Seorang penggemar anime tiba-tiba terbangun di sebuah pulau terpencil di dunia Naruto. Saat kebingungan mencari jalan keluar, sebuah sistem misterius muncul.
One Piece System.
Dengan sistem ini, ia dapat memperoleh karakter-karakter dari dunia One Piece sebagai bawahannya. Namun, untuk mendapatkan mereka, ia harus membangun reputasi dan pengaruh.
Bajak laut, Angkatan Laut, hingga tokoh-tokoh besar One Piece—semuanya bisa menjadi bagian dari kekuatannya.
Di dunia Naruto yang penuh konflik, ia harus menentukan jalannya sendiri.
Membangun kekuatan dari balik bayangan, atau menjadi legenda yang dikenal seluruh dunia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RabilMuhammadTahir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Jejak di Tengah Kabut Pesisir
Tetesan air yang jatuh secara teratur dari langit-langit batu Markas Tebing Barat menciptakan irama yang konstan di aula dalam gua. Angin pagi dari arah perairan laut lepas berhembus melalui celah barikade kayu, membawa aroma garam yang pekat serta kelembapan khas kepulauan Negara Air.
Rian melangkah pelan meninggalkan celah karang, menarik mantel bertudung hitamnya agar lebih rapat menutup bagian dada. Peningkatan kemampuan fisik dan penguasaan teknik Rokushiki: Geppo serta Rokushiki: Tekkai pada hari sebelumnya memberikan rasa percaya diri baru dalam setiap pijakan kakinya. Namun, kesadaran inteleknya yang bernilai 14 memutus segala bentuk rasa jemawa sebelum hal itu sempat mempengaruhi jalan pikirannya.
"Aniki!"
Suara lantang Johnny memecah kesunyian ceruk dalam gua. Pria tinggi kurus ber kacamata hitam itu melangkah mendekat seraya membawa sebilah pisau berburu yang sedang dibersihkannya menggunakan kain perca. Di belakangnya, Dogo menyusul dengan langkah lebih tenang, membawa gulungan kertas kulit berisi peta pasar gelap perairan luar.
"Johnny, Dogo. Bagaimana situasi pengawasan di sekitar pulau pagi ini?" panggil Rian datar tanpa memalingkan pandangan dari peta yang terbentang di meja aula.
"Dermaga timur dan selatan dalam kondisi aman, Tuan Rian," Dogo memulai laporannya seraya meletakkan gulungan kertas di atas meja kayu. "Informan nelayan yang kita bayar minggu lalu melaporkan bahwa tidak ada kapal patroli Kirigakure baru yang terlihat mendekati Pulau Ren. Hilangnya kapal Chunin Kaji benar-benar dianggap sebagai insiden kapal tenggelam akibat cuaca buruk di perairan dalam."
Rian mengangguk pelan. "Itu sesuai kalkulasi awal. Tetapi Desa Kabut tidak akan membiarkan jalur pasokan luar terlantar tanpa pengawasan dalam jangka panjang. Begitu kabar hilangnya Kaji sampai ke markas wilayah, mereka pasti akan mengirim armada pengganti."
"Kalau mereka mengirim pasukan lagi, kita tenggelamkan saja mereka seperti kapal Kaji kemarin, Aniki!" ujar Johnny seraya menyeringai lebar dan menyarungkan pisau di pinggangnya.
"Menenggelamkan satu kapal patroli kecil di laut lepas adalah satu hal, Johnny," balas Rian seraya memutar pandangannya menatap Johnny. "Tetapi memicu bentrokan terbuka dengan unit militer utama Kirigakure saat faksi kita baru memiliki satu kapal sloop dan belasan personel adalah kekonyolan. Kita butuh fondasi ekonomi yang mandiri dan kekuatan tempur yang lebih fleksibel sebelum nama Gale muncul di radar para petinggi Kiri."
Rian merogoh saku dalam mantelnya dan mengambil 2.000 Ryo dari total simpanan tunainya. Ia menyerahkan uang koin perak tersebut kepada Dogo.
"Dogo, gunakan uang ini untuk memperkuat pasokan logistik di gudang dalam gua. Beli tambahan beras, garam, dan minyak obor dalam jumlah sedang melalui pedagang di Dermaga Barat. Jangan membeli sekaligus di satu tempat agar tidak menimbulkan kecurigaan pedagang lokal."
