"""Kalau kakak tidak mau, aku saja yang nikah!""
Safira nekad menawarkan diri sebagai pengganti kakaknya untuk menikahi Arga. Bukan karena cinta, tapi demi bebas dari neraka berkedok rumah.
Seumur hidup, Safira diperlakukan seperti budak oleh keluarganya sehingga ketika Arga datang dengan mobil tua dan pakaian sederhana untuk melamar kakaknya yang matre, Safira tahu ini kesempatannya. Tidak peduli bila keluarganya dan orang-orang menghinanya menikahi pria miskin, yang penting ia bebas!
Tapi, adakah yang bisa menjelaskan mengapa tiba-tiba suaminya dipanggil bos dan mertuanya trending di sosial media?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15
Bab 15 - Voucher Hotel Yang Terlalu Aneh
Pagi setelah story Nenek Suryani tersebar, Safira bangun dengan kepala berat.
Arga tidak ada di ranjang.
Sisi kanannya sudah rapi. Di meja kecil ada segelas air putih dan obat sakit kepala. Di bawah gelas, ada catatan.
`Saya membuat bubur. Kalau kamu belum mau bicara, makan dulu.`
Safira menatap catatan itu lama.
Ia masih kesal.
Tapi bubur di dapur tetap hangat, lengkap dengan ayam suwir, bawang goreng, dan daun bawang yang dipisah karena Arga tahu ia tidak suka terlalu banyak daun bawang.
Kesal dan tersentuh ternyata bisa muncul bersamaan. Menyebalkan.
Arga keluar dari kamar kecil saat Safira baru selesai makan.
"Pagi."
"Pagi."
"Kepalamu?"
"Lebih baik."
"Kita bisa bicara?"
Safira menaruh sendok. "Aku harus ke hotel Grand Manggala jam sepuluh. Ada klien dari Jakarta yang mau fitting kebaya ibu pengantin."
"Saya antar."
"Aku bisa sendiri."
"Safa."
Ia menatap Arga. "Mas, aku belum selesai marah."
"Saya tahu."
"Kalau kamu mengantar, aku takut kita bertengkar di mobil."
"Kalau kamu pergi sendiri, saya takut kamu bertemu orang yang tidak menyenangkan dalam keadaan pikiranmu penuh."
Safira ingin membantah, tetapi nama hotel itu membuatnya ingat. Grand Manggala adalah tempat keluarga Santoso sering mengadakan acara bisnis kecil. Rania mungkin juga ada di sana.
Akhirnya ia menghela napas. "Baik. Antar. Tapi jangan paksa aku bicara di mobil."
"Baik."
Perjalanan ke hotel sunyi.
Arga benar-benar tidak memaksa bicara. Ia hanya sesekali melirik, lalu kembali fokus ke jalan. Safira justru merasa semakin tidak tenang. Lelaki itu menyimpan terlalu banyak hal, tetapi saat diminta memberi ruang, ia memberi ruang dengan sangat patuh.
Grand Manggala menjulang di pusat kota. Hotel bintang lima itu punya lobi luas, marmer mengilap, dan petugas berseragam yang bergerak cepat. Safira pernah masuk dua kali untuk mengantar pakaian. Setiap kali, ia merasa harus mengecilkan langkah agar tidak terlihat salah tempat.
Hari ini Arga menurunkannya di depan lobi.
"Saya tunggu."
"Tidak usah. Lama."
"Saya ada pekerjaan di sekitar sini."
"Pekerjaan proyek?"
Arga menatapnya.
Safira menyesal sedikit, tetapi tidak menarik kata-katanya.
"Saya tunggu di kafe seberang," kata Arga akhirnya.
Safira masuk dengan tas besar berisi kebaya.
Di meja resepsionis, ia menyebut nama klien. Petugas memeriksa komputer, lalu wajahnya berubah sopan berlebihan.
"Bu Safira, silakan. Ibu bisa menunggu di executive lounge lantai dua. Klien Ibu sedang dalam perjalanan."
Safira berkedip. "Executive lounge?"
"Iya, Bu. Sudah ada catatan dari manajemen."
