NovelToon NovelToon
Malam Itu, Aku Tidur dengan Dosenku

Malam Itu, Aku Tidur dengan Dosenku

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Dosen / CEO
Popularitas:30
Nilai: 5
Nama Author: Vyrkon

Mabuk semalam di Singapura, Kirana menghabiskan malam terpanasnya dengan pria asing paling memukau yang pernah ia temui—lalu kabur subuh, meninggalkan selembar uang di nakas seolah pria itu cuma "bayaran satu malam".

Ia bersumpah takkan pernah bertemu lelaki itu lagi.

Sampai pagi harinya, pria itu berdiri di depan kelas sebagai **dosen pengganti** mata kuliah keuangannya. Prof. Arya Danuwangsa. Delapan tahun lebih tua, dingin, menyeringai seolah tahu persis apa yang mereka lakukan semalam.

*"Sepertinya malam itu kamu cukup puas, ya?"*

Astaga. Kirana baru saja tidur dengan dosennya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13

Bab 23: Studi Banding

Di antara payung palsu dan panggung gelap, Kirana tidak menemukan dialog yang bisa menyelamatkannya dari pertanyaan nyata Arya.

Ia membawa pertanyaan itu ke Puncak pada Sabtu pagi.

Program studi mengadakan studi banding dua hari satu malam di sebuah vila heritage. Prof. Hartono memimpin seminar, Arya menjadi pemateri, sementara Kirana dan Winda masuk kelompok mahasiswa presentasi.

Hujan turun sejak bus meninggalkan Depok. Ketika mereka tiba, kabut menutupi perbukitan dan udara dingin masuk sampai tulang.

“Gue sudah bilang bawa jaket tebal,” kata Winda.

“Ini sudah tebal.”

“Tangan lo kayak es.”

Sebuah jaket gelap tiba-tiba jatuh di bahu Kirana. Arya berdiri di belakangnya.

“Pakai.”

“Nanti orang lihat.”

“Semua orang juga lihat kamu menggigil.”

Sebelum Kirana membalas, seorang perempuan memanggil dari teras.

“Arya?”

Perempuan itu tinggi, elegan, mengenakan mantel krem dan sepatu bot. Ia berjalan cepat dengan senyum lebar.

“Benar kamu! Sudah berapa tahun?”

Arya bergeser setengah langkah ketika perempuan tersebut hendak merangkulnya. Gerakan kecil, tetapi tegas.

“Diana.”

“Masih dingin.” Diana tertawa seolah penolakan itu kebiasaan lama. “Saya Diana Prasetyo, dari universitas mitra. Kami teman SMA.”

Ia mengulurkan tangan kepada Kirana.

“Kirana, mahasiswa UN.”

Diana melihat jaket Arya di bahunya. “Mahasiswa kesayangan?”

“Peserta yang kedinginan,” jawab Arya.

Namun saat Kirana hendak melepas jaket, Arya menahannya. “Tetap pakai.”

Senyum Diana menipis.

Seminar dimulai setelah makan siang. Diana duduk dekat Arya di meja pemateri, beberapa kali mencoba mengajak bicara pribadi. Setiap kali ia condong, Arya menggeser kursi atau mengalihkan percakapan kepada Prof. Hartono.

Kirana seharusnya lega. Anehnya, ia justru memperhatikan terlalu banyak: cara Diana mengenal minuman favorit Arya, cerita tentang lomba ekonomi SMA, dan foto lama yang ditunjukkan kepada peserta.

Dalam foto, Arya berdiri paling jauh dari kelompok perempuan.

“Dari dulu susah didekati,” kata Diana. “Saya satu-satunya yang bisa bicara lama dengannya.”

Arya menutup tablet. “Itu karena kita satu tim lomba.”

“Tetap saja paling dekat.”

“Tidak.” Tatapan Arya mencari Kirana di baris mahasiswa. “Kamu bukan orang terdekat saya.”

Ruangan seketika terasa lebih hangat.

Sore hari, kelompok Kirana mempresentasikan analisis. Diana memberi pertanyaan sulit, menekan asumsi dengan nada manis. Kirana menjawab menggunakan data yang telah dibahas bersama Prof. Hartono.

“Cukup baik untuk mahasiswa,” kata Diana.

“Bukan cukup,” sahut Arya. “Jawabannya tepat.”

Prof. Hartono mengangguk setuju. Kirana tidak membutuhkan pembelaan, tetapi keberpihakan yang berbasis fakta itu tetap menghangatkan dada.

Pada makan malam, Diana mengambil kursi kosong di samping Arya. Sebelum duduk, ia menyentuh bahu pria itu dengan akrab.

