NovelToon NovelToon
Secangkir Macchiato

Secangkir Macchiato

Status: tamat
Genre:Kehidupan Tentara / Single Mom / Hamil di luar nikah / Bullying dan Balas Dendam / Fantasi Wanita / Konflik etika / Tamat
Popularitas:50k
Nilai: 5
Nama Author: Aksara_dee

"Bang Akbar, aku hamil!" ucap Dea di sambungan telepon beberapa Minggu lalu.
Setelah hari pengakuan itu, Akbar menghilang bagai di telan bumi. Hingga Dea harus datang ke kesatuan kekasihnya untuk meminta pertanggungjawaban.
Bukannya mendapatkan perlindungan, Dea malah mendapatkan hal yang kurang menyenangkan.
"Kalau memang kamu perempuan baik-baik, sudah pasti tidak akan hamil di luar nikah, mba Dea," ucap Devan dengan nada mengejek.
Devan adalah Komandan Batalion di mana Akbar berdinas.
Semenjak itu, Kata-kata pedas Devan selalu terngiang di telinga Dea dan menjadi tamparan keras baginya. Kini ia percaya bahwa tidak ada cinta yang benar-benar menjadikannya 'rumah', ia hanyalah sebuah 'produk' yang harus diperbaiki.
Siapa sangka, orang yang pernah melontarkan hinaan dengan kata-kata pedas, kini sangat bergantung padanya. Devan terus mengejar cinta Dealova.
Akankah Dealova menerima cinta Devan dan hidup bahagia?
Ikuti perjalanan Cinta Dealova dan Devan hanya di NovelToon.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara_dee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 : Malam Tragedi

"Gerakan dua, Tancep... ji, ro, lu. Ngleyek... Ji, ro, lu. Ngoyok... Ji, ro, lu... !" teriak Larasati memberi arahan saat latihan tari klasik gaya Jogjakarta.

("Gerakan dua, Berdiri sempurna, satu, dua, tiga. Lanjut miring kanan dengan halus... Satu, dua, tiga. Miring ke kiri... Satu, dua, tiga.)

Napas Dea masih terengah saat menghampiri Larasati, "nyuwun ngapura mba, aku telat," ucap Dea masih dengan napas tersengal.

Larasati melirik jam di pergelangan tangannya, "wes telat lima menit, tak hukum kamu Dea... Ngepel aula sampe bersih. Kamu itu inti di team, masih aja berani telat datang," sungut Laras dengan wajah tegas.

"Ngapunten mba."

"Wes sana cepat bergabung!" perintah Laras.

"Heh! Aku yang cuma cadangan aja datang lebih dulu, buatin mba Laras minuman dan bawain cemilan untuk mba Laras. Lah kamu... " sindir Liya, kesombongan mengintip dari kata-katanya.

Dea hanya diam tidak membalas dan merespon tatapan sinis atau apapun yang disindir rekan-rekannya.

"Sudah! Ojo koyo ning pasar, mingkem , tubuh dan tangan kalian yang bergerak!" tegur Laras.

Laras terus membandingkan gerak gemulai masing-masing murid binaannya, mau dijatuhkan seperti apapun Dea... Laras mengakui, gerakan Dea jauh lebih menonjol dari semua muridnya, tidak ada keraguan untuk tetap mengirim Dea pada acara pembukaan Asean games di Jakarta.

Tarian terus berlangsung hingga beberapa gerakan terlihat sempurna. Laras memberi waktu istirahat lima menit untuk para murid membasahi tenggorokannya. Liya menghampiri Laras dengan wajah penuh harap.

"Mba, mending aku yang dikirim ke pembukaan Asean games, Dea itu nggak bisa komitmen dan selalu telat."

"Keputusan ini bukan hanya dariku Liya, tapi dari koreografer acara yaitu mas Eko Supriyanto. Mereka yang menunjuk Dea langsung saat video aku kirimkan padanya. Dea akan menari di acara makan malam resmi para duta besar."

"Tapi mba, aku juga kepingin lho mba, jenengan sadulurku tapi malah milih orang lain," rengek Liya.