"Siap, Tuan Rian. Saya akan mengurus pembelian itu secara terpisah bersama dua anak buah," jawab Dogo sigap seraya menerima koin Ryo dan membungkuk sebelum berbalik meninggalkan aula gua.
[Uang Tunai Berkurang: 18.000 Ryo → 16.000 Ryo]
Setelah Dogo pergi bersama dua personel untuk mengurus logistik, Rian memanggil Johnny mendekati ceruk air tempat Kapal Sloop Bertiang Dua bersandar.
"Johnny, selama Dogo berada di pemukiman, aku ingin kau memimpin latihan manuver kapal di area celah karang luar. Latih enam anak buah tersisa untuk mempercepat proses menaikkan dan menurunkan layar utama. Dalam pertarungan laut, kecepatan merespons arah angin sama krusialnya dengan tebasan pedang."
Johnny membetulkan posisi kacamata hitamnya dengan ibu jari, tersenyum bangga. "Serahkan padaku, Aniki! Anak-anak itu akan ku buat memutar roda kemudi sampai tangan mereka sekeras batu karang!"
Dua jam berlalu di bawah naungan kabut pagi yang perlahan menipis.
Rian berada di area latihan sunyi di atas tebing batu Markas Tebing Barat. Tempat ini terlindung oleh rimbunnya pepohonan liar dan semak berduri, memberikan pandangan luas ke arah lautan lepas tanpa terlihat dari bawah pantai.
Rian memejamkan matanya, membiarkan radar Kenbunshoku Haki (Basic) merentang secara melingkar di sekitarnya.
Dalam radius lima belas meter, ia bisa merasakan secara presisi kepakan sayap burung camar yang melintas di udara, hembusan angin yang menyapu dedaunan, serta getaran langkah kaki Johnny yang sedang berteriak memberi komando di geladak kapal sloop di bawah tebing.
Rian menekankan tumit kakinya ke permukaan batu karang, lalu melompat lurus ke atas.
Puk!
Di udara terbuka, kaki kirinya menghentak kepulan udara kosong di bawahnya dengan frekuensi tinggi. Udara padat tercipta seketika di bawah telapak kakinya, mendorong tubuh Rian terlontar satu meter lebih tinggi ke udara sebelum ia menggunakan kaki kanannya untuk melakukan hentakan kedua.
Puk!
Penguasaan Rokushiki: Geppo (Basic) yang baru dipelajarinya memungkinkan Rian melayang dua tingkat di atas permukaan batu sebelum mendarat dengan stabil tanpa menimbulkan suara benturan keras.
"Penggunaan dua kali hentakan berturut-turut memakan stamina yang cukup terasa," gumam Rian seraya mengatur ritme pernapasan dada.
[Stamina Berkurang: 8 → 6]
Ia menghentikan latihan fisiknya sejenak dan duduk bersila di atas batu datar untuk memulihkan pernapasan. Penggabungan persepsi Kenbunshoku Haki dengan ketahanan Tekkai dan mobilitas Geppo menciptakan sebuah gaya bertarung yang dinamis. Di dunia ninja tempat sebagian besar pertarungan Taijutsu mengandalkan pijakan tanah atau permukaan air menggunakan chakra, kemampuan melayang di udara tanpa mengonsumsi chakra adalah sebuah variabel yang tidak bisa diprediksi oleh musuh.
Saat Rian sedang fokus mengatur aliran fisiknya, radar Kenbunshoku Haki-nya menangkap getaran aura kehidupan yang bergerak cepat dari arah jalur darat hutan Tebing Barat.
Aura tersebut bergerak terburu-buru, membawa fluktuasi rasa cemas yang kuat.
Rian membuka matanya dan berdiri. Hanya dalam hitungan detik, sosok Dogo muncul dari balik rimbunnya semak-semak hutan dengan pakaian yang sedikit koyak terkena ranting berduri.
"Tuan Rian!" panggil Dogo dengan suara terengah-engah, dadanya naik turun akibat berlari kencang dari arah kota pelabuhan.
Rian melangkah mendekat dengan tenang. "Tenangkan napasmu, Dogo. Ada apa?"
Dogo menyapu keringat dingin di pelipisnya seraya berusaha menata bicaranya. "Tuan... ada kabar buruk dari pasar gelap Dermaga Selatan. Informasi baru saja masuk dari pedagang perantara yang biasa berhubungan dengan kita."
"Apakah Kirigakure mengirim pasukan patroli baru?" tanya Rian dingin.