Arya langsung berdiri. Wajahnya kehilangan warna sesaat dan jari yang memegang gelas menegang.

“Kamu kenapa?” tanya Diana.

“Tidak apa-apa.” Arya memindahkan kursi ke sisi Prof. Hartono. “Duduklah di sana.”

Reaksinya terlalu kuat untuk sekadar tidak tertarik. Kirana memperhatikan Arya meneguk air dan mengambil napas pelan, seolah menahan mual.

Beberapa menit kemudian, Winda meminta Kirana mengantarkan catatan ke meja pemateri. Ketika Kirana berdiri dekat, ketegangan di bahu Arya turun. Ia bahkan menarik kursi kosong agar Kirana bisa duduk.

Diana melihat perbedaan itu.

“Arya dulu tidak pernah membiarkan teman perempuan sedekat ini,” katanya.

“Kirana mahasiswa saya.”

“Itu justru membuatnya lebih rumit.”

Prof. Hartono meletakkan sendok. “Makan malam bukan ruang sidang etika. Semua penilaian sudah diawasi, dan mahasiswa punya hak atas kehidupan pribadi selama aturan dipatuhi.”

Diana tersenyum. “Saya hanya khawatir nama baik Arya.”

“Nama baik saya bisa saya urus sendiri,” jawab Arya.

Di bawah meja, tangan Kirana menyentuh ujung jarinya sebentar. Arya membalik telapak dan menggenggamnya di balik taplak, tersembunyi dari peserta lain. Sentuhan rahasia itu membuat Kirana tenang, tetapi juga menajamkan kecemburuan Diana.

Setelah makan, Diana membawa album digital berisi foto sekolah lama. Dalam salah satu gambar, remaja Arya berdiri di podium dengan medali, sementara Diana berada di sampingnya.

“Kami hampir mewakili sekolah ke luar negeri bersama,” katanya. “Sayang Arya berangkat lebih dulu.”

“Saya berangkat karena beasiswa,” koreksi Arya.

“Tanpa pamit kepada saya.”

“Saya pamit kepada sekolah.”

Winda menunduk pada piring agar tawanya tidak terlihat. Kirana menahan senyum. Setiap upaya Diana menjadikan masa lalu romantis dipotong Arya menjadi laporan administratif.

Namun ketika foto-foto itu berganti, Kirana tetap menyadari panjangnya tahun yang tidak ia kenal. Diana berada di sana saat Arya muda, sementara Kirana baru memasuki hidupnya beberapa minggu lalu.

Malam turun bersama hujan yang semakin keras. Para peserta dibagi ke kamar terpisah di dua bangunan vila. Winda mendapat kamar dekat aula, sedangkan Kirana berada di lantai atas bangunan lama.

Pukul sebelas, listrik padam.

Kirana menyalakan senter ponsel. Air merembes dari sudut jendela dan menetes dekat stopkontak. Ia menjauhkan koper lalu menelepon pengelola, tetapi sinyal putus-putus.

Ketukan terdengar.

“Rana?”

Kirana membuka pintu. Arya berdiri dengan senter dan handuk di bahu. Rambutnya basah oleh hujan.

“Mas tahu dari mana?”

“Pengelola bilang kamar atas bocor.”

Ia memeriksa stopkontak tanpa menyentuh area basah, mematikan pemutus lokal, lalu memindahkan koper Kirana. “Kamu pindah ke kamar kosong dekat aula.”

“Saya bisa sendiri.”

Petir menyambar. Kirana refleks mencengkeram lengan Arya.

Pria itu melihat tangannya. “Tentu.”

“Jangan senyum.”

Arya menyalakan lampu darurat. Sambil menunggu kamar pengganti disiapkan, mereka duduk dekat perapian kecil di ujung lorong. Kirana mengeringkan rambut Arya dengan handuk karena pria itu menolak berhenti memeriksa kebocoran.

“Diana cantik,” kata Kirana tanpa rencana.

“Banyak orang cantik.”

“Kalian punya banyak kenangan.”

“Kami satu sekolah.”

“Dia bilang paling dekat.”

Arya mengambil handuk dari tangan Kirana dan menatapnya. “Kamu cemburu?”

“Nggak.”

“Berarti saya boleh duduk dekat dia besok?”

“Terserah.”

Arya berdiri. Kirana langsung menahan ujung kemejanya.

“Mau ke mana?”

“Duduk dekat Diana.”

“Sekarang tengah malam.”

“Benar.” Ia duduk kembali, mata gelapnya puas. “Berarti jangan berbohong.”

Kirana melepaskan kain. “Sedikit.”

“Apa?”

“Cemburu sedikit.”

Arya menyentuh dagunya. “Saya tidak suka dia mendekat.”

