Banyak sekali yang harus dilakukan Ananta Shakira sebagai bukti baktinya pada orang tuanya. Demi mendapatkan simpati publik, papanya memasukkannya sebagai tenaga pengajar di sebuah Taman Kanak Kanak.yang sudah terkenal dedikasinya dalam menelurkan anak anak pintar yang berbakat.
Kemudian dia juga harus mau dijodohkan dengan Arsen Angkasa, pewaris pengganti yang sedang naik daun, karena pewaris sebelumnya meninggal akibat kecelakaan lalu lintas.
Pewaris pengganti itu butuh power keluarganya yang merupakan pengusaha lokal dan salah satu wakil ketua dewan yang terhormat untuk memperkuat posisinya. Sedangkan keluarganya membutuhkan pewaris ini untuk bisa sejajar di kalangan bisnis dengan menjadikannya sebagai menantu keluarga konglomerat itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persiapan bertemu
Tante Dita menyambut kedatangan Ananta dengan wajah sumringah.
"Kita luluran dulu, ya, Nanta. Kamu kelihatannya lelah. Pasti karena ikut andil mengurus acara sebesar itu, kan," ucapnya setelah memperhatikan wajah Ananta.
Dalam hati dia kagum dengan Ananta yang tidak manja. Padahal dia anak tunggal dan memiliki orang tua yang sangat kaya raya.
Ananta hanya tersenyum.
"Oh ya, mama kamu udah pilihin gaun malam, ada tiga. Biar kamu bisa milih katanya," ucap Tante Dita sambil menggandeng tangan Ananta dengan senyum ceria yang kekal di bibirnya.
"Iya, tante," jawab Ananta dengan sedikit heran.
Tumben? Apa karena dia pernah menolak gaun mamanya waktu itu? Batinnya.
Mereka terus melangkah masuk ke dalam ruang privat. Sudah ada tiga orang perempuan muda-- tenaga terapis yang akan memberikan sejumlah perawatan padanya.
"Enjoy your time, honey," ucap Tante Dita hangat sebelum pergi.
Ananta tersenyum lagi sambil menganggukkan kepalanya.
"Ya, tante." Setidaknya Ananta bersyukur karena mamanya mau mengurusnya sampai sedetil ini. Temannya pun dilibatkannya.
Efek mempersiapkan anak didiknya dan wawancara untuk acara pameran sekolah, membuat tubuhnya kelelahan. Dengan bermanja manja di spa begini, capek dan letihnya akan lebih cepat hilang. Ada yang dia syukuri juga dari pertemuannya dengan Arsen malam ini.
Tubuhnya benar benar dipijat sampai dia ketiduran hingga ngga sadar saat dilulur.
Dan Ananta baru dibangunkan saat lulur di tubuhnya mengering untuk dibersihkan. Lumayan juga dia ketiduran lebih dari satu jam. Mungkin karena itu Tante Dita ingin dia secepatnya berada di butik. Tante Dita mungkin paham kalo Ananta sedang kelelahan dan butuh tidur sejenak.
"Sudah hilang capeknya?" tanya Tante Dita ketika beliau datang sambil membawa secangkir coklat panas dan tiga potong gaun malam dengan warna dan model yang berbeda.
"Lumayanlah, tante," senyumnya dengan pipi agak merona.
Tante Dita melepaskan tawanya sambil tangannya menyodorkan tiga potong gaun pada Ananta.
"Pilih yang kamu suka."
Ananta menatap ketiga gaun yang memiliki karakteristik yang berbeda. Benar benar pilihan mamanya, decaknya kesal dalam hati saat melihat gaun gaun yang cukup terbuka, seperti waktu itu. Tapi Ananta merejectnya.
Ananta memilih gaun yang memiliki warna lembut. Krem. Menurutnya warna marun dan navy kurang cocok untuk acara malam ini. Lagi pula menurutnya modelnya agak lebih tertutup.
Tante Dita tersenyum.
"Biasa ini pilihan mama kamu biar Arsen lebih cepat jatuh cinta sama kamu," candanya.
"Tapi tumben dia memilih yang model ini. Mungkin dia akhirnya mengerti yang kamu imginkan," ucapnya lagi.
Ananta mengangguk setuju dengan kata kata Tante Dita. Baru kali ini mamanya seakan tau yang dia sukai.
"Tante juga setuju dengan pilihan kamu. Gaun gaun yang cukup se-ksi ini dipakenya kalo kalian kencan berdua aja," sambungnya lagi walaupun dia ngga yakin. Karena waktu kencan pertama dengan Arsen, Ananta juga menolak gaun se-ksi pilihan mamanya.
"Ayo, tante akan dandani kamu sangat cantik seperti kencan dulu, yang bakal membuat Arsen tambah ngga bakal bisa ngelupain kamu," ucap Tante Dita penuh semangat.
Ananta hanya menurut saja. Dia terserah Tante Dita saja. Tapi dalam hati dia tertawa. Karena laki laki itu pasti memilihnya sambil merem. Kalo matanya melek, pasti bukan dirinya yang dipilih, karena masih ada beberapa lagi yang lebih cantik darinya.
