Arthur, mantan mafia yang tampan dan keren, masih terjebak dalam kenangan bersama Rose, pacarnya di kelompok mafia yang sama. Setelah putus, Arthur tidak bisa move on dan menjadi dingin terhadap perempuan lain. Namun, pelayan kakaknya, Esme, diam-diam menyukai Arthur dan berharap suatu hari bisa mendapatkan hatinya.
Kehidupan Arthur berubah ketika ia bertemu dengan Maureen, seorang perempuan yang ceria dan penuh semangat. Maureen tidak tahu latar belakang Arthur sebagai mantan mafia, dan Arthur tidak ingin memberitahunya. Apakah Arthur bisa melupakan Rose dan jatuh cinta dengan Maureen? Atau apakah Esme akan mendapatkan kesempatan untuk memenangkan hati Arthur?
Apakah Arthur akan mengikuti hatinya atau tetap terjebak dalam masa lalu? 🤔😊
Novel baru othor menceritakan tentang Arthur adiknya Adelle dari novel 'transmigrasi menjadi ibu muda yang tangguh'.
Jangan lupa mampir dan kasih dukungan ya teman-teman..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Maureen
Esme mengeluarkan semua barang yang ada di laci kamar Arthur sesuai perintah Arthur sebelumnya. Beberapa barang seperti kertas-kertas faktur pembelian barang, obat yang masih tersisa beberapa butir serta rokok yang berceceran ia masukkan ke dalam plastik sampah.
Saat membersihkan laci paling bawah ia menemukan sebuah kotak perhiasan dan membukanya. Rupanya di dalamnya ada sebuah kalung dengan liontin batu Rubi berwarna merah berbentuk persegi.
"Ya ampun, sepertinya Tuan Arthur lupa jika ada barang seperti ini di laci. Aku harus memberikan padanya," kata Esme lalu meletakkannya diatas nakas dan melanjutkan pekerjaannya.
Arthur keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk di pinggangnya. Bertepatan dengan Esme yang berdiri dan berbalik badan. Matanya melotot melihat Arthur yang sudah berdiri tepat di depannya dengan bertelanjang dada. Tetesan air dari rambutnya menambah ketampanan pria yang sudah lama ia sukai dalam diam.
"Tuan.." gugup Esme namun pandangannya tidak teralihkan dari sosok Arthur.
"Ada apa ?" tanya Arthur memicingkan matanya.
Esme menggelengkan kepalanya. Ia kesulitan menelan salivanya sendiri.. Kakinya juga terasa lemas seperti jeli.
"Aku menemukan ini di laci. Mungkin kau lupa jika menyimpan nya disana," kata Esme mencoba mengembalikan kewarasannya. Tidak baik bagi mata sucinya terlalu lama memandangi tubuh kekar seorang pria.
"Bukankah aku sudah menyuruhmu membuang semua barang disana. kenapa masih memberikannya padaku ?" tanya Arthur dingin saat matanya menatap kotak perhiasan dari kayu itu.
"Tapi ku pikir ini barang berharga. Jadi aku tidak membuang nya," cicit Esme dengan sedikit takut. Matanya berkedip-kedip menatap Arthur. Arthur tertawa kecil saat melihat itu.
"Jika kau mau ambil saja," kata Arthur lalu kembali berjalan melewati Esme dan mengambil rokoknya.
"Wah, apa kau bersungguh-sungguh Tuan ? ini sangat bagus. Maaf tadi aku membukanya. Dan ini tentu saja mahal kan ?" kata Esme mengikuti langkah Arthur.
"Kau tidak sayang memberikan ini padaku ?" tanya Esme yang masih tidak percaya.
"Iya, ambil saja" jawab Arthur enteng. Lalu ia menyalakan rokoknya hingga asapnya membuat Esme terbatuk-batuk.
"Pergilah, nanti kau pingsan karena terkena asap" usir Arthur.
Esme mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Ia segera berlalu dari kamar Arthur dan tidak lupa membawa kantung sampahnya.
Setelah Esme pergi, Arthur pergi kearah balkon dan menikmati rokoknya. Dari sana ia melihat jalanan kota yang begitu padat. Banyak kendaraan berlalu-lalang dan nampak kecil.
Arthur memiliki usahanya sendiri yaitu tempat gym yang sudah memiliki banyak member di beberapa tempat. Ia juga menjadi instruktur jika ada member baru yang baru mulai berolahraga.
Arthur menyukai pekerjaannya, ia menolak bekerja di balik meja yang memeras otaknya untuk berpikir.
Ia menghabiskan sisa rokoknya kemudian bersiap-siap akan pergi ke salah satu tempat gym nya.
..
Esme dalam perjalanan kembali ke mansion David dengan senyumnya yang tidak berhenti sejak tadi. Di tangannya ada kalung pemberian Arthur yang sangat berharga layaknya harta karun. Meskipun itu tidak bisa disebut sebagai pemberian secara langsung, namun Esme tetap menganggap Arthur lah yang dengan sadar menyerahkannya.
"Tuan Arthur, aku berdoa supaya kita berjodoh," kata Esme di sepanjang jalan. Ia memutuskan berjalan kaki sekalian berolahraga meskipun jarak tempuhnya kurang lebih satu jam.
Ia memeluk rapat-rapat tas bahunya, menjaga isi di dalamnya tidak hilang. Wajahnya sungguh menyiratkan kebahagiaan.
Tit ... Tit... Tit...
