NovelToon NovelToon
Mata Dewa: Dari Batu ke Tahta

Mata Dewa: Dari Batu ke Tahta

Status: tamat
Genre:Balas dendam. / Perubahan Hidup / Kaya Raya / Tamat
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: Fajar

"Bayu Prasetyo kehilangan segalanya dalam satu hari.

Dipecat dari kantor karena posisinya diberikan kepada anak bos. Diputus pertunangan karena ""belum mapan."" Dan keris pusaka titipan sahabatnya tertipu terjual Rp 2 juta — padahal nilainya miliaran.

Di titik terendah hidupnya, Bayu Prasetyo menerima Mata Dewa dari kakek misterius — mata yang menembus batu, membaca nilai, dan membongkar kepalsuan. Dari judi batu ke meja lelang, dari pemuda miskin Pacitan ke puncak daftar orang terkaya — sampai ia menatap musuh terakhirnya: sindikat pemalsu pusaka yang dilindungi nama paling dihormati di Indonesia."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fajar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Bab 024: Batu Akik Pacitan

"Gunung itu sudah diam lebih lama daripada umurmu, Le."

Suradi berkata begitu ketika Bayu mengajaknya naik ke lereng belakang desa pada pagi kedua Lebaran. Udara Pacitan masih basah. Jalan tanah licin, rumput menempel di sandal, dan dari kejauhan suara ayam bercampur dengan mesin sepeda motor tua.

Mbah Warno menunggu di dekat batu besar dengan cangkul pendek di tangan.

Usianya mungkin lewat tujuh puluh, tetapi punggungnya masih tegak. Kulitnya gelap oleh matahari, matanya tajam, dan cara ia menyentuh batu membuat Bayu langsung tahu: ini bukan orang yang sekadar bercerita tentang gunung.

"Ini anak Pak Guru yang katanya sekarang bisa melihat isi batu?"

Bayu menunduk hormat. "Saya masih belajar, Mbah."

"Kalau belajar, bagus. Kalau sudah merasa pintar, gunung biasanya menertawakan."

Sinta, yang membawa botol air dan buku catatan, berbisik, "Mbah ini lebih seram dari dosen pembimbing."

Mereka berjalan menyusuri jalur kecil. Mbah Warno menunjuk bekas galian lama, batu-batu pecah di tepi ladang, dan aliran air yang membawa kerikil berwarna. Dulu, katanya, beberapa orang pernah mencari akik Pacitan. Hasilnya tidak konsisten. Tengkulak membeli murah, lalu pasar mati. Orang desa kembali menanam singkong dan padi.

"Empat puluh tahun saya bilang gunung ini ada isinya," kata Mbah Warno. "Orang cuma tertawa. Katanya batu ya batu."

Bayu berjongkok di dekat batu kusam seukuran kepalan tangan.

Mata Dewa menyala.

Kali ini ia tidak melihat satu batu saja. Ia membiarkan pandangannya menyapu lapisan tanah, pecahan di lereng, jalur kecil di antara akar, dan pola warna yang tersembunyi dalam batu-batu yang tampak mati.

Cahaya emas muncul dalam garis-garis panjang yang merambat di balik tanah.

Di bawah bukit tersimpan fosil kayu berserat padat, pancawarna berkulit kusam, dan chalcedony hijau keabu-abuan dengan sedikit retak. Cadangannya terbatas, tetapi cukup untuk menghidupkan desa jika dikelola dengan benar.

Tekanan muncul di belakang matanya.

Bayu menutup pandangan itu sebelum kepala berdenyut terlalu keras.

"Mbah, boleh ambil tiga batu kecil?"

Mbah Warno tertawa pendek. "Ambil sepuluh juga tidak ada yang marah. Tanah milik orang tetap jangan disentuh."

Bayu memilih tiga batu dari tempat berbeda. Satu dari pinggir aliran, satu dari retakan lereng, satu dari bawah akar pohon. Mereka membawanya ke rumah Mbah Warno, tempat mesin potong tua disimpan di bangku kayu.

Pak Lurah datang setelah ditelepon Suradi. Beberapa warga ikut berdiri di halaman, sebagian penasaran, sebagian siap menertawakan jika tidak ada hasil.

Mbah Warno menurunkan pisau mesin.

KRAK.

Potongan pertama membuka warna cokelat madu berserat kayu hingga warga langsung mendekat. Berikutnya muncul hijau pucat yang bersih, lalu garis merah, kuning, dan putih mengalir rapi di dalam batu terakhir.

Mbah Warno mematikan mesin. Tangannya bergetar.

"Empat puluh tahun," katanya parau. "Empat puluh tahun aku bilang gunung ini ada isinya, nggak ada yang percaya."

Tidak ada yang tertawa lagi.

Pak Lurah memegang salah satu potongan, lalu menatap Bayu. "Kalau benar bernilai, apa rencanamu? Jangan sampai orang kota datang, beli tanah murah, lalu warga cuma jadi penonton."

