NovelToon NovelToon
Bad Boy X Good Girl (Musuh Jadi Cinta)

Bad Boy X Good Girl (Musuh Jadi Cinta)

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Scrpn

Bagi Aura, mahasiswa tingkat akhir penerima beasiswa penuh, hidup ini sederhana: belajar keras, lulus cepat, dan dapat kerja bagus demi menyembuhkan ibunya yang sakit. Dunia Aura diatur oleh jadwal kuliah yang ketat dan nilai IPK yang sempurna. Ia menjauhi segala bentuk masalah, termasuk Devan, mahasiswa jurusan hukum yang terkenal arogan, kerap bolos, dan selalu dikelilingi aura berbahaya. Devan adalah definisi nyata dari bad boy kampus yang harus dihindari.

Permusuhan mereka dimulai dari hal sepele—rebutan buku referensi langka di perpustakaan dan insiden kopi tumpah yang membuat Devan bersumpah akan membuat hidup Aura di kampus seperti neraka. Aura menganggap Devan tak lebih dari berandalan kaya yang manja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scrpn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Petir menyambar, membelah langit Kota Tua Jakarta yang pekat. Cahaya kilatnya menerangi pilar-pilar beton tua Gedung Bank Artha Wijaya, sebuah arsitektur kolonial yang tampak kokoh namun menyimpan kebusukan sistemik di dalamnya. Di bawah guyuran hujan yang kian menderu, pintu gerbang besi gedung tersebut hancur berantakan setelah dihantam oleh bumper baja mobil SUV komando Bratadikara.

Brak!

Suara benturan keras itu tenggelam di antara gemuruh badai. Sebelum alarm internal gedung sempat memekikkan peringatan, belasan personel taktis berjas hitam di bawah komando Bram telah merangsek masuk melalui lobi utama. Gerakan mereka begitu senyap, rapi, dan taktis—melumpuhkan lima penjaga internal bank dalam hitungan detik tanpa perlu melepaskan satu pun tembakan fatal.

Devanandra melangkah masuk menembus kepulan asap tipis dari engsel pintu yang jebol. Sepatu lars hitamnya meninggalkan jejak air di atas lantai marmer mengkilap. Di sampingnya, Aura Kirana berjalan dengan langkah yang konstan, memegang sabak digital dengan ekspresi wajah sedingin es. Tidak ada keraguan di mata cokelatnya; malam ini adalah malam dekonstruksi total terhadap sisa-sisa parasit masa lalu.

Mereka langsung bergerak menuju lantai bawah tanah, tempat di mana server master dan ruang kliring utama bank tersebut berada. Di sana, di balik dinding kaca tebal, tiga teknisi siber senior bersama seorang pria paruh baya berambut putih sedang panik menatap layar monitor yang terus memproses transaksi penjaminan fiktif untuk Vanguard Maritim.

Pria berambut putih itu adalah Hendra Mahendra, sepupu jauh dari mendiang faksi Mahendra yang dulu mengira dirinya telah aman bersembunyi di bawah kedok bisnis perbankan legal.

Klik.

Pintu akses elektronik ruang server terbuka paksa setelah Kenzo meretas sistemnya dari jarak jauh. Hendra Mahendra reflek berbalik, wajahnya seketika pucat pasi bagai mayat begitu melihat sosok Devanandra berdiri di ambang pintu.

"Devanandra... Bagaimana bisa kamu... Tempat ini tidak terdaftar atas nama keluarga Mahendra!" suara Hendra bergetar hebat, langkah kakinya mundur hingga membentur meja server.

Devan tidak langsung menjawab. Ia berjalan mendekat, setiap ketukan langkah kakinya terdengar seperti hitung mundur kematian di telinga Hendra. Devan menarik sebuah kursi besi, lalu mendudukinya dengan santai tepat di depan meja kendali, sementara kedua tangannya bertumpu pada gagang senjata taktis di pinggangnya.

"Nama di atas kertas bisa dimanipulasi, Hendra," suara bas Devan bergema rendah, sarat akan tekanan psikologis yang masif. "Tapi aliran darah pengkhianat di jaringan kliring ini memancarkan aroma yang sangat familier. Lima tahun lalu, gue membiarkan lo hidup karena lo berjanji untuk menjauh dari bisnis pelabuhan. Ternyata, lo memilih untuk menjadi anjing suruhan faksi Eropa untuk merusak rumah gue."

"Saya tidak punya pilihan, Devan! Vanguard mengancam akan membekukan seluruh aset kami di luar negeri jika kami tidak membantu mereka!" Hendra mencoba membela diri, keringat dingin bercucuran membasahi jenggot putihnya.

