NovelToon NovelToon
Batas Dimensi Takdir

Batas Dimensi Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Time Travel / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:963
Nilai: 5
Nama Author: R251Aje

Setiap malam, Alena selalu memimpikan seorang pria. Seorang raja tampan yang kejam kepada semua orang, tetapi mencintainya dengan gila-gilaan.

Dalam mimpi itu, Alena adalah tunangannya. Mereka tinggal di sebuah kerajaan yang tidak pernah ia kenal. Sang raja selalu memeluknya, mencium keningnya, bahkan berjanji akan menjadikannya permaisuri.

Alena selalu mengira semua itu hanya mimpi. Sampai suatu pagi, setelah sang raja menciumnya dalam mimpinya, ia menemukan bekas kemerahan di lehernya.

Bekas itu nyata. Sejak saat itu, Alena mulai bertanya-tanya... Apakah ia benar-benar sedang bermimpi?

Sampai seorang pria baru datang ke tempat kerjanya sebagai bos baru. Begitu melihat wajahnya, Alena langsung membeku. Pria itu memiliki wajah yang sama persis dengan raja dalam mimpinya.

Namun sebelum Alena sempat melarikan diri, pria itu justru menghampirinya dan memeluknya erat.

“Kau... masih hidup?”

Alena panik dan segera mendorongnya. “Maaf, Pak. Apa kita pernah bertemu?”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R251Aje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 Musuh dari Dalam Istana

Kabar kembalinya Alena ke Istana Bulan Emas menyebar lebih cepat dari api di musim kemarau. Dalam hitungan jam, seluruh koridor istana sudah dipenuhi bisik-bisik. Para dayang, prajurit, hingga pejabat dewan berbicara tentang Ratu yang tiba-tiba muncul di kamar raja yang sedang terluka, bahkan sempat melindungi beliau dari percobaan pembunuhan. Dan kabar itu… akhirnya sampai ke telinga Ibu Suri.

Wanita tua itu duduk di kursi keemasan di Paviliun Utara, ruangan pribadinya yang dingin dan penuh aroma dupa. Rambut peraknya disanggul tinggi, wajahnya masih anggun meski usianya sudah tidak muda, namun matanya tajam seperti bilah pedang. Di jarinya, cincin kerajaan berkilau dingin.

“Jadi… dia kembali,” gumam Ibu Suri pelan, jari-jarinya mengetuk sandaran kursi. “Setelah bertahun-tahun melarikan diri, sekarang muncul begitu saja saat putraku sekarat.”

Seorang dayang berlutut di hadapannya. “Yang Mulia Ibu Suri, Ratu Alena saat ini masih berada di sisi Raja. Jenderal Kael melaporkan beliau yang mengobati luka-luka Yang Mulia Raja.”

Ibu Suri tersenyum tipis, senyum yang tidak mencapai mata. “Mengobati? Atau justru memanfaatkan kesempatan?”

Dia berdiri, mantel gelapnya menyapu lantai. “Panggil dia. Segera. Aku ingin bertemu langsung dengan menantu yang sudah lama menghilang itu.”

Tidak lama kemudian, Alena dipanggil. Dia masih lelah, lehernya masih sakit bekas cekikan tadi malam, tapi tidak punya pilihan. Dua dayang mengantarnya menuju Paviliun Utara. Sepanjang jalan, tatapan para pelayan dan prajurit tertuju padanya—campuran kagum, curiga, dan takut.

Pintu paviliun terbuka. Ibu Suri sudah menunggu di tengah ruangan, berdiri tegak dengan tangan dilipat di depan. Tatapannya menyapu Alena dari ujung rambut hingga kaki, seolah mencari noda.

“Mendekat,” perintahnya dingin.

Alena melangkah maju, lalu memberi hormat sesuai tata krama istana yang sudah lama tidak dia lakukan. “Ibu Suri.”

Ibu Suri tidak mempersilakan duduk. Dia berjalan mengelilingi Alena pelan, seperti predator yang sedang mengamati mangsa.

“Kau kembali,” katanya datar. “Setelah meninggalkan istana, meninggalkan tunanganmu, meninggalkan tanggung jawab sebagai Ratu. Sekarang, saat putraku terluka parah… kau muncul.”

Alena menegakkan kepala. “Saya kembali karena Raka membutuhkan saya.”

“Raka?” Ibu Suri berhenti di depan Alena, alis terangkat. “Kau masih berani memanggilnya dengan nama begitu akrab? Setelah semua pengkhianatanmu?”

Alena mengatupkan bibir. Ibu Suri tersenyum tipis. “Aku sudah mendengar semuanya. Kau masuk ke kamar raja tanpa izin dewan. Kau menggunakan artefak terlarang untuk menembus dimensi. Kau bahkan sempat bersembunyi seperti pencuri saat Jenderal Kael datang. Dan yang paling parah…”

Ia mencondongkan tubuh, suaranya turun menjadi bisikan tajam. “Kau membawa darah dunia manusia ke dalam istana. Siapa tahu kau sudah tercemar. Siapa tahu kau yang justru melemahkan segel hingga putraku harus bertarung sendirian.”

Alena menatapnya, menahan emosi. “Saya tidak pernah ingin menyakiti Raka.”

“Kata-kata mudah diucapkan,” balas Ibu Suri dingin. “Tapi di istana, yang dihitung adalah bukti dan celah hukum. Dan aku… sangat ahli mencari celah.”