Laras melipat tangannya di atas dada memberi bombastis side eyes, "kamu ngaku saudara kalau ada butuhnya aja, dan kamu belum mengenal aku ternyata ya... " Laras lantas berdiri dan mengambil siap sempurna di depan murid-muridnya.

Prok prok

"Istirahat selesai! Latihan gerakan sembilan," teriak Laras setelah memanggil muridnya dengan tepukan tangan. "Dea kamu bergeser ke sebelah kanan untuk latihan tarian lain."

Mengambil lima langkah, Dea sudah di posisi yang dimaksud Laras. Tanpa di suruh, Dea langsung mengolah tubuhnya dengan tarian ronggeng Jakarta untuk persembahan tarian kolosal.

Malam Tragedi

Tubuhnya terasa remuk setelah seharian aktivitas, saat Dea menginjakkan kakinya ke di halaman rumah, ia sadar ada sesuatu yang lain di rumah mama dan papa tirinya. Rumah itu terlihat ramai dengan beberapa mobil terparkir. Namun, ia tetap memasuki rumah bernuansa klasik itu.

"Selamat malam... " sapa Dea saat melewati ruang keluarga.

Semua mata tertuju kepadanya. Dini lalu berdiri sambil mengulas senyuman, "Dea sini dulu."

Dea menghentikan langkahnya, lalu berbalik menatap ke arah mamanya, sekilas ia melirik beberapa empat orang pemuda sedang duduk berjajar di depan papa tirinya.

"Perkenalkan ini anak mama, maaf baru mengenalkan pada kalian, selama ini Dea tinggal bersama nenek dari papanya di Kalimantan. Setelah neneknya meninggal mama harus membawa Dea ke sini, karena papa Dea sudah lama meninggal jadi cuma mama yang Dea punya sekarang."

"Dea juga anak papa, kalian anggap Dea sebagai adik kalian juga," kata papa Syam.

Seorang pemuda berdiri berpakaian seragam sebuah sekolah kedinasan mengulurkan tangannya, "perkenalkan dek, aku Harry. Anak papa Syam pertama."

"Dea."

Seorang pemuda lagi berdiri, "Aku Harly!" ucapnya dengan cengkraman tangannya begitu erat.

"Dea."

"Mereka kembar Dea, sejak kecil mereka bagai pinang dibelah dua. Tidak pernah terpisah hingga masuk sekolah perguruan tinggi pun mereka harus bersama," ucap papa Syam.

"Dan, dua orang itu teman-teman kami. Kamu mau kenalan?" tanya Harry sambil menaikkan alisnya.

"Aku Ardan."

"Aku Naga, tapi bukan Nagabonar ya," canda Naga dengan dimple menghias senyumannya seperti penyanyi Afgan.

Dea hanya mengangguk dan memberi senyum tipis pada semuanya.

"Dea sini duduk dekat papa," ajak Syam.

"Aku di sini saja, Pa." tolak Dea dengan lembut.

Sudah satu tahun tinggal bersama mamanya, Dea memang belum bisa akrab dengan papa tirinya. Sekarang ditambah lagi kehadiran dua orang saudara tiri yang sejak kedatangannya selalu menatapnya dengan tatapan... lapar.

Sama halnya dengan tatapan papa Syam ketika hanya berduaan dengan Dea saat mamanya tidak ada di rumah.

"Kami bisa hidup akur Dea, aku dan mamamu bisa bersahabat, meskipun aku mantan istri dari Syam. Aku harap, kamu juga bisa akrab dengan kedua putraku," ucap Bu Dona sambil mengulas senyuman.

"Iya Tante." Dea menganggukkan kepalanya.

"Jangan panggil Tante dong, panggil mama Dona sayang... " Mama meralat ucapanku.

Sejak dulu Dea tidak suka dengan persahabatan mamanya dengan Bu Dona, ada sesuatu yang mereka sembunyikan dari semua orang dan hanya Dea yang tahu. Namun, Dea tidak bisa berbuat banyak karena saat ini ia masih hidup bergantung pada mama dan juga papa tirinya.

