NovelToon NovelToon
Diusir Jadi Pembantu, Dipinang Sang Mayor

Diusir Jadi Pembantu, Dipinang Sang Mayor

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua / Pengasuh / Menikahi tentara
Popularitas:68
Nilai: 5
Nama Author: Raven Ayu

Sepuluh tahun Arum jadi "calon menantu" keluarga Prasetyo. Nyatanya? Cuma pembantu tanpa gaji yang mencuci, memasak, dan menahan hinaan setiap hari.

Begitu Reyhan—putra keluarga itu—lulus dan kuliah di Jakarta, Arum langsung ditendang keluar. Alasannya satu: **"Kamu nggak sederajat lagi."**

Ia lalu dibuang ke rumah dinas Mayor Bramantyo Adiwangsa—**"Sang Macan"**, perwira berhati batu yang baru pulang terluka dari perbatasan. Konon tatapannya saja bikin prajurit menunduk. Arum pikir ia cuma akan jadi pengurus rumah biasa.

Tapi lelaki dingin yang katanya tak pernah melirik perempuan itu… malam demi malam menatapnya makin dalam.

Saat keluarga Prasetyo datang menghina, sang Mayor menendang pintu dan berdiri di depannya:
**"Di rumahku, dia orangku. Sentuh sehelai rambutnya, coba saja."**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raven Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1

Bab 1

Diusir dari Rumah yang Tak Pernah Jadi Rumahnya

"Pakai baju yang benar. Jangan cari perkara di depanku."

Suara lelaki itu akan menjadi kalimat pertama yang Arum dengar di rumah barunya. Namun, tiga jam sebelumnya, ketika matahari Malang masih menggantung panas di atas deretan rumah dinas, Arum bahkan belum tahu apakah malam nanti ia masih punya atap untuk berteduh.

"Bawa semuanya. Jangan ada barangmu yang tertinggal di rumah ini."

Bu Yatmi melempar tas kain kusam ke halaman. Debu tipis terangkat ketika tas itu jatuh di dekat sandal Arum.

Arum memandang tas tersebut. Dua potong baju lama, sebuah selendang peninggalan ibunya, dan kaleng kecil berisi uang receh yang ia kumpulkan bertahun-tahun. Seluruh hidupnya muat di dalam satu tas yang jahitannya sudah lepas di bagian pegangan.

"Ibu serius?" Suara Arum nyaris tak terdengar.

"Kamu masih perlu bertanya?" Bu Yatmi berkacak pinggang. "Reyhan kuliah di Jakarta. Teman-temannya anak orang berada, anak pejabat, anak pengusaha. Lalu kamu? Kamu pikir pantas berdiri di samping dia dengan pakaian seperti itu?"

Jari Arum mencengkeram ujung bajunya hingga kusut. Sejak berumur sepuluh tahun, ia bangun sebelum azan subuh untuk menanak nasi, mencuci seragam, menyapu rumah, dan menyiapkan bekal Reyhan. Delapan tahun ia memanggil perempuan di depannya Ibu. Delapan tahun pula ia percaya perjodohan lama itu membuatnya memiliki tempat di keluarga Prasetyo.

Ternyata tempat itu hanya ada selama tangannya masih dibutuhkan.

"Saya tidak pernah meminta Reyhan menikahi saya," ucap Arum pelan.

"Jangan sok punya harga diri!" Bu Yatmi mendengus. "Kalau bukan karena kami, kamu sudah jadi anak telantar sejak dulu. Kami memberimu makan. Kami memberimu tempat tidur."

Arum menahan pandangan pada lantai teras yang setiap pagi ia pel sendiri. Makanannya selalu sisa. Tempat tidurnya tikar tipis di samping dapur. Akan tetapi, tak satu pun kalimat itu keluar dari mulutnya.

Suara mesin jip terdengar dari depan rumah. Kapten Hartono turun dengan map tipis terselip di bawah lengan. Ia melihat tas di halaman, lalu istrinya, tanpa menunjukkan keterkejutan sedikit pun.

"Sudah beres?" tanyanya.

"Dia masih berdiri seperti patung," sahut Bu Yatmi. "Bilang sendiri padanya."

Hartono mengembuskan napas, seolah Arum adalah urusan kantor yang mengganggu waktu istirahatnya. "Arum, satuan sedang membutuhkan pengurus rumah untuk seorang perwira yang baru pulang dari operasi. Gajimu dibayar melalui koperasi. Kamu akan bekerja pada Mayor Bara di Blok C-3."

Arum mengangkat wajah. "Mulai kapan, Pak?"

"Hari ini."

"Hari ini?"

"Kamu sudah dewasa. Jangan terus bergantung pada kami." Hartono menatapnya tajam. "Anggap ini kesempatan membalas kebaikan keluarga Prasetyo. Saya yang mengurus penempatanmu."

Kalimat itu terasa ganjil. Mereka mengusirnya, lalu menyebutnya kesempatan. Mereka menghapus delapan tahun tenaganya, lalu masih menagih balas budi.

Bu Yatmi menyilangkan tangan di dada. "Mayor itu orang keras. Jangan bikin malu kami. Kalau kamu diusir juga dari sana, jangan kembali ke sini."

Arum menunduk dan mengangkat tasnya. Pegangannya langsung putus.

