Di Kekaisaran Xuan-Mo, realitas adalah tinta, dan kekuasaan adalah keindahan goresan. Mereka yang bisa menulis hukum alam dengan kuas emas diperlakukan sebagai dewa, sementara mereka yang gagal hanyalah noda yang harus dihapus.
Ren Zexian lahir dengan kutukan "Mata Void"—ia tidak bisa melihat keindahan ilusi dunia, hanya kerangka rapuh di baliknya. Dianggap sampah oleh klan kaligrafer elit, ia bekerja sebagai penghapus buku terlarang, hidup dalam diam hingga suatu hari ia menemukan sebuah halaman kosong yang berdarah.
Saat "The Fade" mulai menelan desa asalnya, mengubah manusia menjadi hampa tanpa ingatan, Ren menyadari bahwa kekacauan ini bukanlah bencana alam, melainkan suntingan yang disengaja oleh Dewan Langit. Dengan kuas patah dan teknik terlarang yang memungkinkan ia "menghapus" keberadaan musuh, Ren memulai perjalanan berbahaya mendaki 9 Provinsi Mengambang.
Ia bukan pahlawan yang akan melukis dunia baru. Ia adalah editor yang akan memotong bagian-bagian busuk dari cerita ini,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tubagus Abidin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hutan yang Menangis Darahq
Kedamaian setelah ujian di Altar Akar Tua hanyalah ilusi singkat, seperti heningnya napas sebelum teriakan kematian. Bunga Kebalisan yang kini tersimpan aman dalam kotak kayu kecil yang diberikan Elara terasa berat di saku Ren Zexian, bukan karena bobot fisiknya, tapi karena harapan yang dibawanya. Namun, hutan di sekitar mereka tidak lagi merasa seperti tempat perlindungan. Udara yang sebelumnya stagnan dan lembap kini bergetar dengan ketegangan listrik yang halus, membuat bulu kuduk Ren berdiri.
Elara telah memperingatkan mereka. "Mereka akan datang," kata wanita tua itu, matanya menatap ke arah utara, tempat bayangan paling pekat berkumpul. "Anjing Darah tidak hanya mencium bau. Mereka mencium niat. Dan niat Elder Han adalah pembantaian."
Ren dan Lin berlari menyusuri jalur balik yang lebih curam, menghindari tanah datar di mana jejak kaki mereka akan mudah dilacak. Hutan Provinsi Hutan berubah wajah. Pohon-pohon raksasa yang sebelumnya tampak megah kini terlihat seperti tiang-tiang penjara yang mengurung mereka. Akar-akar yang menjalar di tanah seolah-olah sengaja menonjol untuk menjegal langkah mereka, dan duri-duri tajam dari semak belukar merobek pakaian serta kulit mereka tanpa ampun.
"Kakak," napas Lin tersengal-sengal, wajahnya pucat pasi. "Aku merasakan... kemarahan. Besar sekali. Seperti api yang membakar seluruh hutan."
Ren mengangguk, tangannya erat menggenggam kuas patahnya. Mata Void-nya aktif, menyapu area depan. Ia melihat garis-garis energi merah gelap yang merayap di antara pepohonan, semakin dekat. Itu adalah jejak Qi korosif milik Anjing Darah. Mereka tidak berjalan; mereka menerobos, menghancurkan segala hal di jalan mereka.
"Kita harus memancing mereka keluar dari jalur utama," kata Ren cepat. "Jika kita terus lari lurus, mereka akan mengejar kita sampai kita kelelahan. Kita butuh medan pertempuran yang menguntungkan kita."
Lin menatap kakaknya, cincin perak di matanya berkedip cemas. "Medan apa?"
Ren menunjuk ke sebuah lereng curam di sebelah kanan mereka, di mana tanah longsor telah menciptakan tumpukan batu-batu besar dan lumpur licin. Di bawahnya, terdapat rawa kecil yang dipenuhi gas metana alami—sisa fermentasi tumbuhan purba.
"Di sana," kata Ren. "Gas itu mudah terbakar. Dan Anjing Darah menggunakan Qi api untuk meningkatkan kecepatan dan kekuatan cakar mereka."
Lin memahami maksudnya. Wajahnya mengerut. "Itu berbahaya, Kak. Jika meledak..."
"Maka kita punya kesempatan," potong Ren, meski ia tahu risikonya. Ledakan bisa membunuh mereka juga. Tapi bertahan hidup dengan berlari terus-menerus bukanlah opsi. Mereka harus berhenti lari dan mulai bertarung. Atau setidaknya, bertempur secara cerdas.
Mereka berbelok tajam, menuruni lereng licin itu. Batu-batu berguling di bawah kaki mereka, menciptakan kebisingan yang disengaja untuk menarik perhatian pengejar. Benar saja, dari kejauhan, terdengar lolongan panjang yang mengerikan, diikuti oleh suara ranting-ranting pohon patah dan tanah yang hancur dihantam tubuh beast raksasa.
