NovelToon NovelToon
Pernikahan Paksa Sang Mafia

Pernikahan Paksa Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Mafia / Nikah Kontrak / Tamat
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Dunia Seleb

Bos mafia yang konon kejam dan tanpa ampun ternyata bisa memiliki sisi lembut dan perhatian. Atau, protagonis wanita selalu dianiaya oleh bos mafia, namun dalam perlawanannya ia secara bertahap dihargai, dan akhirnya meraih kebebasan serta cinta sejati. Bagaimana rasanya dipaksa menggantikan kakak atau adiknya untuk menikahi bos mafia yang ditakuti? Cerita seperti apa yang akan terjalin dalam prosesnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia Seleb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sangkar Emas

Gerbang besi setinggi empat meter dengan ukiran lambang keluarga Barrett terbuka perlahan, menyambut limosin hitam yang membawa Elena menuju takdir barunya. Mansion di hadapannya lebih mirip benteng abad pertengahan daripada sebuah rumah. Dinding batu abu-abu yang kokoh dikelilingi oleh halaman luas tanpa satu pun pohon besar tempat seseorang bisa bersembunyi. Penjagaan di tempat ini luar biasa ketat; Elena bisa melihat beberapa pria bersetelan gelap berdiri di titik-titik strategis dengan senjata api otomatis tersampir di balik jas mereka.

Mobil berhenti tepat di depan tangga pualam utama. Seorang pelayan pria paruh baya dengan pakaian formal membuka pintu mobil dan membungkuk hormat.

"Selamat datang di rumah, Tuan, nyonya," sapanya sopan.

Nicholas turun terlebih dahulu tanpa menawarkan bantuan pada Elena. Elena terpaksa mengurus ekor gaun pengantinnya yang berat sendiri, melangkah keluar dengan kaki yang terasa lemas. Dinginnya angin malam langsung menusuk kulit bahunya yang terbuka, membuatnya menggigil kecil.

"Bawa barang-barangnya ke kamar utama, Thomas," perintah Nicholas datar pada pelayan tua itu, lalu menoleh pada Elena. "Ikuti aku."

Langkah kaki Nicholas panjang dan cepat, memaksa Elena setengah berlari di atas sepatu hak tingginya untuk menyamai ritme pria itu. Mereka melewati aula utama yang megah dengan langit-langit tinggi, dihiasi lampu kristal raksasa yang memancarkan cahaya temaram. Suasana di dalam rumah ini begitu sunyi, hampir terasa mati, jika bukan karena detak jam dinding kuno dan langkah kaki mereka sendiri.

Nicholas membawanya naik ke lantai dua, menyusuri koridor panjang hingga berhenti di depan sebuah pintu kayu ek ganda yang besar. Ketika pintu dibuka, Elena disuguhi pemandangan sebuah kamar tidur yang sangat luas dengan dominasi warna hitam, abu-abu, dan aksen kayu gelap. Sebuah ranjang berukuran *king-size* dengan sprei sutra hitam berada di tengah ruangan, menghadap langsung ke jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan hutan pinus di luar.

"Ini kamarmu sekarang. Kamarku juga," ucap Nicholas dingin seraya melepaskan jas hitamnya dan melemparnya asal ke atas sofa kulit. Pria itu melonggarkan dasinya, membuka dua kancing teratas kemeja putihnya, menampilkan kulit kecokelatan dan sedikit tato hitam yang mengintip di pangkal lehernya.

Elena berdiri kaku di dekat pintu, meremas kedua tangannya sendiri. "Kita... berbagi kamar?" Suaranya mencicit, terdengar lebih rapuh dari yang ia inginkan.

Nicholas membalikkan tubuh, menatap Elena dengan sebelah alis terangkat. Senyum sinis terukir di sudut bibirnya. "Tentu saja. Kau adalah istriku sekarang, Alana. Apa kau berekspektasi kita akan tidur di sayap rumah yang berbeda seperti di novel-novel romansa picisan?"

Nicholas melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga Elena bisa mencium kembali aroma tembakau dan kayu cendana yang tajam dari tubuh pria itu. Nicholas menunduk, menatap wajah Elena yang tertutup riasan tebal.

"Atau kau mendadak menjadi gadis suci yang pemalu? Setahu saya dari laporan interogasi informanku, Alana Vance bukan wanita yang takut pada ranjang pria," bisik Nicholas, nadanya penuh sindiran yang menyengat.

Jantung Elena berdegup kencang menahan syok. Alana yang asli memang liar dan sering bergonta-ganti teman kencan di kelab malam.

Namun dia, Elena, bahkan belum pernah membiarkan seorang pria memegang tangannya lebih dari lima detik. Kebohongan ini menjadi semakin berbahaya setiap menitnya.

"Aku... aku hanya lelah, Nicholas. Bisakah aku membersihkan diri?" Elena mencoba mengalihkan pembicaraan sebelum matanya mengkhianati ketakutannya.

Nicholas menatapnya beberapa detik lebih lama, seolah sedang mencari celah kebohongan di mata abu-abu kecokelatan Elena. Namun akhirnya, pria itu mundur satu langkah.

"Kamar mandi ada di sebelah kiri. Pakaianmu sudah dipindahkan ke walk-in closet oleh pelayan sebelum kita tiba. Mandilah. Aku punya beberapa urusan di ruang kerja yang harus kuselesaikan malam ini," kata Nicholas datar. Dia berbalik, mengambil ponselnya di atas meja, dan berjalan menuju pintu.

