NovelToon NovelToon
TERJERAT OBSESI ELZIO

TERJERAT OBSESI ELZIO

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / One Night Stand / CEO / Percintaan Konglomerat / Office Romance
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

"Dendanya lima miliar rupiah, Clara. Atau... kamu tanda tangani kontrak tiga tahun jadi asisten pribadi saya!"
Berniat kabur dari masa lalu dan hidup mandiri, Clara justru terjebak dalam jaring laba-laba Elzio Mahendra—CEO tampan, kaya raya, dan obsesif yang tak mempan digertak. Hanya demi mengikat Clara di sisinya, Elzio tak ragu membeli perusahaan tempat Clara melamar dan menjeratnya dengan kontrak denda bernilai fantastis.
Segala cara Clara lakukan agar Elzio ilfil—mulai dari bersikap super galak, memboroskan uangnya, hingga kabur naik KRL. Namun, bukannya menyerah, sang CEO gila justru makin gila dan posesif padanya.
Di tengah intrik perjodohan elit dan trauma masa lalu yang menghantui, akankah Clara berhasil bebas dari jerat denda lima miliar, atau justru akhirnya bertekuk lutut dalam pelukan sang CEO?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 18

Elzio menuntun Clara berjalan menuju area parkir basement. Pria itu membuka pintu sedan hitam miliknya dengan tenang, lalu mengode Clara untuk masuk.

​Clara masih berdiri mematung di samping mobil, matanya sembab dan menatap Elzio dengan perasaan bersalah yang membakar dadanya.

​"El... kenapa lu sesantai ini?" bisik Clara parau, suaranya bergetar. "Lu baru aja dibuang dari keluarga lu. Lu lepas jabatan CEO Mahendra Group yang nilainya ratusan triliun... cuma demi gue."

​Elzio menghentikan gerakannya, lalu menghela napas panjang dengan raut wajah yang sengaja dibuat layu dan lesu. Pria itu menyandarkan badannya di pintu mobil, menatap lurus ke lantai basement.

​"Memang ini kenyataannya, Clara," gumam Elzio dengan suara dipelan-pelankan, memberikan efek tragis. "Saya sekarang tidak punya apa-apa lagi. Kakek saya membekukan semua fasilitas Mahendra Group atas nama saya."

​"Terus... hidup lu gimana?!" jerit Clara panik, memegang lengan Elzio erat-erat. "Rumah lu? Penthouse lu? Mobil ini?!"

​"Mungkin sebentar lagi disita," dusta Elzio dengan wajah datar tanpa dosa.

​Padahal, dalam kenyataannya, Mahendra Group hanyalah 'mainan' sampingan yang sengaja Elzio kelola untuk menyenangkan kakeknya. Di dunia nyata—khususnya dunia bawah tanah dan konsorsium internasional—Elzio adalah pemimpin tertinggi dari Vanguard Syndicate dan pemilik AetherCorp, konglomerasi raksasa bernilai jutaan dolar yang secara diam-diam menyokong 80% dana operasional Mahendra Group selama ini. Tanpa Elzio, Mahendra Group justru yang akan bangkrut dalam hitungan bulan.

​Namun melihat Clara yang sekeras batu itu mendadak luluh dan panik setengah mati karena merasa bersalah, Elzio memutuskan untuk menikmati peran 'pria bangkrut' ini sebentar lagi.

​"Ini semua gara-gara gue..." Clara mengepalkan tangannya, air matanya menetes lagi. "Gue beban buat lu, El. Harusnya gue enggak pernah muncul di hidup lu!"

​Elzio menahan senyum di dalam hatinya saat melihat pertahanan gengsi Clara runtuh total. Dia meraih jemari Clara, mengusapnya lembut. "Jangan menyalahkan diri kamu, sweetheart. Ini keputusan saya. Saya tidak menyesal."

​"Tapi lu butuh modal!" pancing Clara cepat. Dia mengusap air matanya dengan kasar, lalu merogoh tasnya dan mengeluarkan dokumen pelepasan aset rumah dan tanah peninggalan ibunya yang semalam didapatkan dari ayahnya.

​Clara menyodorkan berkas bernilai sepuluh miliar itu ke dada Elzio.

​"Nih! Ambil ini!" seru Clara tegas.

