan tinggi-tinggi.
Terakhir, ia memakai topi visor hitam itu dan menariknya rendah untuk menutupi separuh wajahnya. Ia bahkan menyambar masker kain hitam cadangan dari saku rompi dan langsung memakainya.
Kini, dari ujung kepala sampai ujung kaki, ia sama sekali tidak terlihat seperti Stella Rosewood si pewaris manja yang penuh skandal. Ia hanyalah seorang pelayan hotel kurus yang tampak lelah bekerja shift pagi.
[ Ding! ]
[ Sisa waktu: 10 Menit 12 Detik. ]
"Waktu terus berjalan, Host. Elevator servis sudah tiba," peringat Vix yang kini hinggap santai di bahu kanan Stella, meskipun tidak terlihat oleh siapa pun selain dirinya.
Stella segera meraih gagang kereta dorong besar tersebut. Pintu elevator khusus staf berdenting pelan dan terbuka. Beruntung, di dalamnya kosong.
Stella mendorong kereta itu masuk, menekan tombol menuju lantai Basement 2, area bongkar muat barang hotel dan pembuangan limbah.
Perjalanan turun dengan elevator itu terasa seperti siksaan paling lama dalam hidupnya. Setiap kali elevator itu melewati satu lantai, jantung Stella berdebar takut kalau-kalau pintu akan terbuka dan ada staf lain yang masuk.
Namun keberuntungan sepertinya sedang berpihak padanya pagi ini. Elevator itu terus turun ke bawah tanpa hambatan.
Ting.
Pintu terbuka menuju lorong basement yang suram, dingin, dan berbau cairan pembersih lantai yang kuat. Tempat ini adalah area loading dock, jauh dari kemewahan lobi lobi utama.
Beberapa petugas kargo tampak sedang sibuk memindahkan kotak-kotak persediaan makanan dari truk boks besar di ujung lorong menuju gudang penyimpanan. Suara mesin truk dan klakson jalanan menggema, menutupi suara roda kereta dorong yang ditarik Stella.
Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, berpura-pura sangat sibuk mengatur tumpukan handuk kotor di keretanya, sambil perlahan melangkah menyusuri dinding menuju pintu keluar staf.
Seorang petugas keamanan yang duduk di pos jaga sedang asyik meminum kopinya sambil mendengarkan radio, tidak menaruh curiga sedikit pun pada sosok berbalut seragam kebesaran yang berjalan melewatinya.
Stella mendorong pintu besi berat itu. Angin dingin kota London dan titik-titik hujan langsung menerpa wajahnya.
Ia berhasil keluar.
Ia kini berdiri di sebuah gang belakang hotel yang becek, berbatasan langsung dengan jalan raya kecil. Bau aspal basah dan asap knalpot mengisi paru-parunya, jauh lebih melegakan daripada bau parfum dan alkohol di kamar tadi.
Tak ada satu pun wartawan yang berjaga di pintu pembuangan sampah ini. Rencana adik tirinya untuk menghancurkan hidupnya hari ini, gagal total.
Stella menyandarkan tubuhnya ke dinding bata merah yang dingin, memejamkan mata, dan menghembuskan napas panjang yang sedari tadi ia tahan.
Kakinya yang telanjang karena tak sempat memakai sepatu kini kedinginan menginjak aspal basah, namun ia tak peduli. Ia masih hidup.
[ Ding! ]
[ Misi Harian Selesai! ]
[ Evaluasi: Host berhasil keluar dari jebakan tanpa diketahui satu orang pun. Penghindaran Skandal: Sempurna. ]
[ Hadiah: 10 Poin Bertahan Hidup ditambahkan ke dalam inventaris. ]
Sebuah cahaya keemasan kecil berkedip di udara di depan Stella, dan sepersekian detik kemudian, sebuah botol kaca elegan berukuran kecil mendarat dengan mulus di telapak tangannya.
Cairan di dalamnya berwarna bening jernih, memancarkan aroma White Tea yang menenangkan, bercampur dengan kelembutan bunga Peony yang segar.
"Kau berutang nyawa padaku, Host," ujar Vix yang kini melayang di depan wajah Stella, tersenyum bangga hingga kumisnya bergerak-gerak.
"Sekarang kau sudah punya wangi yang layak. Cuci muka badutmu itu, semprotkan parfum ini, dan bersiaplah. Permainan yang sesungguhnya baru saja dimulai."
Stella menatap botol parfum eksklusif di tangannya. Senyum tipis, perlahan namun pasti, terbit di bibirnya. Tatapan matanya yang tadi penuh kepanikan kini berubah menjadi tajam dan jernih, dipenuhi tekad yang membara.
Adik tirinya menginginkan perang? Maka Stella akan memberikannya.
Ia akan merobek topeng malaikat adik tirinya itu, menyelamatkan perusahaan keluarganya, dan membuat semua orang yang telah memandang rendah dirinya termasuk pria arogan bermata obsidian di lantai atas tadi menarik kembali kata-kata mereka.
"Ya," gumam Stella pada dirinya sendiri, mengeratkan genggamannya pada botol parfum. "Permainan baru saja dimulai."
To be Continued