NovelToon NovelToon
Kapten yang Lepas Kendali Karenaku

Kapten yang Lepas Kendali Karenaku

Status: tamat
Genre:Kisah cinta masa kecil / One Night Stand / Enemy to Lovers / Kapten / Tamat
Popularitas:8
Nilai: 5
Nama Author: VivianMansano

Valentina Mahendra Arini terbiasa mengendalikan segalanya. Di menara kendali, suaranya menentukan hidup ratusan penumpang. Di luar sana, hidupnya justru nyaris runtuh: mantan kekasih yang merendahkannya, saudari tiri yang memanipulasi, dan ayah yang memakai ibunya yang koma serta neneknya sebagai alat ancaman.
Malam ketika ia ingin melupakan semuanya, Val bertemu kembali dengan Sebastian Bara, rival masa SMA yang dulu paling ia benci. Satu malam yang seharusnya menjadi kesalahan berubah menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih rumit ketika Val mengetahui Sebastian adalah kapten di maskapai yang setiap hari ia pandu dari menara.
Sebastian tidak menawarkan janji manis. Ia hanya muncul, diam-diam menjaga, dan menolak membiarkan Val mengubah luka-lukanya menjadi hal yang bisa dibeli atau disangkal. Di antara frekuensi radio, jadwal penerbangan, rahasia keluarga, dan bahaya yang makin dekat, Val harus memutuskan apakah kendali berarti bertahan sendirian, atau berani membiarkan seseorang berdiri di sisinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VivianMansano, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14

Bab 14: Bau Perempuan Lain

Val.

Lukian berbau parfum perempuan.

Bukan parfumnya. Bukan Hugo Boss yang biasa dia pakai. Ini yang lain. Sesuatu yang manis, memuakkan, yang sampai kepadaku sebelum dia membuka mulut.

Dia berdiri di depan gerbang gedungku. Lagi. Dengan buket bunga lain. Kue lain. Wajah lain yang berkata "maafkan aku, sayang". Tapi kali ini aku tidak punya kesabaran.

"Lukian," kataku, berhenti satu meter darinya. "Kamu berbau perempuan lain."

Senyumnya hilang.

"Apa?"

"Parfum. Di lehermu. Di kemejamu." Aku menunjuknya. "Kamu baru dari tempat seseorang dan langsung datang ke pintuku. Kamu bahkan tidak ganti baju."

"Aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan, sayang..."

"Jangan panggil aku sayang." Sesuatu putus di dalam diriku. Bukan dalam arti sedih. Dalam arti rantai yang akhirnya pecah. "Jangan panggil aku sayang saat kamu berbau ranjang perempuan lain. Jangan bawakan aku bunga dengan tangan yang tadi menyentuhnya. Jangan bilang 'aku mencintaimu' dengan mulut yang sama yang..."

"Cukup, Valentina!" teriaknya, dan teriakan itu memotongku bersih. Itu pertama kalinya dia meneriakiku di jalan. "Aku muak kamu memperlakukanku seperti kriminal! Yang kulakukan hanya mencintaimu dan kamu selalu mendorongku pergi!"

Aku menatapnya. Menatapnya baik-baik. Pria ini, yang berkata mencintaiku dan berbau perempuan lain. Pria ini, yang mengirim tiga puluh pesan "kamu yang terpenting" lalu tidur dengan siapa saja. Pria ini, yang selama tiga tahun membuatku merasa akulah yang gila, berlebihan, yang "mendramatisasi semuanya".

Aku menamparnya.

Bunyinya kering, jelas, seperti tepuk tangan di ruangan kosong. Wajahnya menoleh. Lima jariku tercetak di pipinya. Dan aku tidak menyesal.

"Jangan kelewatan," kataku, suaraku rendah dan teguh. "Jangan berani berteriak kepadaku. Jangan datang ke rumahku berbau perempuan lain dan mengatakan kamu mencintaiku. Dan lain kali kamu muncul di sini, bukan tamparan yang akan kamu dapat. Tapi laporan polisi."

Lukian menyentuh pipinya. Dia menatapku dengan mata penuh sesuatu yang bukan rasa sakit. Itu keterkejutan. Keterkejutan pria yang tidak menyangka furnitur bisa memukul balik.

"Kamu akan menyesali ini," katanya pelan.

"Tidak. Aku tidak akan menyesal."

Aku masuk ke gedung. Petugas keamanan membukakan gerbang tanpa kuminta, kali ini iya, karena kali ini dia melihat tamparan itu dan untuk pertama kalinya seseorang melihat siapa Lukian sebenarnya.

Aku menaiki tangga. Tiba di apartemen. Menutup pintu.

Dan di sana aku runtuh.

Bukan karena sedih. Bukan karena takut. Karena sesuatu yang lebih buruk. Sesuatu yang datang dari tempat lebih jauh daripada Lukian, lebih dalam, dari tempat yang kujaga terkunci dan kadang terbuka tanpa izin.

Bau itu. Bau sialan parfum perempuan itu di pakaiannya. Bukan bau itu sendiri yang menghancurkanku. Melainkan apa yang diingatkannya.

Aku masuk ke kamar mandi. Membuka pancuran dengan air sepanas mungkin sampai membakar. Kulepas pakaian dan masuk ke bawah aliran air tanpa menunggu suhunya turun. Air menghantam kulitku seperti jarum dan aku tidak peduli. Aku perlu bersih. Perlu mengeluarkan bau itu dari tubuhku, meski dia tidak menyentuhku, meski parfum itu miliknya dan bukan milikku, meski semuanya tidak rasional dan aku tahu.

Kugosok lenganku dengan sabun sampai kulit memerah. Kugosok leher, pergelangan, belakang telinga. Kugosok tangan tiga kali. Empat. Sabun terlepas dan kuambil lagi, lalu kumulai lagi.

Ini tidak normal. Aku tahu. Aku tahu ini, kebutuhan kompulsif untuk membersihkan diri setelah sesuatu yang bahkan tidak terjadi padaku, dorongan untuk menghapus kontak yang tidak pernah ada, bukan reaksi normal.

Tapi aku tidak bisa berhenti.

Air mulai dingin dan aku masih di sana. Aku duduk di lantai kamar mandi, lutut menempel di dada, lengan melingkari kaki. Air jatuh di tubuhku dan aku menatap ubin tanpa benar-benar melihatnya.

Ada sesuatu di bawah semua ini. Di bawah Lukian, di bawah amarah, di bawah kebutuhan mengendalikan yang pernah ditunjukkan Seb kepadaku pada hari dia merobek Rp100 juta. Sesuatu yang bertahun-tahun kutekan ke bawah, seperti memasukkan pakaian kotor ke lemari lalu menutup pintunya kuat-kuat sambil berharap pintu itu tidak terbuka.

Tapi lemari selalu terbuka.

Aku tetap di sana sampai air benar-benar dingin. Setelah itu aku membungkus tubuh dengan handuk, memakai pakaian bersih, pakaian yang berbau pelembut kainku, sabunku, diriku, lalu berbaring di ranjang.

Ponsel bergetar.

Bukan Lukian. Bukan Kamila.

"3. Kamu sudah tidur?"

Seb.

Aku menatap pesan itu. Huruf-hurufnya sempat kabur karena mataku basah.

Aku tidak membalas. Kutaruh ponsel di meja samping ranjang, menarik selimut sampai dagu, dan memejamkan mata.

Dalam gelap, dinding lemari di dalam diriku berderit.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!