“Kenapa?”

Jari Arya menegang sesaat. “Saya tidak nyaman dengan kebanyakan perempuan.”

“Tapi dengan saya?”

“Kamu tahu jawabannya.”

Langkah pengelola terdengar. Mereka pindah ke kamar kosong. Setelah memastikan listrik aman, pengelola pergi untuk memeriksa kamar lain.

Kirana berdiri dekat ranjang, masih memakai jaket Arya. “Mas harus kembali.”

“Suruh saya pergi.”

Mulut Kirana terbuka, tetapi kata itu tidak muncul.

“Saya nggak suka merasa kalah sama masa lalu,” katanya.

Arya berhenti. “Kamu tidak sedang bersaing.”

“Diana mengenal Mas bertahun-tahun.”

“Dia mengenal nama saya di daftar kelas dan angka di lomba. Dia tidak mengenal saya.”

“Saya juga belum.”

“Kamu tahu saya minum kopi tanpa gula. Tahu saya tidak bisa tidur kalau pintu balkon terbuka. Tahu saya menyimpan catatan hotel di dompet.”

Kirana terkejut. “Mas masih menyimpannya?”

Arya mengeluarkan dompet dan menunjukkan ujung kertas yang sudah terlipat rapi. “Setiap hari.”

“Kenapa membawa sesuatu yang membuat Mas tersinggung?”

“Karena itu satu-satunya benda yang kamu tinggalkan.”

Jawaban tersebut mematahkan sisa pertahanan Kirana. Ia menyentuh dompet itu, lalu menutupnya kembali.

“Saya meninggalkan lebih dari itu.”

“Apa?”

“Kenangan.”

“Kenangan membuat saya datang. Kamu yang membuat saya tinggal.”

Hujan memukul kaca. Di luar, petir kembali menyala, tetapi Kirana tidak lagi takut pada suara tersebut. Yang menakutkan adalah betapa mudahnya ia ingin mempercayai lelaki di depannya.

“Kalau kita mulai sesuatu sekarang,” bisiknya, “besok tetap belum ada jawaban resmi.”

“Saya tidak menukar ciuman dengan jawaban.”

“Mas bisa menunggu?”

“Saya menunggu setiap hari.”

Kirana menelan ludah. “Dan kalau saya hanya mau dicium?”

Mata Arya menjadi gelap. “Katakan dengan jelas.”

“Cium saya.”

Arya mendekat. “Tepuk dua kali kalau kamu ingin saya berhenti.”

Aturan latihan. Jeda aman.

Kirana mengangguk.

Arya menyentuh pinggangnya, memberi waktu untuk mundur. Kirana justru meraih kerah kemejanya.

Ciuman pertama pelan. Ciuman kedua lebih dalam, dibangun dari kecemburuan dan pertanyaan yang terlalu lama ditahan. Arya merasakan persetujuannya pada setiap tarikan kecil, tetapi tetap berhenti setiap kali napas Kirana berubah.

“Masih mau?” bisiknya.

“Iya.”

Arya mengangkatnya ke tepi ranjang. Kirana menarik pria itu ikut turun. Punggungnya menyentuh kasur, tubuh Arya menahan beban dengan kedua lengan agar tidak menindih.

Jaket terbuka. Telapak tangan Arya menyusuri sisi pinggangnya di atas kain, panas dan sabar. Bibirnya bergerak dari mulut Kirana ke rahang, lalu berhenti di leher ketika Kirana mencengkeram bahunya.

“Jeda?” tanyanya segera.

Kirana menggeleng. “Jangan berhenti.”

Tatapan Arya menggelap. Ia kembali mencium Kirana, lebih dalam, namun tidak melewati batas pakaian. Setiap sentuhan terasa seperti jawaban tubuh atas pertanyaan yang belum berani diucapkan hati.

Kirana melingkarkan kaki di pinggangnya tanpa sadar. Napas Arya pecah.

“Rana.”

Panggilan itu terdengar seperti peringatan sekaligus permohonan.

Ketukan keras menghantam pintu.

“Kirana?” Suara Diana terdengar dari luar. “Saya bawa materi besok. Kamu di dalam?”

Kirana dan Arya membeku.

Gagang pintu mulai bergerak.

Arya menarik selimut menutupi kaki Kirana dan bangkit dalam satu gerakan. Kirana merapikan gaun dengan tangan gemetar, bibirnya panas dan napasnya belum kembali teratur.

“Pintunya tidak dikunci,” bisiknya panik.

Arya berdiri di antara ranjang dan pintu, tubuhnya menjadi dinding pertama yang akan dilihat siapa pun di luar.

Gagang itu turun semakin dalam di depan mereka berdua.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!