Alya Anindita hanya ingin mendapatkan pekerjaan yang layak dan membantu keluarganya. Bekerja sebagai asisten eksekutif di perusahaan besar adalah kesempatan yang tidak boleh ia sia-siakan.
Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa atasannya sendiri akan menjadi orang yang perlahan mengacaukan batas antara profesional dan perasaan.
Raka Mahendra adalah direktur yang dikenal dingin, tegas, dan sulit didekati. Tidak ada yang berani bermain-main dengannya, apalagi mencoba masuk ke kehidupan pribadinya.
Namun, bagaimana jika hati tidak pernah mau mengikuti aturan?
Karena terkadang...
cinta datang kepada orang yang salah, di waktu yang salah, tetapi terasa begitu nyata
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gek_Nia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BOS YANG MENYEBALKAN
Pukul 08.47 pagi.
Alya Anindita berdiri di depan gedung pencakar langit setinggi tiga puluh dua lantai dengan telapak tangan yang mulai berkeringat.
Dia mendongak.
Logo Mahendra Group terpampang besar di bagian depan gedung.
Sebuah perusahaan yang selama ini hanya dia lihat dari berita bisnis dan iklan lowongan pekerjaan.
Hari ini, untuk pertama kalinya, dia akan masuk ke dalamnya.
Bukan sebagai pengunjung.
Bukan sebagai pelamar.
Tetapi sebagai karyawan.
Alya menarik napas panjang.
“Tenang.”
Dia menepuk kedua pipinya pelan.
“Kamu cuma kerja.”
Namun kalimat itu terdengar seperti kebohongan kecil.
Karena sebenarnya pekerjaan ini jauh lebih penting daripada sekadar pekerjaan.
Alya membutuhkan gaji tetap.
Sangat membutuhkan.
Beberapa bulan terakhir kondisi keluarganya tidak terlalu baik. Penghasilan ibunya tidak cukup untuk menutupi semua kebutuhan rumah. Adiknya juga sebentar lagi masuk sekolah baru.
Alya tidak ingin terus bergantung pada keluarganya.
Dia ingin membantu.
Dan ketika mendapat tawaran menjadi Executive Assistant to Director di Mahendra Group, Alya langsung menerimanya.
Gajinya jauh lebih baik daripada pekerjaan sebelumnya.
Tantangannya juga besar.
Hanya ada satu masalah.
Atasannya.
Namanya Raka Mahendra.
Menurut Maya, sahabat Alya yang bekerja di divisi lain perusahaan itu, Raka bukan tipe atasan yang mudah dihadapi.
“Dia dingin.”
“Perfeksionis.”
“Jarang senyum.”
“Tidak suka kesalahan.”
“Dan…”
Maya sempat menatap Alya serius sebelum mengatakan kalimat terakhir.
“Jangan pernah membantah dia.”
Alya waktu itu tertawa.
“Memangnya dia raja?”
Maya hanya menjawab,
“Pokoknya jangan.”
Sekarang Alya mulai menyesal sudah menertawakan nasihat itu.
Dia masuk ke gedung.
Suasana lobi sangat ramai.
Karyawan berjalan cepat dengan pakaian formal. Beberapa orang berbicara melalui telepon. Suara sepatu hak tinggi bersahutan dengan suara lift yang terbuka dan tertutup.
Alya menunjukkan kartu identitas sementara kepada resepsionis.
“Pagi. Saya Alya Anindita. Hari ini mulai bekerja sebagai Executive Assistant Pak Raka Mahendra.”
Resepsionis memeriksa komputer.
Kemudian tersenyum.
“Lantai tiga puluh dua.”
“Terima kasih.”
Alya menuju lift.
Begitu pintunya terbuka, dia masuk.
Tangannya menekan tombol 32.
Pintu tertutup.
Alya melihat pantulan dirinya pada dinding lift.
Kemeja putih.
Rok hitam.
Sepatu hak rendah.
Rambut dikuncir sederhana.
Tidak ada yang istimewa.
“Semoga hari pertama lancar.”
Lift berhenti.
TING.
Pintu terbuka.
Lantai tiga puluh dua ternyata jauh lebih sepi.
Hanya beberapa meja kerja dan ruangan-ruangan berdinding kaca.
Alya berjalan menuju meja resepsionis.
Seorang perempuan berdiri.
“Bu Alya?”
“Iya.”
“Saya Maya.”
Alya langsung tersenyum.
“Maya?”
“Iya.”
“Ya ampun, akhirnya ketemu.”
Maya tertawa.
“Kenapa?”
“Selama ini cuma ngobrol lewat chat.”
Maya mengangguk.
“Betul.”
Kemudian ekspresinya berubah sedikit serius.
