NovelToon NovelToon
CEO DINGIN ITU MEMANJAKANKU

CEO DINGIN ITU MEMANJAKANKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nacha Adhi

Sejak usia sembilan tahun, Naura harus menelan pahitnya hidup. Setelah kedua orang tuanya meninggal, ia diasuh Paman Surya dan Bibi Rina yang tidak mampu namun terobsesi pada kemewahan. Naura sering disiksa dan dimanfaatkan, dipaksa bekerja keras demi menghidupi dirinya sendiri dan membiayai sekolah. Meski demikian, ia tumbuh menjadi gadis yang kuat, jujur, dan cerdas hingga berhasil lulus kuliah.

Bekerja di sebuah perusahaan swasta pun tidak membuat hidupnya lebih mudah. Atasan iri memfitnahnya, sementara paman dan bibinya terus memeras gaji dengan ancaman. Saat dipecat secara tidak adil dan berjalan dalam kesedihan, ia hampir tertabrak mobil mewah milik Aldo Pratama—CEO muda yang dingin, berwibawa, dan disegani banyak orang. Pertemuan tak terduga itu mengubah segalanya.

bagaimana kisah menarik selanjutnya... ???? lanjut bacanya sampai akhir yaa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nacha Adhi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Pertemuan yang Tak Direncanakan

Suara klakson yang panjang disusul decitan rem yang memekakkan telinga memecah kesedihan yang menyelimuti hati Naura. Dalam sekejap, tubuhnya terhenyak, matanya terbuka lebar menyadari bahaya yang hampir menimpanya. Ia mundur tergesa-gesa hingga terjatuh ke aspal yang basah, napasnya tersengal menahan rasa takut yang baru saja melanda.

Beberapa detik terasa lama. Hujan gerimis masih turun perlahan, membasahi seluruh tubuh Naura yang sudah basah kuyup. Pandangannya tertuju pada mobil sedan hitam mengkilap yang berhenti hanya beberapa sentimeter di depannya. Mobil itu terlihat sangat mewah, berlogo perusahaan ternama yang sering ia lihat di televisi dan koran.

Pintu pengemudi terbuka perlahan. Seorang pria muda turun dengan langkah tenang namun berwibawa. Postur tubuhnya tinggi tegap, mengenakan jas hitam yang rapi dan mahal, dipadukan kemeja putih bersih dan dasi yang diikat dengan sempurna. Wajahnya tampan dengan rahang tegas, kulit bersih, dan sepasang mata tajam yang memancarkan aura dingin dan tegas—sosok yang memancarkan kekuasaan dan kewibawaan tanpa perlu banyak bicara.

Itu adalah Aldo Pratama, CEO muda dan pemilik Grup Pratama, salah satu konglomerat terbesar di negeri ini. Ia baru saja pulang dari rapat penting dan sedang dalam perjalanan menuju kediamannya. Hari itu ia sedang dalam suasana hati yang buruk karena harus menangani masalah internal perusahaan yang cukup rumit, dan kejadian nyaris menabrak gadis di depannya itu membuatnya semakin kesal.

Aldo melangkah mendekat, menatap Naura dengan pandangan tidak senang. "Kamu tidak punya mata? Ini jalan raya, bukan halaman rumahmu sendiri! Kalau ingin mati, carilah tempat lain yang tidak mengganggu orang lain!" bentaknya dengan nada dingin dan tegas, suaranya berat namun jelas terdengar.

Naura yang masih duduk di aspal menunduk dalam, air matanya kembali mengalir deras bercampur air hujan. Ia tidak berani menatap wajah pria di depannya itu. "Maaf... saya benar-benar minta maaf. Saya tidak melihat ke depan..." gumamnya pelan, suaranya terdengar bergetar menahan tangis.

Aldo mengernyitkan dahi. Awalnya ia berniat memarahi lebih lanjut, namun melihat keadaan gadis itu—pakaiannya yang basah, wajahnya yang pucat, dan matanya yang memerah menahan kesedihan—membuat amarahnya sedikit mereda. Ada sesuatu yang berbeda pada gadis itu. Ia tidak terlihat seperti orang yang ceroboh, melainkan seolah sedang dibebani masalah yang sangat berat hingga tidak sadar akan lingkungan sekitarnya.