"Bukan Kirigakure, Tuan," jawab Dogo cepat seraya menggelengkan kepala. "Tetapi Kelompok Bajak Laut Lautan Merah... faksi bajak laut buronan yang dipimpin oleh seorang mantan ninja pelarian tingkat B dari Negara Air bernama Hozuki Ryuji!"
Rian menyempitkan pandangannya. "Kelompok Bajak Laut Lautan Merah?"
"Ya, Tuan," terang Dogo dengan wajah tegang. "Ryuji adalah buronan besar di wilayah perairan luar. Dia membawa satu kapal perang ukuran sedang dengan belasan anak buah yang semuanya merupakan mantan ninja pelarian atau kriminal kelas berat. Menurut rumor yang beredar di pasar selatan, kapal Ryuji baru saja terlihat melewati jalur Kepulauan Hagi dan sedang berlayar menuju Pulau Ren!"
"Apa tujuan mereka datang ke pulau ini?"
"Ryuji mendengar kabar bahwa kapal patroli Kiri yang biasa memeras Pulau Ren telah lenyap," jawab Dogo presisi. "Dia berniat menguasai seluruh pasar gelap dan meminta upeti bulanan sebesar 100.000 Ryo dari pengelola dermaga Pulau Ren! Jika pengelola pulau tidak membayar malam ini, Ryuji mengancam akan membakar seluruh fasilitas dermaga dan menyita semua kapal yang tertambat!"
Rian terdiam sejenak, menimbang setiap informasi yang baru saja didapatkannya. Skor Intelligence 14-nya mulai menyusun jaringan sebab-akibat secara mendalam.
Kedatangan Hozuki Ryuji adalah konsekuensi langsung dari tindakan faksi Gale yang menenggelamkan kapal patroli Kaji pada bab sebelumnya. Hilangnya pengaruh militer Kirigakure di Pulau Ren menciptakan kekosongan kekuasaan (power vacuum) yang memancing faksi kriminal yang lebih besar seperti Kelompok Bajak Laut Lautan Merah untuk masuk dan mengklaim wilayah tersebut.
Denting suara sistem berdenting nyaring di dalam kepala Rian.
[MISSION TRIGGERED: Ancaman dari Lautan Merah]
Tujuan Misi: Gagalkan upaya Kelompok Bajak Laut Lautan Merah pimpinan Hozuki Ryuji untuk menguasai Pulau Ren dan lindungi jalur perdagangan faksi Gale.
Kondisi Kemenangan: Hancurkan atau usir armada Hozuki Ryuji secara total dari perairan Pulau Ren.
Hadiah Misi: +400 System Point, +200 Public Reputation (Pulau Ren), +150 Underworld Reputation, Unlocked: Character Recruitment Ticket (Common/Uncommon/Rare) (1).
Batas Waktu: Sebelum Fajar Hari Berikutnya.
Rian menatap rincian misi baru tersebut di layar semi-transparan biru yang mengapung di hadapannya.
Hadiah berupa 400 System Point dan sebuah Character Recruitment Ticket tingkat Rare adalah lonjakan kesempatan besar yang dapat membawa kekuatan faksi Gale ke tingkatan yang jauh lebih tinggi. Karakter tingkat Rare dari One Piece memiliki potensi kemampuan bertarung dan pengaruh yang jauh melampaui karakter Uncommon seperti Johnny.
"Hozuki Ryuji... nama keluarganya Hozuki," gumam Rian pelan.
Dalam pengetahuan canon dunia Naruto yang dimilikinya, klan Hozuki dari Kirigakure terkenal dengan Kekkei Genkai khusus mereka: Suika no Jutsu (Teknik Hidrifikasi), yang memungkinkan penggunanya mengubah tubuh menjadi cairan air untuk menghindari serangan fisik murni.
Jika Hozuki Ryuji adalah anggota klan tersebut yang menguasai teknik hidrifikasi, serangan pedang atau pukulan fisik biasa dari Johnny maupun anak buahnya tidak akan bisa melukai tubuhnya secara efektif.
"Dogo," panggil Rian.
"Ya, Tuan Rian!"
"Apakah Ryuji menguasai teknik mengubah tubuh menjadi air?"
Dogo menelan ludah seraya mengingat rumor. "B-Benar, Tuan! Konon katanya tebasan parang atau panah tidak bisa melukainya karena tubuhnya bisa berubah menjadi air saat diserang! Itu sebabnya tidak ada kelompok penyamun di kepulauan luar yang berani menentangnya!"