Mereka tiba di dasar lereng, tepat di tepi rawa berbau busuk. Ren segera mencari posisi strategis di atas batu besar yang stabil, sementara Lin bersembunyi di celah antara dua bongkahan batu, tubuhnya bersinar redup untuk menyamarkan kehadirannya.
Hanya beberapa detik kemudian, semak-semak di atas lereng meledak.
Seekor Anjing Darah melompat turun, mendarat dengan berat yang membuat tanah bergetar. Beast itu lebih besar dari yang Ren bayangkan, setinggi kuda jantan dewasa, dengan otot-otot yang bergelombang di bawah bulu hitam kasar seperti kawat. Mulutnya terbuka lebar, meneteskan air liur beracun yang menguap saat menyentuh tanah. Matanya yang merah darah menyala dengan kecerdasan jahat.
Di belakangnya, muncul sosok lain. Elder Han.
Pria itu turun dengan anggun, jubah merah darahnya tidak ternoda sedikit pun oleh kotoran hutan. Wajahnya dingin, tatapannya menusuk langsung ke arah persembunyian Ren.
"Berhenti berlari, tikus kecil," kata Han, suaranya tenang namun membawa tekanan Qi yang membuat udara di sekitar mereka menjadi padat. "Kau telah membuatku kehilangan banyak waktu. Dan aku sangat membenci membuang waktu."
Ren melangkah keluar dari balik batu, berdiri tegak meski kakinya gemetar. Ia memegang kuasnya dengan erat. "Waktu memang mahal, Elder. Tapi nyawa adikku jauh lebih berharga."
Han tertawa pendek, suara yang kering dan tanpa humor. "Sentimentalitas. Kelemahan klasik para pemberontak. Kau pikir kau bisa melawanku di sini? Di tengah hutan ini, di mana Qi-ku menyatu dengan alam?"
Han mengangkat cambuk qi-nya. Ujungnya berkilau biru elektrik. "Serahkan gadis itu, dan aku akan membuatnya cepat. Tanpa rasa sakit."
"Tidak pernah," jawab Ren tegas.
Han mendesih kesal. "Kalau begitu, makanlah."
Ia memberi isyarat pada Anjing Darah. Beast itu menggeram, lalu menerjang dengan kecepatan yang menakutkan. Cakarnya yang bersinar merah menyala, siap mencabik-cabik Ren menjadi serpihan.
Ren tidak menghindar. Ia menunggu. Saat beast itu hampir menyentuhnya, Ren menulis karakter "Licin" di udara, mengarahkannya ke tanah di bawah kaki beast itu.
Beast itu terpeleset, momentum serangannya buyar. Tapi Han sudah bergerak. Cambuknya melesat seperti ular, membelit pergelangan tangan Ren dan menariknya ke depan. Ren terhuyung, kuasnya hampir terlepas.
"Terlalu lambat," ejek Han. Ia menarik Ren lebih dekat, lalu menendang perutnya keras.
Ren terpental ke belakang, menghantam batu besar. Rasa sakit meledak di seluruh tubuhnya, napasnya tersumbat. Darah mengalir dari mulutnya.
"Kakak!" teriak Lin, keluar dari persembunyiannya. Cahaya perak menyala terang dari tubuhnya, menciptakan gelombang kejut yang mendorong Han mundur selangkah.
Han terkejut sejenak, menatap Lin dengan nafsu yang semakin jelas. "Energi murni... Luar biasa. Kau benar-benar Wadah Sempurna."
Lin tidak menyerang. Ia menatap Han, lalu menatap Anjing Darah yang kini bangkit kembali. Matanya berkaca-kaca, tapi penuh tekad.
"Dia sakit," kata Lin, suaranya bergetar. "Beast itu... dia dipaksa. Jiwanaya diputarbalikkan oleh tinta hitammu."
Han mengerutkan kening. "Omong kosong. Beast ini adalah senjata sempurna."
"Bukan," bantah Lin. "Dia menangis."
Lin mengangkat tangannya. Kali ini, ia tidak mencoba menenangkan. Ia menarik. Energi perak dari tubuhnya membentuk benang-benang cahaya yang tipis, menembus dada Anjing Darah, menuju inti energi hitam yang mengikat beast itu kepada Han.
Han menyadari bahaya itu. "Hentikan dia!" teriaknya pada beast itu.
Anjing Darah itu meraung, mencoba menyerang Lin, tapi tubuhnya kaku. Benang cahaya Lin sedang mencabut ikatan kontrol Han. Rasa sakit yang dialami beast itu bukan fisik, tapi pembebasan paksa dari belenggu mental.
