NovelToon NovelToon
PLAYING WITH FIRE

PLAYING WITH FIRE

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Balas Dendam / Diam-Diam Cinta
Popularitas:8.4k
Nilai: 5
Nama Author: Itha Sulfiana

Jordan Carlton mengira Vanessa adalah wanita lemah yang tak akan pernah berani meninggalkannya.

Yessika mengira ia berhasil merebut segalanya dari Vanessa, termasuk calon suaminya.

Namun Vanessa memegang kunci takhta sejati keluarga Carlton dan ia memilih untuk menyerahkannya pada pria yang paling dibenci Jordan.
Alessio Carlton mungkin terlihat menakutkan, dingin, dan licik. Namun saat Vanessa menawarkan pernikahan sebagai senjata balas dendam, Alessio tersenyum gelap. Sebab, jauh sebelum Vanessa memasuki kamarnya malam itu, Alessio sudah menyiapkan panggung untuk menjadikannya sang Ratu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Arthur mengusap wajahnya kasar, tampak serba salah.

"Bukan begitu maksudku, Alessio. Hanya saja, Jordan..."

"Hanya saja Jordan selalu benar di mata Ayah?" potong Alessio dengan tawa hambar yang dingin.

"Yessika bahkan belum dipanggil dan ditanyai secara benar, tapi Ayah sudah lebih dulu menuduhku bersalah."

Arthur mengetatkan rahangnya, merasa tersudut. Dengan napas gusar, pria tua itu berbalik menatap penjaga dan berteriak pada pelayan di dekat tangga.

"Panggilkan Yessika turun kemari! Sekarang!"

"Tidak perlu dipanggil lagi," suara tegas seorang wanita memotong keributan dari arah bordes tangga atas. "Orangnya sudah kubawa kemari."

Semua mata seketika tertuju ke atas. Vanessa berjalan turun dengan langkah anggun namun cengkeraman tangannya di pergelangan tangan Yessika begitu kuat.

Yessika terseret canggung, menangis sesenggukan karena rasa malu yang luar biasa. Tubuhnya yang hanya terbalut lingerie merah transparan kini terekspos di depan semua orang di ruang tengah.

"Vanessa! Lepaskan aku! Sakit!" jerit Yessika memohon-mohon sambil berusaha menutupi dadanya dengan tangan yang bebas.

Begitu sampai di anak tangga terbawah, Yessika hempaskan genggaman Vanessa lalu berlari ketakutan ke belakang tubuh Jordan.

"Jordan... tolong aku!"

Jordan mendesis murka, dengan cepat memerintah pelayan di sampingnya.

"Bawa mantel tebal kemari! Cepat!"

Arthur bahkan terlihat kagok dan memalingkan wajah sejenak, tak menyangka akan melihat calon menantunya berpenampilan seberani itu di ruang tengah keluarga Carlton.

Alessio terkekeh sinis, memecah kecanggungan atmosfer ruangan.

"Lihatlah penampilannya! Apa kalian pikir, aku akan meminta seorang perempuan bersiap sesempurna ini sebelum memperkosanya? Dia memakai lingerie yang sangat menantang, seolah sengaja ingin menggoda pria yang ada di kamar itu."

Yessika yang bersembunyi di balik punggung Jordan menggigit bibir bawahnya rapat-rapat. Dalam hatinya, ia merasa ini adalah saat yang paling tepat untuk memutuskan hubungannya selamanya dengan Alessio.

Meski sebenarnya sangat disayangkan karena ia belum sempat mencicipi ketampanan dan tubuh gagah Alessio semalam, semua ini harus dilakukan demi mengamankan masa depannya sebagai calon nyonya besar kesayangan Jordan.

Yessika keluar sedikit dari balik bahu Jordan, memasang raut wajah paling malang dan tersakiti.

"Bohong! Aku terpaksa memakai baju ini karena kau yang memaksa, Alessio! Kau mengancamku semalam!"

"Keparat!" raung Jordan, amarahnya kembali membakar hingga ia hendak menerjang Alessio lagi.

"Tunggu dulu," potong Vanessa santai, melangkah maju beberapa senti hingga menyita perhatian seluruh ruangan. Pandangan dinginnya terkunci pada Yessika.

"Apa kau sangat yakin, Yessika... kalau Alessio benar-benar memaksamu dan memperkosamu semalam?"

Yessika menengadah, mengangguk mantap dengan sisa-sisa air mata di pipinya. "Y-ya! Aku sangat yakin! Dia memaksaku!"

Vanessa tersenyum tipis, lalu berbalik menatap Arthur dan Jordan bergantian.

"Kalau begitu, solusinya sangat mudah. Kita bawa Yessika ke rumah sakit sekarang juga untuk melakukan visum."

Semua orang mendadak diam. Vanessa melanjutkan kalimatnya dengan nada memprovokasi.

