NovelToon NovelToon
Top 1%

Top 1%

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri
Popularitas:550
Nilai: 5
Nama Author: Reyanza Rayyan Fahlevy

Nexus Academy bukan sekolah biasa. Hanya 1% siswa terbaik yang berhasil diterima setiap tahun. Dari lebih dari 120.000 pendaftar, hanya 600 siswa yang lolos melewati serangkaian tes yang hampir mustahil: tes logika ekstrem, simulasi kepemimpinan, wawancara psikologi, ujian ketahanan mental, hingga permainan strategi yang membuat ribuan peserta menyerah sebelum mencapai gerbang sekolah.
Mereka yang diterima disebut sebagai Elite One.
Namun tidak semua yang masuk mampu bertahan.
Setiap semester, siswa dengan nilai, etika, atau mental terburuk akan dikeluarkan tanpa kesempatan kedua. Di sekolah ini, tidak ada teman yang benar-benar bisa dipercaya. Tidak ada kemenangan tanpa pengorbanan dan tidak semua siswa jenius adalah orang baik. Sebuah rahasia yang membuat beberapa alumni menghilang tanpa jejak

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21: Asrama Putra

Koridor lantai empat puluh dua di blok asrama putra dirancang dengan estetika minimalis yang dingin. Dinding panel logam berwarna abu-abu baja memantulkan cahaya lampu neon yang berpendar stabil, menciptakan suasana yang terasa lebih mirip lorong fasilitas penelitian daripada tempat tinggal siswa. Di lantai ini, enam orang yang kini ditempatkan dalam satu kompartemen asrama besar Atharva, Gavin, Nareswara, Farel, Dimas, dan Raka baru saja tiba di depan pintu masuk utama.

Saat pintu geser otomatis terbuka, mereka disambut oleh ruang komunal berbentuk heksagon dengan enam unit kapsul tidur yang tertanam di dinding. Di tengah ruangan, terdapat meja hologram interaktif yang menampilkan peta aksesibilitas gedung.

Keheningan seketika menyelimuti ruangan. Tidak ada sapaan selamat malam atau basa-basi perkenalan.

Raka Elang, yang sejak awal tampak paling tidak nyaman berada di dekat siswa dari Sektor Bawah, langsung berjalan menuju kapsul tidur bernomor urut satu—posisi yang paling dekat dengan akses keluar. Ia melemparkan tas taktisnya dengan kasar ke atas kasur, lalu berdiri menghadap yang lain dengan tangan terlipat di depan dada.

"Aku tidak peduli dari distrik mana kalian berasal atau bagaimana kalian bisa sampai di sini," ujar Raka dengan nada angkuh, matanya menatap tajam ke arah Farel dan Dimas. "Tapi di ruangan ini, aku tidak ingin mendengar suara berisik atau melihat barang-barang berserakan dari Sektor Bawah yang mengganggu ketertiban. Mengerti?"

Farel yang sedang meletakkan tasnya di kapsul nomor empat tidak sedikit pun terpengaruh. Ia menoleh perlahan, menatap Raka dengan tatapan datar. "Ini adalah ruang komunal, Raka. Aturan akademi di buku panduan halaman lima belas menyebutkan bahwa privasi individu harus dihormati, namun area ini milik bersama. Kalau kamu ingin eksklusivitas, seharusnya kamu berdoa agar poinmu cukup untuk mendapatkan kamar suite di Sektor Atas."

Dimas menahan napas, khawatir ketegangan akan meledak saat itu juga. Ia memilih menyibukkan diri dengan memindai panel kapsul tidurnya, sementara Nareswara sibuk memperhatikan sistem sirkulasi udara di sudut ruangan.

"Udara di sini mengandung konsentrasi nitrogen yang sedikit lebih tinggi daripada standar lantai bawah," gumam Nareswara, tampak tidak memedulikan ketegangan antara Raka dan Farel. Ia mengetik sesuatu pada hologram di depannya, menyesuaikan tingkat oksigen dengan santai. "Mereka sengaja melakukannya untuk menjaga tingkat konsentrasi tetap tinggi bahkan saat tidur. Efisien, tapi cukup melelahkan bagi tubuh dalam jangka panjang."

Atharva, yang sedari tadi berdiri diam di dekat jendela panorama yang memperlihatkan pemandangan kota Veridian di kejauhan, akhirnya berbalik. Ia tidak terlibat dalam perdebatan maupun analisis teknis. Kehadirannya sendiri seolah memancarkan aura yang memaksa orang lain untuk berhenti berbicara.

Gavin Arsenio, yang berada di sudut ruangan, hanya mengamati semuanya dari balik kacamata taktisnya. Ia adalah tipe pengamat yang serupa dengan Atharva, namun dengan intensitas yang lebih tersembunyi.

"Kalian tidak perlu membuang energi untuk berdebat," suara Gavin memecah keheningan dengan nada dingin yang presisi. "Besok jam enam pagi, sistem akan melakukan sinkronisasi peringkat harian. Jika kita terus membuang energi untuk perseteruan internal, peringkat kita akan turun sebelum matahari terbit. Itu adalah cara termudah untuk menjadi kandidat eliminasi semester depan."

