NovelToon NovelToon
Menikahi Paman Miliarder Mantanku

Menikahi Paman Miliarder Mantanku

Status: tamat
Genre:Romantis / CEO / Asmara / Penyesalan Suami / Menikah dengan Kerabat Mantan / Orang Disabilitas / Tamat
Popularitas:10
Nilai: 5
Nama Author: Dupi

Di hari Renata Bramasta seharusnya menyiapkan pernikahannya sendiri, ia justru melihat calon suaminya menikahi adik perempuannya, sementara keluarganya duduk diam dan berpura-pura semua itu wajar.
Dipermalukan di depan semua orang, Renata menerima tawaran yang mengubah hidupnya: menikahi Maximilian Laksana, pria paling berkuasa di keluarga mantan tunangannya. Dalam semalam, perempuan yang selama ini diperlakukan seperti beban berubah menjadi Nyonya Laksana, sosok yang harus dihormati oleh orang-orang yang dulu merendahkannya.
Namun pernikahan itu bukan sekadar balas dendam. Di balik sikap dingin Max, Renata menemukan perlindungan, luka lama, dan cinta yang tumbuh perlahan di antara dua orang yang sama-sama pernah ditinggalkan. Saat rahasia keluarga, skandal lama, dan musuh dari masa lalu kembali mengejar, Renata harus memutuskan: apakah pernikahan yang dimulai sebagai jalan keluar bisa menjadi rumah yang selama ini ia cari?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dupi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1

Bab 1: Pernikahan yang Bukan Milikku

Gaun itu masih beraroma kain baru ketika ponselku menyala di dekat cermin.

Aku berdiri di atas panggung kecil ruang fitting sebuah butik pengantin di kawasan elite ibu kota. Rok gaun terbentang di sekelilingku seperti genangan sutra putih. Pramuniaga menahan bagian pinggangku dengan jarum pentul sambil membicarakan jatuhnya ekor gaun dan betapa cocoknya potongan dadanya di tubuhku. Dari pantulan cermin, aku melihat bibirnya bergerak dan membalasnya dengan senyum, meski separuh ucapannya tak tertangkap. Telinga kiriku hanya mengembalikan dengung lama, seperti suara laut dari kejauhan yang sudah bertahun-tahun tinggal bersamaku.

Aku tidak peduli.

Tiga minggu lagi aku akan menikah. Untuk sekali saja, aku merasa seperti perempuan biasa yang sebentar lagi bahagia.

Lalu ponsel di rak bergetar.

Nomor tak dikenal. Satu pesan. Sebuah video. Kubuka dengan jemari yang masih kaku karena terlalu lama memegang tulle.

Itu siaran langsung. Sebuah vila keluarga yang disiram cahaya, kursi-kursi putih di taman, lengkung bunga. Di bawah lengkung itu, mengenakan setelan jas, berdiri Pradipta. Pradiptaku. Di sisinya, berpakaian putih, menggenggam buket dan mengangkat wajah ke arahnya seperti orang suci, berdiri Dania.

Adikku.

"Nona, jangan bergerak. Nanti tertusuk jarum," kata pramuniaga itu.

Aku tidak bergerak. Aku tidak bisa. Aku menatap layar, sementara tubuhku berubah menjadi batu. Semuanya membeku kecuali jantungku, yang mendadak berdetak di tempat-tempat yang salah: di tenggorokan, di pergelangan tangan, di balik telinga yang mati.

"Bisa bantu aku melepas gaun ini?" pintaku, dan suaraku sendiri terdengar asing.

Aku turun dari panggung dengan ritsleting setengah terbuka, menyampirkan mantel di atas gaun yang belum benar-benar kulepas, lalu keluar ke jalan untuk menghentikan taksi. Pramuniaga itu meneriakkan sesuatu dari pintu. Aku tidak menoleh.

"Ke luar kota, ke vila keluarga Laksana," kataku kepada sopir, lalu kutunjukkan lokasi di layar. "Tolong cepat."

Sepanjang perjalanan, aku menonton siaran itu berulang-ulang. Aku melihat Dania tersenyum kepadanya. Aku melihat Pradipta merapikan sehelai rambut di belakang telinganya, gerakan yang selama ini kukira milikku. Dan, seperti orang bodoh, aku meyakinkan diri sendiri pasti ada penjelasan. Saat aku tiba, dia akan menjelaskan semuanya.

Aku sampai dengan gaun yang masih menempel di balik mantel, kait-kait di punggung terbuka, dan sepatu jalanan di kaki. Musik sudah terdengar dari dalam. Seorang petugas penerima tamu hendak menahanku di gerbang, tetapi aku melewatinya begitu saja.