"Jika hasil visum terbukti Yessika mengalami kekerasan seksual dari Alessio semalam, maka bukti itu sudah cukup. Lebih baik Alessio langsung diusir saja dari rumah ini dan dilaporkan ke polisi."

Alessio mengangkat sebelah alisnya. Pria itu menatap Vanessa dengan ukiran senyum miring yang sarat akan keterkejutan sekaligus rasa kagum.

"Sepertinya ada yang sudah tidak sabar melihatku angkat kaki dari rumah ini," goda Alessio santai, menatap lurus ke dalam iris mata Vanessa.

Vanessa menanggapi tatapan itu tanpa keraguan. "Jika kau memang tidak bersalah, kenapa harus takut?"

Alessio mengangguk-angguk setuju, mengumbar senyum menantang ke arah ayah dan saudaranya.

"Benar juga. Ayo lakukan visum sekarang!"

Napas Yessika mendadak tercekat. Raut wajahnya yang tadinya memelas mendadak berubah pucat pasi bagai mayat. Rasa panik yang teramat sangat menyengat seluruh saraf tubuhnya.

"T-tidak! Tidak perlu visum!" teriak Yessika panik, meremas lengan kemeja Jordan dengan gemetar.

"Jordan, aku mohon jangan visum! Aku... aku takut jika kasus ini terungkap ke publik, orang tuaku akan tahu dan mereka bisa sangat khawatir!"

Bukannya luluh oleh rengekan Yessika, Jordan justru menatap wanita itu dengan mata berbinar penuh ambisi licik. Menurut Jordan, ini adalah kesempatan emas yang dikirimkan langit untuk mengusir Alessio selamanya.

"Kenapa harus takut, Yessika?" ujar Jordan menenangkan Yessika, menepuk pelan punggung tangannya.

"Visum ini justru ide yang sangat bagus! Dengan bukti medis resmi dari rumah sakit, Alessio akan sangat mudah aku singkirkan dari keluarga Carlton selamanya!"

"Tapi, Jordan..."

"Tidak ada tapi-tapi," potong Jordan tegas, lalu menatap dua pengawal pribadinya.

"Kalian berdua, siapkan mobil! Bawa Yessika ke Rumah sakit sekarang juga di bawah pengawasan ketat!"

"Jordan! Aku tidak mau! Jordan!" jerit Yessika histeris saat mantel tebal dipasangkan ke tubuhnya dan dua pengawal mulai memegangi lengannya.

Yessika berusaha memprotes dan menghindar. Ia melirik gusar ke arah Vanessa dan Alessio yang kini berdiri berdampingan.

Namun, penolakannya justru terlihat makin mencurigakan. Tanpa bisa melawan lagi, tubuh Yessika yang gemetar hebat tetap diseret keluar menuju mobil, membiarkan kebohongannya berada di ujung tanduk.

"Jordan..."

1
ryuka
bagusss vanesaa.. mati kutu kan kamu yesika
Mundri Astuti
kalo sebaliknya berarti Jordan yg merat 😛
Titi Liana
suka
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
makin kesini makin seruuuuuuu ,,
penasaran kak ,,
Tri Handayani
seru semakin seru, up lagi donk kak
rurry Irianty
KK outhor up banyak² yaaa
Muft Smoker
aaaaaa gregeeet ,,

lanjuut kak ,,
ryuka
adduuhhh alesioo semoga rencana kamu berhasil ya
Tri Handayani
up lagi kpn thor🤭🤭🤭
ryuka: 🤭🤭🤭🫠🫠 ku tunggu up nya thoorrr
total 1 replies
Muft Smoker
kata aq mh udh aj pergi Vanessa toh klo 22 ny gx nikah ma km ,, 22 ny juga gx bakal dpat tahta yg mereka ingin kan ,,
Allea
ahh percuma vanes ngancam2 si arthur😅
Ayu Padi
jgn mau Vanessa
Mundri Astuti
kayanya ada sesuatu yg disembunyikan Arthur y, apa Jordan anak Arthur sama emaknya Kunti yak🤔
ryuka
gilaaa.. gillaaaa.. bpak nya gila
Muft Smoker
mungkin tuan Arthur bisa tutup mata dg kelakuan Jordan,, tp tanpa dsadari ia telah membangunkan singa yg sdang tidur ,,
Muft Smoker
ke tunggu peperangan tu terjadi ,,
pgen liat si Jordan Dan yessika keluar dr keluarga Carlton dg kaos oblong Dan daster ,,
😏😏😏
Muft Smoker
karena hanya aq yg peduli dg harta mu ,,, hrus ny km ngomong ny bgtu yessika ,, 😏😏😏😏
Mundri Astuti
makin seru ini
ryuka
manttaaabbb alesiooo 🔥🔥🔥
Tri Handayani
ku tunggu up selanjutnya ka😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!