Rian menyunggingkan senyum tipis di balik mantel hitamnya.
Bagi orang awam atau ninja biasa, teknik hidrifikasi klan Hozuki adalah kemampuan yang sangat merepotkan. Namun sebagai seseorang yang memahami hukum fisiologi kekuatan dunia fiksi, teknik yang mengubah tubuh menjadi air memiliki kelemahan mutlak terhadap kejutan listrik, reaksi pengeringan, atau manipulasi tekanan lingkungan yang presisi.
"Dogo, panggil Johnny dan seluruh anak buah kembali ke aula gua sekarang juga," instruksi Rian mantap. "Kita akan mempersiapkan pertahanan dan penyergapan di perairan selatan sebelum kapal Ryuji menyentuh dermaga."
"Siap, Tuan!" jawab Dogo seraya berlari cepat menuju ceruk dalam gua tempat kapal sloop berada.
Satu jam kemudian, seluruh anggota faksi Gale telah berkumpul di aula utama gua Tebing Barat.
Rian berdiri di ujung meja kayu utama, menatap rapat ke arah Johnny, Dogo, dan sebelas anak buah yang berdiri berbaris rapi. Pakaian mereka kini sudah seragam menggunakan mantel kain tebal berwarna abu-abu gelap dengan senjata terikat kokoh di pinggang.
"Dengarkan aku," ujar Rian dengan intonasi dingin dan berwibawa. "Kelompok Bajak Laut Lautan Merah pimpinan Hozuki Ryuji sedang berlayar menuju Pulau Ren. Mereka berniat membakar dermaga dan menghancurkan jaringan perdagangan yang baru saja kita bangun."
Johnny melangkah maju, mengetukkan jari-jarinya di pelindung katana dengan wajah bersemangat. "Hozuki Ryuji atau siapa pun namanya, biarkan dia merasakan tebasan katanaku, Aniki!"
"Ryuji bukan musuh biasa, Johnny," potong Rian tegas. "Dia bisa mengubah tubuhnya menjadi air. Serangan tebasan pedang biasa hanya akan menembus tubuhnya tanpa memberikan luka nyata."
Johnny memiringkan kepalanya, miring ke heran. "Mengubah tubuh jadi air?! Seperti pengguna Buah Iblis Logia?!"
"Mirip, tetapi ini berdasarkan teknik chakra lokal," jawab Rian. "Karena itu, kita tidak akan bertarung secara membabi buta di atas geladak kapal mereka. Kita akan memanfaatkan keunggulan kapal sloop kita yang memiliki kecepatan manuver lebih tinggi serta meriam portabel yang baru kita amankan."
Rian membagi tugas secara taktis:
Johnny diposisikan sebagai komandan tim tempur geladak, bertugas mengeliminasi belasan anak buah Ryuji menggunakan kecepatan fisik Strength 18 dan Speed 15 yang dimilikinya.
Dogo dan empat anak buah bertugas mengoperasikan dua kanon portabel di sisi geladak sloop, membidik bagian kemudi dan layar kapal perang Ryuji untuk melumpuhkan mobilitas mereka.
Rian sendiri yang akan turun tangan secara langsung untuk mengatasi Hozuki Ryuji menggunakan kombinasi Kenbunshoku Haki, Tekkai, dan titik kelemahan fisik teknik air.
"Dogo," panggil Rian. "Apakah di dalam peti pasokan material yang kita amankan dari Kapten Kenshin terdapat bubuk belerang atau garam tempa murni?"
Dogo teringat isi peti material logam dan obat-obatan dari Kapten Kenshin. "Ada, Tuan! Peti obat-obatan itu berisi tiga kantong besar garam tempa murni dan bubuk belerang yang biasa digunakan untuk bahan pengawet kapal!"
"Bawa seluruh garam tempa itu ke atas kapal sloop," perintah Rian. "Lapisi mata pisau, panah, dan selongsong kanon kita dengan campuran larutan garam tersebut."
Air garam pekat dan reaksi natrium adalah salah satu media alami yang dapat merusak konsentrasi ion chakra pada teknik hidrifikasi air, membuat struktur molekul air musuh menjadi tidak stabil saat terbentur reaksi kimia pekat.
"Rencana yang sangat jenius, Aniki!" puji Johnny seraya tertawa lebar.
