Kupikir menikah dengan pria yang kucintai adalah awal dari kehidupan yang bahagia. Namun, aku tidak pernah menyangka bahwa musuh terbesarku justru tinggal serumah denganku.
Mertuaku menganggapku hanya menumpang hidup. Aku dipaksa mengerjakan seluruh pekerjaan rumah, difitnah di depan tetangga, diperas secara materi, bahkan harga diriku diinjak setiap hari. Sementara suamiku... selalu memilih mengalah demi ibunya.
"Fitri, mengalah dulu ya. Mama cuma ingin yang terbaik."
Kalimat itu terus kudengar selama tiga tahun pernikahan kami.
Hingga suatu hari, aku sadar. Seorang istri tidak seharusnya berjuang sendirian mempertahankan rumah tangga.
Saat kesabaranku habis dan perceraian menjadi satu-satunya jalan, penyesalan justru datang kepada mereka yang selama ini menghancurkan hidupku.
Sayangnya, beberapa penyesalan memang selalu datang ketika semuanya sudah terlambat.
ikuti untuk bab selanjutnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10. Hari Pertama yang Melelahkan
Seminggu kemudian. Hari ini adalah hari pertamaku bekerja. Alarm ponselku berbunyi pukul empat pagi. Dengan mata yang masih terasa berat, aku segera bangun. Aku tak ingin terlambat di hari pertama. Aku langsung menuju dapur. Menanak nasi, Membuat sayur bening, Menggoreng ikan, Membuat sambal. Lalu menyiapkan bekal makan siang untuk Mas Viyan.
Belum selesai semua itu, Bu Mirna sudah berdiri di belakangku.
"Fitri." Panggilnya.
"Iya, Ma."
"Nanti sekalian pel lantai ya." Ucap nya lagi.
Aku menoleh ke arah jam dinding. Masih pukul lima lewat lima belas.
"Ma... sebentar lagi Fitri harus siap-siap berangkat." Jawab FItri dengan agak khawatir.
"Ya makanya cepat. Ngepel ga sampai 15 menit." Ucapnya lagi.
"Iya ma."
Aku kembali mempercepat pekerjaanku. Setelah masakan selesai, aku segera mengepel ruang tamu dan ruang makan. Tanganku mulai pegal. Belum lagi aku masih harus mandi dan bersiap ke kantor. Saat aku hendak masuk kamar, suara Bu Mirna kembali terdengar.
"Eh, piring di wastafel belum dicuci. Cuci sekalian, Pamali kalau engga di selesaikan loh" Ucap Mertuaku lagi.
Aku menarik napas pelan.
"Baik, Ma."
Aku mencuci semua piring terlebih dahulu. Baru setelah semuanya selesai, aku berlari kecil menuju kamar.
"Sayang. Kamu capek ya?" Ucap Mas Viyan yang sudah rapi menatapku prihatin.
Aku menggeleng sambil tersenyum dan berkata : "Enggak kok mas."
"Bohong." Ujarnya.
Aku tertawa kecil dan berkata : "Namanya juga hari pertama." Ucap FItri.
Mas Viyan mendekat lalu membantu memasangkan jam tanganku.
"Nanti kalau terlalu berat, bilang sama Mas ya."
"Iya mas.." Ucap FItri mengangguk pelan.
Aku masih percaya semuanya akan baik-baik saja. Hari pertamaku di kantor berjalan cukup menyenangkan. Teman-teman lama memang sudah tidak bekerja di sana, tetapi rekan kerja baruku sangat ramah.
"Selamat bergabung ya, Bu Fitri."
"Terima kasih." Ucap FItri.
Pekerjaan administrasi yang dulu pernah kulakukan ternyata belum banyak berubah. Aku bisa mengikutinya dengan cepat. Saat jam makan siang, seorang rekan kerja bernama Nisa duduk di sampingku.
"Bu Fitri baru menikah ya?"
"Iyaa." Jawabku singkat.
"Masih pengantin baru dong."
Aku tersenyum malu. "Iya begitulah."
"Pasti pulang kerja langsung dimanja suami."