Makan malam berjalan dengan keheningan, hanya denting alat makan terdengar lembut menjadi melodi. Makan malam yang sangat kaku, khususnya bagi Dea. Setelah membantu merapihkan alat makan dan sisa masakan, Dea naik ke lantai dua untuk segera membersihkan diri dan beristirahat.

Di dalam kamar, ia menata kembali isi koper yang akan dibawanya ke jakarta besok lusa. Acara pembukaan Asean games satu Minggu lagi, namun ia harus sampai sebelum acara gladi kotor dan gladi bersih dilaksanakan.

Setelah semua selesai, ia beranjak ke cermin untuk memakai krim wajah dan racikan penghalus kulit yang biasa dibuatkan almarhum neneknya, ramuan khas Kalimantan buatan neneknya sudah turun temurun bermanfaat untuk menghaluskan kulit.

Berjalan ke jendela, Dea melihat kedua Kaka tirinya masih di teras bersama kedua temannya. Harry mengangkat wajahnya ke atas dan melambaikan tangan ke arah Dea. Lalu Ardan dan Harly mengangkat gelas kecil ke arah Dea seakan mengajak Dea untuk cheers jarak jauh. Di meja teras sudah berserakan botol-botol minuman keras dan makanan ringan.

Dea mengalihkan pandangannya ke langit, termenung di pinggir jendela. Dia tersenyum tipis menatap langit yang ditaburi bintang dan rembulan yang menyala dengan bentuk sempurna. "Papa, Ambuy... Dea kangen kalian. Mama sudah bahagia bersama suami barunya, tapi mengapa hati Dea tidak bisa menerimanya, Pa... Mbuy. Dea tidak bisa merasakan kebahagian di sini," ucapnya lirih.

Jam 23.00 Dea baru bisa memejamkan matanya, entah mengapa sejak tadi perasaannya gelisah dan di hantui perasaan was-was yang berlebihan... tidak ia mengerti, bahwa itu adalah sebuah pertanda bahwa musibah terburuk akan ia alami dan akan merubah jalan hidup selanjutnya.

Menjelang pagi tidur Dea terusik dengan gerakan di kasurnya, tubuhnya terasa bergoyang-goyang, di kala matanya masih belum sempurna terbuka. Ia melihat sebuah bayangan begitu dekat dan menindih tubuhnya dengan aroma minuman keras yang khas.

Mata Dea membulat saat ia merasakan kedua tangannya terikat di kepala ranjang dan kakinya ditindih sesuatu. Di depan wajahnya, sebuah kepala terbungkus topeng dengan kedua mata memerah sedang menatapnya dengan tatapan gelap. Dea berteriak, namun mulutnya sudah ditutup lakban dengan ketat.

Airmatanya terus mengalir memohon pertolongan, tatapan matanya terus memohon agar dilepaskan, ia terus berontak, menendang, dan berhasil! Sang pelaku terjungkal jatuh dari ranjang.

Merasa kesal karena bahunya di tendang Dea dengan begitu kencang, pelaku menarik tubuh Dea dengan kasar. Dea terus bergerak agar kakinya tidak dikunci oleh si pelaku, namun semua usahanya gagal.

Pelaku terus memberi cumbuan di sekitar wajahnya, turun ke leher dan dadanya hingga pelaku berhasil meloloskan pakaian yang membungkus bagian bawah Dea dengan begitu mudahnya. Perasaan asing terus timbul seiring dengan rasa marah yang tidak mampu ia luapkan.

Perasaan itu bercampur saling tumpang tindih, antara penolakan yang kuat dengan keinginan yang terasa samar. Dea tidak mengerti mengapa tubuhnya merespon seperti ini, satu hal yang ia tahu. Ia terluka atas pelecehan ini.

Dea sudah kehabisan tenaga untuk melawan. Airmata semakin mengering dengan keberanian yang kian menghilang.

Pelaku berhasil memasukinya dengan paksa, Dea menjerit sekuat tenaga yang tersisa meskipun ia tahu, itu hanyalah sia-sia. Lakban yang membelit di wajahnya tidak mengendur sama sekali. Dea menatap nanar mata yang mengibarkan bendera kemenangan.