Esme terkejut saat mendengar klakson mobil tepat berada di belakangnya. Rupanya Arthur yang melakukan itu dan sekali lagi, melihat Arthur membuat senyum Esme terbit kembali.
"Tuan Arthur..." sapa Esme.
"Kenapa berjalan kaki ? apa kau tidak mendapatkan taksi ?" tanya Arthur. Wajahnya tegas namun ada kelembutan disana. Matanya tertutup kacamata hitam yang menambah kadar ketampanannya.
"Tidak, aku hanya sekalian berolahraga. Kau akan pergi ?"
"Hem. Naiklah, aku akan mengantarmu," ajak Arthur. Namun Esme menolaknya. Ia memang menyukai Arthur, namun duduk bersamanya dalam satu mobil, bukankah itu suatu kelancangan ?
"Masuklah atau Kak Adelle akan marah padaku. Cepat, aku tidak mau mengulang perkataan ku lagi," seru Arthur agak keras. Esme mengangguk cepat lali berputar untuk duduk di kursi samping kemudi.
Arthur segera menjalankan mobilnya. Suara musik mengisi kekosongan dalam mobil yang diisi kediaman oleh dua orang itu.
Esme dengan debar jantungnya yang berdetak tidak normal sedangkan Arthur dengan pikirannya yang masih terisi penuh oleh wanita bernama Rose.
"Terima kasih, Tuan Arthur. Hati-hati dijalan, aku berdoa semoga semua urusan mu diberi kelancaran," kata Esme sebelum menutup pintu. Lalu ia keluar dan berlari kecil memasuki mansion David.
Arthur tertawa kecil melihat Esme. Perempuan muda itu bersikap seperti anak kecil saja.
Tidak memikirkan tingkah Esme, Arthur kembali melajukan mobilnya menuju tempat gym nya. Ia memiliki beberapa karyawan yang membantunya mengelola usaha tersebut jika dirinya tidak datang.
Sampai di sebuah lampu merah, Arthur menghentikan mobilnya. Tapi tiba-tiba ia merasakan mobilnya di tabrak dari belakang hingga kepalanya terbentur dasboard.
"Sial, apa dia tidak punya mata" umpat Arthur sangat kesal. Ia keluar dari mobilnya dengan amarahnya yang berada di ubun-ubun. Bagaimana tidak, baru dua hari yang lalu ia mereparasi mobilnya hingga puluhan juta dan sekarang ada yang menabrak mobil tersebut.
Hal pertama yang Arthur lihat adalah kondisi belakang mobilnya yang ringsek. Benar-benar parah. Dan kondisi mobil depan si penabrak itu juga tidak kalah mengenaskan nya.
"Keluar kau, apa kau memejamkan mata saat berkendara ?" teriak Arthur sembari mengetuk kaca mobil orang yang menabraknya. Sudah tau menabrak tapi masih diam saja di dalam mobil, pikir Arthur.
Lama Arthur mengetuk sampai akhirnya kaca jendela itu terbuka dengan perlahan. Nampak lah seorang wanita berambut pirang dengan wajahnya yang pucat entah sakit atau ketakutan.
"Dimana kau meletakkan matamu ? kau menabrak mobilku tapi masih diam saja," kata Arthur berkacak pinggang.
"Turun, dan lihatlah perbuatan mu..." kata Arthur lagi sembari menunjuk pada mobilnya.
"Maaf aku tidak sengaja. Aku tidak memperhatikan jalan tadi. Tenang saja, aku akan bertanggung jawab," jawab wanita itu dengan wajah yang seperti menahan sakit.
Arthur terdiam menatap wanita itu. Ia membuka kacamatanya dan melongok lebih dalam kearah mobil dan betapa terkejutnya Arthur, melihat wanita itu bersimbah darah di area perutnya. Sebelah tangan wanita itu menahan perutnya, mungkin menutup lukanya agar darah tidak terus keluar.
"Kau terluka, ada apa ?" tanya Arthur mencoba membuka pintu mobil.
"Aku di tusuk orang. Aku mau ke Rumah Sakit. Tolong aku, ini rasanya sakit sekali," wanita itu berkata dengan lemah dan wajahnya semakin pucat. Ia juga mengatakan jika pandangannya mulai buram dan berkunang-kunang.
Arthur menoleh kesana-kemari, ia melihat seorang pria dan menyuruh pria itu untuk membawa mobilnya ke bengkel. Tidak lupa Arthur memberikan bayaran yang banyak di sertai ancaman agar tidak melarikan mobilnya.
"Aku akan mengantarmu ke Rumah Sakit. Bertahanlah," kata Arthur dengan perlahan memindahkan tubuh wanita itu ke kursi di samping kemudi.
"Siapa namamu ?" tanya Arthur saat mobil sudah berjalan.
"Maureen.. Maureen Alain. Kau bisa menghubungi nomor ini jika ..." ucapan Maureen terhenti bersamaan ia yang pingsan dengan menggenggam kartu nama Shane.
...
Teman-teman, ada yang ingat ngga dulu othor ngasih umur berapa buat Esme ?
Komennya di tunggu ya...🥰
kejutan besar..
pantesan moses langsung ngeklik saat ngurus enzźoo
😍😍👍👍💪
🤣😍😍🙏💪
😍😍🙏💪💪
❤❤❤💪💪😍😍😍
😍😍❤❤💪💪
yg mau ketemu istri ...
😄😄😍😍❤❤💪💪
gak usah ketemulah irang masih ada anak mantan
😍😍❤💪💪💪💪
😄😄😍❤❤💪