NovelToon NovelToon
Cinta Yang Tersembunyi Di Balik Cadar

Cinta Yang Tersembunyi Di Balik Cadar

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Aiza-ra

Berikut deskripsi novel singkatnya.

Jennaira Hanania Mecca Nirankara tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah setelah menerima perjodohan dengan Arshaka Zayd Kalandra, pria dingin pewaris keluarga Kalandra yang sulit percaya pada cinta.

Pernikahan mereka dimulai tanpa kehangatan. Setelah akad, Shaka menetapkan batas yang jelas antara dirinya dan Jenna. Baginya, Jenna hanyalah tanggung jawab, bukan seseorang yang boleh masuk terlalu jauh ke dalam hidupnya.

Namun Jenna, dengan kelembutan, kesabaran, dan ketulusan hatinya, perlahan membuat pertahanan Shaka runtuh. Dari rasa penasaran, cemburu, hingga perhatian yang tak lagi mampu ia sembunyikan, Shaka mulai menyadari bahwa Jenna bukan sekadar istri yang dijodohkan dengannya.

Ia adalah perempuan yang diam-diam mengubah rumahnya menjadi tempat pulang, dan hatinya menjadi sesuatu yang kembali ingin percaya pada cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aiza-ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 — Nama yang Mengusik Malam

Malam sudah jauh melewati pukul dua belas.

Di kediaman keluarga Kalandra, hampir seluruh lampu utama telah dipadamkan. Hanya beberapa lampu taman dan lampu koridor lantai dua yang masih menyala temaram. Rumah besar itu tenggelam dalam keheningan yang rapi, seperti biasa.

Namun di salah satu kamar utama lantai dua, Arshaka Zayd Kalandra masih terjaga.

Ia berdiri di dekat jendela besar kamarnya, menatap halaman belakang rumah yang gelap. Kedua tangannya masuk ke saku celana tidur hitamnya. Wajahnya tenang, tetapi pikirannya tidak.

Satu nama terus berputar di kepalanya sejak tadi.

Jennaira Hanania Mecca.

Perempuan bercadar.

Putri bungsu Reza Nirankara.

Pemilik toko bunga sekaligus kafe.

Dan entah bagaimana, perempuan itu berhasil membuat ibunya pulang dengan mata berbinar seperti baru menemukan harta karun.

Shaka mendengus pelan.

Konyol.

Ibunya bertemu perempuan itu sekali, lalu langsung ingin menjadikannya menantu. Bagi Shaka, itu terdengar terlalu tidak masuk akal. Mama Aruna memang lembut dan mudah tersentuh oleh hal-hal baik, tetapi ia bukan perempuan ceroboh. Selama ini, tidak pernah sekalipun Aruna begitu yakin hanya dari satu pertemuan.

Justru itu yang mengganggu Shaka.

Perempuan seperti apa yang bisa membuat mamanya mengambil keputusan secepat itu?

Ia mencoba mengabaikan rasa penasaran itu. Ia sudah mandi, sudah mematikan laptop, bahkan sudah berbaring hampir satu jam. Tetapi setiap kali ia memejamkan mata, suara mamanya kembali terngiang.

“Namanya Jenna. Anak itu baik sekali, sopan, lembut, mandiri.”

Shaka membuka mata lagi.

Ia benci ketika pikirannya tidak bisa dikendalikan.

Akhirnya, dengan gerakan kesal, ia mengambil ponsel dari meja samping tempat tidur. Jarinya mencari satu nama di daftar kontak.

Rafa.

Tanpa berpikir panjang, Shaka menekan tombol panggil.

Nada sambung terdengar cukup lama. Hampir saja panggilan itu terputus ketika suara serak dan kesal terdengar dari seberang.

“Lo gila, ya?”

Shaka tidak menjawab.

“Ini jam berapa, Shaka?” suara itu semakin ketus. “Kalau kantor kebakaran, bilang. Kalau cuma lo insomnia, gue blokir nomor lo malam ini juga.”

