NovelToon NovelToon
Overtime With My Enemy

Overtime With My Enemy

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:436
Nilai: 5
Nama Author: Satisuci Ituaku

Aku membenci Damar Wijaya sejak hari pertama bekerja. Bagiku, dia adalah atasan paling menyebalkan yang pernah ada—dingin, arogan, dan selalu mengkritik setiap pekerjaanku.
Sayangnya, sebuah proyek besar memaksa kami lembur bersama setiap malam.
Semakin sering kami bertemu, semakin sulit bagiku mempertahankan kebencian itu. Di balik sikapnya yang menyebalkan, ada sisi Damar yang tidak pernah kulihat sebelumnya.
Namun saat aku mulai membuka hati, sebuah rahasia besar terungkap dan mengubah segalanya.
Bagaimana jika pria yang paling kubenci justru menjadi orang yang paling kucintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Satisuci Ituaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 : Rahasia yang Disembunyikan Bianca

Setelah pertemuan di ruang direksi, suasana kantor berubah drastis.

Tidak ada lagi yang berani membicarakan Nara secara terang-terangan.

Setidaknya tidak di depannya.

Karena semua orang tahu satu hal.

Damar Wijaya baru saja membela Nara di depan para petinggi perusahaan.

Dan itu bukan sesuatu yang bisa dianggap remeh.

Namun meski keadaan tampak lebih tenang, Nara justru merasa tidak nyaman.

Ucapan Damar di koridor terus terngiang di kepalanya.

"Aku tidak suka melihatmu disakiti."

Kalimat sederhana itu berhasil menghancurkan pertahanan yang selama ini ia bangun.

---

Pagi itu Nara datang lebih awal.

Ia berharap bisa menenangkan pikirannya dengan bekerja.

Namun saat baru menyalakan laptop, sebuah amplop cokelat sudah tergeletak di atas mejanya.

Tanpa nama pengirim.

Tanpa keterangan apa pun.

"Apa ini?"

gumamnya.

Siska yang baru datang ikut mendekat.

"Mungkin surat cinta."

"Mimpi."

jawab Nara.

Namun entah kenapa, firasat buruk langsung muncul.

---

Perlahan ia membuka amplop tersebut.

Dan dalam hitungan detik, wajahnya memucat.

Isi amplop itu adalah beberapa lembar fotokopi dokumen lama.

Dokumen yang sangat dikenalnya.

Dokumen yang tidak pernah ingin ia lihat lagi.

---

"Nara?"

Suara Siska terdengar cemas.

Namun Nara tidak langsung menjawab.

Tatapannya terpaku pada satu nama.

Nama ayahnya.

Dan sebuah berita lama.

Berita yang sudah bertahun-tahun terkubur.

---

"Ayah Polisi Diduga Terlibat Kelalaian Operasi."

Tangan Nara langsung bergetar.

---

"Itu apa?"

tanya Siska.

Nara buru-buru memasukkan kembali semua dokumen ke dalam amplop.

"Tidak ada."

"Nara."

"Aku bilang tidak ada."

Untuk pertama kalinya, nada suaranya terdengar keras.

Membuat Siska terdiam.

---

Namun masalah belum selesai.

Karena beberapa menit kemudian.

Bisikan mulai terdengar lagi.

Kali ini berbeda.

Jauh lebih buruk.

---

"Kamu sudah lihat?"

"Iya."

"Ternyata ayahnya pernah terlibat kasus."

"Pantas saja."

"Kupikir dia berasal dari keluarga biasa."

Jantung Nara terasa diremas.

Bagaimana mereka bisa tahu?

Siapa yang menyebarkan ini?

---

Tanpa sadar, pandangannya menyapu seluruh ruangan.

Dan berhenti pada satu orang.

Bianca.

Wanita itu sedang berdiri di dekat jendela.

Memegang secangkir kopi.

Dengan senyum kecil di wajahnya.

Senyum yang langsung memberi jawaban.

---

"Kamu."

gumam Nara.

---

Siang harinya.

Nara akhirnya tidak tahan.

Ia langsung mendatangi Bianca.

"Ikut aku."

ucapnya dingin.

Bianca mengangkat alis.

Namun tetap mengikuti.

---

Mereka berhenti di area tangga darurat yang sepi.

Begitu pintu tertutup.

Nara langsung menatap Bianca tajam.

"Kamu yang menyebarkan itu?"

Bianca terlihat santai.

"Aku tidak tahu maksudmu."

"Jangan bohong."

Nara mengeluarkan amplop cokelat dari tasnya.

"Ini."

Senyum Bianca perlahan muncul.

"Ah."

Hanya satu kata.

Namun cukup sebagai pengakuan.

---

"Kenapa?"

tanya Nara.

Bianca menyilangkan tangan.

"Karena orang berhak tahu kebenaran."

"Itu bukan kebenaran."

balas Nara.

"Itu berita yang dipelintir."

---

Tatapan Bianca berubah dingin.

"Sungguh?"

"Ayahmu tidak terlibat kasus itu?"

Nara mengepalkan tangan.

"Tidak."

jawabnya tegas.

"Beliau justru menjadi kambing hitam."

---

Beberapa tahun lalu.

Saat ayah Nara masih menjadi polisi.

Terjadi sebuah operasi besar yang gagal.

Seorang pejabat berpengaruh saat itu membutuhkan seseorang untuk disalahkan.

Dan ayah Nara menjadi korbannya.