"Mungkin salah."
"Tidak, Bu. Namanya Safira Prameswari, benar?"
Prameswari adalah nama tengahnya yang jarang dipakai. Hanya dokumen akad dan beberapa kontrak profesional yang mencantumkannya.
Safira mengikuti petugas dengan curiga.
Di lounge, ia diberi teh dan kue kecil. Saat ia bertanya biaya, petugas tersenyum.
"Sudah termasuk fasilitas tamu prioritas, Bu."
Tamu prioritas?
Safira ingin menelepon Arga, tetapi menahan diri.
Klien datang setengah jam kemudian. Fitting berjalan lancar. Ibu pengantin itu puas dan langsung memesan dua tambahan outer batik untuk acara keluarga.
Safira baru saja keluar dari lounge ketika suara Rania terdengar.
"Ternyata benar kamu di sini."
Rania berdiri bersama Ratna dan Dimas di depan lift. Mereka berpakaian rapi, mungkin baru selesai bertemu calon investor untuk butik keluarga.
Ratna menatap tas baju Safira. "Kamu kerja di hotel ini?"
"Ada klien."
Rania mencibir. "Executive lounge sekarang bisa dipakai penjahit kecil juga?"
Safira sudah terlalu lelah untuk sakit hati.
"Kalau klienku membayar, kenapa tidak?"
Dimas melihat sekeliling. "Jangan-jangan karena story Bu Suryani? Kamu mulai pakai nama keluarga suamimu?"
"Aku tidak memakai nama siapa pun."
Ratna mendekat, menurunkan suara tetapi tetap tajam. "Safa, Mama tanya baik-baik. Sebenarnya siapa Arga? Kenapa Bu Suryani Kusuma mengunggah fotomu?"
"Tanya Arga."
"Dia suamimu. Kamu harus tahu."
Safira menatap ibunya. "Lucu. Saat aku belum tahu, Mama menyalahkanku. Saat aku bertanya, kalian dulu menyebutku terlalu banyak ingin tahu."
Rania menyela, "Jangan sok bijak. Kalau ternyata suamimu dari keluarga Kusuma yang besar, kamu sengaja menipu kami."
Safira hampir tidak percaya. "Kakak yang menolak dia."
"Karena dia menyamar!"
"Aku juga tidak tahu."
"Pasti tahu. Kamu dari awal memang licik."
Suara Rania mulai menarik perhatian orang di koridor. Safira melihat beberapa tamu melirik.
Ia tidak ingin ribut di hotel klien.
"Aku mau pulang."
Rania menghadang. "Belum selesai."
Safira menggeser tubuh, tetapi Dimas ikut menutup jalan.
"Mas Dimas," kata Safira dingin, "minggir."
"Kami cuma mau klarifikasi."
"Di koridor hotel?"
Ratna menarik lengan Safira. "Kamu ikut Mama sebentar."
Safira refleks menarik tangannya. "Jangan tarik."
Gerakan itu membuat tas kebaya di bahunya jatuh. Salah satu gaun keluar sedikit dari cover.
Rania melihat detail bordirnya. Matanya berubah.
"Ini desainmu?"
Safira mengambil tasnya. "Jangan sentuh."
Rania justru memegang ujung kain. "Aku cuma lihat."
"Kak, lepas."
Tarikan kecil terjadi. Safira panik karena bordir di bagian dada belum ia perkuat sepenuhnya. Kalau tertarik, benangnya bisa rusak.
"Lepas!"
Suara laki-laki terdengar dari belakang.
"Siapa yang menyuruh kalian menyentuh barang istri saya?"
Arga berdiri di ujung koridor.
Tidak dengan jas, tetapi cukup rapi untuk membuat beberapa staf hotel langsung menegakkan badan. Di belakangnya ada manajer hotel, wajahnya pucat.
Rania otomatis melepas kain.
Ratna membeku.
Dimas menatap Arga dengan tidak suka. "Ini urusan keluarga."
Arga berjalan mendekat. "Istri saya sudah menikah. Kalian tidak bisa menariknya ke mana pun dengan alasan keluarga."