Aura melangkah maju, meletakkan sabak digitalnya tepat di atas kibor komputer utama yang sedang memproses transaksi short-selling. Layar sabak itu menampilkan draf Perintah Penghentian Administratif Mutlak yang telah ditandatangani secara digital oleh Gubernur Bank Sentral dan Ketua Otoritas Jasa Keuangan sepuluh menit lalu, berkat bukti otentik yang dikirimkan Kenzo.

"Alasan Anda tidak memiliki bobot hukum di hadapan pasal darurat stabilitas ekonomi nasional, Tuan Mahendra," ucap Aura, suaranya jernih, tajam, dan penuh dengan kepastian absolut. "Dalam waktu dua menit, seluruh izin operasional Bank Artha Wijaya resmi dicabut oleh negara. Transaksi penjaminan tiga triliun rupiah yang sedang Anda proses untuk Vanguard saat ini berubah status menjadi tindakan pendanaan sabotase maritim dan makar ekonomi."

Aura menatap tiga teknisi siber yang ketakutan di sudut ruangan. "Angkat tangan kalian dari papan ketik sekarang, atau kalian akan dicatat sebagai kaki tangan terorisme internasional dalam draf dakwaan yang saya kirim ke kejaksaan agung malam ini."

Mendengar ancaman hukum yang begitu presisi dari sang General Counsel, ketiga teknisi tersebut langsung mengangkat tangan mereka tinggi-tinggi, menjauh dari komputer.

"Kenzo, ambil alih servernya sekarang," perintah Aura melalui alat komunikasi nirkabel di telinganya.

"Selesai, Permaisuri!" suara Kenzo terdengar renyah dari Menara Bratadikara. "Akses master berhasil dikunci. Gue sedang membalikkan arus algoritma The Doomsday Protocol. Karena jaminan likuiditas dari Bank Artha Wijaya ini runtuh secara legal, seluruh transaksi penjualan kosong (short selling) mereka di bursa New York dan London otomatis dianggap sebagai transaksi ilegal tak berjaminan."

Kenzo menjeda kalimatnya, diikuti suara tawa puas yang melengking. "Efek dominonya dimulai, Ra. Sistem bursa internasional baru saja membekukan akun-akun robot milik Vanguard. Valuasi saham Bratadikara Group di pasar luar negeri langsung rebound naik dua puluh persen dalam waktu lima menit karena para investor menyadari bahwa kepanikan kemarin hanyalah manipulasi. Kita justru meraup keuntungan dari kegagalan margin mereka!"

Mendengar laporan Kenzo, Hendra Mahendra terduduk lemas di lantai semen ruang server. Segala taktik panjang, rumit, dan sistemis yang disusun oleh Vanguard Maritim selama berbulan-bulan runtuh total hanya karena satu serangan presisi di hulu finansial mereka yang berhasil dibongkar oleh analisis hukum seorang Aura Kirana.

Devanandra bangkit dari kursinya, berdiri menjulang di depan Hendra yang sudah tidak berdaya. Ia menunduk, menatap sisa-sisa musuhnya dengan pandangan mata elang yang tidak lagi memiliki ruang untuk belas kasihan.

"Bram, bawa pria ini dan seluruh dokumen fisiknya ke unit kejahatan keuangan Mabes Polri. Pastikan dia ditempatkan di sel isolasi yang sama dengan Jaksa Abraham. Biarkan mereka mendiskusikan draf masa depan mereka di balik jeruji besi seumur hidup," perintah Devan dingin.

"Siap, Tuan Muda. Operasi pembersihan selesai," Bram memberi hormat, lalu bersama timnya langsung menyeret Hendra Mahendra keluar dari ruang bawah tanah.

Pukul lima pagi, badai yang mengguyur Jakarta akhirnya benar-benar reda, menyisakan pemandangan langit subuh yang bersih dengan semburat warna biru tua dan jingga di ufuk timur. Di lantai lima puluh faksi eksekutif Menara Bratadikara, keheningan yang damai kembali bertahta.

Aura berdiri di tepi jendela kaca raksasa, menatap lampu-lampu kota Jakarta yang mulai padam satu per satu seiring terbitnya matahari. Blazer hitamnya telah digantung di kursi, menyisakan kemeja sutra putih yang lengannya sedikit digulung. Wajah cantiknya memancarkan kelelahan fisik yang luar biasa setelah terjaga selama hampir dua puluh empat jam, namun matanya memancarkan kepuasan dari seorang pemenang perang taktis yang mutlak.

Sepasang lengan kekar yang familier tiba-tiba melingkar hangat di sekeliling pinggangnya dari belakang. Devanandra menarik tubuh Aura bersandar sepenuhnya pada dada bidangnya, menenggelamkan wajahnya di antara helai rambut wangi cendana istrinya yang selalu menjadi obat penawar paling ampuh dari segala sisa ketegangan pertempuran.