Shaka berjalan ke sofa kecil dekat jendela, lalu duduk.

“Gue butuh lo cari data seseorang.”

Di seberang sana hening beberapa detik.

Lalu terdengar suara Rafa menghela napas panjang.

“Ya Allah, Shaka. Lo bangunin gue jam setengah satu malam buat nyuruh gue stalking orang?”

“Bukan stalking. Cari profil.”

“Itu bahasa kantornya. Intinya tetap stalking.”

“Rafa.”

“Iya, iya. Siapa?”

Shaka diam sesaat sebelum menyebut nama itu.

“Jennaira Hanania Mecca.”

Keheningan kembali jatuh.

Tapi kali ini berbeda.

Rafa, yang beberapa detik lalu masih terdengar setengah tidur, mendadak lebih sadar.

“Nama cewek?”

“Menurut lo?”

“Wah.” Rafa terdengar bangun dari tempat tidurnya. Ada suara kasur berderit pelan. “Tunggu. Ulangi. Lo nyuruh gue cari profil cewek?”

“Jangan banyak komentar.”

“Gue banyak komentar karena ini sejarah, bro. Arshaka Zayd Kalandra, manusia kulkas berjalan, tiba-tiba nyari tahu soal perempuan tengah malam.”

Shaka memijat pelipisnya.

“Gue salah telepon.”

“Enggak, enggak. Lanjut. Gue udah bangun. Ini menarik.” Suara Rafa berubah jahil. “Siapa dia? Mantan baru? Calon investor? Atau jangan-jangan calon istri?”

“Rafa.”

“Ah, berarti benar ada sesuatu.”

“Dia putri Reza Nirankara.”

Rafa berhenti bercanda.

“Reza Nirankara? NK Media Group?”

“Iya.”

“Buset.” Rafa bersiul pelan. “Kelas berat.”

Shaka bersandar ke sofa. Matanya menatap langit-langit kamar.

“Mama ketemu dia tadi. Di toko bunga miliknya.”

“Toko bunga?”

“Sekaligus kafe. Jenna’s Bloom Café.”

“Anak pendiri media terbesar di Indonesia buka toko bunga?” Rafa terdengar mulai serius. “Menarik.”

“Cari tahu semua yang bisa lo dapat. Pendidikan, usaha, aktivitas, reputasi, relasi publik, apa pun.”

“Lo mau sedalam apa?”

“Cukup dalam untuk tahu dia siapa.”

Rafa tertawa kecil. “Kalimat lo serem banget. Cewek itu belum tentu punya salah, tapi nadanya kayak lagi diaudit.”

“Gue cuma mau tahu kenapa Mama bisa seyakin itu.”

“Jujur aja, lo penasaran.”

Shaka diam.

Rafa tertawa lebih puas. “Diam berarti iya.”

“Besok pagi file-nya sudah ada di meja gue.”

“Gue ini sekretaris atau jin lampu?”

“Sekretaris.”

“Sekaligus sahabat lo, yang sayangnya sering lo perlakukan seperti pegawai magang.”

“Gue bayar lo mahal.”

“Persahabatan gue tidak bisa dibeli, tapi transferan bulanan lo cukup membantu.”

Shaka hampir tersenyum, tetapi ia menahannya.

“Rafa, serius.”

“Iya. Gue cari. Tapi gue kasih catatan, ya. Kalau dia putri Reza Nirankara, data pribadinya mungkin tidak banyak terbuka. Keluarga sebesar itu biasanya rapi menjaga privasi.”

“Gunakan akses yang legal.”

“Ya jelas. Gue bukan kriminal. Maksimal data publik, jaringan bisnis, berita lama, dan informasi usaha. Kalau ada yang abu-abu, gue skip.”

“Bagus.”

“Dan Shaka?”

“Apa?”