Manajer hotel membungkuk sedikit. "Mohon maaf, Pak. Kami tidak tahu ada gangguan."
Safira menatap manajer, lalu Arga.
Pak?
Arga tidak melihatnya. Matanya tertuju pada tas kebaya yang jatuh.
"Ada yang rusak?"
Safira memeriksa cepat. "Tidak."
Arga menatap Rania. "Kalau rusak, kamu yang bayar."
Rania menahan malu. "Saya hanya melihat."
"Melihat tidak perlu menarik."
Ratna berusaha tersenyum. "Mas Arga, kami hanya ingin bicara baik-baik."
"Berbicara baik-baik dimulai dari tidak menghalangi jalan."
Beberapa tamu makin banyak yang menonton. Ratna sadar reputasinya terancam. Ia menarik Rania. "Ayo."
Dimas masih ingin bicara, tetapi Arga menatapnya sekali. Lelaki itu akhirnya mundur.
Setelah mereka pergi, manajer hotel menyerahkan amplop kecil kepada Safira.
"Bu Safira, ini voucher fasilitas dari hotel. Bisa digunakan kapan saja selama satu tahun."
Safira tidak mengambil. "Kenapa saya dapat ini?"
Manajer tersenyum kaku. "Sebagai permohonan maaf atas ketidaknyamanan."
Safira menatap Arga.
Arga berkata, "Ambil saja. Mereka memang punya program begitu."
Program begitu?
Safira mengambil amplop itu dengan hati penuh tanda tanya.
Di mobil, ia akhirnya bicara.
"Mas Arga."
"Iya?"
"Hotel tidak memberi voucher satu tahun hanya karena tamu ribut lima menit."
Arga diam.
"Manajer hotel juga tidak memanggil semua orang Pak dengan wajah hampir pingsan."
"Dia sopan."
"Dia takut."
Arga menghela napas.
Safira menatap jendela. "Aku tidak minta kamu menjelaskan semuanya hari ini. Tapi jangan anggap aku tidak melihat."
Arga menggenggam setir lebih erat.
"Saya tidak pernah menganggapmu bodoh."
"Tapi kamu berharap aku tidak bertanya."
Kali ini Arga tidak punya jawaban.
Safira membuka amplop voucher. Nilainya membuat ia hampir menjatuhkannya.
Ia tertawa pelan.
"Voucher hotel ini lebih mahal dari cincin kita."
Arga menoleh sekilas.
Safira menutup amplop.
"Kamu benar-benar harus belajar bohong lebih buruk, Mas."
Untuk pertama kalinya hari itu, Arga tampak kalah.
Sesampainya di rumah, Safira tidak langsung turun dari mobil.
Ia membuka amplop voucher sekali lagi, lalu menatap nama hotel yang tercetak timbul dengan tinta emas. Fasilitas suite, makan malam, spa, dan akses lounge. Semua terlalu banyak untuk permintaan maaf sederhana.
"Aku tidak akan pakai ini dulu," katanya.
"Terserah kamu."
"Kalau aku pakai, rasanya seperti menerima sesuatu yang aku tidak mengerti asalnya."
Arga mematikan mesin. "Saya mengerti."
"Benarkah?"
"Saya sedang berusaha."
Safira menatapnya. "Aku tidak ingin menjadi orang yang menikmati keuntungan dari rahasia, lalu nanti tidak punya hak marah saat rahasianya menyakiti."
Arga mengangguk pelan. "Itu adil."
"Jadi voucher ini kusimpan. Bukan kutolak. Bukan kupakai."
"Sampai?"
"Sampai aku tahu apakah semua ini hadiah, permintaan maaf, atau tanda bahaya."
Arga tidak punya jawaban yang cukup baik.
Safira turun dari mobil. Kali ini ia tidak menunggu Arga membukakan pintu.
Namun saat Arga menyusul, ia tetap berjalan di sampingnya.
Jarak itu kecil.
Tapi bagi Arga, malam itu jarak kecil tersebut terasa seperti kesempatan terakhir yang masih diberi.