Anak-anak buah Gale bergerak cepat mengangkut kantong-kantong garam tempa dan bubuk belerang ke atas kapal sloop bertiang dua yang bersandar di ceruk gua. Mereka melapisi mata pisaunya dan mempersiapkan Amunisi kanon khusus di bawah pengawasan ketat Dogo.
Rian berdiri di haluan kapal sloop, menatap persiapan pasukan dengan pandangan tenang.
Ia memanggil antarmuka sistem di dalam pikirannya untuk mengonfirmasi seluruh status dan sisa System Point yang dimilikinya sebelum pertempuran besar pertama ini dimulai.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
SYSTEM STATUS
Nama: Rian Usia: 20 Level: 1
Strength: 12 Speed: 9 Vitality: 8 Stamina: 8 (Pulih Sepenuhnya) Intelligence: 14
System Point: 200 SP Reputation:
Public Reputation: 150 (Pulau Ren)
Underworld Reputation: 150
Skills:
Rokushiki: Kami-e (Basic)
Rokushiki: Geppo (Basic)
Rokushiki: Tekkai (Basic)
Navigation (Basic)
Kenbunshoku Haki (Basic)
Characters:
Johnny (Uncommon - Bounty Hunter) - Lokasi: Geladak Sloop (Markas Tebing Barat)
Inventory:
Basic Hunting Knife (1)
Kapak Besi Kecil (1)
Kompas Kuningan (1)
Tali Tambang Rami (Sisa 3 meter)
Pelindung Dahi Kirigakure Tergores (1)
Jurnal Pelayaran Kuno (1)
Kantong Air Kulit (2 Liter)
Roti Gandum Kering (2)
Kunai Standar Kiri (10)
Senbon (20)
Ninjato Standar Kiri (5)
Peti Material Logam Tempa & Obat-obatan (Sisa 1 Peti Material)
Uang Tunai: 16.000 Ryo
Perahu Layar Kayu Kecil (1 - Terikat di Dalam Gua Tebing Barat)
Dokumen Kepemilikan & Kunci Kabin Sloop (1)
Kapal Sloop Bertiang Dua (1 - Bersandar di Ceruk Gua Tebing Barat)
Achievement:
First Survival
World Discovery
Tactical Advantage
Civilized Footprint
Founder
Naval Dominance
Fleet Expansion
Martial Mastery
Organization: Gale (Level 1 - Organisasi Rahasia) Territory: Markas Tebing Barat (Pulau Ren)
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
Rian menutup panel statusnya. Seluruh persiapan strategi, amunisi khusus, dan koordinasi personel faksi Gale telah rampung.
"Mulai gerakkan kapal," perintah Rian dingin.
Kapal Sloop Bertiang Dua milik faksi Gale perlahan bergerak keluar dari ceruk gelap gua Tebing Barat, membelah ombak pantai utara dan berlayar memutar menuju jalur perairan selatan Pulau Ren—menyongsong kedatangan armada Kelompok Bajak Laut Lautan Merah.
Sore hari menjelang senja, perairan selatan Pulau Ren tampak dicekam oleh rasa ketakutan.
Di dermaga utama Pulau Ren, puluhan nelayan dan pedagang lokal berlarian mengamankan barang-barang dagangan mereka ke dalam rumah. Pintu-pintu toko dikunci rapat, dan jalanan kota pelabuhan mendadak sepi seperti kota mati.
Di garis cakrawala laut selatan, sebuah kapal perang kayu berukuran sedang dengan layar berwarna merah darah perlahan muncul menembus kabut nipis.
Di atas puncak tiang layar utamanya, berkibar bendera hitam berlukiskan tengkorak dengan dua garis gelombang merah—lambang resmi Kelompok Bajak Laut Lautan Merah.
Di bagian haluan kapal perang tersebut, berdiri sesosok pria tinggi tegap berambut biru gelap yang terurai kasar. Ia mengenakan celana panjang hitam dan rompi kulit tanpa lengan, memperlihatkan tato gelombang air di kedua lengan berototnya. Di punggungnya terikat sebilah pedang eksekusi berujung lebar.
Pria itu adalah Hozuki Ryuji.
"Heh, lihat pulau kecil ini," kekeh Ryuji dengan suara serak seraya memandang dermaga Pulau Ren yang sepi dari haluan kapalnya. "Begitu mendengar nama Bajak Laut Lautan Merah, tikus-tikus pelabuhan langsung bersembunyi di dalam lubang mereka."
