NovelToon NovelToon
Bencana Akhir Zaman: Seluruh Kota Tenggelam

Bencana Akhir Zaman: Seluruh Kota Tenggelam

Status: sedang berlangsung
Popularitas:21
Nilai: 5
Nama Author: Novi

Arga Bayu Pratama, mantan prajurit Kopassus, terbangun di kamar kosnya yang sempit.
Tanggal di ponselnya: 10 November 2040 — dua hari sebelum kiamat.
Di kehidupan sebelumnya, ia bertahan selama enam tahun di dunia yang hancur. Ia menyaksikan hujan api menghujani kota, zombie berkeliaran di jalanan, dan manusia saling membunuh demi segenggam beras. Ia mati sendirian, tanpa apa-apa, tanpa siapa-siapa.
Tapi sekarang ia kembali. Dengan seluruh ingatan masa depan di kepalanya. Dan satu kekuatan baru yang membuatnya bisa mendengar pikiran setiap orang di sekitarnya.
"Kali ini, aku tidak akan menjadi yang paling lemah."
Sambil membeli puluhan karung beras, air mineral, dan gas elpiji sebelum dunia runtuh, Arga mulai menyusun rencana: membangun tim terkuat, menguasai kota, dan mencari tahu siapa — atau apa — yang sebenarnya menyebabkan kiamat ini.
Karena kiamat bukan kebetulan. Seseorang sedang menonton dari atas sana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23

Bab 023: Tingkat 3 - Kebangkitan

Malam itu, Tenda Hi-Tech dikosongkan. Anggota baru, laporan, dan makan malam ditahan di luar.

Nadira menutup pintu tenda dan memasang dua lapis penjagaan di luar. Meilan dan Meiling diberi tugas menjaga stok dan memastikan tidak ada orang mendekat tanpa izin.

Dara memutar bahu.

"Kalau aku pingsan, jangan biarkan siapa pun melihat."

Kiara meliriknya.

"Takut malu?"

"Takut Nadira memasukkannya ke laporan."

Nadira menjawab tanpa menoleh, "Sudah saya siapkan kolomnya."

"Kamu benar-benar menakutkan."

Arga meletakkan empat tumpukan Kristal di lantai tenda.

Cahaya bening dan biru tua menyebar seperti embun dingin.

Sebagian besar stok hasil Panen Kristal ada di sana.

Kristal Tingkat 1 dalam jumlah besar.

Kristal Tingkat 2 untuk menekan jumlah dan memperkuat inti energi.

Sekitar seribu Kristal Tingkat 1 dalam nilai setara akan habis malam ini.

Itu harga mahal.

Tapi inti lebih penting daripada jumlah.

Tiga ratus anggota tanpa puncak hanya kerumunan besar.

Empat orang Tingkat 3 bisa menjadi tulang belakang sebuah pasukan.

Arga menunjuk tumpukan masing-masing.

"Setiap orang menyerap sesuai urutan. Tingkat 2 dulu untuk membuka pintu. Tingkat 1 untuk mengisi dan menstabilkan. Jangan saling membantu saat proses inti dimulai."

Dara mengangkat tangan.

"Kalau rasanya seperti mau mati?"

"Itu normal."

"Kalau benar-benar mau mati?"

"Aku akan tahu."

Nadira menatapnya.

"Dari mana?"

Arga menatap balik.

"Pengalaman."

Jawaban itu kembali tidak lengkap.

Nadira tidak mengejar.

Matanya sudah terlalu sibuk menghitung perbandingan Kristal dan risiko kematian.

Kiara duduk bersila.

"Mulai."

Doa dan hitungan panjang tidak diperlukan.

Mereka menelan Kristal hampir bersamaan.

Energi masuk seperti baja cair.

Tubuh Arga sudah pernah melewati Tingkat 1 dan Tingkat 2, tetapi Tingkat 3 berbeda. Energi itu masuk ke tulang, darah, saraf, dan organ, memaksa seluruh tubuh menulis ulang batasnya.

Panas naik dari perut ke dada.

Jantung memukul tulang rusuk.

Pendengaran melebar.

Ia bisa mendengar napas Kiara yang tertahan, gigi Dara yang bergesekan, dan jari Nadira yang mencengkeram lantai sampai kukunya patah.

Empat tubuh duduk di tengah tenda.

Empat pusaran energi naik.

Lampu Hi-Tech bergetar.

Kain tenda yang seharusnya stabil berdesir seperti diterpa badai dari dalam.

Di luar, penjaga mendengar dengungan rendah.

Salah satu anggota baru ingin menoleh.

Meiling langsung berkata, "Jangan lihat. Kalau kalian mengganggu proses, kalian tidak akan sempat menyesal."

Tidak ada yang bergerak lagi.

Di dalam, Dara yang pertama mengeluarkan suara.

Bukan teriakan.

Geraman.

Otot di lengannya menegang seperti tali basah yang ditarik sampai hampir putus. Bekas luka di bahunya memerah. Tulang rusuk yang memar terasa seperti dipukul dari dalam.

"Sial..."

Nadira lebih sunyi.

Terlalu sunyi.