Aku hanya tersenyum. Kalau saja mereka tahu... Sesampainya di rumah nanti, masih banyak pekerjaan yang menungguku.
**
Pukul lima sore aku akhirnya pulang. Tubuhku terasa cukup lelah. Namun begitu membuka pintu rumah... Aku langsung terdiam. Di ruang tamu terdapat dua keranjang besar berisi pakaian kotor. Satu milik Bu Mirna. Satu lagi milik Dinda. Belum sempat aku bertanya, Bu Mirna keluar dari kamarnya.
"Oh, sudah pulang?" Ucap Bu Mirna
"Iya, Ma."
"Itu cuciannya sekalian ya." Ucapnya enteng.
Aku menatap dua keranjang itu.
"Banyak sekali, Ma." Keluhku.
"Enggak itu.." Ucap Mertuaku.
"Tapi Fitri baru pulang kerja." Jawabku.
"Lah Mama juga capek."
"Memangnya Mama habis dari mana?" Ucapku bingung.
"Habis arisan." Jawabnya singkat dengan senyum tipis.
Jawaban itu membuatku terdiam beberapa detik. Beliau melanjutkan dengan santai.
"Ya sudah, cepat dicuci."
Aku mengangguk pelan. "Iya, Ma."
Aku bahkan belum sempat berganti pakaian. Tas kerjaku masih berada di atas sofa. Aku langsung membawa cucian itu ke belakang rumah. Tanganku kembali sibuk mengucek pakaian satu per satu.
Belum setengahnya selesai... Dinda datang.
"Mbak."
"Iya?"
"Besok baju ini ya yang dicuci dulu." Perintah nya.
Dia melemparkan seragam kuliahnya ke dalam ember.
Aku menatapnya.
"Dinda." Panggilku.
"Hm?"
"Kamu bisa cuci sendiri kan?" Ucapku.
Dia tertawa kecil.
"Lah sekalian ini cuma nambah satu aja juga." Ucap Dinda enteng.
"Aku capek." Keluhku.
"Aku juga capek kuliah." Ucapnya menandingi.
Aku menghela napas dan berkata: "Mulai sekarang bajumu kamu cuci sendiri ya."
Senyum Dinda langsung hilang. "Kenapa?"
"Karena sekarang Mbak juga kerja." Jawabku.
"Lah... terus?"
"Kalau semua aku kerjakan sendirian, aku enggak kuat." Jawabku jujur.
Dinda langsung memutar bola matanya. "Yaelah...Cuma nyuci aja drama."
Dia masuk ke rumah sambil menggerutu. Aku kembali mengucek pakaian. Entah kenapa... Air sabun yang mengenai tanganku terasa lebih dingin dari biasanya.
***
Malam harinya. Aku baru selesai memasak ketika Mas Viyan pulang. Begitu melihatku masih memakai pakaian kerja yang sudah kusut, dahinya langsung berkerut.
"Kamu belum ganti baju?" Tanya Mas Viyan.
"Belum sempat mas." Jawabku singkat
"Kenapa?" Ucapnya tak peka.
Aku tersenyum kecil. "Tadi nyuci."
"Nyuci apa?" tanya dia lagi.
Aku terdiam. Belum sempat menjawab, Bu Mirna lebih dulu keluar dari kamarnya.
"Ya nyuci baju rumah lah." Ucap mertua dengan enteng.
Mas Viyan menoleh ke arah ibunya.
"Ma.. Fitri kan baru pulang kerja." Bela mas Viyan.
"Terus kenapa?"
"Kasihan kalau langsung disuruh nyuci."
Bu Mirna langsung tertawa kecil. "Lho, memangnya Mama nyuruh yang berat? Cuma nyuci..Dulu Mama juga begitu waktu masih muda."
Aku bisa melihat Mas Viyan ingin mengatakan sesuatu. Namun akhirnya... Dia hanya menghela napas.
"Iya sudah." Jawaban itu membuatku kembali menundukkan kepala. Lagi-lagi... Mas Viyan memilih mengalah.
Bersambung..