Gagal total merantau di kota, Arga terpaksa pulang kampung dengan dompet kosong dan niat setengah hati untuk bertani di lahan tua peninggalan kakeknya. Namun, nasib sialnya mendadak berbalik 180 derajat ketika sebuah layar biru hologram muncul di pagi buta, mengaktifkan "Sistem Check-in Harian" yang terus memberinya hadiah gila-gilaan setiap hari, mulai dari saldo puluhan juta rupiah, benih super ajaib, hingga barang-barang mustahil lainnya. Kini, dengan cangkul di tangan dan sistem overpower di sisinya, Arga bersiap menampar mulut julid para tetangga, menendang tengkulak serakah, dan membangun kerajaan bisnis pertaniannya sendiri untuk menjadi petani paling sultan yang pernah ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
Brum brum brum.
Suara mesin motor KLX Arga memecah kesunyian jalanan desa di sore hari yang cerah itu.
Arga mengendarai motornya dengan kecepatan santai menikmati hembusan angin sore yang menerpa wajahnya.
Perasaannya saat ini sedang berada di puncak dunia setelah melihat saldo ratusan juta di buku tabungannya.
Dia memarkirkan motornya di dalam ruang tamu lalu segera berjalan menuju halaman belakang rumahnya.
"Sistem, buka panel fitur Peningkatan Level Tanah Kebun yang baru saja aku dapatkan tadi siang." Arga memberi perintah sambil berdiri di tengah area kebunnya.
Layar biru transparan langsung muncul di depan wajahnya menampilkan menu baru dengan ikon bergambar segenggam tanah bersinar.
[Fitur Peningkatan Level Tanah Kebun Tersedia.]
[Peningkatan ke Level 1 membutuhkan biaya sebesar 2.000 Koin Sistem.]
[Efek Peningkatan Level 1: Mengubah tanah biasa menjadi Tanah Hitam Subur Magis.]
[Semua tanaman di atas tanah ini akan kebal terhadap penyakit biasa dan kecepatan tumbuhnya meningkat secara permanen sebesar lima puluh persen.]
Mata Arga berbinar membaca deskripsi efek yang sangat menggiurkan dari fitur baru tersebut.
"Ini artinya aku tidak perlu terus-terusan mengandalkan Pupuk Cair Penumbuh Ajaib jika hanya menanam bibit biasa nantinya."
Arga melihat saldo koin sistemnya yang saat ini berada di angka tiga ribu lima ratus koin.
"Lakukan peningkatan ke level satu sekarang juga wahai sistemku yang canggih."
[Konfirmasi diterima, memotong 2.000 Koin Sistem dari saldo Host.]
[Proses Peningkatan Level Tanah Kebun dimulai dalam hitungan tiga, dua, satu.]
Sreng.
Tiba-tiba permukaan tanah di seluruh area halaman belakang Arga memancarkan cahaya keemasan yang menyilaukan mata.
Arga harus menutup matanya dengan lengan karena cahaya itu terlalu terang seperti melihat matahari dari jarak dekat.
Grrr. Terdengar suara gemuruh pelan dari dalam tanah seolah bumi sedang mengatur ulang struktur di dalamnya.
Beberapa detik kemudian cahaya keemasan itu memudar dan perlahan menghilang tertiup angin sore.
Arga membuka matanya dan ternganga melihat perubahan drastis yang terjadi di depan hidungnya.
Tanah kebunnya yang tadinya berwarna cokelat kusam dan berdebu kini telah berubah menjadi tanah berwarna hitam pekat yang sangat gembur.
Permukaan tanah itu terlihat sedikit berminyak dan memancarkan aroma kesuburan yang sangat khas seperti aroma hutan sehabis hujan lebat.
Arga berjongkok dan mengambil segenggam tanah hitam itu dengan telapak tangannya.
"Teksturnya sangat lembut dan dingin, ini benar-benar kualitas tanah super yang hanya ada di buku-buku pertanian fiksi." Arga bergumam takjub sambil meremas tanah tersebut.
Bahkan sepuluh pohon tomat kristal yang tertanam di sudut kebun kini terlihat jauh lebih segar dan daunnya semakin merimbun hijau.
Kuncup-kuncup bunga kuning kecil di pohon tomat itu mekar dengan sangat cepat tepat di depan mata Arga.
"Luar biasa, kecepatan pertumbuhannya benar-benar meningkat drastis hanya karena pergantian kualitas tanah."
Arga berdiri dan membersihkan tangannya sambil tertawa puas melihat aset berharganya yang semakin tidak masuk akal ini.
Krucuk krucuk.
Perutnya berbunyi pelan mengingatkannya bahwa dia belum makan siang sejak pulang dari kota tadi.
"Ah aku sampai lupa makan saking sibuknya mengurus transaksi ratusan juta."