Ren melihat peluangnya. Meski tubuhnya hancur lebur, ia memaksakan diri bangkit. Ia melihat struktur ikatan antara Han dan beast itu melalui Mata Void-nya. Ada simpul utama di dahi Han, tempat ia menyalurkan Qi kontrol.
Ren tidak memiliki tenaga untuk serangan langsung. Tapi ia punya satu trik terakhir. Trik yang ia pelajari dari pengalamannya sebagai pemulung: memanfaatkan lingkungan.
Ia melihat genangan gas metana di kaki Han. Gas itu tidak terlihat, tapi Mata Void-nya bisa melihat kepadatan udaranya yang berbeda.
Ren mengangkat kuasnya. Ia tidak menulis karakter serangan. Ia menulis karakter "Panas" (Re) di udara, lalu melemparkannya ke arah ujung cambuk Han yang masih menyala dengan energi listrik.
Energi listrik bertemu dengan karakter "Panas" yang diperkuat oleh sisa Qi Ren. Percikan api kecil tercipta.
Api itu jatuh ke genangan gas metana.
BOOM!
Ledakan besar terjadi di kaki Han. Api biru dan oranye menyala tinggi, menciptakan dinding api yang memisahkan Han dari Lin dan Anjing Darah. Han terlempar ke belakang, jubahnya terbakar sebagian. Anjing Darah, yang ikatannya sedang dicabut oleh Lin, panik karena api dan kabut tebal. Beast itu meraung liar, lalu berlari masuk ke dalam hutan, bebas dari kontrol Han untuk sesaat.
Ren ambruk lagi, napasnya habis. Ledakan itu menghabiskan sisa tenaganya.
Han bangkit dari tanah, wajahnya hitam oleh asap, matanya menyala dengan kemarahan murni. Jubahnya robek, tapi ia tidak terluka parah. Qi pelindungnya terlalu kuat.
"Kau..." geram Han, suaranya rendah dan berbahaya. "Kau berani membakar harta kekaisaran?"
Ia mengangkat tangannya, menyiapkan serangan pamungkas. Bola api biru besar terbentuk di telapak tangannya, berputar dengan kecepatan tinggi, menciptakan angin pusaran yang menyedot oksigen di sekitar mereka.
Ren menutup matanya. Ia tidak bisa bergerak. Ia pasrah.
Tapi serangan itu tidak pernah datang.
Sebuah suara berat, seperti gemuruh bumi, terdengar dari langit.
KRAK!
Sebatang pohon raksasa di atas kepala Han patah, jatuh tepat di antara Han dan Ren. Pohon itu menghalangi pandangan Han, dan debunya menyelimuti area tersebut.
Dari balik debu, muncul sesosok figur besar. Bukan manusia. Bukan beast. Sesuatu yang terbuat dari akar, tanah, dan lumut. Penjaga Hutan. Elara mengirim bantuan.
Figur itu mengaum, suaranya mengguncang dada Ren. Han menggeram kesal, tapi ia tahu ia tidak bisa bertarung melawan elemen hutan ini sendirian sambil menjaga tawanannya.
"Ini belum selesai, Zexian," teriak Han dari balik debu. "Aku akan menemukanmu. Dan kali ini, tidak ada hutan yang bisa menyelamatkanmu."
Suara langkah kaki Han menjauh, diikuti oleh desisan qi yang menghilang ke kejauhan.
Ren membuka matanya. Figur akar itu menatapnya sekilas, lalu kembali menyatu dengan tanah, menjadi bagian dari hutan lagi.
Lin berlari ke sisi Ren, memeluknya erat. "Kakak! Kakak baik-baik saja?"
Ren tersenyum lemah, darah masih mengalir dari bibirnya. "Aku... baik. Kita berhasil."
Mereka selamat. Untuk saat ini. Tapi Ren tahu, Han tidak akan berhenti. Dan kini, Han tahu kelemahan mereka: mereka peduli pada kehidupan, bahkan kehidupan musuh. Dan itu adalah kelemahan yang akan terus dieksploitasi.
Ren memandang ke arah hutan yang gelap. Asap ledakan masih mengepul, bercampur dengan kabut pagi. Hutan itu tampak sedih, seolah-olah ikut merasakan luka yang baru saja terjadi.
"Ayo," kata Ren, bangkit dengan bantuan Lin. "Kita harus pergi sebelum mereka kembali dengan bala bantuan."
Mereka meninggalkan lokasi ledakan, membawa serta bunga Kebalisan dan luka-luka baru. Perjalanannya belum berakhir. Pertempuran berikutnya akan lebih sulit. Tapi untuk pertama kalinya, Ren merasa bahwa ia tidak hanya bertarung untuk bertahan hidup. Ia bertarung untuk sesuatu yang lebih besar: kebebasan untuk memilih nasib sendiri, bahkan jika dunia mencoba menuliskannya dengan tinta hitam.