Shana percaya bahwa diam saat melihat ketidakadilan adalah sebuah kesalahan.
Itulah yang membuat Shana berani menegur pria asing yang sedang memarahi seorang nenek.
Namun, ia terlalu cepat mengambil kesimpulan. Ia salah paham dengan pria itu.
Beberapa hari kemudian pria itu muncul kembali di kehidupan Shana, sebagai CEO baru di kantornya.
Perlahan kehidupan Shana yang penuh dengan ketenangan, berubah menjadi rumit, panik, rasa malu, dan penuh dengan kejutan yang tak terduga.
Ditengah hubungan bos dan karyawan yang rumit. Keduanya mulai menyadari bahwa terkadang cinta datang dari sebuah kesalahpahaman.
Selamat membaca❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kurniasih Paturahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dunia Terlalu Sempit
Tiga hari kemudian...
Shana duduk diantara puluhan karyawan yang tengah berkumpul di ruang rapat. Kantor ini memiliki ruang rapat yang besar, mewah dan profesional. Dinding kaca yang membentang dari lantai hingga langit-langit memperlihatkan pemandangan kota yang terlihat sibuk sekali.
Suasana kantor hari ini jauh lebih ramai dari biasanya.
Ya.. Kabarnya hari ini kedatangan CEO baru yang akan memimpin perusahaan. Banyak kabar beredar bahwa CEO itu merupakan pria muda, tampan, kaya dan sukses. Banyak wanita terpesona akan sosoknya. Bahkan rela bersaing untuk mendapatkannya.
"Denger-denger CEO kita ini ganteng banget loh." Bisik Via, sahabat sekaligus rekan kerja Shana.
"Daftar jadi istrinya sana."
"Kalau dia mau, aku siap."
Shana tertawa kecil begitupun dengan Via.
Tak beberapa lama kemudian, pintu ruang rapat terbuka.
Seorang pria dan beberapa orang yang mengikutinya masuk ke dalam secara perlahan.
Shana yang sejak tadi tengah sibuk dengan dokumen-dokumen yang berada di tangannya, tidak terlalu memperhatikan kedatangan sang CEO. Sampai akhirnya terdengar suara sapaan yang membuat Shana mau tak mau mengubah fokusnya.
"Selamat pagi semua.."
Deg.. terdengar begitu familiar. Shana mengangkat kepalanya perlahan, mencari datangnya suara itu. Dan dunia seolah runtuh tepat di atas kepala Shana.
Jantung Shana seakan berhenti berdetak mendengar suara itu.
Pria itu..
Pria di taman..
Pria yang telah ia marahi..
Pria yang ia tuduh telah menyakiti neneknya sendiri.
Kini berdiri di depan ruang meeting, dengan setelan kemeja putih dan jas abu, dan terlihat menawan sekali.
Pria itu adalah CEOnya saat ini.
Spontan Shana menundukkan kepalanya, berharap pria itu tidak melihat dirinya.
Tidak.. Tidak mungkin.. Kenapa harus dia? Kenapa dari jutaan manusia di muka bumi ini, harus dia yang menjadi bosnya.
Shana berulang kali berpikir keras, menggelengkan kepala, menyakinkan diri, bahwa ini tidak mungkin.
Di sana, pria itu sedang memperkenalkan diri. Tampak terlihat tenang beda halnya dengan Shana, yang mendadak menjadi panik beribu panik.
"Perkenalkan nama saya Evanzo Narendra. "
Shana menelan salivanya. Menggigit bibirnya, menunjukkan kegugupannya.
"Tidak mungkin ia ingat wajahku." Gumam Shana pelan.
Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Bagaimanapun pertemuan mereka hanya sekali. Pasti pria itu sudah lupa.. Ya pasti.. Itu yang ada di pikiran Shana.
Tiba-tiba, pandangan mereka bertemu, senyum tipis muncul di sudut bibir pria itu.
Dengan cepat Shana mengalihkan pandangannya, menatap ke sembarang arah. Dan hatinya tak tenang.
"Habis sudah.. Aku ketahuan.. " Gumam Shana kembali.
Rasanya ia ingin sekali melarikan diri, meninggalkan ruang rapat ini, berlari sejauh mungkin. Tapi itu semua tidak dapat dilakukan saat ini. Shana hanya bisa pasrah menunggu ini berakhir.
Memang tidak terlalu lama, tapi bagi Shana ini sangat terasa lama.
Sampai akhirnya kata terima kasih terucap, Pria itu pun berpamitan pergi meninggalkan ruangan.
Shana menghela napas kemudian. Mencari ketenangan. Namun itu tak berlangsung lama, Tiba-tiba saja, namanya di sebut oleh sekretaris pria itu.
"Mbak Shana.."
"Iya..?"
"Pak Evan, meminta Anda ke ruangannya sekarang. "
Shana membeku.
"Untuk apa? "
"Saya tidak tahu, nanti bisa ditanyakan langsung ke Pak Evannya."
Belum sempat menyampaikan keberatannya, sekretaris pria itu langsung bergegas pergi meninggalkan Shana.
"Pasti ingin balas dendam.. " Kesimpulan Shana akhirnya.
Lemas.. ya lemas sekali rasanya. Andai waktu bisa diputar kembali. Mungkin Shana bisa bertindak lebih berhati-hati lagi.
-My Boss, My Mistake-
dasar CEO kasmaran namun gengsi 🤭