“Kalau ternyata dia perempuan baik-baik, jangan lohakimi cuma karena luka lama lo.”

Wajah Shaka mengeras.

“Gue tidak minta nasihat.”

“Gue tahu. Tapi gue tetap kasih. Karena gue satu-satunya orang yang cukup sabar buat berteman sama batu es kayak lo.”

Shaka menutup panggilan tanpa menjawab.

Dari seberang, Rafa sempat berteriak, “Woy, belum selesai—”

Panggilan terputus.

Shaka meletakkan ponselnya di meja.

Kamar kembali hening.

Ia menatap layar ponsel yang mulai gelap, lalu menghela napas pelan. Rafa memang menyebalkan, tetapi ia benar. Ada bagian dari dirinya yang penasaran.

Dan rasa penasaran itu membuat Shaka semakin kesal.

Ia tidak ingin peduli.

Tidak ingin membuka pintu untuk siapa pun.

Tidak ingin memberi kesempatan kepada nama asing untuk masuk ke dalam pikirannya.

Namun malam itu, sebelum akhirnya ia tertidur menjelang pagi, nama Jennaira Hanania Mecca masih bertahan di kepalanya.

Seperti aroma bunga yang tidak terlihat, tetapi sulit diusir.

🌷🌷🌷🌷

Pagi di kediaman keluarga Nirankara selalu dimulai dengan kebiasaan yang sama.

Sarapan bersama.

Sesibuk apa pun Reza Nirankara, sebesar apa pun urusan NK Media Group, ia selalu berusaha duduk di meja makan bersama keluarganya setiap pagi. Baginya, rumah bukan hanya tempat pulang. Rumah adalah tempat seseorang mengingat siapa dirinya sebelum dunia memberinya banyak gelar.

Pagi itu, meja makan keluarga Nirankara dipenuhi aroma roti panggang, bubur ayam hangat, buah potong, teh melati, dan kopi hitam kesukaan Reza.

Zahra, istri Reza, duduk di sisi kanan meja. Wajahnya lembut, anggun, dan teduh. Ia adalah perempuan yang membuat rumah besar itu terasa hangat. Tanpa Zahra, mungkin kediaman Nirankara hanya akan terlihat seperti rumah mewah biasa.

Di seberangnya, Abizar Nirankara sudah duduk sambil membaca pesan di tabletnya. Sesekali ia menyeruput kopi, lalu mengetik balasan singkat.

“Abi,” tegur Zahra lembut.

Abizar langsung mengangkat wajah.

“Iya, Bu?”

“Kalau sedang sarapan, jangan terlalu sibuk dengan pekerjaan.”

Abizar tersenyum kecil, lalu meletakkan tabletnya. “Maaf, Bu. Ada laporan pagi dari kantor.”

Reza yang duduk di kursi kepala meja melirik putranya.

“Laporan bisa menunggu lima belas menit. Sarapan dengan ibumu tidak bisa diulang.”

Abizar mengangguk patuh. “Baik, Ayah.”

Tidak lama kemudian, Jenna masuk ke ruang makan.

Ia mengenakan gamis sederhana berwarna dusty rose dan cadar senada. Langkahnya tenang. Matanya menyapa seluruh keluarganya sebelum ia duduk.

“Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumussalam,” jawab mereka hampir bersamaan.

Zahra menatap putrinya dengan penuh kasih.

“Kamu kelihatan agak lelah, Nak. Semalam tidur cukup?”

“Cukup, Bu. Mungkin hanya karena kemarin kafe agak ramai.”

Reza menoleh kepada putrinya.

“Kalau terlalu lelah, tambah karyawan. Jangan semua kamu kerjakan sendiri.”

Jenna tersenyum dari matanya.

“Iya, Ayah. Tapi sejauh ini masih bisa diatur.”

Abizar mengambil sepotong roti panggang, lalu tiba-tiba tersenyum sendiri.