“Pak Raka sudah menunggu.”
Alya melihat jam.
08.56.
“Baik.”
Maya menunjuk sebuah pintu.
“Itu ruangannya.”
Alya mengangguk.
Dia berjalan mendekati pintu kaca.
Di atasnya tertulis:
RAKA MAHENDRA
CHIEF EXECUTIVE OFFICER
Alya menarik napas.
Kemudian mengetuk.
Tidak ada jawaban.
Dia mengetuk lagi.
Tetap tidak ada.
Alya melihat Maya.
“Pak Raka di dalam?”
“Seharusnya.”
Alya mengetuk sekali lagi.
Tidak ada jawaban.
Dia mencoba membuka pintu sedikit.
Kosong.
“Pak?”
Tidak ada siapa-siapa.
Alya masuk.
Ruangan itu sangat rapi.
Meja besar.
Laptop.
Beberapa dokumen.
Sebuah rak buku.
Dan jendela besar yang memperlihatkan pemandangan kota.
Alya berdiri di tengah ruangan.
“Katanya menunggu.”
Dia melihat jam.
08.58.
“Belum jam sembilan.”
Alya memilih berdiri sambil menunggu.
Dua menit kemudian pintu terbuka.
Alya berbalik.
Seorang pria masuk.
Dan langkahnya berhenti ketika melihat Alya.
Pria itu tinggi.
Mengenakan kemeja putih dan celana hitam.
Tidak menggunakan jas.
Lengan kemejanya digulung sampai siku.
Wajahnya tegas.
Tatapannya dingin.
Alya langsung tahu.
Raka Mahendra.
Dia buru-buru berdiri tegak.
“Selamat pagi, Pak.”
Raka tidak menjawab.
Tatapannya justru tertuju pada Alya.
“Siapa Anda?”
Alya sedikit terkejut.
“Saya Alya Anindita.”
“Kenapa ada di ruangan saya?”
“Saya Executive Assistant baru Bapak.”
Raka mengernyit.
“Jam berapa Anda masuk?”
“Sekitar satu menit lalu.”
“Siapa yang mengizinkan?”
Alya menunjuk pintu.
“Saya sudah mengetuk.”
“Itu bukan jawaban.”
Alya menarik napas.
“Saya mengetuk tiga kali, Pak.”
“Saya tidak menjawab.”
“Karena itu saya pikir Bapak tidak keberatan kalau saya masuk.”
Raka menatapnya.
Alya baru sadar.
Jawabannya salah.
Maya sudah memperingatkan.
Jangan membantah.
Namun kata-kata itu sudah terlanjur keluar.
Raka berjalan ke meja.
“Duduk.”
Alya duduk.
Raka membuka sebuah map.
“CV Anda.”
“Iya.”
“Pengalaman Anda dua tahun.”
“Iya.”
“Kurang.”
Alya mengangguk.
“Saya tahu.”
“Kenapa Anda merasa bisa menangani pekerjaan ini?”
Alya berpikir sejenak.
“Karena saya cepat belajar.”
“Semua orang mengatakan itu.”
“Saya juga teliti.”
“Semua orang mengatakan itu.”
“Saya bisa bekerja di bawah tekanan.”
“Semua orang juga mengatakan itu.”
Alya menahan napas.
“Kalau begitu, Bapak ingin saya menjawab apa?”
Raka mengangkat wajah.
Alya menelan ludah.
“Maaf.”
Raka menatapnya cukup lama.
Alya mulai merasa tidak nyaman.
Kemudian dia berkata,
“Saya tidak tahu apakah saya bisa menjadi asisten terbaik Bapak.”
Alya bicara lebih pelan.
“Tapi saya bisa menjanjikan satu hal.”
“Apa?”
“Saya akan berusaha memahami cara kerja Bapak.”
Raka tidak berkata apa-apa.
Alya melanjutkan,
“Dan kalau saya melakukan kesalahan, saya akan memperbaikinya.”
Raka menutup map.
“Baik.”
Alya berkedip.
“Baik?”
“Anda diterima.”
“Benarkah?”
Raka menatapnya datar.
“Kalau tidak, Anda pikir saya mengajak Anda ke sini untuk minum kopi?”
Alya tersenyum kecil.
“Tidak, Pak.”
Raka berdiri.
“Mulai hari ini Anda mengatur semua jadwal saya.”
Dia mengambil sebuah map lain dan menyerahkannya.
Alya membuka.
Matanya membesar.
Jadwal Raka penuh.
Meeting.
Presentasi.
Makan siang dengan investor.
Rapat internal.
Panggilan video.
Bahkan ada beberapa agenda sampai malam.
Alya membaca semuanya.
“Pak.”
