Arya Pratama dikeluarkan dari sekolah. Nilai jelek, masa depan hancur, semua orang bilang dia tidak berguna. Tapi hari itu, dia menyadari sesuatu yang mengubah segalanya — bukan dia yang bodoh... seluruh dunia yang bodoh.
Apoteker tidak bisa hitung tambah-kurang. Profesor universitas menulis rumus yang salah selama ratusan tahun tanpa ada yang sadar. Juara catur dunia bisa dikalahkan dalam sepuluh langkah. Di dunia ini, pengetahuan SMA biasa adalah kekuatan tertinggi — dan Arya adalah satu-satunya orang yang memilikinya.
Dari siswa yang dibuang, dia naik menjadi legenda yang tidak pernah menunjukkan wajah aslinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pelukis Mimpi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Bab 14: Jejak Sang Pemburu
Sabtu pagi, sekolah yang biasanya bising berubah seperti gedung yang sedang menahan napas.
Orang tua berdiri di depan gerbang, menuntut jawaban. Satpam memeriksa setiap tas dengan wajah tegang. Guru piket mengulang kalimat yang sama sampai suaranya serak: kegiatan belajar tetap berjalan, polisi sedang bekerja, siswa pulang harus dijemput. Kalimat itu tidak benar-benar menenangkan, tetapi semua orang membutuhkan sesuatu untuk dipegang.
Arya datang bersama Komisaris Sari. Rombongan siswa tidak ikut. Hal itu cukup membuat separuh halaman berbisik. Anak yang seminggu lalu dianggap terlalu lamban untuk kelas biasa sekarang berjalan di samping polisi, membawa peta, dan Pak Surya membuka pintu gerbang untuknya tanpa bertanya.
Rizky yang melihat dari koridor hampir menjatuhkan botol minum. "Put, itu Arya atau kepala intel?"
Putri tidak menjawab. Matanya mengikuti langkah Arya. Ada rasa lega karena ia tidak sendirian, tetapi juga rasa takut karena lingkaran di sekitar Arya melebar terlalu cepat.
Sari membawa dua penyidik berpakaian sipil. "Kita mulai dari gudang olahraga lama. Kita bergerak kecil dan jauh dari kamera wartawan."
Pak Surya mengangguk. "Saya sudah minta guru menahan siswa di kelas."
"Bagus," kata Arya. "Pelaku mungkin punya mata di sekolah. Semakin sedikit keributan, semakin besar peluang jejak belum dibersihkan."
Mereka masuk dari sisi belakang gedung olahraga. Bau lembap dan kayu tua menyambut mereka. Lantai semen retak, beberapa rak bola berkarat, dan sebuah pintu besi kecil tertutup papan penghalang. Di mata guru biasa, pintu itu sampah bangunan. Di mata Arya, pintu itu jawaban pertama.
"Papan ini kelihatan dipaku lama," kata salah satu penyidik.
Arya berjongkok, menunjuk sisi bawah. "Debunya terpotong. Ada yang mengangkat papan, lalu memasangnya lagi. Bekas paku lama memang ada, tapi goresan baru di sisi kanan."
Penyidik itu menyalakan senter. Benar. Ada garis tipis yang baru terlihat ketika cahaya miring jatuh di kayu.
Sari memandang Arya. "Kamu belajar forensik dari mana?"
"Dari dunia yang tidak menganggap debu sebagai hiasan."
Rizky, yang diam-diam ikut dari belakang bersama Putri, hampir tertawa, tetapi tertahan oleh tatapan Sari.
"Kalian berdua seharusnya di kelas," kata Sari.
Putri maju satu langkah. "Bu, saya tahu jalur bangunan lama. Ayah saya dulu pernah ikut proyek arsip kota. Saya bisa membantu menunjukkan denah sebelum renovasi."
Sari ingin menolak. Arya lebih dulu berkata, "Biarkan dia ikut sampai pintu servis. Dia berguna. Rizky tidak."
"Hei!" Rizky protes pelan.
"Kamu berguna untuk membawa tas dan tidak menyentuh barang bukti."
Dalam keadaan lain, itu akan menjadi lelucon. Di gudang yang berbau besi dan ketakutan, bahkan Rizky menerima tugas itu dengan serius.
Mereka membuka papan. Di balik pintu besi ada lorong sempit yang menurun. Udara dari dalam lebih dingin. Pak Surya tampak terkejut. "Saya kira ini sudah ditutup permanen."
"Ditutup di laporan renovasi," kata Arya. "Belum tentu ditutup di dunia nyata."