Jenna langsung curiga.

“Kak Abi kenapa senyum-senyum?”

“Tidak apa-apa.”

“Kalau Kak Abi bilang tidak apa-apa, biasanya ada apa-apa.”

Abizar menatap adiknya dengan santai.

“Aku hanya teringat kejadian kemarin di kafe.”

Gerakan Jenna yang sedang menuang teh mendadak berhenti.

Zahra langsung menoleh tertarik. “Kejadian apa?”

Jenna memberi tatapan peringatan kepada kakaknya, tetapi Abizar tampak tidak berniat menyelamatkan adiknya dari pembicaraan itu.

Reza ikut mengangkat wajah dari cangkir kopinya.

“Ada masalah di kafe?”

“Bukan masalah, Ayah,” jawab Abizar. “Ada yang datang melamar Jenna.”

Zahra terdiam.

Reza juga berhenti sejenak.

Jenna menutup mata sebentar, menarik napas pelan.

“Kak Abi…”

Abizar mengangkat bahu. “Lebih baik Ayah dan Ibu tahu dari aku daripada nanti kaget kalau tamunya benar-benar datang.”

Zahra menatap Jenna dengan mata membesar.

“Melamar? Maksudnya bagaimana, Nak?”

Jenna meletakkan cangkir tehnya dengan hati-hati.

“Sebenarnya bukan melamar resmi, Bu. Kemarin ada seorang ibu datang membeli bunga. Beliau… tiba-tiba bertanya apakah Jenna mau menjadi menantunya.”

Zahra menutup mulutnya, antara kaget dan ingin tertawa.

Reza menatap putrinya beberapa detik, lalu melirik Abizar.

“Siapa ibu itu?”

Abizar menjawab sebelum Jenna sempat bicara.

“Bu Aruna Ravindra Kalandra.”

Wajah Reza berubah.

“Aruna?” ulangnya. “Istrinya Aditya Kalandra?”

Abizar mengangguk. “Iya, Ayah. Beliau mengenali Abi saat Abi masuk ke kafe. Katanya beliau sudah beberapa kali bertemu Abi di acara bisnis bersama Pak Aditya.”

Reza bersandar di kursinya.

Untuk sesaat, ia tampak memikirkan sesuatu.

Zahra menatap suaminya. “Ayah kenal?”

“Kenal dekat,” jawab Reza. “Aditya Kalandra teman lama Ayah. Kami sudah beberapa kali bekerja sama, bahkan sebelum NK Media sebesar sekarang.”

Jenna menatap ayahnya diam-diam.

Ia tidak menyangka hubungan itu sedekat itu.

Reza mengambil cangkir kopinya, tetapi tidak langsung meminumnya. Ada senyum tipis di wajahnya.

“Jadi Aruna ingin menjodohkan putranya dengan Jenna?”

“Sepertinya begitu,” jawab Abizar. “Beliau bilang akan datang ke rumah.”

Zahra tampak belum sepenuhnya pulih dari keterkejutannya.

“Anaknya siapa? Putra Aditya dan Aruna?”

“Arshaka Zayd Kalandra,” kata Reza pelan.

Nama itu terdengar asing bagi Jenna, tetapi cara ayahnya menyebutnya menunjukkan bahwa Reza tahu sesuatu tentang laki-laki itu.

“Dia seperti apa, Ayah?” tanya Zahra.

“Setahu Ayah, anaknya cerdas. Dingin, tapi bertanggung jawab. Banyak membantu bisnis keluarga Kalandra. Tidak suka sorotan media.” Reza melirik Jenna. “Dalam hal itu, mungkin mirip denganmu.”

Jenna menunduk sedikit.

Abizar menyandarkan punggung ke kursi.

“Aku juga pernah bertemu beberapa kali. Orangnya memang irit bicara. Tapi reputasinya baik.”

Zahra mengangguk perlahan, lalu menatap putrinya.