"Semuanya sudah benar-benar bersih, Good Girl," bisik Devan lembut, suaranya yang berat bergetar penuh kehangatan khas seorang suami. "Kapal-kapal kita di Samudra Hindia sudah kembali mengaktifkan navigasi otomatis mereka. Otoritas internasional telah mencabut seluruh status peringatan setelah menerima draf pemulihan data dari lo. Kita memenangkan seluruh lini pertempuran ini."

Aura memegang tangan Devan yang bertato sulur hitam di perutnya, memejamkan mata sejenak menikmati detak jantung suaminya yang konstan memberikan rasa aman yang tak tergantikan. "Ini adalah konflik terpanjang yang pernah kita hadapi, Dev. Mereka menyerang sistem kita, keuangan kita, bahkan mencoba menyentuh Gavin. Tapi pada akhirnya, labirin yang mereka buat justru mengurung diri mereka sendiri."

Devan memutar tubuh Aura secara perlahan, membuat wanita itu kini menghadapnya seutuhnya. Di bawah siraman cahaya fajar keemasan yang mulai menerobos masuk melalui dinding kaca, ketajaman wajah tampan Devan melunak, dipenuhi oleh rasa kagum, cinta, dan pemujaan yang absolut kepada wanita di hadapannya.

"Gavin benar tentang metafora laba-laba itu, Ra," Devan tersenyum miring—sebuah senyuman penuh kebanggaan sejati yang selalu berhasil membuat jantung Aura berdebar. "Anak kita memiliki gen taktis yang luar biasa dari ibunya. Dia tahu kapan harus mengabaikan benang pengalih perhatian dan langsung mengincar induk musuh."

"Dia memiliki keberanian ayahnya, Devanandra," balas Aura tulus, menyentuh rahang tegas Devan dengan jemarinya yang hangat. "Dia tahu bahwa di belakangnya, ada seorang ayah yang siap meruntuhkan dinding apa pun untuk melindunginya."

Devan menangkup kedua pipi Aura dengan telapak tangannya yang besar, menatap langsung ke dalam sepasang mata cokelat jernih yang sepuluh tahun lalu ia temukan di perpustakaan Ganesha. "Terima kasih sudah menjadi arsitek hukum dari dinasti ini, Aura. Tanpa draf-draf perlindungan yang lo susun dengan kecerdasan lo, kekuatan fisik gue cuma akan menjadi senjata yang merusak. Lo yang membuat takhta ini berhak diwariskan kepada anak kita dengan bersih."

Aura tersenyum, air mata kebahagiaan yang hangat menggenang di sudut matanya. Ia mengalungkan kedua tangannya di leher tegap Devan, merasakan kedekatan batin yang telah menyatu melampaui segala bentuk kontrak kedaluwarsa di dunia.

"Dan terima kasih sudah menjadi ruang pelindung terbaikku, Tuan Muda," bisik Aura mesra. "Aturan main kita telah diuji oleh badai internasional terbesar, dan klausul cinta kita terbukti tidak akan pernah bisa didekonstruksi oleh faksi mana pun hingga akhir waktu."

Di bawah saksi bisu terbitnya matahari pagi Jakarta yang megah, memancarkan cahaya keemasan yang membelah sisa-sisa kegelapan malam, Devan menundukkan wajahnya, mengunci bibir Aura dalam sebuah ciuman yang mendalam, penuh gairah, dan sarat akan sumpah setia yang telah bertransformasi menjadi sebuah keabadian yang utuh. Kisah mereka yang dimulai dari lembaran konflik masa lalu, kini telah resmi berdiri sebagai sebuah mahakarya dinasti baru yang tak tertandingi—sebuah dinasti yang akan terus bersinar terang, membelah setiap kegelapan masa depan dengan kekuatan cinta, kecerdasan taktis, dan perlindungan hukum seumur hidup mereka.

1
Ical Habib
lnjut thor
🌷🌸 Clarissa 🌸🌷
aaaa sosweet nyaa, ihh salting Mulu bacanya nihh aaa baguss kali ceritanya tapi kok gak rame ya.. padahal seru gini loh/Scowl/
🌷🌸 Clarissa 🌸🌷
owhhh ternyata udahh nikahh, kukira pacaran loh tapi bagus lah langsung nikahh, ahhh bagusss dan seruu tauu ceritanya.. semangat!/Determined/
🌷🌸 Clarissa 🌸🌷
aaaa akhirnya jadii pasangan benerann, ihhh salting Mulu Weh liatnyaa.. lanjut terus Ampe tamat ya thorr, semangatt!/Determined/
🌷🌸 Clarissa 🌸🌷
awww lucuu mereka berduuaa, sosweet ihh akhirnyaaa Devan sadar sama perasaan nyaa /Grin/
🌷🌸 Clarissa 🌸🌷
aaaa seruu banget ceritanya/Scream/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!