Enam tahun membina rumah tangga, Kirana merasa pernikahannya dengan Aris adalah definisi kebahagiaan yang sempurna. Namun, semua hancur saat Kirana menemukan kenyataan bahwa Aris kembali menjalin hubungan rahasia dengan Sarah, mantan kekasihnya yang dulu gagal dinikahi karena terganjal restu. Alih-alih menangis dan meminta cerai begitu saja, Kirana memilih jalan yang lebih gelap: menghancurkan Aris dari dalam dengan mendekati Bimo, sahabat karib sekaligus rekan bisnis Aris. Sebuah permainan ego, pengkhianatan, dan cinta yang keliru pun dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinarta Firdaus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SKAKMAT
Malam itu, Grand Ballroom Hotel Mulia diselimuti oleh kemewahan yang megah. Ratusan lampu kristal gantung memancarkan cahaya keemasan yang berkilau, memantul di atas lantai marmer yang dipoles hingga mengilat seperti cermin. Dinding-dinding ruangan dihiasi oleh rangkaian bunga serunai putih dan mawar merah maroon yang anggun, menciptakan perpaduan aroma botani yang mahal dengan wangi parfum para sosialita, investor kelas atas, dan pejabat pemerintahan yang hadir.
Hari ini adalah puncak pencapaian hidup Aris Utama: Perayaan Dekade Emas, ulang tahun ke-10 PT Utama Karya Propertindo.
Di lobi utama, deretan karangan bunga dari berbagai korporasi raksasa dan kolega bisnis berbaris panjang. Di sudut lain, puluhan wartawan dari media bisnis, infotainment, hingga cetak nasional telah berkumpul di balik barikade beludru merah, kamera mereka berkedip tanpa henti setiap kali ada tokoh penting yang melangkah masuk ke dalam ruangan.
Aris berdiri di tengah-tengah ruang VIP, tampak sangat jumawa dalam balutan tuksedo hitam custom-made dari penjahit terbaik di London. Dasinya terpasang simetris, dan jam tangan Patek Philippe seharga miliaran rupiah melingkar di pergelangan tangan kirinya. Wajahnya memancarkan rona kemenangan. Meskipun dalam beberapa bulan terakhir ia merasa perusahaannya mengalami sedikit guncangan likuiditas, malam ini semua kecemasan itu ia kubur dalam-dalam di balik topeng karismanya yang meledak-ledak. Malam ini adalah pembuktian kepada dunia bahwa ia, Aris Utama, adalah raja properti baru di metropolitan ini.
"Kamu terlihat sangat luar biasa malam ini, Ris," sebuah suara feminin yang sensual berbisik di dekat telinganya.
Aris menoleh dan mendapati Sarah sudah berdiri di sampingnya. Sarah mengenakan gaun malam backless berwarna merah menyala dengan potongan dada rendah yang sangat berani, memamerkan gelang emas putih dengan liontin hati di pergelangan tangannya—hadiah dari Aris beberapa waktu lalu. Rambut merah batanya disanggul modern, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajahnya yang cantik namun ambisius.
"Sarah," Aris berbisik balik, matanya melirik ke arah pintu keluar ruang VIP dengan agak gelisah. "Jangan terlalu dekat denganku di sini. Wartawan di luar sangat jeli. Kirana juga bisa datang kapan saja."
Sarah mendengus pelan, seulas senyum sinis terukir di bibirnya yang dilapisi gincu merah tua. "Kenapa kamu harus takut pada istri rumahanmu itu, Aris? Lagipula, dana termin terakhir dari konsorsiumku sudah cair ke rekening proyek Uluwatu hari ini. Tanpa uangku, acaramu malam ini tidak akan semewah ini. Aku berhak berdiri di sampingmu."
Pertengkaran hebat mereka beberapa minggu lalu akibat paket foto misterius itu memang sempat mereda setelah Aris memberikan jaminan komitmen yang lebih besar, namun ketegangan di antara mereka masih terasa seperti bom waktu yang siap meledak.
"Aku tahu, Sarah. Terima kasih untuk dananya. Tapi tolong, jaga profesionalisme kita malam ini. Setelah acara ini selesai, aku berjanji akan mengurus pembicaraan cerai dengan Kirana," janji Aris, sebuah janji palsu yang sudah ia obral ratusan kali.
Sebelum Sarah sempat membalas, pintu ruang VIP terbuka. Kirana melangkah masuk.
Detak jantung Aris sempat melewatkan satu ketukan saat melihat penampilan istrinya malam ini. Kirana tidak mengenakan gaun rumah linen putihnya yang polos. Malam ini, ia menjelma menjadi sesosok wanita yang mengintimidasi dengan keanggunannya yang dingin. Ia mengenakan gaun malam adibusana berwarna biru safir gelap yang terbuat dari kain sutra premium. Gaun itu melekat sempurna di tubuhnya yang ramping, menjuntai indah hingga menyapu lantai. Rambutnya ditata dengan gaya classic updo yang rapi, memamerkan leher jenjangnya yang dihiasi seuntai kalung berlian minimalis namun memancarkan kilau yang tajam.
Matanya yang sedingin es menatap lurus ke arah Aris dan Sarah yang berdiri berdekatan. Tidak ada kepanikan, tidak ada kemarahan, hanya ada ketenangan yang mutlak di wajahnya.
"Maaf aku terlambat, Aris. Jalanan sedikit macet," ucap Kirana, suaranya terdengar sangat merdu dan tenang, menggema di dalam ruangan VIP yang mendadak senyap.
Aris segera mengambil jarak dari Sarah, memaksakan sebuah senyuman hangat, lalu berjalan mendekati Kirana. "Tidak apa-apa, Sayang. Kamu... kamu sangat cantik malam ini. Aku hampir tidak mengenalimu."
"Terima kasih, Aris. Malam ini adalah malam yang sangat penting untukmu, bukan? Aku harus memastikan bahwa penampilanku... tidak akan membuatmu melupakan hari ini seumur hidupmu," jawab Kirana, memberikan penekanan yang halus pada setiap kata yang ia ucapkan.
Di sudut ruangan, Bimo berdiri dengan setelan jas hitam formalnya. Matanya menatap Kirana dengan pandangan yang dipenuhi pengabdian mutlak, lalu beralih menatap Aris dengan kilatan kepuasan yang dingin. Bimo memegang sebuah tablet digital di tangan kirinya, jemarinya siap menekan satu tombol terakhir yang akan meruntuhkan seluruh hidup sahabatnya.