Aku tidak masuk sampai ke tengah. Aku berhenti di tepi taman, di antara para tamu, dan dari sanalah aku melihat semuanya.

Aku melihat Pradipta mengambil mikrofon. Kulihat cahaya matahari menyentuh wajahnya ketika ia berbicara kepada Dania di depan dua ratus orang. Aku tak bisa mendengar jelas; dengan suara sebanyak itu, telinga kananku pun ikut menyerah. Namun aku membaca gerak bibirnya pelan-pelan, seperti yang kupelajari sejak kecil.

"Aku akan menebus semuanya," katanya kepada Dania. "Semua yang harus kamu tanggung karena aku."

Menebusnya.

Untuk dia.

Di sampingku, dua wanita bertopi saling mencondongkan tubuh. Mereka tidak melihatku, atau tidak peduli kalau aku melihat mereka. Salah satu dari mereka menggerakkan bibir dengan lambat, kelambatan yang dipakai orang saat mengira orang tuli tidak mengerti.

"Lihat, si setengah tuli."

"Anak pungut itu, yang ditampung karena kasihan."

"Memangnya dia pikir dia bisa mendapatkan pria itu?"

Telinga kiriku berdengung begitu keras hingga, selama sedetik, seluruh taman kehilangan suara. Hanya ada dengung putih yang besar dan menelan segalanya. Aku mengenal kata-kata itu. Aku telah membacanya di bibir banyak orang sejak umur tujuh belas tahun, ketika aku dikembalikan ke rumah yang tak pernah menginginkanku. Namun belum pernah, sampai hari itu, aku membacanya di sebuah pernikahan yang seharusnya menjadi milikku.

Aku tidak menangis. Itu harus jelas. Aku tidak memberi mereka hal itu.

Aku berjalan ke depan. Para tamu menyingkir, mula-mula karena penasaran, lalu karena keheningan canggung yang muncul ketika sesuatu akan pecah di depan umum. Di baris ketiga, aku mengenali dua wajah yang telah mengenalku sejak umur tujuh belas tahun: ibuku, Bu Patrina, dengan gaun terbaiknya dan anyelir di dada, dan di sebelahnya ayahku. Mereka tidak berdiri. Mereka tidak memanggilku. Ibuku mengatupkan bibir dan menunduk ke buku acara, seolah hal paling mendesak di dunia adalah membaca nama-nama yang tercetak di kertas itu.

Mereka datang ke pernikahan Dania.

Mereka tahu.

Mereka datang, berdandan, bertepuk tangan.

Itu lebih menyakitkan daripada lengkung bunga di depan altar.

Pradipta melihatku datang, dan warna wajahnya menghilang. Mikrofon diturunkannya. Dania merapat ke lengannya, memasang wajah anak kijang ketakutan yang sepanjang hidupnya selalu berhasil meluluhkan orang tua kami.

"Renata," kata Dania dengan suara tipis. "Kak, maafkan aku. Aku tidak ingin kamu tahu dengan cara begini. Sumpah, aku sudah mencoba mengatakannya ribuan kali, tapi aku tidak sanggup..."

"Anda jangan bicara dengan saya." Aku memotongnya dingin. Aku tidak mengenali kebekuanku sendiri, dan aku menyukainya. Anda, untuk dia, yang seumur hidup memanggilku kakak dengan mulut penuh gula. "Simpan air mata Anda untuk foto."

Dania berkedip, sempat kehilangan pijakan. Detik berikutnya, matanya langsung berkaca-kaca tepat pada waktunya, seperti keahliannya selama ini.

Aku berdiri di depan Pradipta. Dari dekat, tubuhnya masih beraroma losion yang sama. Aneh sekali, pikiranku sempat berhenti pada hal itu; pada aroma yang dulu menjadi bayanganku tentang kebahagiaan.

"Katakan ini salah paham." Aku sengaja memakai bahasa formal, dan kulihat kata itu menghantamnya lebih keras daripada teriakan mana pun: pria yang seharusnya menjadi suamiku berubah menjadi orang asing hanya dalam satu panggilan. "Katakan, dan saya akan pergi sekarang juga. Saya akan diam selamanya."

Ia memandang sekeliling, ke para tamu, ke kamera-kamera ponsel yang terangkat seperti hutan kecil. Suaranya direndahkan. Ia mendekat, lalu berbicara dengan kelembutan sabar yang biasa ia gunakan saat ingin aku mengalah.

"Renata, jangan bikin keributan." Ia bahkan tersenyum sedikit. "Soal Dania itu... rumit. Tapi kamu dan aku tetap sama. Secara hukum, kamu masih tunanganku; tidak ada yang perlu tahu urusan lainnya. Kita anggap saja tidak terjadi apa-apa. Kamu lanjutkan hidupmu, aku dengan hidupku, semua orang senang."