Seorang anak buahnya yang bertubuh kurus dengan luka bakar di wajah melangkah mendekat seraya membungkuk. "Kapten Ryuji, apakah kita langsung membakar dermaga selatan seperti rencana awal?"
"Jangan terburu-buru," balas Ryuji seraya menyunggingkan seringai kejam. "Minta kepala desa menyerahkan 100.000 Ryo dan sepuluh ton pasokan makanan dulu. Jika dalam waktu satu jam mereka tidak menyerahkannya, baru kita bakar seluruh perahu dan rumah di dermaga ini."
"Siap, Kapten!" seru anak buahnya seraya tertawa jahat.
Namun, sebelum kapal perang Lautan Merah sempat mendekati jarak dua ratus meter dari Dermaga Selatan, seorang pengawas di tiang layar utama berteriak kencang dari atas.
"Kapten! Ada kapal asing datang dari arah belokan tebing barat!"
Ryuji memicingkan matanya, memandang ke arah belokan karang sebelah kanan.
Dari balik bayangan tebing karang barat, sebuah kapal Sloop Bertiang Dua berlayar cepat memotong gelombang laut. Layar kanvas abu-abunya terbentang penuh disambar angin sore, dan di bagian haluan kapal tersebut berdiri sesosok pria bertudung hitam yang mantelnya berkibar ditiup angin.
Kapal Sloop milik faksi Gale tidak melarikan diri, melainkan melaju kencang secara lurus menghampiri jalur pelayaran kapal perang Ryuji.
"Kapal sloop?" Ryuji mengernyit heran, lalu tertawa terbahak-bahak. "Kapal dagang kecil berani menghadang kapal perangku?! Apakah orang-orang di atas kapal itu sudah bosan hidup?!"
Di atas geladak kapal Sloop Gale, Rian memegang kemudi dengan tangan kanannya, sementara mata inderanya yang diperkuat oleh Kenbunshoku Haki (Basic) memetakan posisi seluruh lima belas anak buah Ryuji di atas kapal musuh.
"Johnny, Dogo! Posisikan kanon kanan!" teriak Rian dari geladak belakang.
"Siap, Aniki!" seru Johnny yang sudah berdiri di samping kanon portabel bersama Dogo.
Rian memutar roda kemudi secara mendadak ke arah kiri, memiringkan lambung kanan kapal sloop sejajar dengan sisi kiri kapal perang Ryuji pada jarak lima puluh meter.
"Tembak!"
DUARRR! DUARRR!
Dua kanon portabel Gale meletup secara bersamaan, menyemburkan bola besi yang telah dilapisi campuran bubuk belerang dan larutan garam tempa pekat.
Bola besi pertama menghantam tiang layar depan kapal perang Ryuji hingga retak hebat, sementara bola besi kedua meledak tepat di bagian dek tengah, melontarkan serpihan kayu tajam dan membakar sebagian tali layar musuh.
KRAK! BOOM!
Jeritan panik bergema dari anak buah Ryuji saat geladak kapal mereka bergetar hebat terkena hantaman meriam yang tidak mereka duga sebelumnya.
"Keparat!" raung Ryuji dengan wajah memerah murka. "Mereka punya meriam! Putar kemudi! Dekati kapal itu dan bantai semua orang di atasnya!"
Kapal perang Lautan Merah yang terluka memutar arahnya dengan liar, mencoba merapat ke lambung sloop Gale untuk melancarkan pertarungan jarak dekat.
Rian tidak mencoba menjauhkan kapalnya. Ia justru membiarkan kedua lambung kapal saling bergesekan dengan benturan keras di atas air laut.
BRAK!
"Serang!" raung Ryuji seraya memimpin belasan anak buahnya melompati pagar geladak untuk menyerbu kapal Sloop Gale.
Namun, begitu anak buah Ryuji menjejakkan kaki di atas geladak sloop, Johnny sudah menyambut mereka dengan tebasan melingkar yang sangat cepat dan berdaya hancur tinggi.
SRETT! BRUGH!
Dengan nilai Strength 18 dan Speed 15, tebasan katana Johnny memotong parang musuh dan melempar tiga anak buah Ryuji sekaligus jatuh kembali ke laut.
"Oi, Muka Bau!" gertak Johnny seraya menyeringai lebar dari tengah geladak. "Siapa yang mengizinkan kalian mengotori kapal Aniki-ku?!"