Kaleng uang receh menggelinding keluar. Tutupnya terbuka. Koin-koin kecil berserakan di halaman yang panas, memantulkan cahaya seperti ejekan.

Bu Yatmi melirik, lalu tertawa pendek. "Itu tabunganmu? Pantas saja kamu selalu terlihat miskin."

Arum berjongkok. Satu per satu ia memungut uangnya. Telapak tangannya kotor oleh debu, tetapi gerakannya tetap tenang. Saat mengambil koin terakhir di bawah kursi bambu, ia mendengar Hartono berbisik kepada istrinya.

"Jangan ribut. Yang penting dia jauh dari Reyhan sebelum anak itu pulang."

Arum berhenti sesaat. Hanya sesaat.

Ia memasukkan kaleng itu kembali, mengikat pegangan tas dengan ujung selendang ibunya, lalu berdiri. Matanya panas, tetapi ia menolak memberi mereka air mata yang mereka tunggu.

"Terima kasih untuk semuanya," katanya.

Bu Yatmi mengangkat dagu, puas mengira Arum masih tunduk.

Arum melangkah keluar tanpa menoleh lagi.

Pagar besi menutup di belakangnya. Suaranya pendek, keras, dan terasa seperti sebuah keputusan.

Di ujung gang asrama, aroma minyak goreng dan sambal keluar dari warung kecil Bu Inah. Perempuan tua itu sedang membungkus nasi ketika melihat Arum berjalan dengan tas yang diikat selendang.

"Nduk? Mau ke mana sore-sore begini?"

Arum mencoba tersenyum. "Saya dapat pekerjaan baru, Bu. Di Blok C-3."

Tangan Bu Inah yang memegang kertas nasi terdiam. "Rumah Mayor Bara?"

Arum mengangguk.

Bu Inah keluar dari warung, memandang ke arah rumah Prasetyo, lalu kembali menatap Arum. Kerutan di sudut matanya mendadak dalam. Ia mengenal gadis itu sejak kecil. Ia juga tahu siapa yang mencuci setumpuk pakaian keluarga Prasetyo saat tangan Arum masih terlalu mungil untuk memeras kain.

"Mereka mengusirmu?"

"Saya bekerja, Bu. Bukan diusir."

Bu Inah tidak membantah. Ia hanya menyelipkan sebungkus nasi hangat ke tangan Arum.

"Bawa ini. Ayamnya cuma sedikit, tapi sambalnya banyak."

"Saya tidak punya uang untuk membayar sekarang."

"Siapa minta dibayar?" Bu Inah berpura-pura kesal. Lalu suaranya turun. "Dengar, Mayor Bara baru pulang dari perbatasan. Katanya badannya penuh luka. Orang-orang di markas memanggilnya Sang Macan. Prajurit yang salah sedikit saja bisa gemetar hanya karena ditatap."

Jari Arum menghangat di sekitar nasi bungkus itu. "Apakah dia suka memukul orang?"

"Aku tidak tahu. Dia jarang bicara dengan warga. Tapi wajahnya..." Bu Inah merapatkan kedua telapak tangan, seolah sedang berdoa untuk keselamatan Arum. "Wajahnya seperti orang yang sudah lama lupa cara tersenyum."

Angin sore membawa bau tanah dan daun basah. Awan gelap berkumpul di atas atap asrama. Arum menatap jalan menuju Blok C.

Rumah Prasetyo hanya berjarak beberapa gang di belakangnya, tetapi terasa seperti tempat yang sudah sangat jauh.

"Kalau malam kamu takut, datang ke warung," kata Bu Inah. "Kamu boleh tidur di ruang belakang. Jangan merasa sendirian."

Kebaikan sederhana itu justru merobek pertahanan Arum. Ia menunduk cepat, memeluk nasi bungkus di depan dada agar Bu Inah tidak melihat dagunya gemetar.

"Terima kasih, Bu."

Ia berjalan lagi sebelum air matanya jatuh.

Blok C lebih sepi daripada deretan rumah dinas lain. Beberapa sepeda motor terparkir rapi. Di kejauhan terdengar aba-aba latihan dari lapangan, disusul hentakan sepatu lars yang serempak. Arum melewati nomor satu, lalu nomor dua.

Rumah Dinas Blok C-3 berdiri di ujung. Cat hijaunya pudar. Tirai semua jendela tertutup. Di teras, sepasang sepatu lars berlumpur diletakkan menghadap keluar. Ada noda cokelat kemerahan yang mengering di sisinya.

Arum berhenti di depan pintu.

Dari dalam rumah terdengar sesuatu jatuh, kemudian tarikan napas berat yang segera dibungkam. Bau obat dan cairan antiseptik menyusup melalui celah pintu.

Sang Macan ada di dalam.

Arum merapikan kerah baju lamanya. Satu kancing di bagian dada terasa longgar, tetapi ia tidak punya baju lain untuk dikenakan. Ia menggenggam selendang ibunya yang kini menjadi pengikat tas, lalu mengingat nasi hangat dari Bu Inah di tangannya.

Ia masih punya dua baju. Ia masih punya sedikit uang. Ia masih punya kedua tangannya.

Itu cukup untuk bertahan satu hari lagi.

Arum menarik napas panjang, mengangkat tangan, dan mengetuk pintu Blok C-3.

Tiga ketukan pelan itu mengubah seluruh hidupnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!