​Elzio menaikkan sebelah alisnya, berpura-pura bingung. "Maksud kamu apa, Clara?"

​"Rumah tua dan tanah peninggalan Ibu gue ini... nilainya lumayan!" ujar Clara dengan napas memburu. "Lu olah aset ini. Lu jual, atau lu jadiin jaminan di bank buat modal awal lu! Lu itu pintar, Elzio. Lu pasti bisa bangun perusahaan baru dari nol, walaupun itu cuma perusahaan kecil!"

​Elzio menatap dokumen di tangannya, lalu menatap Clara dengan binar geli yang tersembunyi rapat di balik tatapan redupnya. Wanita ini benar-benar memberikan seluruh harta peninggalan ibunya demi membantu saya?

​"Kamu yakin mau menyerahkan ini ke saya?" tanya Elzio dengan nada rendah. "Ini kan peninggalan almarhumah ibu kamu yang paling berharga."

​"Gue yakin!" potong Clara mantap, menatap Elzio lurus-lurus. "Lu udah korbanin ratusan triliun demi membela gue di depan kakek lu. Masa cuma gara-gara rumah ini gue pelit sama lu? Ambil! Bikin perusahaan kecil dulu. Nanti kalau lu udah sukses lagi, lu baru ganti."

​Elzio melangkah maju satu detik, mengikis jarak di antara mereka. Dia menatap mata Clara yang basah dengan intensitas yang teramat dalam.

​"Saya tidak mau mengambil aset ibu kamu begitu saja, Clara," bisik Elzio halus.

​"Kenapa?! Lu gengsi?!" semprot Clara kesal.

​"Bukan," balas Elzio tenang. "Tapi kalau kamu mau saya menerima bantuan ini dan menggunakan modal ini untuk masa depan kita... ada satu syarat."

​Clara mengerutkan keningnya. "Syarat apa lagi? Jangan aneh-aneh ya!"

​Elzio merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah kotak beludru hitam kecil yang sudah disiapkannya sejak lama. Dia membukanya, memperlihatkan cincin berlian berdesain simpel namun sangat anggun dan bernilai fantastis.

​"Menikahlah dengan saya, Clara," ujar Elzio mantap, suaranya mengalun rendah tanpa keraguan sedikit pun.

​DEG.

​Darah Clara seolah berhenti mengalir seketika. Binar panik dan penyesalan di matanya mendadak berganti dengan rasa takut yang amat pekat. Tubuhnya membeku, melangkah mundur satu langkah memutus kontak fisik dengan Elzio.

​"N-nikah...?" cicit Clara gagap, suaranya mendadak memelan dan bergetar.

​"Ya. Kita nikah minggu ini," lanjut Elzio, melangkah mendekat lagi. "Kita mulai semuanya dari nol bersama-sama. Saya jadi suami kamu, dan kamu jadi istri saya."

​"Gak... Gak bisa, El..." menggeleng pelan, wajah Clara mendadak pucat pasi.

​Elzio menyipitkan matanya, menyadari perubahan drastis pada raut wajah Clara. "Kenapa tidak bisa? Kamu takut hidup susah dengan saya?"

​"Bukan!" bentak Clara, matanya membelalak penuh luka traumatis yang mendalam. "Gue enggak takut hidup miskin, Elzio! Gue takut sama yang namanya pernikahan!"

​Elzio tertegun, menghentikan langkahnya. "Pernikahan?"

​"Lu lihat kan apa yang terjadi sama Ibu gue?!" jerit Clara dengan suara parau yang menyayat hati, air matanya meledak kembali. "Ibu gue dulu nikah sama Papa karena cinta! Ibu gue serahin seluruh hidupnya, hartanya, perusahaannya buat Papa! Tapi apa hasilnya?! Papa selingkuh sama Kirana! Ibu gue dibuang, hartanya dikuras, dan Ibu gue mati dalam keadaan menderita dan depresi!"

​Clara memegangi dadanya yang terasa sesak luar biasa. Bayangan kejatuhan ibunya menari-nari di ingatan masa kecilnya.

