Kecelakaan itu telah membuat Ayuna harus kehilangan ingatannya. Mirisnya dia harus hidup terpisah dari orang tua kandungnya. Dia dibesarkan oleh orang tua angkat dengan penuh tekanan. Suatu hari dia terlibat skandal dengan pria asing hingga membuatnya melahirkan dua bocah kembar.
Perseteruannya dengan orang tua angkat membuatnya tak betah dan memutuskan untuk pergi dan hidup bertiga dengan anaknya.
Mampukah Ayuna hidup dalam kekurangan dengan menafkahi kedua anaknya?
Siapa kira-kira pria yang seharusnya bertanggung jawab atas kelahiran dua bocah kembar tersebut?
Yuk, ikuti kisahnya ekslusif di Noveltoon.
Follow Instagram me: Ika Novelis
Facebook:Ika Dwi Indrawati, Ika Dw (Author)
Tiktok: ikaindrawati73, penulis.novel76
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Dw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1. Anak Haram
"Bu! Tolong jangan paksa aku buat nikah sama laki-laki brengsek itu. Aku tidak mau!"
Ayuna, mengepalkan tangan menolak mentah-mentah perintah orang tua angkatnya yang memaksanya untuk menikah dengan pria yang disiapkan untuknya. Seorang pria tua yang memiliki dua orang istri dan lima orang anak itu ngebet ingin menikahinya karena terobsesi dengan kecantikannya.
"Hei Ayuna! Jangan sok suci kamu," seru wanita tua bernama Lastri yang tidak lain adalah ibu angkat Ayuna. "Kamu sudah memiliki dua anak haram. Masih untung pak Mario mau menikah denganmu. Memangnya laki-laki mana yang sudi menikah dengan wanita murahan sepertimu!"
Kata-kata 'haram' membuat telinga Aruna memanas, hatinya mendidih bak air rebus. Bukan hanya sekali dua kali saja kata-kata kotor itu keluar dari mulut wanita yang selama ini menjadi bagian dari keluarganya. Selama ini ia sudah cukup diam tak ingin memperkeruh keadaan, tapi caciannya sangat menyayat hati.
"Cukup Bu!" Ayuna berseru. "Mereka anak-anakku! Mereka bukan anak haram!"
Lastri mengangkat ujung bibirnya. "Bukan anak haram? Lalu di mana ayahnya? Apakah kau sudah menikah? Kau bahkan tidak pernah menikah, Ayuna! Kau itu hanya wanita murahan yang tidak ada harganya!"
Ayuna menegang, hatinya berkecamuk, ingin menjerit sekencang mungkin namun lidahnya kelu. Memang benar apa yang dikatakan Lastri, dirinya belum pernah menikah, namun sudah memiliki dua anak. Jika saja malam itu ia tidak berurusan dengan pria asing mungkin hidupnya tak akan seburuk ini, tapi ia juga tidak bisa menyalahkan siapapun.
"Sudah-sudah! Kalian ini selalu saja bertengkar," cerocos Aryo yang tak lain ayah angkat Ayuna. "Kita tidak bisa memaksa Ayuna untuk menikah dengan pak Mario Bu, Ayuna memiliki kehidupan sendiri. Kita nggak berhak buat mengekangnya."
Meskipun bukan anak kandungnya sendiri, Aryo sangat menyayangi Ayuna sama seperti menyayangi anak kandungnya sendiri. Dia tidak pernah membeda-bedakan dalam mengurus anak, hanya saja ia tidak bisa memberikan kehidupan yang lebih baik untuknya.
"Pak! Sudah berapa tahun dia numpang hidup sama kita," desis Lastri. "Sejak Bapak membawanya ke sini hidup kita sial, pak! Dia itu pembawa sial! Jangan buat kita semakin sial dengan keberadaannya di rumah ini, apalagi dia sudah punya dua anak haram. Mau jadi apa keluarga ini kalau sampai kita tetap mengizinkannya tinggal. Untung-untungan pak Mario mau menikahinya, memangnya masih ada laki-laki yang mau menikahi wanita murahan seperti ini?"
Aryo meraup wajahnya dengan kasar. Dia benar-benar geram dengan ocehan istrinya yang selalu ingin menjatuhkan harga diri Ayuna. Sebagai kepala keluarga ia merasa gagal tidak bisa mendidik istri dan anaknya dengan baik hingga membuat mereka tak bisa bersikap sopan terhadap orang lain.
"Ayuna memang pernah melakukan kesalahan yang fatal, tapi aku yakin semua itu terjadi bukan karena keinginannya. Aku percaya dia anak baik, dan dia~~
"Anak baik apanya," tukas Lastri menyahut. "Anak baik tidak akan menyerahkan harga dirinya secara cuma-cuma. Bahkan sampai sekarang tidak ada laki-laki yang datang untuk mencarinya. Sudah berhenti pak, jangan kau bela terus! Dia itu hanya benalu di rumah kita! Kalau dia tidak mau menikah dengan pak Mario lebih baik enyah saja!"