"Kamu baik-baik saja?" tanya Aldo, nadanya sedikit melunak meski masih terdengar datar dan dingin.

Naura mengangguk perlahan, lalu berusaha bangkit meski lututnya terasa lemas. "Saya baik-baik saja. Terima kasih sudah menahan mobil tepat waktu."

Aldo mengamati gadis itu dengan seksama. Penampilannya sederhana, bahkan terlihat agak lusuh—jauh berbeda dengan orang-orang yang biasa ia temui di lingkungannya. Namun, di balik kesederhanaan itu, terlihat ketulusan dan ketabahan yang sulit dijelaskan. Ia melihat air mata yang terus menetes di pipi gadis itu, dan tanpa sadar rasa penasaran muncul di hatinya.

"Kenapa berjalan sembarangan seperti itu? Apakah kamu tidak punya tujuan atau sedang ada masalah?" tanya Aldo lagi. Ia tidak tahu mengapa ia bertanya, padahal biasanya ia tidak peduli dengan urusan orang asing.

Mendengar pertanyaan itu, hati Naura terasa perih. Ia menunduk lebih dalam, tidak berani bercerita namun seolah ada dorongan untuk mengeluarkan semua beban yang selama ini dipendamnya. "Saya... saya baru saja dipecat dari pekerjaan. Dituduh melakukan kesalahan yang tidak saya lakukan. Sekarang saya tidak tahu harus ke mana. Paman dan bibi saya pasti akan sangat marah ketika tahu saya tidak punya pekerjaan lagi..." ucapnya pelan, hampir seperti berbisik.

Aldo terdiam sejenak. Sebagai orang yang sering berurusan dengan berbagai masalah, ia bisa menilai mana yang jujur dan mana yang berbohong. Dari nada bicara dan sorot mata gadis itu, ia yakin apa yang dikatakan adalah kebenaran. Ia melihat ketidakberdayaan yang sama seperti yang pernah ia rasakan di masa lalu, meski dalam situasi yang berbeda.

"Jadi kamu tidak punya tempat yang jelas untuk pergi?" tanya Aldo lagi.

Naura menggeleng pelan. "Tidak ada. Kecuali pulang ke rumah paman saya, tapi saya tidak berani..."

Suasana hening sejenak, hanya terdengar suara hujan yang mulai reda dan suara kendaraan yang lewat di kejauhan. Aldo memikirkan sesuatu. Ia baru saja memecat pembantu rumah tangganya yang lama karena ketidakjujuran, dan saat ini rumahnya yang besar terasa sepi dan tidak terurus dengan baik. Melihat gadis di depannya yang terlihat jujur dan terdesak, sebuah ide muncul di benaknya.

"Dengar," kata Aldo tegas, membuat Naura mengangkat wajah perlahan menatapnya. "Saya membutuhkan orang untuk membantu mengurus rumah saya. Tempat tinggal disediakan, makan disediakan, dan gaji akan saya berikan setiap bulan. Tugasnya hanya membersihkan rumah, memasak makanan sederhana, dan mengurus keperluan rumah tangga. Apakah kamu mau?"

Naura tertegun, matanya terbelalak tidak percaya. "Tuan... maksud Tuan menawarkan saya pekerjaan?"

"Ya. Tapi ada syaratnya: harus jujur, rajin, tidak mencuri, dan tidak banyak bertanya tentang urusan saya. Kalau kamu melanggar, saya akan memecatmu tanpa ampun. Terima atau tidak?" Aldo menatapnya tajam, memberikan pilihan dengan tegas.

Di dalam hati Naura, perasaan campur aduk menyelimuti. Di satu sisi, ia ragu—pria ini terlihat sangat dingin dan berkuasa, dunia mereka terasa sangat jauh berbeda. Namun di sisi lain, ini adalah kesempatan yang tidak terduga. Ia butuh pekerjaan, butuh tempat berteduh, dan mungkin ini jalan keluar sementara dari tekanan paman dan bibinya.