*
*
*
Arsen baru saja selesai meeting dengan beberapa.orang klien, termasuk dengan Ubay dan Cakra, sepupu sepupunya. Wajahnya tampak lelah.
"Bukannya nanti malam kamu akan bertemu dengan keluarga calon istri?" Ubay menampilkan ekspresi heran karena melihat Arsen yang masih santai padahal waktu pertemuannya sudah ngga lama lagi. Tangannya sambil membantu sekretaris Arsen merapikan berkas hasil meeting.
Gerakan tangan sekretarisnya yang akan memasukkan kertas kertas ke dalam sebuah map terhenti sesaat.
Bosnya mau menikah? Ada sedikit perasaan kecewa menyusup di dalam hatinya. Baru beberapa bulan dia menjadi sekretarisnya dan menjadi favorit para staf perempuan.
Secepat itu harus patah hati?
Tapi kemudian dia melanjutkan lagi kerjaannya. Setelah selesai, dia pamit keluar karena kerjaannya jadi berlipat akibat tuan mudanya membatalkan banyak janji.
"Yah, pilihan kamu sudah tepat, " sambung Cakra.
Walau orang tua serta kakek dan nenek mereka sering bertengkar memperebutkan kekuasaan, tapi sikap Ubay dan Cakra cuek saja. Hanya di awal Arsen datang, dia diremehkan. Tapi setelah melihat kinerja Arsen, Ubay dan Cakra mulai menghargai. Apalagi setelah beberapa bulan kedatangannya perusahan mendapatkan laba yang lumayan besar.
"Gadis itu cukup kompeten." Cakra menunjukkan video di ponselnya, tentang wawancara gadis yang akan menjadi istri Arsen.
"Dia ngga dibenci guru gurunya di sana padahal merekan tau dia masuk jalur ordal dan punya kepentingan politik. Sekarang lagi viral di sosial media," lanjutnya lagi.
Mata Arsen memicing. Ya, itu dia. Wajah yang hampir dia lupakan, batinnya menahan senyum.
Wajar saja, mereka hanya sekali bertemu. Setelahnya dia bertemu dengan gadis gadis cantik yang lain.
Ubay juga ikut melihatnya. Dia tersenyum tapi dalam hati merasa kasian dengan Arsen dan gadis itu.
"Bagi kita menikah seperti hukuman. Kalo bisa jatuh cinta, ya, syukur. Kalo engga, hanya untuk mempertahankan kepentingan bisnis," ucapnya sumbang.
"Tapi orang tua kita bisa menjalaninya walaupun di awalnya sudah pasti sempat berantakan," tawa Cakra berderai.
Arsen tersenyum miring. Teringat mamanya dipaksa harus pergi karena bukan pilihan neneknya.
"Selama di luar negeri, kamu ngga punya pacar atau teman kencan?" tanya Ubay ingin tau. Masa setua ini masih jombo, batinnya ngga percaya.
"Aku ngga sempat memikirkan perempuan. Aku harus kerja keras untuk bayar kuliah dan membiayai pengobatan mama," jelas Arsen terus terang sedikit berbohong. Sekalinya nembak cewe, langsung ditolak karena faktor ekonomi. Dia melirik jam di pergelangan tangannya. Sekarang udah pukul lima sore.
"Iya, sih. Harusnya sekarang kamu bisa nyari teman kencan. Tapi sayangnya gagal karena keburu harus cepat nikah," canda Cakra.
Arsen tersenyum miring lagi mendengarnya.
"Perempuan perempuan di luar sana mana peduli kita sudah nikah. Bagi mereka, kita tambang emas, nikel dan batu bara." Ubay mengakhirinya dengan tawa berderai.
Cakra dan Arsen juga tertawa pelan.
Ya, perempuan perempuan songong yang ngga mau hidup miskin pasti menjadikan mereka sebagai target, batinnya meremehkan. Dia ingat calon calon yang sudah ditolaknya. Kalo tidak ada embel embel Latif Jaffar di dirinya, mereka mana mau mengenalnya. Apalagi sampai rela menyerahkan diri..dia sudah membuktikannya dulu.
TOK TOK
Perhatian ketiganya teralihkan ke arah pintu ruangan. Sekretaris Arsen yang tadi sudah keluar, sekarang datang lagi.
"Pak Arsen, jas anda sudah diantar ke ruangan anda," ucapnya sopan.
"Oke." Neneknya sudah memberi kabar kalo asistennya akan mengantarkan jas untuk pertemuannya nanti malam.
Sekretarisnya kemudian pergi meninggalkan ruangan.
"Kamu sudah harus bersiap. Sayang kita ngga diundang," nyengir Ubay sambil berjalan pergi.
"Bukan aku yang mengatur siapa yang harus datang," balas Arsen membela diri.
"Ya, ya. Mungkin nanti saat aku dan Ubay dijodohkan, kamu juga ngga akan diundang," tukas Cakra kalem sambil melangkah pergi.
Ubay tergelak mendengarnya sedangkan Arsen hanya tersenyum miring. Dia pun melangkah meninggalkan ruangan meeting. Ini adalah meeting terakhir di hari ini yang dia ikuti. Karena setelah ini dia harus pergi ke rumah neneknya untuk bertemu gadis itu dan keluarganya.
semangat😉
cerita keluarga baru apa?