"Itu yang tidak boleh terjadi, Pak."

Bayu membuka catatan. Ia tidak menawarkan membeli lahan. Ia menawarkan pola kecil: koperasi desa, pelatihan sortir dan potong, pembelian bersama, catatan barang masuk, harga dasar transparan, dan saluran jual lewat CV Prasetyo serta Cahaya Timur jika kualitas memenuhi standar.

"Warga tetap pemilik kerja dan tanahnya. CV hanya membantu teknologi, pelatihan, pembeli, dan standar kualitas. Kalau batu tidak layak, jangan dijual dengan cerita palsu. Kalau bagus, jangan dijual murah karena tidak tahu jalur."

Pak Lurah masih ragu. "Uang sering membuat orang desa bertengkar."

"Maka uangnya tidak saya serahkan ke satu orang." Bayu menunjuk Sinta. "Saya siapkan Rp500 juta sebagai dana awal uji coba. Masuk rekening koperasi setelah pengurus dibentuk, aturan ditulis, dan laporan bisa dilihat warga. Sinta akan membantu pemantauan pembukuan dari kampus."

Sinta tersedak air. "Mas, aku baru dikasih jabatan tanpa wawancara?"

"Kamu lebih galak daripada auditor."

Suradi untuk pertama kali tersenyum kecil.

Pak Lurah bertanya lagi, kali ini lebih pelan. "Kalau nanti ada orang menjual diam-diam ke tengkulak?"

"Tidak dilarang," jawab Bayu. "Itu hak warga. Tapi koperasi harus memberi harga dasar yang jelas, timbangan terbuka, dan bonus kalau kualitas setelah potong naik. Kalau sistem kita adil, orang tidak perlu sembunyi."

Mbah Warno mengangguk keras. "Dulu orang berhenti menggali karena harga selalu gelap. Kualitas batunya masih bagus."

Bayu menulis satu kalimat di bawah rencana itu: tidak ada batu keluar tanpa catatan asal. Aturan tersebut akan mencegah pendatang mengambil nilai desa dengan timbangan mereka sendiri.

Siang itu mereka belum memutuskan semua hal. Pak Lurah meminta musyawarah desa, Mbah Warno menjadi penasihat teknis, dan dua pemuda desa ditunjuk untuk belajar memotong batu. Bayu hanya menulis kerangka; keputusan tetap berada di tangan warga.

Sore harinya, keluarga Prasetyo pergi ke Pantai Klayar.

Ombak menghantam karang seperti dahulu. Angin asin membawa suara yang pernah mengantar Bayu dari kehancuran menuju mata baru. Ia berjalan ke dekat batu tempat ia dulu bertemu lelaki tua pemancing.

Tidak ada siapa pun.

Hanya laut.

Sinta mendekat. "Mas lihat apa?"

Bayu tersenyum. "Utang."

"Ke siapa?"

"Ke tempat ini."

Malamnya, setelah pulang dari pantai, kepala Bayu akhirnya memberat. Penggunaan Mata Dewa di lereng terlalu luas. Ia berbaring di kamar lama, menutup mata, sementara Sri Wahyuni menaruh teh hangat di meja.

"Kamu terlalu memaksa diri, Le."

"Sedikit saja, Bu."

"Dari kecil kalau bilang sedikit, biasanya berarti banyak."

Bayu tertawa pelan, lalu diam.

Di balik kelopak matanya, garis-garis cahaya di lereng masih seperti tertinggal. Ia mengingat posisi batu, arah aliran air, dan tiga titik yang harus diuji lagi oleh orang teknis. Namun ia juga tahu batasnya. Mata Dewa bisa menunjukkan kemungkinan. Koperasi, pelatihan, izin, dan pembukuanlah yang akan menentukan apakah kemungkinan itu menjadi rezeki atau masalah baru.

Suradi masuk sebentar, melihat anaknya terbaring, lalu hanya berkata, "Menolong desa juga harus pakai badan yang sehat."

"Iya, Pak."

"Kalau besok masih pusing, jangan naik gunung lagi."

Perintah itu terdengar biasa. Tetapi bagi Bayu, itu pengingat bahwa ambisi paling baik pun tetap harus tunduk pada tubuh manusia.

Ketika Avanza keluar dari desa keesokan paginya, Mbah Warno masih berdiri di kaki bukit. Ia mengangkat tangan tinggi-tinggi, seolah takut kesempatan itu hilang jika tidak dilihat cukup lama.

Bayu melihatnya dari kaca spion.

Ia teringat kata lelaki tua di Klayar: sepasang mata cukup untuk menuju selamat dan menjauhi celaka.

Sekarang ia mengerti lebih jauh.

Mata itu juga bisa menjaga sumber hidup orang banyak.

Tetapi untuk melihat nilai yang terlalu lama tidak dipercaya orang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!