Lastri mengibaskan tangan dan langsung melenggang pergi dengan menggerutu. Kini tinggal Aryo yang tersisa. Pria tua itu berusaha untuk menguatkan hatinya.
"Jangan masukkan hati atas apa yang dikatakan oleh ibumu barusan. Dia sedang emosi."
Ayuna mengusap air matanya yang tak berhenti menetes. Rasanya terlalu perih jika harus bertahan hidup dengan orang yang tidak bisa menghargai pengorbanannya.
"Pak, aku cukup sadar diri keberadaanku di rumah ini hanyalah numpang hidup pada kalian. Sudah sewajarnya ibu marah, tapi ~~ Ayuna menunduk dengan meremas jemarinya.
"Tapi apa Ayuna?" tanya Aryo dengan mengerutkan keningnya.
"Tapi aku masih punya harga diri. Harga diriku hancur karena kesalahan yang tidak sepenuhnya aku perbuat, ditambah lagi dengan ibu yang mengatai anakku sebagai anak haram itu cukup menyakitkanku." Tangis Ayuna semakin pilu. Sudah kehilangan keluarga, diperlakukan begitu buruk oleh orang yang dianggap sebagai keluarganya. Kini ia hanya seorang diri, hidup dalam kemelut yang tak bercelah. "Sepertinya aku tidak bisa tinggal di sini lagi pak," ungkapnya dengan isakan kecil.
Aryo menatapnya dalam-dalam. Pikirannya mulai tak tenang, takut kehilangannya. "Memangnya kamu mau ke mana Ayuna?!"
Ayuna menelan salvianya dengan mengulas tipis senyumnya. "Ke mana saja, asal anak-anakku nyaman," cicitnya. "Aku tidak ingin anakku sedih karena perkataan ibu yang selalu memandang rendah mereka."
Aryo menghela nafas. Sebagai orang tua ia tidak bisa memberinya kehidupan yang layak. Istrinya melarang keras untuk tidak terlalu mengasihi anak-anak Ayuna yang dianggapnya 'haram'
"Tapi kehidupan di luar cukup menyeramkan Ayuna! Jangan terlalu gegabah! Pikirkan baik-baik sebelum mengambil keputusan."
"Tapi aku~~
Suara jeritan anak kecil membuyarkan obrolan mereka. Ayuna maupun Aryo mendengar jelas suara si kembar menangis di halaman rumahnya.
"Ampun nenek! Ampun...!"
"Jangan panggil aku nenek! Aku bukan nenek kalian! Dasar anak pembawa sial!"
Ayuna dan Aryo berlari keluar untuk memastikan apa yang sudah terjadi pada si kembar.
"Ada apa ini," sungut Aryo menghampiri istrinya yang membawa ranting digunakan untuk memukul bocah kembar berusia lima tahunan. Sedangkan Ayuna langsung merangkul dua anaknya yang terisak ketakutan.
"Mereka sudah membuat kegaduhan," celetuk Lastri. "Bisa-bisanya merebut mainan anak orang lain."
Ayuna berjongkok dan menanyainya dengan tatapan yang dingin, meskipun dalam hatinya tak begitu percaya anaknya berani merebut barang yang bukan miliknya.
"Apa benar yang dikatakan oleh nenek? Memangnya kalian merebut mainan siapa?"
Dua bocah itu menggeleng. "Kami tidak merebut mam, kami cuma gabung buat main."
Satu alis Ayuna terangkat. "Benarkah?"
Dua bocah itu mengangguk. Ditelisiknya sorot mata polos itu tidak menunjukkan tanda-tanda kebohongan.
"Kami nggak bohong mam, kami cuma duduk di sana, nggak rebut mainan kok!"
"Tapi kenapa nenek bilang kalian sudah merebut mainan anak orang?"
"Terus! Bela terus anak harammu itu," sungut Lastri.
Ayuna refleks menoleh. "Bu, aku tidak ada niatan untuk membela mereka, aku hanya sedang bertanya, apa benar tuduhan ibu itu, dan mereka bilang apa yang ibu katakan itu tidaklah benar. Di sini aku tidak berpihak pada siapapun, tapi kalau anak sekecil ini dijadikan bahan untuk mengadu domba, aku tidak segan-segan akan membuat perhitungan!"
"Kau menyinggungku, Ayuna?!"
"Aku tidak menyinggungmu," bantah Ayuna. "Tapi kalau ibu merasa tersinggung berarti benar, ibu memang biang masalah!"
Lastri melotot dengan tangan berkacak pinggang. Hatinya tercubit secara terang-terangan ia ditantang oleh Ayuna.
"Kurang ajar! Rupanya kau ingin menantangku, Ayuna?! Bagus sekali kau! Sudah berapa tahun kau numpang hidup di rumahku! Sudah berapa banyak uang yang kukeluarkan untuk biaya hidupmu?! Sekarang kau berani melawanku! Hati-hati dengan ucapanmu itu, karena sekali kau mengusikku, hidupmu bakalan hancur!"
Halo ..., teman-teman... Author kembali dengan cerita baru 💞 jangan lupa mampir dan kasih jejak buat semangatin ya..., thankyou 🫰💓