Wajahnya pucat, tetapi matanya terbuka. Ia menghitung napas.

Satu.

Dua.

Tiga.

Kalau tidak bisa mengendalikan sakit, kendalikan angka.

Kiara menggigit lengan Combat Suit.

Bayangan di bawah tubuhnya bergerak liar.

Kali ini bukan benih kecil.

Kali ini bayangan itu naik seperti asap hitam, menyentuh pergelangan tangannya, lalu menyebar ke rambut dan punggung.

Arga melihatnya melalui rasa sakit.

Bayangan.

Akhirnya.

Dalam kehidupan sebelumnya, Kiara baru menemukan kemampuan itu jauh lebih lambat, setelah banyak darah dan kehilangan.

Di kehidupan ini, ia duduk di depan Arga, lebih cepat, lebih muda, dan lebih berbahaya.

Energi di tubuh Arga mencapai puncak.

Untuk sesaat, sesuatu seperti pintu terbuka di dalam dirinya.

Tingkat 3 punya kemungkinan membangkitkan bakat alami.

Tetapi jalur itu tidak melahirkan kemampuan baru.

Teleportasi yang berasal dari Serum Bakat tetap berada di tubuhnya seperti inti asing yang sudah menyatu.

Tidak ada bakat alami yang muncul malam ini.

Namun Arga tidak kecewa.

Justru matanya mengeras.

Berarti tubuhnya belum menutup peluang.

Serum Bakat kedua di masa depan masih mungkin.

Satu orang dengan lebih dari satu jalur kemampuan.

Di kehidupan sebelumnya, hampir mustahil.

Di kehidupan ini, semua aturan sudah retak.

Energi meledak.

Empat tekanan menyapu tenda.

Papan catatan Nadira terlempar ke dinding.

Air dalam botol bergetar.

Di luar, anggota penjaga mundur setengah langkah karena merasakan sesuatu yang tidak bisa mereka jelaskan.

Lalu semuanya berhenti.

Arga membuka mata.

Dunia menjadi terlalu jelas.

Serat kain tenda.

Debu kecil di lantai.

Denyut nadi tiga perempuan di depannya.

Ia mengepalkan tangan.

Udara pecah pelan.

Tingkat 3.

Dengan dasar Serum Evolusi Tingkat Tinggi, tubuhnya kini dua puluh empat kali manusia biasa.

Ia merasa bisa menghancurkan pintu baja dengan satu pukulan.

Dan itu bukan perasaan kosong.

Kiara membuka mata berikutnya.

Bayangan di belakangnya tiba-tiba menelan tubuhnya.

Dara melompat.

"Kiara?"

Tidak ada jawaban.

Satu detik kemudian, ujung belati menyentuh leher Dara dari belakang.

Suara Kiara berbisik di telinganya.

"Di sini."

Dara membeku.

Lalu seluruh tubuhnya merinding.

"Aku benci kemampuanmu."

Bayangan surut.

Kiara muncul kembali.

Wajahnya pucat karena energi terkuras, tetapi matanya bersinar gelap.

"Bayangan," kata Arga. "Kamu bisa menyembunyikan tubuh dan meningkatkan kecepatan sekitar tiga kali lipat. Untuk sekarang, batasnya sekitar lima menit sehari. Jangan buang untuk pamer."

Kiara menatapnya.

"Kamu tahu namanya sebelum aku bilang."

Ruangan diam.

Nadira, yang baru saja selesai bernapas normal, langsung menoleh.

Arga menjawab tenang.

"Cocok dengan bentuknya."

Kiara menatapnya satu detik lebih lama.

Lalu ia mengangguk.

"Baik."

Ia tidak mengejar.

Tetapi ia menyimpan.

Nadira berdiri perlahan.

"Saya juga merasakan sesuatu."

Di tangannya, sebuah pisau dapur biasa terangkat.

Dara mengerutkan dahi.

"Jangan bilang kamu juga bisa menghilang."

"Tidak."

Nadira melihat pisau itu, lalu melihat rompi pelindung rusak yang dipakai untuk latihan.

Ia mengayun.

Gerakannya tidak cepat.

Tidak kuat.

Tetapi mata Arga menyipit.

Pisau itu melewati rompi seperti melewati kertas basah.

Pedang itu masuk tanpa suara benturan atau hambatan.

Rompi itu terbelah bersih.

Dara melongo.

"Itu rompi pelindung."

Nadira menatap pisau di tangannya.

Untuk pertama kalinya, ekspresinya benar-benar berubah.

Yang muncul di matanya bukan takut atau senang.

Sesuatu yang lebih dingin.

Pemahaman.

"Pembelah," kata Arga.

Nadira menatapnya.

"Anda juga tahu ini?"

"Sekarang aku tahu."

Itu juga bukan jawaban.

Tetapi kali ini Nadira tidak tersenyum.

Ia menatap rompi yang terbelah.

"Durasi?"

"Sekitar sepuluh menit sehari. Mungkin lebih pendek jika dipakai berlebihan. Kemampuanmu mengabaikan pertahanan. Jangan pernah tunjukkan di depan orang luar kecuali untuk membunuh."

