NovelToon NovelToon
Perisai Sang Mafia

Perisai Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Lisa

Reigan Douglas hanya bisa patuh saat Kakek memaksanya menikahi Hana—gadis "kampung" bermata bulat. Pernikahan itu terasa datar dan mati. Bagi Reigan, kehadiran wanita itu hanya akan membatasi geraknya sebagai penguasa Odelgard.

Namun, segalanya berubah ketika sebuah peluru melesat dan nyaris menembus pelipisnya. Reigan pun menyadari satu fakta yang menghantam egonya: peluru penyelamat itu berasal dari senjata milik Vesper—sniper legendaris yang ternyata adalah Hana, istrinya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 2 Wanita itu

Hana melangkah maju, berhenti tepat beberapa meter dari kursi Reigan. Ia tidak menunduk ketakutan seperti kebanyakan orang yang berhadapan dengan CEO Valerius. Sebaliknya, ia membalas tatapan Reigan dengan sorot mata yang jernih namun sulit dibaca.

"Selamat pagi, Tuan Reigan," suara Hana terdengar lembut, namun memiliki ketegasan yang tidak terduga.

"Jangan panggil dia, Tuan ... Usianya tidak beda jauh denganmu. Panggil saja Reigan," ujar Kakek Douglas.

Hana mengangguk. Namun ia tidak mengatakan apa-apa lagi setelahnya.

Reigan tidak membalas sapaan itu. Dia hanya menatap lurus ke arah wanita ini tanpa ekspresi. Datar.

"Reigan," tegur kakek rendah tapi penuh penekanan.

Ekor mata Reigan menoleh pada kakeknya sekilas. Ia paham. Lalu kembali melihat ke arah Hana. "Ya," sahut pria ini menyahuti sapaan wanita itu. Satu kata yang keluar seperti paksaan.

"Ayo duduk. Hana," pinta Kakek.

"Iya, Kek." Kepala Hana mengangguk dan menarik kursi. Ia mulai duduk.

"Ambil piringmu dan makan dengan kami," pinta Kakek penuh dengan sayang seperti cucunya sendiri. Hana mengambil piring. Dia sedikit ragu ketika melihat makanan di atas meja.

"Apa ini tidak sesuai seleramu?" tanya Kakek Douglas cemas. "Apa kamu ingin makan sup krim jamur hutan dan  Roti Gandum?"

Kakek tahu betul kesukaan dia. Reigan melirik ke arah wanita itu.

"Tidak." Hana menggelengkan kepala sopan.

"Bukannya itu kesukaan kakekmu? Aku pikir kamu punya kesukaan yang sama."

Ternyata itu kesukaan kakeknya.

"Tidak, Kek. Saya bisa makan semuanya. Hanya saja saya bingung mau pilih yang mana." Hana tersenyum. Dia memang wanita pinggiran kota, tapi sopan santunnya juara.

"Oh, ya, ya ... Kakek sengaja menyuruh koki rumah untuk memasak lebih banyak karena tahu kamu akan datang." Beliau tersenyum. Lalu bangga melihat meja makan penuh dengan makanan yang bermacam-macam. "Syukurlah kalau kamu suka semuanya. Ayo makan." Kakek Douglas mempersilakan.

***

Di atas kursinya, Reigan bisa melihat wanita itu makan. Hanya sedikit. Sementara kakeknya yang tadi sudah menyelesaikan makanan utama, kini beralih ke buah. Menemani wanita itu sarapan agar tidak canggung.

Tidak ada lagi pembahasan tentang menikah. Hanya cerita seputar kenangan kakek dulu. Namun dia tidak boleh merasa aman. Selalu ada kejutan jika urusan dengan kakek.

"Oh, ya Reigan. Kalian akan menikah besok," ujar Douglas tanpa basa-basi. Suara Kakek  berat dan penuh otoritas.

Apa yang dipikirkan Reigan terjadi. Kakek selalu punya kejutan. "Secepat itu?"  Kening Reigan mengerut.

"Lebih cepat lebih baik."