Anggap saja tidak terjadi apa-apa.

Aku menunggu amarah datang. Yang kurasakan justru dingin yang bersih, seperti ketika serpihan kayu yang berbulan-bulan tertanam akhirnya tercabut. Sakit, sekaligus lega.

"Seolah tidak terjadi apa-apa?" ulangku. Aku bicara pelan, menekan setiap suku kata, agar kali ini dia yang membaca bibirku. "Anda benar dalam satu hal, Pradipta. Seolah tidak terjadi apa-apa."

Tangan kiriku meraih tangan kanan, lalu mulai memutar cincin pertunangan. Cincin itu ketat; sulit dilepas. Ia meninggalkan bekas merah di jariku, seperti satu lagi kenangan yang kelak harus kupelajari untuk kulupakan.

Kutaruh cincin itu di tangannya. Ia menatapnya tanpa menutup jemari. Selama sedetik, cincin itu diam di telapak tangannya yang terbuka, berkilau di bawah matahari seperti benda yang sudah tak lagi milik siapa pun.

"Kembalikan kepada pengantin perempuan," kataku. "Yang ini, atau yang berikutnya."

Dania mengeluarkan isakan teatrikal dan menutup mulutnya. Seseorang di antara kerumunan menahan tawa. Aku tidak tahu apakah itu untuk dia atau untukku, dan aku sudah tidak peduli.

"Renata, jangan dramatis," Pradipta mulai berkata sambil melangkah ke arahku.

Aku sudah membelakanginya.

Aku melintasi seluruh taman dengan ekor gaun sutra putih itu terseret di atas rumput yang baru dipotong, kotor di tepinya, konyol, dan milikku. Dua ratus orang menyaksikanku pergi. Biarkan mereka melihat. Aku berjalan dengan dagu terangkat dan telinga kiri berdengung, sementara di dalam hati hanya satu kalimat kuulang seperti doa: jangan jatuh di sini, jangan di depan mereka, belum sekarang.

Aku tiba di gerbang. Di luar, sore berubah keemasan di atas perbukitan, acuh tak acuh, indah. Aku bersandar pada dinding batu, akhirnya sendirian, lalu mengembuskan napas yang sejak tadi kutahan dari butik.

Tiga minggu.

Tiga minggu lagi menuju pernikahan yang ternyata tak pernah menjadi milikku.

Hal pertama yang kupikirkan, sendirian di dekat dinding batu itu, bukan Pradipta ataupun ibuku. Aku memikirkan Kafe Sudut, meja langganan di dekat jendela, Vela yang akan meletakkan secangkir cokelat panas di depanku tanpa menanyakan apa pun. Itu satu-satunya tempat di dunia tempat aku tak pernah perlu berpura-pura bahwa tak ada yang menyakitiku. Selama sedetik, aku hanya ingin berada di sana, menggenggam cangkir hangat dengan kedua tangan, jauh dari semua orang rupawan yang tahu dan tetap bertepuk tangan.

Namun aku tidak naik taksi. Belum.

Kukeluarkan ponsel. Tanganku akhirnya gemetar, sekarang ketika tak ada yang melihat. Kucari satu nama yang hampir tak pernah kuhubungi, lalu menelepon sebelum sempat berpikir dua kali: Pak Ignas Laksana. Kepala keluarga Laksana. Pria yang, beberapa bulan sebelumnya, mengatur pertunanganku dengan Pradipta di sela jabatan tangan dan gelas anggur, membicarakan penyatuan nama keluarga.

Ia menjawab pada dering kedua, dengan suara tenang milik orang yang sudah melihat terlalu banyak hal.

"Renata. Kebetulan sekali, saya baru memikirkanmu, Nak."

"Pak Ignas." Aku memejamkan mata. Batu dinding terasa hangat di punggungku. "Saya menelepon untuk meminta, dengan segala hormat, agar Bapak membatalkan pertunangan itu. Saya tidak akan menikah dengan Pradipta. Hari ini dia menikahi adik saya di vila keluarga. Saya berdiri di luar, masih memakai gaun yang seharusnya saya kenakan untuk dia."

Di seberang sana ada keheningan. Bukan keheningan terkejut. Lebih panjang, lebih terukur, seperti seseorang sedang menempatkan sebuah bidak di lubang yang sejak awal sudah disiapkan.

"Begitu rupanya," katanya akhirnya. Ia tidak terdengar marah, juga tidak terdengar iba. Ia terdengar... memperhatikan. "Dua anak itu." Ia menarik napas. "Nak, apa yang mereka lakukan padamu tidak punya nama yang pantas. Tapi sebelum kamu menutup telepon dan naik mobil dengan wajah seperti itu, izinkan saya menawarkan hal lain."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!