Lorong itu cukup untuk satu orang dewasa berjalan membungkuk. Di dinding ada pipa bekas saluran air dan kabel mati. Setelah sepuluh meter, lorong bercabang. Satu cabang menuju belakang toko alat tulis, satu lagi menuju lahan kosong di samping fotokopi. Jalur itu menjelaskan semuanya: tiga titik hilang, tiga pintu keluar, satu ruang gelap di bawah sekolah.
Putri menelan ludah. "Jadi selama ini... ada jalan di bawah kita?"
"Ada banyak hal di bawah tempat yang dianggap normal," jawab Arya.
Sari menyuruh penyidik memotret setiap sudut. Di lantai, Arya menemukan noda lumpur yang berbeda warna. Bukan lumpur dari halaman sekolah. Lebih hitam, bercampur serbuk batu bata. Ia mencium sebentar, lalu menunjuk.
"Dari bangunan tua. Mungkin tempat penampungan sementara punya lantai tanah basah atau dinding bata lama."
"Di sekitar sini ada tiga bangunan kosong," kata Pak Surya. "Gudang koperasi lama, rumah dinas yang terbakar, dan aula pramuka yang tidak dipakai."
Arya menutup mata selama dua detik, menghitung jarak dari lorong, kemungkinan suara, dan risiko membawa korban. "Gudang koperasi terlalu dekat jalan. Rumah dinas terlalu terbuka setelah kebakaran. Aula pramuka punya akses belakang ke saluran air. Mulai dari sana."
Mereka bergerak ke aula pramuka. Dari luar bangunan itu tampak seperti tempat yang sudah dilupakan semua orang. Pintu depannya digembok besar, tetapi di belakang ada jendela kayu yang engselnya longgar. Di bawah jendela, tanah basah memiliki bekas seretan yang baru dihapus. Seseorang menyiramnya, tetapi tidak cukup rata.
Arya berjongkok. "Dia panik setelah korban ketiga. Jejak pertama dan kedua rapi, yang ini terburu-buru. Berarti dia tahu polisi mulai mendekat."
Sari memberi isyarat kepada penyidik untuk membuka paksa jendela. Di dalam aula hanya ada kursi patah, tali pramuka, dan debu tebal. Tidak ada korban. Namun di sudut belakang, Putri menemukan bungkus permen rasa jeruk yang masih bersih.
"Naila suka permen ini," kata Putri pelan. "Saya pernah lihat dia beli di kantin."
Sari memasukkan bungkus itu ke plastik bukti. Wajahnya semakin keras. "Mereka pernah ada di sini."
"Pernah, tapi sudah dipindahkan," kata Arya. "Pertanyaannya bukan ke mana. Pertanyaannya kapan."
Rizky menunjuk ke luar jendela. "Kalau dia tahu tempat ini sudah ketahuan, bukankah dia tidak akan kembali?"
Arya memandang bekas seretan yang setengah terhapus. "Ia akan kembali kalau merasa jejaknya masih tertinggal. Orang yang merasa sedang menjalankan misi lebih takut pada kegagalan daripada bahaya. Kita beri dia alasan untuk kembali."
Di halaman aula, seorang satpam tua bernama Pak Hasan akhirnya mengakui sesuatu. Lima tahun lalu, saat renovasi belum selesai, ia pernah melihat Rahman, penjaga malam lama, masuk ke jalur belakang untuk mengambil barang. Saat itu Pak Hasan tidak melapor karena mengira Rahman hanya mengambil jaket tertinggal.
"Kenapa baru bilang sekarang?" tanya Sari.
Pak Hasan menunduk. "Saya takut disalahkan, Bu."
Arya tidak memarahinya. Ia hanya berkata, "Catat waktu dan tempat. Rasa takut tidak mengubah fakta, tapi fakta yang tidak dicatat membuat korban berikutnya makin dekat."
Pak Hasan mengangguk berkali-kali. Dalam keadaan normal, seorang siswa menegur satpam akan terdengar kurang ajar. Hari itu tidak ada yang merasa demikian. Semua orang terlalu sibuk menyadari bahwa satu pengakuan kecil bisa mengubah arah pencarian.
Putri memperhatikan cara Arya berbicara. Ia tidak lembut, tetapi juga tidak kejam. Ia memotong omong kosong tanpa memotong martabat orang yang masih bisa membantu. Itu jenis kecerdasan lain, dan mungkin lebih langka di dunia ini daripada nilai sempurna.
Sari menatap lorong gelap di belakang aula. Untuk pertama kalinya, ia tidak bertanya apakah Arya yakin. Ia hanya berkata, "Kita siapkan jebakan."