​"Pernikahan itu cuma panggung penipuan, Elzio!" lanjut Clara terengah-engah, menatap Elzio dengan pandangan penuh ketakutan. "Laki-laki bakal manja-manjain kita di awal, bilang cinta mati... tapi ujung-ujungnya setelah terikat pernikahan, mereka bakal berubah jadi iblis! Mereka bakal hancurin kita sampai enggak tersisa!"

​"Clara, saya bukan ayah kamu—"

​"Gue enggak percaya!" potong Clara histeris. "Gue enggak percaya sama laki-laki mana pun kalau udah urusan pernikahan! Gue takut, Elzio... Gue takut kalau nanti setelah kita nikah, lu bakal berubah kaya Papa! Lu bakal bosan sama gue, hancurin gue, dan buang gue!"

​Elzio menatap Clara dengan perasaan campur aduk. Rasa geli karena kebohongan 'bangkrut'-nya seketika sirna, berganti dengan rasa iba yang teramat dalam. Pria itu akhirnya memahami alasan utama mengapa selama ini Clara begitu sekeras batu, selalu jual mahal, dan menolak setiap pendekatan dari pria mana pun.

​Luka masa lalu akibat kehancuran ibunya begitu berkarat di dalam jiwa wanita ini.

​Elzio menyimpan kembali kotak cincin itu ke dalam saku jasnya. Dia melangkah pelan tanpa henti, lalu menarik tubuh Clara yang gemetar hebat ke dalam pelukan hangatnya.

​"Lepas, Elzio! Lepas!" serang Clara, memukul-mukul dada tegap Elzio dengan tangan terkepal.

​"Tidak akan," tegas Elzio, justru makin mempererat dekapannya, membiarkan Clara meluapkan emosi di dadanya. Pria itu mengelus rambut panjang Clara dengan kelembutan yang tiada tara.

​"Dengarkan saya, Clara..." bisik Elzio hangat tepat di telinga Clara. "Saya tidak akan pernah memaksa kamu kalau itu membuat kamu ketakutan."

​Pukulan Clara di dada Elzio perlahan melemah, digantikan oleh isakan tangis yang pilu.

​"Saya bukan Tuan Bambang," lanjut Elzio rendah, suaranya sarat akan janji yang sakral. "Saya tidak butuh harta kamu, dan saya tidak akan pernah mengkhianati kamu. Kalau pernikahan membuat kamu trauma... maka saya akan tunggu sampai ketakutan itu hilang dari hati kamu."

​Clara meremas kemeja Elzio di bagian pinggang, menyembunyikan wajahnya yang basah di dada pria itu. "Lu... lu beneran enggak bakal berubah, El?"

​Elzio menyunggingkan senyum tipis, mengecup puncak kepala Clara dengan lembut. "Saya hanya akan berubah jadi lebih protektif dan makin gila kalau ada yang coba menyakiti kamu lagi."

​Elzio melonggarkan pelukannya sedikit, menangkup wajah Clara dan mengusap air matanya. Dalam hatinya, Elzio terkekeh sendiri. Wanita polos ini benar-benar percaya kalau saya bangkrut dan butuh modal sepuluh miliar dari rumah ibunya.

​"Sekarang," ujar Elzio dengan raut wajah kembali dibuat-buat prihatin, "karena saya tidak punya tempat tinggal lagi karena disita kakek saya... apa saya boleh menumpang di rumah kamu, sweetheart?"

​Clara tersentak, menatap Elzio dengan mata bulatnya yang masih basah. "Numpang? Di rumah kontrakan gue?!"

​"Tentu," sahut Elzio tanpa rasa dosa sedikit pun, padahal ribuan properti mewah di seluruh dunia berada atas namanya. "Kan saya pria bangkrut sekarang. Kamu tega membiarkan calon pria yang membela kamu ini tidur di jalanan?"

​Clara memutar bolanya malas, walau rasa hangat mendadak mengalir di dadanya. "Dasar manja! Ya udah... ikut gue ke kontrakan! Tapi lu tidur di sofa, gak ada jatah kasur!"

​Elzio menyunggingkan seringai tampannya, menggandeng tangan Clara masuk ke dalam mobil. "Kita lihat saja berapa lama kamu tahan membiarkan saya tidur di sofa, Clara."

1
umie chaby_ba
mampir thor..🙏
Ariska Kamisa: terimakasih banyak kak 🙏🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!