Reigan menoleh pada Hana yang tidak bereaksi. "Dia sudah tahu?"

"Ya."

Berarti ini sudah ditetapkan sebelum aku mengatakan iya. "Baiklah." Reigan memilih tidak peduli. Ia tersenyum tipis. Sarkas. Bukan menunjukkan ia bahagia mendengar kabar ini, tapi muak. Kepatuhan kepada Kakek Douglas adalah harga mati yang sudah ditanamkan padanya sejak kecelakaan pesawat itu merenggut segalanya.

***

Setelah pernikahan singkat dan tanpa pesta besar, Hana di bawa ke unit apartemen milik Reigan. Sesuai dengan perintah kakeknya.

Hana hanya berdiri diam saat pintu apartemen mewah itu tertutup. Ia tidak menyentuh apa pun, bahkan tidak berani menginjak karpet lebih jauh.

Reigan melempar jasnya ke sofa, lalu berjalan menuju bar tanpa menoleh padanya. Bunyi es batu dalam gelas kristal itu terdengar tajam di tengah kesunyian.

"Jangan berdiri di sana. Kau bukan patung," suara Reigan datar, tanpa emosi.

Hana mengangguk pelan, menggenggam tas jinjingnya lebih erat. "Iya."

Pria itu berbalik, menyesap wiskinya sambil menatap Hana dengan mata yang meremehkan. "Aturannya sederhana. Jangan menyentuh barang-barangku, dan jangan pernah mencoba mengatur hidupku."

"Aku mengerti." Hana mengangguk pelan, seolah mengerti batasan yang dibuat pria itu.

"Kakek pikir aku akan jadi pelindungmu," Reigan tertawa sinis, langkahnya mendekat hingga Hana bisa mencium aroma alkohol yang kuat. "Tapi aku tidak punya waktu untuk mengurus orang lain. Jika sesuatu terjadi padamu, jangan harap aku peduli."

Hana mendongak. Matanya yang bulat hanya menatap jernih, tanpa rasa takut yang biasanya memuaskan ego Reigan. Ia hanya diam, seolah semua ancaman itu hanyalah angin lalu.

"Aku tidak tahu kenapa Kakek memaksaku untuk menikah, tapi perlu kamu tahu, kita tidak sedang dalam sebuah pernikahan sebenarnya." Reigan menatap Hana dengan sorot mata yang mengintimidasi namun malas.

"Aku tahu."

"Kamu tahu?" Kini kening Reigan mengerut dengan rahang mengeras. Ia kembali ke bar lagi.

"Bukankah kamu sudah mengatakan itu di pesta pernikahan kemarin."

"Oh." Bagus. Kamu cukup cerdas. "Karena pernikahan ini mendadak, jadi aku tidak menyiapkan kamar khusus. Tapi jangan khawatir, semua kamar sudah dibersihkan. Aku sudah menyuruh orang mengganti seprainya dengan bahan sutra—Kakek bilang kulitmu sensitif. Pakai saja."

Kalimat itu terdengar seperti sebuah perhatian, namun nada suaranya tetap kering, tanpa emosi. Seolah-olah merawat kenyamanan Hana hanyalah bagian dari daftar tugas yang diberikan kakeknya, bukan karena ia benar-benar peduli.

"Ya. Terima kasih," sahut Hana singkat.

"Jangan salah paham. Aku hanya tidak ingin Kakek datang dan mengeluh karena kamu terlihat pucat atau kurang tidur. Itu akan merepotkan ku." Reigan mengatakannya dengan datar.

Kepala Hana mengangguk. "Dimana kamar kamu?"

Reigan yang sudah mau pergi menghentikan langkahnya. "Kamu bukan ingin tidur satu ranjang denganku, bukan?"

Ini pertanyaan provokasi, tapi wanita ini tidak banyak bereaksi. Bahkan datar. "Tidak. Aku hanya perlu tahu dimana letak kamar kamu, agar aku bisa langsung lari kesana saat ada Kakek datang berkunjung."