Nadira mengangguk pelan.

"Dimengerti."

Di dalam kepalanya, Telepati menangkap satu pikiran tajam.

Kalau saya bisa memotong apa pun, pekerjaan saya bertambah.

Saya bisa menjadi ancaman.

Arga menyetujui dalam diam.

Dara berdiri terakhir.

Awalnya ia tampak kecewa.

"Aku tidak menghilang. Aku tidak membelah rompi. Jangan bilang aku cuma jadi lebih kuat."

Arga mengambil belati latihan yang ujungnya masih tajam.

"Aktifkan perasaan di kulitmu."

"Perasaan di kulitku?"

"Kamu tahu maksudnya."

Dara menutup mata.

Ia mengerutkan dahi.

Lalu napasnya berubah.

Kulit di lengannya tampak mengencang. Lapisan tekanan tak terlihat menyelimuti tubuhnya.

Arga menggores lengan Dara dengan belati.

Kiara hampir bergerak.

Belati itu terpental sedikit.

Hanya meninggalkan garis merah tipis.

Dara membuka mata.

"Oh."

Arga menekan lebih kuat.

Kali ini kulitnya teriris dangkal, tetapi tidak masuk dalam.

Dara menatap lengannya.

Lalu senyumnya melebar seperti orang menemukan dunia baru.

"Aku bisa maju duluan."

"Ketangguhan," kata Arga. "Pertahanan tubuh meningkat besar. Untuk sekarang, sepuluh menit, tiga kali sehari. Cocok untuk membuka jalan dan menahan serangan."

Dara mengepalkan tangan.

"Akhirnya. Aku memang ditakdirkan jadi yang paling depan."

Nadira berkata datar, "Itu bukan alasan untuk menerima semua serangan dengan wajah."

"Tergantung serangannya."

"Tidak."

Kiara menyarungkan belati.

"Jadi formasinya jelas."

Arga mengangguk.

"Kiara membunuh dari bayangan. Nadira memotong pertahanan. Dara menahan dan membuka jalan."

Dara menunjuk Arga.

"Kamu?"

"Aku menyelesaikan sisanya."

Tidak ada yang membantah.

Karena setelah tekanan Tingkat 3 keluar dari tubuh Arga, bahkan Dara yang baru mendapatkan Ketangguhan pun tahu jarak mereka masih jauh.

Arga berdiri.

Ia menatap tiga perempuan di depannya.

Kiara, mata gelap dan tubuh siap menghilang kapan saja.

Nadira, pisau biasa di tangan tetapi sekarang lebih menakutkan daripada banyak senjata.

Dara, tubuh yang bisa menjadi dinding hidup.

Dalam kehidupan sebelumnya, ia pernah mengumpulkan mereka satu per satu melalui waktu panjang.

Di kehidupan ini, inti itu terbentuk dalam satu tenda, satu malam, sebelum Kota Harapan benar-benar menyadari bahaya yang datang.

"Dengar," kata Arga.

Mereka bertiga menatapnya.

"Bayangan dan Pembelah tidak boleh bocor. Kiara, kemampuanmu untuk membunuh pemimpin. Nadira, kemampuanmu untuk membalik situasi saat musuh merasa aman. Dara, Ketangguhan boleh terlihat sebagian, tapi jangan beri tahu durasi dan batas."

Nadira langsung mencatat di papan yang jatuh.

"Status kemampuan: rahasia tingkat inti."

Dara mendesah.

"Aku baru punya kemampuan dan sudah harus merahasiakan."

Kiara berkata, "Kamu boleh pamer pada Zombie."

"Zombie tidak bisa kagum."

"Mereka bisa mati."

"Itu cukup."

Arga berjalan ke pintu tenda.

Ketika ia membukanya, udara malam masuk.

Semarang gelap.

Tetapi di utara, jauh di antara reruntuhan, ada cahaya yang berbeda.

Cahaya di kejauhan terlalu stabil untuk api liar atau Airdrop Box.

Cahaya lampu yang dijaga.

Titik-titik kecil tersusun seperti garis.

Pos pemeriksaan.

Menara pengawas darurat.

Kota Harapan.

Lebih cepat satu bulan.

Lebih ramai dari yang seharusnya.

Lebih berbahaya karena semua orang juga sedang dipaksa berlari.

Nadira berdiri di sampingnya.

"Kalau mereka sudah punya dua ribu orang, mereka punya hukum sendiri."

"Ya."

Kiara datang di sisi lain.

"Kita bergabung?"

Arga menatap cahaya di utara.

"Tidak."

Dara menyeringai.

"Bagus."

Arga merasakan kekuatan Tingkat 3 mengalir di tubuhnya.

Di belakangnya, tiga kemampuan baru baru saja lahir.

Bayangan.

Pembelah.

Ketangguhan.

Sebuah tim inti akhirnya punya bentuk yang layak dipakai untuk mengguncang kota.

"Besok," kata Arga, "kita pergi ke Kota Harapan."

Ia berhenti sebentar.

"Kita membuat mereka tahu, di kota ini ada kekuatan lain."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!