Setelah berpikir sejenak, Naura mengangguk mantap. "Saya terima, Tuan. Saya akan bekerja sebaik mungkin."

Aldo mengangguk puas. "Baik. Namaku Aldo Pratama. Kamu bisa memanggil Tuan Aldo. Sekarang masuk ke dalam mobil, saya akan mengantarmu mengambil barang-barangmu terlebih dahulu sebelum kita pergi ke rumah."

Mereka masuk ke dalam mobil mewah yang terasa sangat nyaman dan bersih. Naura duduk dengan hati-hati, merasa tidak enak badan karena pakaiannya yang basah. Ia tidak berani bergerak banyak, merasa seperti berada di dunia yang asing. Aldo yang duduk di kursi pengemudi hanya diam, sesekali meliriknya sekilas melalui kaca spion.

Sesampainya di depan rumah papan yang sederhana, Naura meminta izin untuk mengambil barang-barangnya. Ia berharap tidak bertemu paman dan bibinya, namun sayangnya keberuntungan belum berpihak padanya. Begitu membuka pintu, Bibi Rina sudah berdiri di depan dengan wajah marah.

"Kamu dari mana saja? Sudah pulang jam segini? Dipecat ya? Pasti kamu berbuat kesalahan!" bentak Bibi Rina langsung.

Naura menunduk. "Iya, Bibi. Saya dipecat. Tapi saya sudah dapat pekerjaan baru."

"Pekerjaan baru? Di mana? Berapa gajinya? Cepat beritahu saya!" tanya Bibi Rina dengan nada ingin tahu yang serakah.

Sebelum Naura sempat menjawab, Aldo yang turun dari mobil karena khawatir melihat gadis itu diserang, melangkah mendekat. "Dia akan bekerja di rumah saya. Gajinya akan saya berikan langsung kepadanya setiap bulan, dan itu adalah haknya sendiri," ucap Aldo dengan nada dingin namun berwibawa, membuat Bibi Rina tertegun dan menatapnya dengan takjub melihat penampilan mewah pria itu.

Paman Surya yang keluar mendengar keributan langsung memegang lengan Naura. "Tidak bisa! Dia masih tanggung jawab kami! Semua penghasilannya harus kami terima!"

Aldo menatap tajam ke arah Paman Surya, membuat pria itu merasa ciut. "Kalau kalian ingin memerasnya, saya akan pastikan kalian tidak bisa melakukannya lagi. Dia bekerja untuk saya, dan saya yang berhak menentukan urusan pekerjaannya. Sekarang biarkan dia mengambil barang-barangnya."

Ketegasan Aldo membuat Paman dan Bibi terdiam, tidak berani berbuat banyak. Mereka hanya menatap dengan pandangan serakah, berharap bisa mendapatkan keuntungan suatu hari nanti. Naura dengan cepat mengambil barang-barangnya yang hanya berisi beberapa helai pakaian dan buku-buku kesayangannya, lalu berbalik meninggalkan rumah itu—perasaan sedih namun juga sedikit lega menyelimuti hatinya.

Perjalanan menuju kediaman Aldo berlangsung hening. Naura menatap keluar jendela, melihat gedung-gedung tinggi dan lingkungan perumahan yang semakin mewah, merasa seolah masuk ke dunia yang berbeda. Ia tidak tahu bahwa langkahnya hari ini akan menjadi awal dari perubahan besar dalam hidupnya, dan pria dingin di sampingnya ini perlahan akan menjadi tempat berlindung yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

1
elfanaya 💞
kamu udh dpt gaji mending keluar dari rumah yg berasa seperti neraka itu
Kim Borahae
seru😍. semangat terus ya 💪

Btw, saya pun baru mula menulis novel kalau ada masa boleh tinggalkan komen. Tinggal tekan profile saja, terima kasih /Joyful/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!