Arga berjalan kembali ke dalam rumah untuk membersihkan diri dan mencari makanan di dapur.
Dia membuka kulkas butut peninggalan kakeknya yang kini sudah dia isi dengan beberapa bahan makanan ringan dari minimarket.
Setelah membuat mi instan campur telur Arga duduk santai di ruang tamu menikmati makan sorenya.
Hari perlahan berganti menjadi senja dan suara azan magrib mulai berkumandang dari masjid desa.
Malam itu Arga tidur dengan sangat nyenyak tanpa ada gangguan dari preman-preman bodoh seperti malam sebelumnya.
Keesokan paginya suara gedoran keras di pintu depan rumah membangunkan Arga dari tidur lelapnya.
Brak brak brak.
Suara gedoran itu terdengar sangat tidak sopan dan memekakkan telinga.
"Buka pintunya Arga, cepat keluar kamu anak muda jangan bersembunyi di dalam." Terdengar suara teriakan serak seorang pria paruh baya dari luar.
Arga menguap lebar dan mengusap matanya yang masih mengantuk dengan perasaan kesal.
"Siapa sih pagi-pagi buta sudah bikin keributan di rumah orang, mengganggu waktu tidur orang kaya saja." Arga menggerutu sambil berjalan menuju pintu depan.
Cklek.
Arga membuka kunci pintu dan menarik daun pintunya lebar-lebar dengan wajah ditekuk.
Di teras rumahnya sudah berdiri empat orang pria dengan wajah garang dan sikap yang sangat sok berkuasa.
Pria yang berdiri paling depan adalah Pak Tirto sang Kepala Desa yang terkenal sering menerima suap.
Di sebelah Pak Kades berdiri Pak Bowo si tengkulak licik dengan senyum sinis yang sangat menjengkelkan.
Di belakang mereka berdua berdiri dua orang anggota Hansip desa dengan seragam hijau dan pentungan kayu di pinggang.
"Ada urusan apa Pak Kades dan rombongan pagi-pagi datang menggedor pintu rumah saya seperti menagih hutang begini." Arga bertanya dengan nada suara yang sengaja dibuat sedatar mungkin.
Pak Bowo langsung menunjuk wajah Arga dengan cerutunya yang belum dinyalakan.
"Jangan sok polos kamu anak kemarin sore, kami datang ke sini untuk menertibkan bangunan ilegalmu itu."
Pak Tirto berdehem pelan membusungkan dadanya mencoba menunjukkan otoritasnya sebagai pemimpin desa.
"Begini Arga, saya mendapat laporan resmi dari warga bahwa kamu telah membangun pagar seng yang melanggar batas tanah desa." Pak Tirto berbicara dengan nada resmi yang dibuat-buat.
"Laporan dari warga atau laporan dari Pak Bowo yang kepanasan melihat bisnis saya maju Pak Kades." Arga membalas dengan senyum mengejek yang membuat wajah Pak Bowo sedikit memerah.
"Jaga mulutmu anak muda, ini urusan resmi pemerintahan desa." Pak Tirto membentak karena merasa tidak dihargai.
"Pagar seng di belakang rumahmu itu dibangun mencaplok tanah fasilitas umum milik desa selebar dua meter." Pak Tirto mulai mengarang alasan palsu sesuai dengan rencana yang dibuatnya bersama Pak Bowo semalam.
"Oleh karena itu sebagai Kepala Desa saya perintahkan Hansip untuk membongkar paksa pagar itu sekarang juga."
"Dan seluruh tanaman di dalamnya akan disita oleh pihak desa sebagai barang bukti penyerobotan lahan." Pak Bowo ikut menimpali dengan tawa kemenangan yang tertahan di tenggorokannya.
Arga hanya terdiam mendengar rentetan fitnah murahan yang keluar dari mulut dua pria tua serakah di depannya ini.
Ternyata benar dugaan Arga sebelumnya bahwa Pak Bowo tidak akan pernah berhenti mencari cara untuk menghancurkan kebunnya.
Karena gagal menggunakan preman malam hari kini tengkulak licik itu menggunakan tangan kotor pemerintahan desa.
"Bongkar paksa pagar saya dan menyita tanaman saya, bapak-bapak ini sedang melawak atau sedang mencoba merampok saya secara terang-terangan." Arga menyilangkan tangannya di depan dada menatap mereka dengan tatapan meremehkan.
"Ini bukan lawakan Arga, ini penegakan hukum desa." Pak Tirto menjawab keras menutupi rasa gugupnya melihat ketenangan Arga.
"Hansip, cepat kalian ke belakang dan robohkan pagar seng itu pakai linggis yang kalian bawa." Pak Kades memberikan perintah kepada dua anak buahnya.
"Berhenti di sana atau kalian semua akan menyesal seumur hidup berurusan dengan saya." Arga bersuara dengan nada bariton yang sangat berat dan mengancam.