Sebelum benar-benar keluar, Nicholas berhenti tanpa menoleh. "Jangan mencoba mengunci pintunya dari dalam. Di rumah ini, tidak ada pintu yang boleh tertutup untukku."

*Klik.*

Pintu tertutup rapat, meninggalkan Elena sendirian dalam keheningan kamar yang mencekik.

Elena mengembuskan napas panjang yang sejak tadi ditahannya. Kakinya lemas, membuatnya terduduk di atas lantai berkarpet bulu yang tebal. Dia menatap gaun pengantin putih yang dikenakannya dengan rasa muak yang mendalam. Dengan tangan yang gemetar, dia menjangkau ritsleting di punggungnya, namun tangannya tidak bisa mencapainya dengan benar.

Frustrasi, takut, dan lelah bercampur menjadi satu. Elena bangkit dan melangkah masuk ke dalam walk-in closet yang luar biasa luas. Di sana, berderet pakaian-pakaian mahal bermerek terkenal, gaun-gaun malam berpotongan rendah, dan tas-tas desainer papan atas. Semuanya adalah selera Alana, yang telah dipesan oleh Arthur Vance didepan menggunakan uang muka dari Nicholas sebelum pernikahan ini terjadi. Tidak ada satu pun barang di tempat ini yang mencerminkan dirinya yang menyukai kaos longgar dan celana jins belel yang terkena noda cat minyak.

Elena menemukan sebuah jubah mandi sutra satin berwarna merah marun di sudut ruangan. Setelah berjuang selama sepuluh menit yang menyiksa, dia akhirnya berhasil menurunkan ritsleting gaun pengantinnya. Kain putih itu merosot ke lantai, menanggalkan identitas palsunya untuk sementara.

Di kamar mandi yang berlapis marmer hitam, Elena menyalakan pancuran air hangat. Dia berdiri di bawah kucuran air, membiarkan air menghapus riasan tebal di wajahnya dan tatanan rambutnya yang rumit. Saat air melarutkan foundation tebal di leher belakangnya, Elena menatap cermin yang berembun. Kulit leher belakangnya mulus, bersih, tanpa ada tanda lahir berbentuk bulan sabit seperti yang dimiliki Alana.

"Kau harus bertahan, Elena. Hanya sampai kau menemukan cara untuk pergi dari sini tanpa membunuh keluargamu," bisiknya pada diri sendiri di depan cermin.

Satu jam kemudian, Elena keluar dari kamar mandi dengan mengenakan jubah mandi satin merah marun yang diikat erat di pinggangnya. Rambut panjangnya yang basah dibiarkan terurai menutupi bahunya. Keadaan kamar masih sepi, Nicholas belum kembali.

Elena melirik jam dinding. Sudah jam satu dini hari. Dia berjalan perlahan menuju ranjang raksasa itu, merasa sangat asing dan terancam. Dia memutuskan untuk tidur di sisi paling pinggir, membelakangi bagian tengah kasur, dan menarik selimut tebal hingga menutupi dadanya. Kelelahan fisik dan mental akhirnya mengambil alih, membuat matanya perlahan terpejam meskipun kewaspadaannya tetap terjaga.

---

Tengah malam, suara pintu yang terbuka dengan sangat pelan membuat Elena langsung terbangun. Dia tidak bergerak, tetap memejamkan mata dan mengatur napasnya agar terdengar seperti orang yang tertidur pulas.

Langkah kaki yang berat namun teredam karpet mendekat ke sisi ranjang. Elena bisa merasakan kasur di belakangnya sedikit amblas saat sebuah bobot tubuh yang besar duduk di sana.

Aroma tembakau yang tadi ia cium kini bercampur dengan sesuatu yang lain sesuatu yang tajam, anyir, dan membuat bulu kuduk Elena meremang.

*Bau darah.*

Elena menahan napasnya sekuat tenaga di balik selimut. Dia bisa mendengar suara Nicholas yang mengembuskan napas berat, terdengar sangat lelah. Terdengar suara gesekan kain saat Nicholas melepaskan kemejanya.

Tiba-tiba, Elena merasakan embusan napas hangat di dekat tengkuknya. Nicholas telah berbaring di sampingnya, terlalu dekat. Sebuah tangan yang besar dan kasar perlahan meraba rambut basah Elena yang tersebar di atas bantal, memindahkannya dengan lembut ke samping untuk mengekspos leher bagian belakang gadis itu.

Jantung Elena rasanya mau melompat keluar dari dadanya. Nicholas sedang memeriksa tanda lahir itu.

Sentuhan ujung jari Nicholas yang dingin di kulit leher belakang Elena terasa seperti mata pisau yang siap menggorok urat nadinya. Nicholas mengusap bagian kulit yang mulus itu beberapa kali, diam dalam keheningan yang meneror selama beberapa menit yang terasa seperti keabadian.

Elena bersiap untuk skenario terburuk jika Nicholas menyadari penyamarannya sekarang juga. Dia mengepalkan tangannya di balik selimut, bersiap untuk melawan meskipun tahu itu sia-sia.

Namun, Nicholas tidak berteriak atau mencekiknya. Pria itu justru menarik kembali tangannya, lalu berbalik memunggungi Elena.

"Tidurlah, Elena," bisik Nicholas dengan suara yang sangat rendah, hampir seperti geraman halus, sebelum keheningan kembali menguasai kamar malam itu.

Mata Elena langsung terbuka lebar di dalam kegelapan. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga telinganya berdenging.

Dia... Nicholas baru saja memanggilnya Elena? Bukan Alana?

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!