Meski kemudian terbukti tidak bersalah.

Nama baiknya sudah telanjur rusak.

---

Namun sebelum semuanya bisa diperbaiki.

Ayahnya meninggal dunia.

Meninggalkan luka yang tidak pernah benar-benar sembuh.

---

"Kalau begitu kenapa kamu tidak pernah menceritakannya?"

tanya Bianca.

Nara tertawa pahit.

"Karena itu bukan urusan siapa pun."

---

Bianca melangkah mendekat.

"Sayangnya sekarang itu menjadi urusan banyak orang."

jawabnya.

"Terutama karena kamu berada dekat dengan Damar."

---

Untuk pertama kalinya.

Nara benar-benar marah.

Bukan marah biasa.

Melainkan kemarahan yang selama ini ia tahan.

---

"Jangan bawa ayahku ke dalam permainanmu."

ucapnya.

Suara Nara terdengar rendah.

Namun penuh tekanan.

---

Bianca sempat terdiam.

Karena untuk pertama kalinya ia melihat kemarahan murni di mata Nara.

Namun wanita itu tidak mundur.

"Aku hanya melindungi seseorang yang penting bagiku."

ucap Bianca.

---

"Dengan menghancurkan orang lain?"

balas Nara.

"Terdengar sangat mulia."

---

Pintu tangga darurat tiba-tiba terbuka.

Keduanya langsung menoleh.

Dan membeku.

Damar berdiri di sana.

---

Pria itu melihat Nara.

Lalu Bianca.

Kemudian amplop cokelat di tangan Nara.

Tatapannya langsung berubah dingin.

Sangat dingin.

---

"Ada yang ingin menjelaskan?"

tanya Damar.

---

Bianca mencoba tersenyum.

Namun kali ini senyumnya terlihat dipaksakan.

"Damar, aku hanya—"

"Cukup."

potong Damar.

Suasana langsung membeku.

---

Nara belum pernah mendengar nada suara seperti itu sebelumnya.

Bahkan saat marah.

Bahkan saat rapat penting.

---

Damar mengambil amplop dari tangan Nara.

Membaca beberapa lembar dokumen.

Lalu perlahan mengangkat kepala.

---

"Kamu menyebarkan ini?"

tanya Damar kepada Bianca.

---

Wanita itu terdiam.

Dan keheningan itu sudah menjadi jawaban.

---

Untuk pertama kalinya sejak mereka saling mengenal.

Kekecewaan terlihat jelas di wajah Damar.

---

"Aku mengenalmu sejak kecil."

ucapnya pelan.

"Dan aku tidak pernah menyangka kamu melakukan hal seperti ini."

---

Wajah Bianca langsung berubah.

Karena kemarahan bisa dilawan.

Tetapi kekecewaan jauh lebih menyakitkan.

---

"Damar."

panggilnya.

"Aku melakukan ini untukmu."

---

"Untukku?"

ulang Damar.

Pria itu tertawa kecil.

Namun tidak ada kehangatan dalam tawanya.

---

"Tidak."

jawabnya.

"Kamu melakukannya untuk dirimu sendiri."

---

Kalimat itu seperti tamparan.

Membuat Bianca kehilangan kata-kata.

---

Sementara Nara hanya berdiri diam.

Masih berusaha mencerna semuanya.

---

Damar kemudian menoleh kepadanya.

Tatapannya langsung berubah lebih lembut.

"Ayo."

ucapnya.

---

Nara berkedip.

"Hm?"

---

"Kita keluar dari sini."

jawab Damar.

---

Dan tanpa sadar.

Untuk pertama kalinya.

Nara mengikuti langkah pria itu tanpa protes.

Meninggalkan Bianca sendirian di tangga darurat.

---

Namun saat pintu tertutup.

Bianca mengepalkan tangannya erat.

Matanya memerah.

Bukan karena sedih.

Melainkan karena marah.

---

Karena rencananya gagal.

Karena Damar memilih membela Nara lagi.

Dan karena untuk pertama kalinya.

Ia mulai kehilangan kendali.

---

Sementara itu.

Di luar gedung perusahaan.

Damar dan Nara berdiri dalam keheningan.

Angin sore berembus pelan.

---

"Aku minta maaf."

ucap Damar tiba-tiba.

---

Nara menoleh.

"Kenapa kamu yang minta maaf?"

---

"Karena semua ini terjadi akibat aku."

jawabnya.

---

Nara menggeleng.

"Bukan salahmu."

---

Keheningan kembali hadir.

Namun kali ini terasa berbeda.

Lebih dekat.

Lebih hangat.

---

Tanpa mereka sadari.

Dari kejauhan.

Seseorang sedang memperhatikan.

Seorang pria paruh baya yang baru turun dari mobil hitam mewah.

Tatapannya tertuju pada Nara.

Lama.

Sangat lama.

---

Lalu ia tersenyum tipis.

Dan berkata pelan,

"Jadi... ini putri Arman yang selama ini kucari."

---

Bersambung ke Bab 22

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto: sama2 👌👍
total 2 replies
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Satisuci Ituaku: mksih kk sudah mampir🙏🙏🙏
total 1 replies
Tys Azka
kok selalu hujan sih
Satisuci Ituaku: iy kak biar romantis ala2
mksih kk udh mampir 🙏🙏
total 1 replies
anggita
like👍iklan☝, Nara.. Damar.
Satisuci Ituaku: Terima kasih sudah mampir kk
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!