NovelToon NovelToon
Terjebak Nikah Kilat dengan Kapten Dingin yang Diam-diam Memujaku

Terjebak Nikah Kilat dengan Kapten Dingin yang Diam-diam Memujaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta setelah menikah / Kapten
Popularitas:187
Nilai: 5
Nama Author: Elara Aisyah

**Demi menyelamatkan pernikahan mewah sang kakak, Kayla dijadikan tumbal keluarga sendiri.**

Diberi obat bius, dijebak masuk ke kamar hotel untuk dijadikan "simpanan" demi melahirkan ahli waris keluarga Chandra—begitulah rencana kakak dan calon iparnya. Tapi takdir salah alamat: nomor kamar tertukar, dan Kayla justru terdampar di suite **Kapten Adrian Gunawan**, pria berwajah dingin yang katanya paling anti disentuh perempuan.

Malam itu mengubah segalanya.

Untuk lepas dari jeratan keluarga yang ingin menjual harga dirinya, Kayla nekat menikah kilat—dan pria yang dijodohkan padanya, entah kebetulan atau takdir, ternyata Adrian yang itu juga.

*"Kalau kau berharap bisa menjebakku dan menuntut tanggung jawab, jangan harap."*
*"Kebetulan sekali. Aku juga tidak mau kau bertanggung jawab,"* balas Kayla dingin.

Semua orang mengira pernikahan ini cuma kontrak tiga tahun yang cepat atau lambat berakhir cerai. Semua orang mengira Kapten Adrian tidak mungkin mencintai dokter IGD berlatar keluarga toko sembako itu.

Sampai orang-orang mulai memergoki sang kapten dingin memapah istrinya dengan sebutan *"sayang"* di setiap kalimat…

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

Bab 22

Cinta yang Ditolak

"Kalau kuenya tidak enak, jangan salahkan kokinya. Salahkah usia Oma."

Oma Melly mengangkat pisau kue sambil menatap seluruh keluarga di ruang makan Sanjaya.

"Oma sendiri yang memilih rasa kuenya," protes Jack dari pintu dapur.

"Kalau enak, berarti pilihan Oma bagus. Kalau tidak enak, kamu yang salah memasak."

Tawa memenuhi ruangan.

Kayla berdiri di samping Adrian, memegang piring untuk nenek yang dulu mempertemukan mereka. Tidak ada tatapan yang menilai harga gaunnya. Tidak ada yang bertanya berapa besar toko keluarga Halim.

Engkong Sianto justru bertanya apakah jadwal IGD membuatnya cukup tidur. Om Steven menawarkan sopir kalau Kayla pulang malam, sedangkan Tante Yuni mengisi piringnya sampai hampir tidak tersisa tempat.

"Saya bisa mengambil sendiri, Tante."

"Kamu terlalu kurus. Adrian tidak memberimu makan?"

"Dia memberi makan enam porsi sekaligus karena tidak tahu ukuran manusia normal."

Adrian menatap piringnya. "Sekarang aku sudah belajar."

"Setelah membuang tiga kotak nasi," kata Kayla.

Evelyn duduk di seberang mereka. Ibu Adrian itu tidak banyak bicara, tetapi ketika Kayla hendak mengambil sambal, ia lebih dulu menggeser mangkuk agar mudah dijangkau.

"Terima kasih, Ma," kata Kayla.

Evelyn berhenti sesaat mendengar panggilan itu, lalu mengangguk. "Jangan terlalu pedas. Lambungmu belum makan sejak siang."

Oma Melly mengetuk meja dengan sumpit. "Hari ini Oma juga punya pengumuman."

Semua orang menoleh.

Ia mengambil gelang giok sederhana dari pergelangan tangannya dan memanggil Kayla mendekat. "Ini diberikan ibuku ketika Oma menikah. Bukan barang paling mahal di rumah ini, tapi selalu dipakai perempuan yang menjaga keluarga tetap waras."

Kayla cepat menggeleng. "Oma, saya tidak bisa menerimanya."

"Bisa. Adrian terlalu kaku. Evelyn terlalu keras kepala. Sekarang tugasmu berat."

Evelyn mendengus, tetapi tidak membantah ketika Oma Melly memasangkan gelang itu ke tangan Kayla.

"Di rumah ini, kamu tidak perlu membuktikan asal keluargamu," kata Oma Melly. "Cukup datang dalam keadaan sehat dan mau makan."

Kayla menatap gelang hijau di pergelangannya. Setelah teh yang ditolak Ema Lanny, hadiah sederhana itu terasa seperti pintu yang benar-benar dibuka.

"Terima kasih, Oma."

Adrian meremas bahunya. Kali ini ia tidak perlu berdiri di depan Kayla. Keluarga Sanjaya sudah menyediakan tempat di sisinya.

Adrian mengangkat alis. "Mama tahu jadwal makannya?"

"Aku bertanya kepada Tiana. Tidak semua informasi harus datang darimu."

Kayla tersenyum. Kehangatan kecil itu terasa lebih tulus daripada seluruh kemewahan di rumah lama Gunawan.

Jack menjadi pusat perhatian malam itu. Ia menyajikan ayam panggang jeruk, sup ikan jahe, dan mi ulang tahun yang dibuat sendiri. Michelle membantunya keluar masuk dapur meski dua kali salah membawa piring.

"Ci biasanya mengelola klub sebesar ini," kata Kayla. "Kenapa satu nampan membuat gugup?"

"Lantainya licin," jawab Michelle.

"Lantainya kering."

"Kamu terlalu banyak bertanya."

Jack muncul membawa saus. "Kalau dia memecahkan piring, potong dari angpao pengantinmu."