Raka mendengus, namun ia memilih tidak melanjutkan argumennya. Ia tahu Gavin benar. Atharva pun mengangguk kecil, mengakui peringatan tersebut tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.

Malam pertama di asrama itu terasa begitu panjang. Meski mereka kini berada dalam satu atap, jarak di antara keenamnya terasa seperti jurang yang dalam. Atharva merebahkan diri di dalam kapsul tidurnya, menutup tirai privasi siber, dan memejamkan mata. Namun, di dalam kesunyian yang menekan itu, ia tahu bahwa malam ini adalah jeda singkat sebelum badai kompetisi yang jauh lebih brutal dimulai esok pagi. Tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar tidur; masing-masing terjaga, mendengarkan deru napas rekan satu ruangan yang kini, secara teknis, adalah rival terdekat mereka.

...****************...

Ketegangan itu tidak hanya terasa dari kata-kata, tetapi juga dari keheningan yang menyelimuti setiap sudut kapsul. Nareswara akhirnya berhenti menyentuh panel holografiknya. Ia duduk di pinggiran tempat tidurnya, menatap lurus ke arah Farel dan Raka yang masih saling mengunci pandangan.

"Kalian sadar, kan," Nareswara memulai dengan nada suara yang tenang namun bergetar karena rasa tidak nyaman, "bahwa dinding ruangan ini bukan sekadar beton? Ada sensor mikroskopis yang tertanam di balik cat dinding itu. Setiap desibel suara, setiap detak jantung yang meningkat, dan setiap pergerakan yang tidak wajar akan tercatat sebagai variabel 'stabilitas mental' di sistem pusat."

Raka mendengus kasar, lalu memutar tubuhnya membelakangi yang lain, menunjukkan ketidaksukaannya dengan mematikan lampu indikator di atas kapsulnya. Namun, ia tidak memejamkan mata. Ia justru menyalakan headset transparan di telinganya, membiarkan alunan musik digital yang terenkripsi memenuhi pendengarannya sebuah cara untuk menutup diri dari dunia luar.

Farel tetap berdiri, menatap loker kecilnya. Ia tahu bahwa perselisihan terbuka dengan Raka adalah langkah yang tidak cerdas. Ia menarik napas dalam, meredam emosinya, lalu mulai menyusun pakaian seragam cadangannya dengan rapi. Ia tidak butuh validasi dari siapa pun di ruangan ini, ia hanya butuh bertahan.

Di sisi lain ruangan, Dimas tampak kesulitan mengatur posisi tidurnya. Setiap kali ia memutar tubuh, bunyi gesekan kain kasur terasa seperti guntur di tengah keheningan yang pekat ini. Ia melirik Atharva yang sedari tadi membisu di dalam kapsulnya. Atharva adalah orang yang paling misterius di ruangan ini; dia tidak bersuara, tidak memprovokasi, namun kehadirannya terasa seperti gravitasi yang mendominasi seluruh isi ruangan.

Atharva, di dalam kapsulnya yang remang-remang, sedang tidak tidur. Matanya yang tajam menatap ke langit-langit kapsul, memetakan kembali denah lantai empat puluh dua yang ia lihat saat pertama kali masuk tadi. Ia menghitung jarak antara pintu kamar mereka dengan ruang kontrol keamanan di ujung koridor. Dalam kepalanya, ia sudah mensimulasikan setidaknya tiga skenario bagaimana rekan satu kamarnya ini akan bereaksi jika sistem tiba-tiba mengaktifkan alarm simulasi darurat tengah malam.

Gavin, yang sedari tadi bersandar di sudut, akhirnya melepaskan kacamata taktisnya. Ia menatap ke arah jendela panorama untuk terakhir kalinya sebelum menarik tirai siber. Cahaya lampu kota Veridian yang tadinya menerangi wajahnya perlahan hilang, menyisakan kegelapan total di dalam ruangan.

"Besok pagi," Gavin berkata pelan, suaranya nyaris seperti bisikan namun bisa didengar oleh semua orang, "bukan hanya peringkat yang akan dipertaruhkan. Tapi kepercayaan. Jangan biarkan satu pun dari kalian tertidur dengan lelap. Di Nexus, mereka yang lelap adalah mereka yang tidak akan pernah terbangun untuk melihat matahari di semester berikutnya."

Kata-kata Gavin menggantung di udara, berat dan dingin. Tidak ada jawaban. Tidak ada konfirmasi. Hanya detak jam digital di dinding yang seolah menghitung mundur sisa waktu mereka di dunia ini. Malam pertama bagi enam individu dengan ambisi, kecemasan, dan rahasia yang saling bertolak belakang itu pun berlanjut dalam ketegangan yang tidak terucap, di mana setiap napas di dalam ruangan menjadi peringatan bahwa mereka tidak lagi memiliki sekutu, melainkan hanya kompetitor yang berbagi atap yang sama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!