Ia berbalik, duduk kembali di kursinya dengan anggun. “Untuk saat ini, kau boleh tetap di sisi raja. Tapi jangan salah paham. Aku akan mengawasi setiap langkahmu. Satu kesalahan kecil saja… dan aku akan pastikan kau dihukum di depan seluruh istana. Bahkan putraku tidak akan bisa melindungimu.”

Alena berdiri diam, tangan terpenggal di sisi tubuh. Ibu Suri melambaikan tangan. “Pergi. Dan ingat, Alena… istana ini tidak pernah melupakan pengkhianat.”

Alena memberi hormat singkat, lalu berbalik keluar. Begitu pintu tertutup di belakangnya, dia menghela napas panjang dengan tangan gemetar. Ibu Suri sudah mulai bergerak. Dan wanita tua itu jelas tidak akan berhenti sampai menemukan alasan untuk menghukumnya.

Alena berjalan cepat menyusuri koridor batu menuju kamar Raka. Pikirannya masih penuh dengan ancaman Ibu Suri tadi. Dia ingin segera kembali ke sisi Raka, memastikan pria itu aman. Tiba-tiba, di tikungan koridor utama, sebuah rombongan muncul dari arah berlawanan. Di depan berjalan seorang gadis muda berusia sekitar dua puluh tahun. Rambut hitamnya panjang dan dihiasi hiasan emas, gaun ungu gelapnya mewah, dan wajahnya mirip Raka—hanya lebih tajam dan penuh kesombongan. Di belakangnya, beberapa dayang dan dua pengawal pribadi mengikuti.

Dia adalah Putri Seana, adik kandung Raka. Begitu matanya menangkap Alena, Seana langsung tersenyum sinis dan menghentikan langkah. Dia mengangkat tangan, memberi isyarat pada rombongannya untuk berhenti, lalu dengan sengaja menghalangi jalan Alena.

“Wah… lihat siapa yang kembali,” kata Seana dengan suara manis yang palsu. “Kakak ipar yang sudah lama hilang. Atau harusnya aku panggil… pengkhianat yang baru saja merayap kembali?”

Alena berhenti. Dia menatap Seana tenang. “Putri Seana. Saya ingin lewat.”

Seana tertawa kecil, lalu melangkah mendekat. “Lewat? Setelah membuat kakakku hampir mati? Setelah membawa masalah dari dunia manusia ke istana? Kau pikir bisa berjalan seenaknya di koridor ini?”

Salah satu dayang di belakangnya ikut menimpali pelan, “Memang tidak tahu diri…”

Seana semakin berani. Dia mendorong bahu Alena pelan, cukup untuk membuat gadis itu terhuyung. “Pergi dari istana ini. Kau tidak pantas berada di sisi kakakku. Ibu sudah bilang, satu kesalahan saja dan kau akan dihukum. Aku bisa membantu mempercepat itu.”

Alena menegakkan tubuh. Tatapannya yang semula menahan kini berubah tegas. “Saya kembali karena Raka membutuhkan saya,” jawabnya jelas. “Bukan untuk meminta izin dari Anda atau Ibu Suri.”

Seana memerah. “Berani sekali bicara seperti itu pada adik raja!”

Dia mengangkat tangan, siap menampar Alena di depan semua orang. Tapi Alena lebih cepat. Dia menangkap pergelangan tangan Seana dengan erat, menatap gadis itu tanpa gentar.

“Jangan coba-coba,” kata Alena rendah, suaranya dingin. “Saya sudah cukup sabar. Saya tidak akan tinggal diam jika Anda terus mencari masalah. Saya melawan balik—bukan karena ingin menantang, tapi karena saya tidak akan membiarkan siapa pun menghalangi saya menolong Raka.”

Seana mencoba menarik tangannya, tapi cengkeraman Alena kuat. Dayang-dayang di belakang langsung ribut, pengawal maju selangkah, tapi Alena tidak melepaskan.

“Lepaskan!” bentak Seana, wajahnya merah padam karena malu dan marah.

Alena akhirnya melepaskan, lalu melangkah maju melewati Seana tanpa ragu. Bahunya sempat bersenggolan dengan gadis itu.

“Lain kali,” kata Alena tanpa menoleh, “pikirkan dulu sebelum menghadang orang yang sedang buru-buru menyelamatkan nyawa saudara Anda sendiri.”

Seana berdiri kaku di tempat, napasnya memburu. Dia membalikkan badan, ingin membalas, tapi Alena sudah menjauh di koridor dengan langkah tegas. “Kau akan menyesal!” teriak Seana dari belakang, suaranya memekik. “Aku akan pastikan Ibu Suri tahu betapa biadabnya kau! Kau tidak akan lama di istana ini!”

Alena tidak menjawab. Dia terus berjalan menuju kamar Raka, tangan masih sedikit gemetar… tapi kali ini bukan karena takut.

Melainkan karena marah yang tertahan. Di belakangnya, Putri Seana berdiri gemetar karena dipermalukan di depan bawahannya. Tatapannya penuh dendam dia memberi perintah kepada salah seorang dayangnya, “Beri dia pelajaran,” katanya pelan, tapi setiap kata terasa tajam. “Aku ingin melihat… berapa lama dia bisa bertahan di sisi kakakku.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!