Mata itu tertawa diiringi dengan desahan yang terus memburu dengan gerakan tubuhnya yang intens. Tatapan memohon di manik mata Dea bagaikan sebuah pil afrodisiak bagi pelaku, ia semakin mempercepat gerakannya hingga...

Kesadaran Dea menghilang.

Malam itu ada sesuatu yang retak di tubuh dan hatinya, sebuah luka baru yang tumbuh di atas luka yang telah ada.

1
iqbal nasution
tamat juga...👍👍
Aksara_Dee: terima kasih 🙏
total 1 replies
iqbal nasution
grup batak..
Aksara_Dee: maaf jika ada kesalahan penyebutan nama dan gelar 🙏
total 1 replies
Macarons Sakura
kesombongan mengintip dari kata-katanya ya thor 🤔
Aksara_Dee: seperti itulah ka🌹
total 1 replies
Ummu Shafira
Alhamdulillah sdh di ujung cerita..keren banget 😍😍 sukses selalu utk author nya, semoga ttp semangat buat cerita ² baru yg pastinya keren²😍😍
Ummu Shafira: insyaallah 😍😍
total 2 replies
Aquarius97 🕊️
pintar amat kau berkilah bang
Aksara_Dee: sdh terobsesi 🥺
total 1 replies
Aquarius97 🕊️
yah,, bar. tapi kalo Dea tau nya dari orang lain, dia bakalan sakit banget dan gak akan balik lagi lohhh
Aksara_Dee: Yah begitulah akbar ka, niat awalnya udah gak bener
total 1 replies
Dee
Ceritanya benar-benar menarik dan penuh emosi, dari awal sampai akhir selalu berhasil bikin penasaran. Salut buat Kakak yang bisa menyampaikan kisah dengan begitu hidup dan menyentuh. Semoga setelah ini makin banyak karya hebat lain yang lahir dari tanganmu👏👏
Aksara_Dee: terima kasih banyak kaa... sudah membersamai pertumbuhan karyaku ❤️❤️
total 1 replies
Dee
I'm so proud of both of you.. (Akbar&Devan)💖
Dee: Siaap, Kakak😎
total 4 replies
Dee
Untungnya Akbar mau menerima tawaran Devan itu. Dan menolak pengunduran diri Akbar
Dee: Betul sekali keputusan Devan👏🔥
total 3 replies
Dee
/Good//Heart/
Dee
Ngidam sosis Bugis tiap pagi,” katanya... Akbar: langsung auto keringat dingin, kalian emang pasangan paling niat bikin pembaca salah fokus. Jd ikutan gerah nih😂
Aksara_Dee: Wkwkwk
total 3 replies
Almeera
Horaaayyy selamat untuk karya terbaiknya yang telah selesai kak 🤗🤗🌹🌹
Aksara_Dee: terima kasih juga menjadi tempat curhat ternyaman, sahabat onlineku❤️❤️❤️
total 3 replies
Elisabeth Ratna Susanti
like plus 🌹🤗
Aksara_Dee: terima kasih kaka
total 1 replies
Elisabeth Ratna Susanti
oh oh siapa dia?
Aksara_Dee: ana ka 😅
total 1 replies
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
terima kasih untuk karya manisnya. 👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻
Aksara_Dee: siap kaa... vampire freak aku lagi edit dr bab 35 ka
total 3 replies
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
ending yang sangat manis. mmm. bara & adila tidak sedarah kan ya?
Aksara_Dee: hihihi aku malah mau jodohin sama anaknya nawang atau laras nih ka, next ya bikin konsepnya dl
total 3 replies
Dee
Congratulations Bilqis and Akbar🎉🎊
Aksara_Dee: makin berjaya kebahagiaan ❤️
total 1 replies
Dee
/Facepalm//Facepalm/
Aksara_Dee: udah gede tetep anak kecil di mata pak Jauhari, lanjutkan pak...😅
total 1 replies
Dee
Always send flowers for you, Thor💕
Dee: /Kiss//Kiss/
total 2 replies
Dee
waduh detail ini sih..🔥🔥🔥
Aksara_Dee: sengaja yg hot di taruh belakang ka😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!