Johnny melancarkan gelombang serangan liar, membantai pertahanan anak buah Ryuji di geladak tengah bersama Dogo dan empat personel Gale yang menahan posisi menggunakan formasi pertahanan kelompok.
Sementara pertarungan massal meletus di geladak, Hozuki Ryuji melompati pagar dan mendarat tegak di bagian geladak belakang—tepat sepuluh meter di hadapan Rian yang berdiri tenang memegang kemudi.
Ryuji mencabut pedang eksekusi besarnya dari punggung, matanya yang merah menatap Rian dari balik tudung hitamnya dengan kebencian mendalam.
"Kau rupanya pemimpin tikus-tikus ini," suara Ryuji dingin mematikan. "Menyerang kapalku dengan meriam adalah kesalahan terbesar dalam hidupmu, Bocah!"
Ryuji melangkah maju dengan dorongan chakra air yang kuat di kedua kakinya, mengayunkan pedang eksekusi besarnya secara mendatar ke arah leher Rian dengan kecepatan tinggi.
Ayunannya penuh dengan tenaga pemotong kayu.
Rian tidak panik. Melalui Kenbunshoku Haki, ia membaca trajektori ayunan pedang tersebut satu detik sebelum tebasan terjadi.
"Kami-e," bisik Rian pelan.
Tubuh Rian mengendur seketika seperti lembaran kertas halus. Saat bilah pedang eksekusi Ryuji meluncur menuju lehernya, tubuh Rian meliuk halus ke belakang, membiarkan mata pedang besar itu melintas hanya satu milimeter di depan kain mantel hitamnya tanpa menyentuh selembar benang pun.
Tebasan berat Ryuji meluncur luput menghantam angin kosong.
"Apa?!" Ryuji terperanjat hebat melihat kelenturan tubuh Rian yang tidak wajar.
Sebelum Ryuji sempat menarik kembali pedang besarnya, Rian melangkah maju menembus pertahanan dalam Ryuji. Tangan kanan Rian yang memegang Basic Hunting Knife—yang telah diolesi larutan garam tempa pekat—meluncur cepat menancap tepat ke arah dada kiri Ryuji.
Jleb!
Seketika, reaksi Kekkei Genkai klan Hozuki terpicu secara refleks. Bagian dada kiri Ryuji berubah warna menjadi cairan air bening (Suika no Jutsu), membuat bilah pisau Rian menembus tubuhnya seolah menancap ke dalam genangan air biasa.
"Bohong!" kekeh Ryuji dengan seringai ejekan. "Tubuhku adalah air! Serangan pisau biasa tidak akan bisa melukai—"
Kata-kata Ryuji terhenti seketika saat cairan garam tempa pekat di bilah pisau Rian menyentuh molekul air di dalam dadanya.
Kring! Csss!
Reaksi garam tempa pekat mengacaukan ikatan ion chakra air Ryuji secara mendadak. Rasa sakit sengatan kimia yang luar biasa hebat menjalar dari pusat dadanya, memaksa struktur air tubuhnya runtuh dan kembali memadat menjadi daging manusia biasa secara paksa.
"A-AGGGHHH!" jerit Ryuji histeris seraya memegang dadanya yang memuntahkan darah dan memungut luka bakar garam. Ia terhuyung mundur tiga langkah, matanya membelalak tak percaya menatap Rian. "Garam... Garam tempa murni?! Bagaimana kau bisa tahu kelemahan teknik airku?!"
Rian tidak memberikan kesempatan bagi Ryuji untuk memulihkan alirannya. Ia menekankan tumit kakinya ke lantai geladak, meluncur cepat menembus ruang terbuka Ryuji.
"Tekkai!" bisik Rian seraya memusatkan ketahanan dan kekerasan fisiknya ke dalam tinju pertamanya.
Tinju kanan Rian yang memadat setara besi tempa menghantam rahang bawah Ryuji sekuat tenaga.
BUGHHH!
Bunyi benturan tumpul menggelegar. Tulang rahang Ryuji retak hebat, matanya mendelik saat tubuh besarnya terlempar melayang tiga meter di udara sebelum menghantam dinding kabin kapal sloop dengan dentuman keras dan pingsan tak sadarkan diri.
Anak buah Lautan Merah yang tersisa di geladak tengah membeku total melihat kapten mereka—seorang mantan ninja pelarian tingkat B yang konon tak tersentuh serangan fisik—tumbang secara telak di tangan pemuda bertudung hitam dalam waktu kurang dari dua menit.