“Jenna sendiri bagaimana?”

Pertanyaan itu membuat seluruh meja makan hening.

Jenna memandangi teh di hadapannya.

Bagaimana?

Ia bahkan belum tahu harus merasa apa. Semua terjadi terlalu cepat. Kemarin ia hanya menjalani hari biasa di kafe, lalu seorang ibu datang membeli bunga dan tiba-tiba menyebutnya calon menantu. Sekarang, nama seorang laki-laki asing sudah dibicarakan di meja makan keluarganya.

Jenna menarik napas perlahan.

“Jenna belum tahu, Bu. Jenna belum kenal beliau. Bahkan belum pernah bertemu.”

Reza mengangguk, santai.

“Itu jawaban yang wajar.”

Jenna mengangkat wajah.

Reza menatapnya dengan lembut, tetapi tetap dengan ketegasan seorang ayah.

“Kalau Aditya dan Aruna benar-benar ingin datang, Ayah tidak keberatan menerima mereka. Mereka keluarga baik-baik. Boleh juga kalau Aditya ingin menikahkan putranya dengan putri Ayah.”

Jenna terdiam.

Zahra menatap Reza dengan alis sedikit terangkat. “Ayah…”

Reza tersenyum kecil.

“Tapi,” lanjut Reza, “semua tergantung Jenna.”

Hening itu mencair sedikit.

Jenna menatap ayahnya lebih lama.

Reza melanjutkan, “Umurmu sudah cukup matang untuk menikah. Dua puluh enam tahun bukan usia yang terlalu muda. Kalau ada laki-laki baik datang dengan cara baik, tidak ada salahnya dikenali. Tapi Ayah tidak akan menyerahkanmu hanya karena nama keluarganya besar atau karena Ayah mengenal orang tuanya.”

Zahra mengangguk setuju.

“Pernikahan itu bukan sekadar menyatukan dua keluarga,” ucap Zahra lembut. “Yang menjalani tetap kamu dan calon suamimu.”

Jenna merasakan dadanya menghangat.

Inilah alasan ia selalu merasa aman di rumah. Keluarganya mungkin terpandang, nama mereka mungkin dikenal banyak orang, tetapi di dalam rumah, pendapatnya tetap didengar.

Abizar menatap adiknya sambil tersenyum tipis.

“Jadi, Dek, kalau nanti keluarga Kalandra datang, kamu tidak perlu panik. Anggap saja silaturahmi.”

Jenna menatap kakaknya.

“Yang membuat Jenna panik justru Kak Abi.”

“Aku?”

“Iya. Kemarin Kak Abi terlalu cepat bilang Jenna belum punya pasangan.”

Abizar tertawa pelan.

“Itu fakta.”

“Tidak semua fakta harus disampaikan secepat itu.”

Zahra ikut tersenyum, sementara Reza menggeleng kecil melihat kedua anaknya.

Suasana sarapan kembali hangat.

Namun di balik percakapan ringan itu, Jenna tahu ada sesuatu yang mulai bergerak.

Sebuah kemungkinan.

Sebuah pertemuan.

Sebuah jalan yang belum tentu ia pilih, tetapi kini mulai terbuka di hadapannya.

Reza kembali menyeruput kopinya, lalu berkata dengan nada santai, seolah membicarakan hal biasa.

“Kalau Aruna menghubungi, kita terima mereka dengan baik. Setelah itu, biarkan Jenna menilai sendiri.”

Jenna mengangguk pelan.

“Iya, Ayah.”

Namun dalam hatinya, muncul pertanyaan yang sama sekali belum memiliki jawaban.

Arshaka Zayd Kalandra itu laki-laki seperti apa?

Di sisi lain kota, tanpa ia ketahui, laki-laki itu juga sedang mencari tahu tentang dirinya.

Dan pagi itu, dua keluarga besar mulai berjalan menuju satu titik yang sama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!