Michelle mendelik. "Dulu kamu tidak sepelit ini."

"Dulu aku belum tahu harga piring Oma Melly."

Mereka kembali berdebat. Oma Melly memperhatikan dengan senyum penuh arti.

Setelah doa syukur singkat dan tiup lilin, beberapa kerabat mengajak Kayla berbicara. Seorang pria dari jaringan rumah sakit terlalu lama berdiri di dekatnya dan berkali-kali menawarkan makan siang pribadi untuk membahas donasi.

Adrian datang membawa segelas air.

"Pembicaraan donasi bisa melalui rumah sakit," katanya.

Pria itu tertawa canggung. "Saya hanya ingin mengenal dr. Kayla lebih dekat."

"Dia sudah cukup dekat dengan saya."

Adrian meletakkan tangan di pinggang Kayla. Pria itu akhirnya pamit.

"Cemburu?" tanya Kayla.

"Menjaga efisiensi. Dia mengulang kalimat yang sama tiga kali."

"Kamu juga mengulang kata istri setiap kali memperkenalkanku."

"Informasi penting perlu diulang."

Sean yang baru datang setelah penerbangan mendengar percakapan itu. "Kapten semakin parah sejak menikah."

"Kamu datang terlambat," kata Adrian.

"Saya mengantar dokumen medis penumpang kepada rumah sakit. Tiana yang menerima."

"Tiana dari RS Sentosa?" tanya Kayla.

Sean mengangguk terlalu cepat. "Dia sangat teliti."

"Hanya itu?"

"Dan banyak bicara."

Kayla menyimpan senyum. Ada lebih dari satu orang yang gugup di pesta malam itu.

Di dapur, Jack sedang memeriksa hidangan penutup ketika Michelle masuk membawa dua gelas anggur. Ia sudah minum sedikit, cukup untuk membuat pipinya merah tetapi tidak sampai kehilangan kendali.

"Kamu belum menjawab soal Naga Emas," katanya.

"Aku sudah datang melihat dapurnya kemarin."

"Maksudku soal bekerja denganku."

Jack menyusun potongan jeruk di atas puding. "Aku masih memikirkan."

"Kamu berubah setelah tahu siapa ayahku."

Tangannya berhenti.

Di meja sebelah, kotak resep tua milik Jack terbuka. Michelle melihat satu kartu bertuliskan `puding jeruk Michelle, terlalu manis` dengan tanggal masa sekolah mereka.

"Kamu masih menyimpan ini?"

Jack cepat menutup kotak. "Aku menyimpan semua resep."

"Bahkan resep gagal buatanku selama dua puluh tahun?"

"Kertasnya masih bisa dipakai."

Michelle menyentuh sudut kotak yang aus. Alasan itu buruk, dan mereka berdua tahu.

"Kalau kamu benar-benar tidak peduli, kamu tidak akan mengingat rasa pudingku," katanya.

Jack tidak menjawab. Ia justru mengambil gelas anggur Michelle dan menjauhkannya dari tepi meja agar tidak jatuh.

Gerakan kecil itu terlalu lembut untuk seseorang yang mengaku ingin menjaga jarak.

Michelle meletakkan gelas. "Di sekolah kamu tidak pernah menjauh dariku."

"Di sekolah aku tidak tahu keluargamu punya setengah kota."

"Tidak semua milik keluargaku adalah milikku."

"Orang kaya selalu bilang begitu sampai mereka butuh nama keluarga untuk membuka pintu."

Michelle menatapnya dengan terluka. "Kamu bahkan belum melihat bagaimana aku hidup."

Jack menghela napas. "Kamu orang baik, Michelle. Aku senang bertemu lagi. Tapi jangan berharap lebih."

"Kalau aku memang berharap lebih?"

Ruangan kecil itu mendadak terlalu sunyi.

Michelle menegakkan bahu. "Aku menyukaimu sejak sekolah. Dulu aku terlambat bicara. Sekarang aku tidak mau mengulang kesalahan."

Jack menatap wajahnya, lalu memalingkan mata.

"Aku tidak ingin berhubungan dengan orang kaya."

"Aku bertanya tentang perasaanmu, bukan rekeningku."

"Bagiku keduanya datang bersama."

Michelle tertawa pendek, tetapi matanya mulai basah. "Setidaknya penolakanmu jujur."

Ia meninggalkan gelas di meja dan keluar lewat pintu samping.

Kayla berpapasan dengannya di koridor. "Ci?"

"Aku harus kembali ke klub." Michelle memaksakan senyum. "Ucapkan selamat ulang tahun lagi untuk Oma."

"Jack mengatakan sesuatu?"

"Tanyakan sendiri kepada ommu."

Michelle pergi sebelum air matanya jatuh.

Kayla masuk ke dapur. Jack sedang membersihkan pisau yang sudah bersih.

"Om menolaknya karena dia kaya?"

"Karena aku tahu bagaimana akhirnya."

"Michelle bukan mantan istri teman Om."

"Keluarga seperti mereka selalu memilih nama dan uang ketika keadaan sulit."

"Adrian tidak."

Jack meletakkan pisau. Wajahnya kehilangan kekerasan sesaat.

"Sahabat yang kuceritakan itu tidak hanya kehilangan restoran," katanya. "Setahun setelah keluarganya dibuang, aku berdiri di pemakamannya dan berjanji tidak akan membiarkan diriku masuk ke hidup seperti itu."

Kayla terdiam.

Jack menatap pintu yang baru dilewati Michelle.

"Anak perempuan dari keluarga kaya," katanya pelan, "tidak boleh kusentuh."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!