“Hm?”
“Ini semua jadwal Bapak?”
“Iya.”
“Bapak tidur?”
Raka menatapnya.
“Tidur.”
“Kapan?”
“Itu bukan urusan Anda.”
Alya mengangguk.
“Baik.”
“Pastikan tidak ada jadwal yang bentrok.”
“Baik.”
“Semua meeting harus tepat waktu.”
“Baik.”
“Email saya harus masuk sebelum pukul delapan pagi.”
“Baik.”
“Dan jangan mengubah jadwal tanpa persetujuan saya.”
Alya berhenti.
“Baik.”
Raka kembali ke laptop.
“Mulai bekerja.”
Alya keluar.
Begitu pintu tertutup, dia menghembuskan napas panjang.
Maya yang menunggu di meja langsung menatapnya.
“Gimana?”
Alya menatapnya.
“Dia menyebalkan.”
Maya tertawa.
“Baru sepuluh menit?”
“Cukup.”
“Dia marah?”
“Tidak.”
“Berarti bagus.”
Alya duduk di mejanya.
“Dia bahkan belum senyum.”
Maya mengangkat bahu.
“Memangnya kamu berharap?”
“Tidak.”
Alya membuka laptop.
Kemudian melihat jadwal.
Dia mengerutkan kening.
“May.”
“Hm?”
“Kenapa ada dua meeting di jam yang sama?”
Maya melihat.
“Oh.”
“Ini memang bentrok.”
“Makanya kamu harus mengatur.”
Alya menghela napas.
“Kenapa dia sendiri tidak melihat?”
Maya tersenyum.
“Karena itu pekerjaanmu.”
Alya mulai bekerja.
PUKUL 10.15
Alya masuk ke ruang Raka.
“Pak.”
Raka masih membaca dokumen.
“Ya?”
“Ada dua meeting jam sebelas.”
“Saya tahu.”
Alya terdiam.
“Yang satu dengan investor.”
“Ya.”
“Yang satu dengan tim legal.”
“Ya.”
“Bapak tidak bisa menghadiri keduanya.”
Raka mengangguk.
“Pindahkan tim legal.”
Alya membuka tabletnya.
“Tidak bisa.”
Raka berhenti membaca.
“Apa?”
“Tim legal sudah mengirim konfirmasi tiga hari lalu. Mereka juga menyesuaikan jadwal dengan Bapak.”
“Pindahkan.”
Alya menatapnya.
“Kalau dipindahkan, mereka harus menunggu sampai minggu depan.”
“Lalu?”
“Menurut saya lebih baik investor yang dipindahkan.”
Raka menatapnya.
“Kenapa?”
“Karena investor hanya membutuhkan empat puluh lima menit.”
“Tim legal juga.”
“Tapi investor sedang berada di Jakarta hanya hari ini.”
Raka terdiam.
Alya melanjutkan,
“Kalau Bapak setuju, saya bisa memindahkan meeting investor ke pukul dua.”
“Tidak bisa.”
“Kenapa?”
“Saya ada makan siang.”
Alya menatap jadwal.
“Makan siang dengan siapa?”
Raka tidak menjawab.
Alya membaca.
Kemudian wajahnya berubah.
“Bapak punya makan siang dengan investor yang sama.”
Raka diam.
Alya menghela napas.
“Kalau begitu meeting investor dipindahkan ke setelah makan siang.”
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Karena saya ada meeting lain.”
Alya mulai kehilangan kesabaran.
“Pak…”
Raka menatapnya.
“Apa?”
“Kalau semua jadwal Bapak tidak bisa dipindahkan…”
Alya menunjuk tablet.
“Lalu saya harus memindahkan yang mana?”
Raka diam.
Alya akhirnya berkata,
“Bapak mau jadwal kosong, tapi semua kegiatan tidak boleh dipindahkan.”
Raka menatapnya.
“Benar.”
Alya mengerjapkan mata.
“Bagaimana caranya?”
“Cari.”
Alya terdiam beberapa detik.
Kemudian bergumam,
“Bapak memang menyebalkan.”
Raka mengangkat alis.
“Apa?”
Alya langsung tersenyum.
“Saya bilang, saya akan cari solusinya.”
Raka kembali melihat dokumen.
Namun ketika Alya keluar, sudut bibirnya bergerak sedikit.
PUKUL 12.30
Alya berhasil menyusun ulang jadwal.
Tidak ada meeting yang dibatalkan.
Tidak ada investor yang menunggu terlalu lama.
Dan makan siang Raka tetap berjalan.
Dia mencetak jadwal baru.
Kemudian masuk ke ruang Raka.
“Sudah selesai.”
Raka mengambil kertas itu.
Membacanya.