Reigan menatap perempuan ini lurus-lurus. Dia mendengus, sebuah tawa hambar yang lebih terdengar seperti ejekan tertahan. "Ya. Kamu harus selalu dalam jangkauan pria tua itu," gumamnya sinis.

Hana tidak menjawab. Ia tetap berdiri dengan punggung tegak, tidak terusik oleh nada tajam Reigan. Ekspresinya masih tetap sama—datar dan sulit ditembus—seolah sindiran Reigan hanyalah suara angin lalu yang tak berarti.

"Kamar di atas adalah milikku," ujar Reigan menunjuk sebuah pintu ganda berwarna gelap di lantai dua. "Itu wilayah ku. Aku harap kamu tidak masuk tanpa ijin."

Hana mendongak. Menatap pintu itu dan menyisir sekitarnya.

"Apa kau sedang mencari celah untuk masuk ke dalam kamarku?" Ini sebuah candaan dari Reigan dalam bentuk provokasi karena muak.

"Tidak. Maaf." Hana langsung menghentikan matanya beredar memindai banyak sudut.

Tentu saja tidak. Bagaimana mungkin kau masih memaksa masuk kesana padahal dengan jelas aku melarangnya! Reigan merasa kesal.

"Entah kamar mana yang kamu maksud bisa menipu kakek. Pilih saja."

"Ya."

"Satu lagi. Aku sering pulang larut atau tidak pulang sama sekali. Jadi, jangan pernah repot-repot menungguku atau menyiapkan apa pun. Aku tidak suka ada orang yang mencampuri urusan pribadiku di rumahku sendiri." Ini juga sebuah peringatan keras.

"Aku paham."

Reigan melangkah pergi menuju mini bar, menuangkan cairan ke dalam gelas kristal tanpa menawarkan pada Hana. Dia tidak peduli lagi pada apa yang akan dilakukan perempuan itu.

Hana melangkah masuk ke salah satu kamar. Rupanya dia memilih kamar yang berada tepat di depan balkon kamar miliknya.

Reigan meneguk minumannya dalam satu tarikan napas, memunggungi Hana seolah keberadaan wanita itu di ruangan yang sama sudah tidak lagi penting baginya. Ponselnya berdering. "Ya. Kau mendapatkan informasi?" tanya pria ini seraya meletakkan gelas wine di atas meja bar. "Tahan disana, aku akan tiba secepatnya."

1
Idah Faridah
dtunggu thor up nya
Idah Faridah
ternyata hana bukan perempuan biasa👍
Lady Ve: Terima kasih Sudah mampir untuk baca🙏
total 1 replies
Riri
reigan ketagihan dialog sama Hana...
Riri
aura gadis desa itu...
Riri
POV Marco: dikira jaman purba
Riri
😂😂😂
Riri
kayak horor punya suami kek Regan
Kusyanti Handayani
thorrr llamnnjuttt lah
E F
lanjuttttt thor dobleeeee🙏💪😍
E F
lanjuttt thor💪😍
Lady Ve: Terima kasih tetap baca.
total 1 replies
Anonim
❤️❤️❤️
Kusyanti Handayani
semangat ladyyyy lanjooootttt
E F
tq thor🙏😍
semangattttt
lanjutttt😄💪
Anonim
❤️❤️❤️
pawon ngebul
kakak othor pokoknya getar hrs update biar g getir nungguinya😩🥺🥺🥺🥺🙏🙏🙏🙏
Lady Ve: 🤣🤣🤣🤣. iya tenang ....
total 1 replies
Kusyanti Handayani
bikin bedebar hanaaaa
Kusyanti Handayani
lanjuttttt
Herlin
Hana..... Sangaaar
Lady Ve: 🔥🔥🔥🔥🔥
total 1 replies
E F
tq thor🙏😍
lanjuttt
smangattt💪😄
Lady Ve: Terima kasih😊
total 1 replies
E F
lanjuttt thor🙏😍dobleeee💪😄
Lady Ve: Siap. terima kasih sudah baca.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!