"K-Kapten Ryuji... tumbang?!" jerit salah satu anak buah musuh dengan wajah pucat pasi.
"Lari! Mereka monster!"
Anak buah musuh yang tersisa melompat ketakutan ke dalam laut, meninggalkan kapal perang dan kapten mereka yang sudah tak berdaya.
Denting suara sistem berdenting sangat nyaring dan berturut-turut di dalam kepala Rian.
[MISSION COMPLETED: Ancaman dari Lautan Merah]
Tujuan Misi: Mengeliminasi armada Hozuki Ryuji dan melindungi Pulau Ren (Berhasil).
Hadiah Diterima:
+400 System Point
+200 Public Reputation (Pulau Ren)
+150 Underworld Reputation
Unlocked: Character Recruitment Ticket (Common/Uncommon/Rare) (1)
[ACHIEVEMENT UNLOCKED: Shinobi Hunter]
Mengalahkan ninja pelarian tingkat B yang memiliki kemampuan Kekkei Genkai secara taktis untuk pertama kalinya.
Reward: +150 System Point.
Rian menyarungkan pisau berburunya yang basah, mengatur napasnya yang stabil seraya berdiri di atas geladak belakang.
Johnny melangkah mendekat seraya menyapu darah musuh dari katananya, menatap tubuh Ryuji yang pingsan dengan senyum puas. "Aniki, taktik garammu benar-benar bekerja secara sempurna!"
Dogo dan anak buah Gale bersorak gembira, merayakan kemenangan mutlak mereka atas faksi bajak laut paling ditakuti di perairan luar.
Rian memanggil antarmuka status sistem di pandangannya untuk memeriksa lonjakan akumulasi poin dan hadiah terbarunya secara menyeluruh.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
SYSTEM STATUS
Nama: Rian Usia: 20 Level: 1
Strength: 12 Speed: 9 Vitality: 8 Stamina: 8 Intelligence: 14
System Point: 750 SP (200 + 400 + 150) Reputation:
Public Reputation: 350 (150 + 200 - Pulau Ren)
Underworld Reputation: 300 (150 + 150)
Skills:
Rokushiki: Kami-e (Basic)
Rokushiki: Geppo (Basic)
Rokushiki: Tekkai (Basic)
Navigation (Basic)
Kenbunshoku Haki (Basic)
Characters:
Johnny (Uncommon - Bounty Hunter) - Lokasi: Geladak Sloop (Perairan Selatan Pulau Ren)
Inventory:
Basic Hunting Knife (1)
Kapak Besi Kecil (1)
Kompas Kuningan (1)
Tali Tambang Rami (Sisa 3 meter)
Pelindung Dahi Kirigakure Tergores (1)
Jurnal Pelayaran Kuno (1)
Kantong Air Kulit (2 Liter)
Roti Gandum Kering (2)
Kunai Standar Kiri (10)
Senbon (20)
Ninjato Standar Kiri (5)
Peti Material Logam Tempa & Obat-obatan (1)
Uang Tunai: 16.000 Ryo
Perahu Layar Kayu Kecil (1 - Terikat di Dalam Gua Tebing Barat)
Dokumen Kepemilikan & Kunci Kabin Sloop (1)
Kapal Sloop Bertiang Dua (1 - Perairan Selatan)
Character Recruitment Ticket (Common/Uncommon/Rare) (1)
Achievement:
First Survival
World Discovery
Tactical Advantage
Civilized Footprint
Founder
Naval Dominance
Fleet Expansion
Martial Mastery
Shinobi Hunter
Organization: Gale (Level 1 - Organisasi Rahasia) Territory: Markas Tebing Barat (Pulau Ren)
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
Rian menatap tiket perekrutan tingkat Rare yang kini mengapung di kolom Inventory-nya.
"Sistem," perintah Rian tenang di dalam pikirannya seraya berdiri di haluan kapal di bawah pancaran sinar matahari sore. "Gunakan Character Recruitment Ticket (Common/Uncommon/Rare)."
Layar transparan biru di hadapannya bergetar hebat, memancarkan pendar cahaya keemasan pekat yang berkilau terang—jauh lebih silau dari perekrutan Johnny sebelumnya—membiaskan garis siluet sosok karakter baru yang siap dipanggil dari dunia One Piece.