“Bagaimana Anda melakukannya?”
“Saya mengurangi waktu perjalanan.”
Raka menatapnya.
“Dan?”
“Saya pindahkan meeting internal ke ruang yang berbeda.”
“Dan?”
“Lima belas menit dari waktu makan siang Bapak saya gunakan untuk panggilan investor.”
Raka mengangguk.
“Bagus.”
Alya tersenyum.
“Terima kasih, Pak.”
Raka kembali membaca.
Kemudian berkata,
“Besok jangan buat jadwal seperti ini lagi.”
Alya menatapnya.
“Kenapa?”
“Terlalu padat.”
Alya hampir tertawa.
“Bukankah tadi Bapak yang mengatakan semua jadwal harus masuk?”
Raka menatapnya.
Alya langsung mengatupkan mulut.
“Maaf.”
“Tidak apa-apa.”
Raka kembali bekerja.
Alya berbalik.
Namun sebelum dia keluar, Raka berkata,
“Alya.”
Dia menoleh.
“Ya?”
“Kerjamu bagus.”
Alya terdiam.
Itu pertama kalinya sejak pagi Raka memberikan pujian.
Senyum kecil muncul di wajah Alya.
“Terima kasih.”
Dia keluar.
Raka menatap pintu yang tertutup.
Entah kenapa, ruangan itu terasa sedikit lebih ringan setelah Alya pergi.
PUKUL 17.40
Sebagian besar karyawan mulai pulang.
Alya masih bekerja.
Dia sedang menyelesaikan laporan ketika seseorang meletakkan sebuah cangkir kopi di mejanya.
Dia menoleh.
Raka.
Alya langsung berdiri.
“Pak?”
“Belum pulang?”
“Belum selesai.”
Raka melihat laptopnya.
“Besok saja.”
“Masih sedikit.”
“Besok.”
Alya mengangguk.
“Baik.”
Raka berbalik.
Kemudian berhenti.
“Kamu sudah makan?”
Alya terdiam.
“Belum.”
“Kenapa?”
“Lupa.”
Raka mengerutkan kening.
“Jangan biasakan.”
Alya melihat cangkir kopi.
“Ini untuk saya?”
“Tidak.”
Alya menatapnya.
Raka menjawab datar,
“Saya salah ambil.”
Alya hampir tertawa.
“Bapak membeli dua kopi dan salah mengambil?”
Raka tidak menjawab.
Alya tersenyum.
“Terima kasih.”
Raka berjalan pergi.
Alya menatap kopi tersebut.
Kemudian tersenyum sendiri.
“Bos aneh.”
HARI PERTAMA
Pukul 18.05.
Alya akhirnya pulang.
Dia berdiri di depan lift.
Pintu hampir tertutup ketika tangan seseorang menahannya.
Raka.
Alya terkejut.
“Bapak belum pulang?”
“Belum.”
Mereka masuk bersama.
Hening.
Alya menekan tombol lantai dasar.
Raka berdiri di sampingnya.
Beberapa detik kemudian Alya berkata,
“Pak.”
“Ya?”
“Bapak memang selalu sesibuk ini?”
“Iya.”
“Tidak capek?”
“Sudah terbiasa.”
Alya mengangguk.
Kemudian berkata,
“Kalau begitu mulai besok saya akan kosongkan waktu makan Bapak.”
Raka menatapnya.
“Tidak perlu.”
“Perlu.”
“Kenapa?”
“Karena kalau Bapak sakit, saya yang repot.”
Raka diam.
Alya tersenyum.
“Jadi jangan sakit.”
Pintu lift terbuka.
Alya keluar.
“Selamat malam, Pak.”
Raka masih berdiri di dalam lift.
“Selamat malam.”
Pintu tertutup.
Raka melihat pantulan dirinya.
Entah kenapa dia tersenyum kecil.
Hari ini dia mendapatkan asisten baru.
Perempuan yang berani membantahnya.
Perempuan yang membuat jadwalnya lebih teratur.
Perempuan yang mengomel karena dia tidak makan.
Raka menggeleng.
“Baru sehari.”
Namun ada satu hal yang belum dia sadari.
Suatu hari nanti, suara perempuan itu akan menjadi bagian dari kesehariannya.
Dan ketika suara itu tiba-tiba hilang…
Raka akan menjadi orang pertama yang merasa ada sesuatu yang tidak beres.
Tetapi hari itu masih jauh.
Untuk sekarang, mereka hanyalah—
seorang bos yang terlalu dingin dan seorang asisten yang terlalu berani.
Dan mereka belum tahu bahwa pertengkaran kecil di antara mereka…
akan menjadi awal dari sebuah cinta yang tidak pernah mereka rencanakan.